Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 23


__ADS_3

"Terimakasih Rum, kamu masih menerima aku setelah apa yang aku lakukan." Kata Mas Agus ketika kami sudah tiba di rumah. Aku membantu Mas Agus duduk di kursi agar nyaman. Aku tidak menyahut menyingkirkan tongkat dari tangan Agus, lalu menyenderkan tidak jauh darinya.


"Rum" Mas Agus menggenggam tanganku. Mata sayu itu seolah mewakili ungkapan permohonan maafnya. Lantas aku duduk di sebelahnya.


"Ada kalanya aku harus mengalah Mas. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan disisa hidupku, selain memaafkan dan berbuat kebaikan," Jawabku pelan.


"Sekarang jangan pikirkan itu lagi Mas. Inilah pelajaran yang harus kita petik, agar kita bisa berbuat lebih baik lagi untuk kedepannya." Jawabku. "Kita sudah tua, jangan sampai anak cucu kita meniru perbuatan buruk nenek dan kakeknya."


"SubhanallAllah... Rum... kamu bijak sekali." Potong Mas Agus, mencium punggung tanganku.


"Sekarang ada hal yang lebih penting yang harus kita bahas." Sambung ku.


"Apa Rum?"


"Pasti Mas tidak tahu kan, kalau rumahmu saat ini dijadikan tempat maksiat." Aku mulai membicarakan masalah ini agar Arin segera di ringkus. Sudah pasti banyak gadis yang menjadi korban wanita tamak itu.


"Maksudnya Rum?" Tanya Mas Agus memajukan wajahnya.


Aku ceritakan semua yang di lakukan Arin, termasuk kepergian aku selama sebulan ini dijual mantan istrinya kepada pria hidung belang.


"Astagfirullah..." Mas Agus meraup wajahnya. "Lalu apa yang terjadi dengan kamu Rum? Kamu tidak apa-apa kan, Rum?" Desak Mas Agus. Aku tahu maksud pertanyaannya mungkin ia pikir, aku sudah menjadi korban mereka.


"Alhamdulillah... selama ini aku baik-baik saja. Masih bisa menjaga diriku Mas," Aku menuturkan bagaimana cara menggagalkan rencana buruk Arin selama satu bulan.


"Jangan pikirkan aku Mas, sekarang yang harus kita pikirkan keselamatan Jesi."


"Jesi, Dia dimana saat ini Rum?" Mata Mas Agus mengembun.


"Ini yang masih jadi misteri Mas, mungkin aku akan minta tolong Ratri, dan Arga mencari keberadaan Jesinta." Jawabku. Kasihan juga aku menatap suamiku tampak syok. Orang tua mana yang tidak akan sedih jika anaknya berada di kandang Harimau.


"Rum, apa selama kamu disana tidak penah melihat Jesi?" Tanya Mas Agus cemas.


"Tidak, tetapi lima hari yang lalu saat Ratri baru tiba dari Surabaya. Arin dan Jesi tinggal di rumah ini Mas."


"Astagfirullah... maaf Rum." Mas Agus menundukkan kepala memijit pelipisnya dengan satu tangan yang tertumpu di kursi. "Apa maksudnya coba Rum, sampai Dia tinggal di rumah ini. Apa hubungannya coba." Sesal Mas Agus, tampak malu.


"Dia pernah bicara padaku, ia pikir rumah ini pemberian Mas Agus untuk aku. Arin juga mengancam karena aku tidak menghasilkan uang untuknya. Sebagai jaminan, Arin akan mengambil rumah ini. Gila nggak tuh, mantan istri kamu Mas," Aku kesal kala ingat itu.


"Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Waalaikumussalam..."


"Ratri dan Arga baru tiba, setelah melangsir aku dan Mas Agus dari pinggir jalan raya. Yang terakhir, Arga menjemput Ratri. Memandang Arga dan Ratri tampak serasi, aku mengulas senyum. Andai saja mereka berjodoh alangkah senangnya.


"Mbok, tolong buatkan kami minuman 4 ya," Kataku memanggil Mbok Sri, yang sedang memasak di dapur.


"Baik Bu,"


"Bapak nggak istirahat di kamar saja?" Tanya Ratri perhatian. Setelah mereka bergabung dengan kami.


"Tidak betah Nak, kalau tiduran terus," Jawab Mas Agus. Menurut saran dokter Mas Agus harus belajar jalan agar cepat lancar, ini tugasku membantunya berjalan ketika pagi agar cepat pulih.


"Oh iya Ratri, kamu disini masih lama kan Nak?" Tanyaku. Aku masih kangen dengan anakku.


"Masih Mak, biar urusan selesai dulu, lagian kan aku masih kangen sama Emak." Jawab Ratri melegakan aku.


"Lalu perusahaan kamu bagaimana Nak?" Sela Mas Agus. Setelah menyeruput teh manis buatan Mbok Sri.


"Kan bisa aku kerjakan dari sini Pak,"


Mas Agus menganggukkan kepala.


"Baik Bu, masalah ini saya dan Ratri akan membicarakan dengan Tuan Daniswara." Jawab Arga.


"Saya jadi tidak enak merepotkan kalian terus Nak," Kata Mas Agus menunduk malu sepertinya tidak enak hati.


"Tidak apa-apa Pak." Arga menjawab santai. "Oh iya Bu Ningrum, ada hal lain yang akan saya bicarakan." Arga menatap aku.


"Apa Nak?" Aku tidak sabar.


"Kemarin saat saya membebaskan Ibu. Dandi teman saya menolong Dewi. Saat ini Dewi tinggal di kontrkan Dandi Bu. Tetapi Dandi tidak nyaman jika ada wanita tinggal di kontrakannya. Menurut Ibu bagaimana sebab kata Dewi. Dewi mengenal Ibu."


"Dewi?" Potong aku kaget. Seketika aku ingat, gadis yang di sekap oleh Arin dan menangis terus.


"Biar tinggal disini saja Nak Arga. Untuk teman Ibu kalau Ratri sudah kembali ke Surabaya." Aku baru kepikiran dengan anak itu. Kasihan dia, bagusnya Arga menolongnya.


"Baik Bu, kalau masalah pekerjaan kami sudah bicarakan dengan Tuan Daniswara."


Kami membahas tentang Jesi, Dewi dan banyak hal. Tidak terasa simbok sudah memanggil kami agar makan siang bersama. Kami lanjut makan siang kemudian shalat dzuhur bersama. Arga pun akhirnya pulang dan Ratri ke kamarnya.

__ADS_1


Aku juga segera beristirahat di kamar. Rasanya lelah jiwa raga. Kali ini aku tidur di sebelah Mas Agus yang pertama kali, setelah sebulan ini kami tidak bertemu.


"Rum." Panggil sumiku tidak bersemangat.


"Apa lagi, sudah istirahat." Aku miring ke kiri menghadap Mas Agus.


"Aku sekarang sudah bukan suami kamu yang dulu lagi Rum. Tidak mampu lagi untuk bekerja. Aku sudah tidak punya apa-apa, tabungan aku sudah habis aku gunakan untuk berobat." Tutur Mas Agus lirih.


"Sudah... jangan pikirkan itu, aku masih punya tabungan kok. Lagian Mas harus punya semangat untuk sembuh. Jika kaki Mas tidak mampu lagi untuk bekerja berat. Tetapi otak Mas masih bisa kerja." Maksudku Mas Agus seorang arsitek tentu masih bisa mendesain.


"Benar kata kamu Rum, aku mau minta tolong Tuan Daniswara, siapa tahu rekan-rekan nya ada yang membutuhkan jasaku." Mas Agus bersemangat.


"Gitu dong." Aku tersenyum.


"Oh iya Mas, sebelum aku di culik Arin. Aku sempat mencari kesibukan menjual sarapan pagi di depan rumah, dan ternyata lancar Mas. Besok... aku mau mulai jualan lagi." Kini gantian aku yang semangat.


"Tetapi kamu capek Rum." Mas Agus tampak keberatan.


"Nggak juga Mas, apalagi Mbok Sri sudah mulai bekerja lagi. Jadi pekerjaan rumah Mbok yang kerjakan,"


"Terserah kamu Rum, tetapi jangan terlalu capek," Mas Agus mengalah.


"Rum, saat kamu di rumah kemarin sempat buka lemari nggak?" Mas Agus membuka pembicaraan yang lain.


"Bukan hanya membuka Mas, selama itu aku selalu memakai baju dan celana Mas. Kenapa gitu?" Aku tatap Mas Agus tampak berpikir sesuatu.


"Begini Rum, sertifikat tanah dan stnk mobil, aku simpan di lemari pakaian itu. Jika sampai Arin mengambilnya habis sudah Rum, aku tidak punya apa-apa lagi." Keluh Mas Agus.


"Sekarang sih, kuncinya aku bawa Mas, tetapi kalau misalnya sertifikat itu diambil sebelum aku datang. Aku nggak tahu." Aku menuturkan saat tiba di rumah itu kunci lemari Mas Agus masih menggantung di lemari.


Ingat sertifikat rumah, aku pun lantas ingat. Bahwa sertifikat rumah ini kemarin aku simpan di lemari juga. Pikiranku tidak karuan, sebab menurut Ratri Arin menyimpan pakaiannya di lemari milikku.


Segera aku bangun kemudian membuka lemari.


"Kamu cari apa Rum?" Tanya Mas Agus posisi bersandar di bantal yang aku tumpuk tinggi. Aku tidak menjawab sebelum menemukan sertifikat itu. Karena aku tidak mau main tuduh.


Sampai aku bongkar seluruh isi lemari ternyata tidak aku temukan sertifikat. Lalu aku meninggalkan Mas Agus ke kamar Ratri apakah dia menyimpannya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2