Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 27


__ADS_3

Aku mengancam Ayah, jika tidak mengizinkan Ibu Arin tinggal di rumah Ayah. Aku akan pergi bersama Ibu ke apartemen. Dan pada akhirnya Ayah membolehkan Ibu tinggal bersamaku.


Selama satu bulan tinggal bersama Ibu. Rupanya Ibu pun tak kalah sibuk. Jika malam pergi hingga pagi, dan ketika siang hanya tidur sampai sore.


"Bu, sebenarnya Ibu kerja apa? Masa sih, kerja kok malam hari." Aku mulai menuntut.


"Ibu kan kerja di restoran 24 jam Jes, sedangkan Ibu sift malam, otomatis pulang pagi dong." Jawab Ibu saat kami sedang sarapan. Aku sebenarnya ingin membantah mana ada bekerja di restoran dandan seperti Artis. Tetapi, ya sudahlah, mungkin memang begini jalan hidupku. Sudah ditakdirkan untuk selalu sendiri.


Tujuan aku menyuruh Ibu tinggal bersama, agar kami bertiga bisa berkumpul selayaknya keluarga. Namun yang ada, selama ada Ibu Ayah justru sama sekali tidak pulang. Sekalinya pulang, bertengkar dengan Ibu. Aku di hadapkan dalam situasi yang sulit, membela Ayah berarti menyakiti Ibu. Begitu juga sebaliknya.


Ternyata Ibu wanita yang keras, Ayah bicara satu kata. Ibu akan menjawab sepuluh kata. Keadaan rumah semakin kacau. Tidak jarang Ibu membanting perabot rumah tangga. Aku hanya bisa menangis, entah kepada siapa lagi aku akan mengadu.


Hingga bibi pun menjadi pelampiasan Ibu, suatu hari bibi diusir dari rumah tanpa Ayah tahu. Selama tidak ada bibi Ibu tidak mau mengerjakan apapun. Terpaksa aku yang membersihkan rumah, sementara pakaian aku masukkan ke laundry.


Aku menjadi semakin kesepian masih mending kemarin bisa curhat dengan bibi, tetapi sekarang bibi pun telah pergi.


Tidak ada pilihan lain, selain membujuk Ayah agar tinggal bersama kami. Awalnya Ayah menolak tetapi lagi-lagi aku mengancam.


"Baiklah, Ayah akan tinggal di rumah ini, tetapi bersama Mak Ningrum." Tegas Ayah. Tentu aku menyetujui.


Kesesokan harinya, Ayah datang bersama Mak Ningrum. Ketika aku membuka pintu menatap nya sinis. Namun Mak Ningrum justru tersenyum kepadaku.


Selama tiga hari Mak tinggal di rumah aku bersikap cuek dan selalu ketus. Bahkan aku sering tidak memberi kesempatan Ayah masuk ke kamar beliu.


Tetapi Mak tidak membalas perbuatanku, justru memberi perhatian khusus kepadaku.


Ternyata aku salah menilai Mak Ningrum. Benar kata Ayah, Mak Ningrum orang tua yang baik, dan perhatian kepadaku.


Seminggu kemudian.

__ADS_1


"Jesi, bangun sayang..." Pagi itu Mak membangunkan aku sambil membuka gorden. Aku membuka mata menatapnya dari atas tempat tidur. Ketika Mak mendekati ranjang aku pura-pura masih terlelap.


"Sayang... shalat dulu, nanti kesiangan. Sudah jam 5 loh." Ujarnya. Aku membuka mata, hatiku merasa ditetesi embun pagi. Tanpa Ragu aku menyambut uluran tangan Mak Ningrum. Mak menarik tanganku perlahan hingga aku duduk.


Tanpa bersuara aku ke kamar mandi ambil air wudhu. Begini rasanya mempunyai seorang Ibu. Ada yang memperhatikan, walaupun aku sudah biasa bangun pagi, tetapi pagi ini terasa berbeda. Seperti ada energi baru.


Aku shalat subuh yang pertama kali setelah kehadiran Ibu Arin. Jujur selama ada Ibu di rumah ini aku justru melupakan sang pencipta. Aku berdoa agar Allah membukakan pintu hati Ibu. Agar jangan selalu semena-mena kepada Mak Ningrum.


Selesai shalat aku mandi lalu mengenakan seragam sekolah.


"Jesi, kalau sudah selesai, kita sarapan ya Nak." Titah Emak lembut. Aku mengangguk. "Kerah bajunya belum rapi tuh, sini Mak betulkan" Ucap Mak berdiri di depanku membetulkan kerah baju seragam yang melipat.


Ya Allah... aku bersyukur, Ayah mendapat istri seperti Emak. Emak hendak keluar lebih dulu. "Mak" Panggilku.


"Mau bareng? Ayo." Emak menunggu aku yang sedang ambil tas ransel lalu aku gendong di belakang.


"Emak punya anak perempuan?" Tanyaku ketika kami sudah berada di meja makan hanya berdua.


"Putri Emak hebat, sudah bisa memimpin perusahaan." Pujiku. Emak tersenyum seraya berkata "kamu nanti juga bisa"


"Amiin..."


Begitulah Emak Ningrum, ternyata justru yang menghiburku. Namun Ibu memperlakulan Emak seperti pembantu. Suasana rumah memanas pertengkaran kerap terjadi. Kali ini bukan hanya antara Ayah dan Ibu. Tetapi juga antara Ayah dan Emak.


Aku hanya bisa menangis, dan pada akhirnya Emak justru pergi dari rumah. Lagi-lagi aku di hadapkan dalam situasi yang sulit. Ingin rasanya aku ikut Emak tetapi Ibu tidak mengizinkan. "Ibumu itu aku atau Dia!" Bentak Ibu.


Hari-hari aku perhatikan Ayah selalu murung. Aku menangis karena sudah membuat suasana menjadi kacau. "Yah... lebih baik, Ayah susul Emak. Jesi minta maaf Yah, sudah menyebabkan Emak dan Ayah berpisah."


"Kamu benar Jesi, nanti malam, Ayah akan minta maaf sama Mak kamu. Ayah mau membeli rumah lagi untuk Emak, agar kita bisa tinggal bertiga dan memperbaiki semuanya." Ayah menarik napas panjang.

__ADS_1


Aku tatap mata Ayah, yang cekung dan pipinya tirus. Kepergian Emak rupanya menyebabkan Ayah terpuruk. "Nanti... Jesi janji, akan ikut kemana Ayah pergi." Ucapku sungguh-sungguh.


Ayah memeluk aku. "Benar sayang?"


"Benar Yah... pasti walaupun aku pergi, Ibu tidak akan mencariku. Bagi Ibu aku tidak penting di hatinya." Air mataku menetes.


Sore harinya ketika aku baru pulang sekolah lalu beristirahat di kamar. Dering telepon rupanya dari nomor handphone Ayah, segera aku angkat. Aku sempat curiga, bukankah Ayah sebentar lagi akan pulang, tetapi mengapa telepon? Aku bertanya-tanya ada apa.


"Assalamualaikum..."


"Apa saya bicara dengan Jesi?"


"Benar, ada apa? Siapa ini?" Berondongku. Sebab yang menjawab telepon bukan suara Ayah.


"Ayah kamu kecelakaan. Sekarang di rumah sakit xxx di ruang ICU."


Jediaaarrr.


Aku menangis tergugu. Ada apa lagi ini? Mengapa ujian makin berat? Aku segera bangun dari tempat tidur ambil kunci mobil milik Ayah. Lebih baik aku membawa kendaraan jika di rumah sakit nanti Ayah membutuhkan sesuatu akan lebih cepat.


Aku tidak berniat membangunkan Ibu. Sudah pasti Ibu marah jika aku bangunkan. Dengan perasaan campur aduk aku menuju rumah sakit.


"Ini dompet milik Ayahmu, yang saya ambil dari jaket." Kata pria paruh baya, ketika aku tiba di depan ruang ICU. Pria itu yang membawa Ayah ke rumah sakit.


"Terimakasih Pak." Ucapku, lalu aku membuka dompet Ayah. Tidak banyak isinya hanya ada uang 100 ribu, atm, ktp dan sim. Aku ambil uang tersebut lalu aku berikan kepada bapak itu tetapi menolak.


"Tidak usah Nak, saya menolong Ayah kamu, bareng-bareng kok, tetapi hanya dua orang yang diperbolehkan masuk." Sang penolong itu lalu pergi. Aku membuka handphone Ayah, mencari nomer Mak Ningrum. Namun belum aku temukan handphone Ayah mati.


Dengan perasaan sesak, aku masuk ruang ICU. Tampak Ayah tidak berdaya dengan berbagai alat. "Ayaaah... huaaaa... tangisku kencang. Aku peluk tubuh Ayah. Ini salahku, jika tidak menyuruh Ayah tinggal di rumah. Semua ini tidak akan terjadi. "Maafkan anakmu Ayah... hu huuu..."

__ADS_1


...😭😭😭...


...~Bersambung~...


__ADS_2