Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 57


__ADS_3

Dewi menangis sedih menatap nyalang wanita yang bernama Surti. Wajah Dewi diliputi dendam dan kebencian. Setelah mencerna apa yang diributkan Dewi, ternyata Dewi dijual sahabatnya sendiri kepada Arin. Astagfirullah... tega sekali wanita yang bernama Surti ini.


"Kamu ini wanita menjijikkan Surti! Di kampung selalu tampil glamor. Pamer perhiasan seperti toko emas berjalan. Baju-baju bagus yang kamu pakai menghipnotis orang se kampung! Ternyata ini pekerjaan kamu Sur! Belum cukup mandi dosa menjajakan tubuhmu dengan pria hidung belang, tetapi menjual aku juga." Dewi tergugu.


"Dewi, sudah sayang." Aku rangkul Dewi, lalu aku usap bahunya. Dewi menangis di dadaku.


"Maling... Maliiiing..." Teriak Jesi. Segera aku lepas pelukanku. Menoleh Jesi yang sedang mempertahankan motor, karena Surti hendak merebutnya. Aku bersama Dewi berlari membantu Jesi.


"Mau lari kemana kamu Surti!" Dewi menangkap kedua tangan Surti lalu diplintir ke belakang. Orang-orang yang berada di tempat itu berlarian ke arah kami.


"Ada apa ini?" Tanya salah satu pedagang.


"Wanita ini pencuri Pak, motor saya yang dicuri." Ucapku. Orang-orang itu membantu Dewi yang sedang kewalahan menahan tangan Surti yang akan lepas dari cengkeraman Dewi.


"Bawa Dia ke kantor polisi." Perintah seoarang pria, yang paling tua.


Nguiing... nguiiig...


Terdengar sirine polisi, Surti memberontak hendak kabur "Lepaskan saya! Lepaas...!!"

__ADS_1


Tiga polisi keluar dari mobil segera menangkap Surti. "Lepaskan saya Pak polisi, bukan saya yang salah, tetapi ketiga wanita itu merebut motor saya." Kata Surti membela diri.


"Baiklah, sekarang keluarkan surat-surat motor Anda." Perintah polisi. Wajah Surti pucat pasi, ia tidak bisa berkutik selain menunduk. Tentu Surti tidak bisa menunjukkan apapun. Ya jelas Surti tidak mempunyai surat-surat. Sebabnya surat-surat motor itu ada padaku.


"Bawa wanita ini ke mobil," Perintah salah satu polisi. "Kalian semua ikut kami ke kantor, karena kalian bertiga akan menjadi saksi," Perintah polisi yang sudah paruh baya.


"Baik Pak." Jawabku. Acara ke pasar dan jalan-jalan pun gagal, karena kami bertiga ikut ke kantor polisi.


"Terimakasih Bu, karena Ibu dan putri-putrinya telah membantu pihak kami meringkus wanita ini. Wanita ini salah satu kelompok yang selalu meresahkan masyarakat. Karena menjadikan gadis-gadis dalam target bisnis mereka." Polisi mejelaskan panjang lebar. Beliau tidak tahu jika kami termasuk korbannya. Sementara Jesi dan Dewi tampak sedih. Mungkin Dewi ingat ketika dijadikan budak na*su. Sementara Jesi sudah pasti menyayangkan perbuatan Ibu kandungnya, yang ia tunggu kehadiranya hingga bertahun-tahun, dan ternyata adalah wanita jahat.


Setelah beberapa saat kami bertiga dimintai keterangan. Kami diijinkan pulang dan harus siap untuk menjadi saksi selanjutnya.


"Air teh dingin saja, Mbok Sri." Jawabku.


"Baik Bu." Mbok bergegas ke dapur terdengar klunting-klunting sendok beradu dengan gelas. Tidak lama kemudian kembali. Mungkin Simbok melihat kami letih, lelah dan lesu lalu inisiatif.


"Emak kenapa?" Tanya Ratri, sudah berada di depanku. Putriku rupanya keluar dari kamar, mungkin mendengar suaraku.


"Emak tidak jadi ke pasar Tri, kami baru dari kantor polisi."

__ADS_1


"Kantor polisi? Kenapa Mak," Desak Ratri, tampak kaget. Aku menceritakan apa yang kami alami, dan juga menceritakan motor Ratri sudah aku temukan, tetapi saat ini masih di kantor polisi untuk barang bukti.


Malam harinya. Tak tak tak. "Ayah... " Panggil Jesi berlari menuruni anak tangga. Aku bersama Mas Agus sedang santai di depan televisi terkejut.


"Ada apa Jes?" Tanya Mas Agus, menatap Jesi berjalan ke arah kami dengan napas tersengal-sengal. Dia tampak habis menangis karena matanya masih merah.


"Ibu ditangkap polisi Yah." Kata Jesi, menjatuhkan bokongnya di kursi sebelah Ayahnya. Mungkin kecewa yang anak itu rasakan.


"Tidak usah bersedih Jes, kejahatan Ibu kamu sudah tidak bisa dihitung. Jadi biarkan Ibu kamu mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Ibu kamu tidak hanya menyakiti kita, Nak. Tetapi Emak, Dewi, Kakak kamu Ratri, hingga sekarang belum bisa beraktivitas, belum lagi diluar sana entah berapa korban lagi." Nasehat Mas Agus. Jesi tidak bisa lagi menahan tangis justeru kian kencang.


Aku rangkul pundak Jesinta, hingga sedikit lebih tenang. "Sekarang kamu tidur ya, Nak." Ucapku karena saat ini sudah jam 11 malam. Jesi pun mengangguk kemudian ke lantai atas.


"Kasihan Jesi, Mas." Ucapku masih menatap langkah Jesi.


"Mudah-mudahan kesedihan Jesi tidak terlalu berlarut-larut Rum." Terdengar Mas Agus menarik napas panjang. Kami pun memutuskan tidur juga. Namun sebelumnya aku tengok putriku di kamar sudah tidur pulas.


Keesokan harinya. Aku, Mas Agus, Jesi, dan Dewi dipanggil ke kantor polisi. Agar menjadi saksi penembakan terhadap Ratri dua bulan yang lalu. Karena Arin hari ini akan diperiksa. Kami di jemput Arga dan supir Daniswara. Tiba di kantor polisi, kami bertemu Arin. Kali ini wajanya tampak pucat, tetapi bukan karena sakit, melainkan tidak dipoles.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2