
"Saya pulang dulu Bu, lain kali kesini lagi" Pamitku salim tangan bu Retno. Setelah mencuci piring, aku memutuskan untuk pulang. Namun, Ibu Retno masih ingin aku ngobrol lebih lama, padahal saat ini sudah jam delapan malam.
"Hati-hati ya Nduk," Bu Retno pun mengalah, mengantar aku sampai halaman, ketika aku sudah di atas motor membonceng Arga. Niat hati hendak naik taksi, tetapi Arga keukeuh ingin mengantar. Ditambah lagi bu Retno tidak membiarkan aku pulang sendiri. Seneng sih! Diantar oleh Arga, tetapi aku masih kesal dengan sikapnya.
"Terimakasih Bu." Pungkasku, seraya membalas lambaian tangan Bu Retno. Kali ini aku akan pulang ke rumah sakit saja menemani Emak. Daripada ke rumah Papa, ada Hendri disana.
PoV Ningrum
"Mas Agus, aku shalat isya dulu ya." Pamitku. Sebenarnya bisa saja aku shalat di kamar, tetapi aku mau sekalian membeli makan malam.
"Hati-hati Rum" Lirih Mas Agus, nyaris tak terdengar. Aku mengangguk, lantas membawa mukena ke luar. Namun, memastikan bahwa pintu kamar inap Mas Agus sudah tertutup rapat.
Tiba di masjid setelah ambil air wudhu, kemudian shalat berjamah bersama orang-orang yang sedang menemani pasien. Tidak pernah lupa aku menengadahkan tangan memohon kepada Allah, semoga suamiku cepat sembuh dan segera kembali pulang.
Aku lipat mukena lalu mengempitnya, kemudian menuju pedagang makanan. Segera memesan tiga bungkus nasi rames. Karena malam ini Jesi dan Dewi akan menemani aku. Kata mereka akan datang setelah Dewi pulang kerja, dan Jesi selesai mengerjakan pr. Sebenarnya Jesi pulang sekolah akan langsung ke rumah sakit, tentu aku melarangnya.
"Lauk nya apa Mbak?" Tanya penjual nasi.
"Yang satu bungkus lauknya telur sama sayur Bu, terus yang dua bungkus, lauknya Ayam," Jawabku. Tentu aku memilih telur daripada Ayam.
Sambil menunggu nasi di bungkus, pandanganku tertuju kepada wanita yang baru turun dari mobil. Wanita itu lantas berjalan tergesa-gesa. Langkah itu sepertinya tidak asing di mataku, tetapi siapa? Aku mengingat-ingat.
Astagfirullah... Arin? Aku segera bangkit dari kursi panjang.
"Bu, berapa harganya?" Tanyaku ketika nasi sudah di bungkus.
"45 ribu Mbak"
Segera aku bayar 50 ribu, kemudian menyandak kantong plastik. Tanpa menghiraukan panggilan penjual nasi yang akan mengembalikan uang. Yang aku pikirkan hanya Mas Agus, jangan-jangan Arin ke rumah sakit ini tahu keberadaan aku dan Mas Agus, lalu merencanakan sesuatu. Pikiran buruk menghantuiku. Ya Allah... lindungi Mas Agus. Doaku sambil berjalan cepat.
__ADS_1
Tiba di depan pintu ruang rawat Mas Agus, aku mengintai dari kaca pintu. Tampak Arin mengangkat selang infus dan akan menyuntikkan sesuatu.
Brak!!
Aku buka pintu kasar, Arin terkejut. Begitu juga dengan Mas Agus yang awalnya tidur membelalakkan mata melihat Arin berdiri di sebelahnya.
"Mas Agus tidak apa-apa?" Aku mengecek seluruh tubuh suamiku jika ada yang lecet lagi, aku akan membuat perhitungan. "Kenapa wanita ini bisa berada disini Rum, cepat lapor polisi Rum." Titah Mas Agus lirih.
"Apa yang kamu lakukan disini Arin?!" Aku menatapnya tajam. Kenapa juga wanita ini bebas berkeliaran, bukankah ia sedang dalam pengejaran pihak berwajib.
"Aku mau menjenguk Mas Agus Rum, aku mau minta maaf, karena sudah membuatnya terluka seperti ini." Ujarnya. Pandai sekali wanita ini bersandiwara.
"Jangan kamu pikir saya ini bodoh Arin! Apa yang akan kamu suntikan ke infus Mas Agus?!" Sinisku. Namun aku masih berbicara pelan. Ini rumah sakit tentu tidak mau menganggu pasien lain di luar sana.
"Kok kamu nuduh sih Rum? Orang saya cuma meluruskan selang yang bengkok kok " Dalihnya dengan sorot mata penuh kebohongan. Matanya menatapku, tetapi tanganya tampak membuka resleting tas. Ia kebingungan hendak menyembunyikan jarum suntik di tangannya ke dalam tas.
"Jika kamu memang tidak bermaksud jahat, coba saya mau melihat apa yang kamu sembunyikan?" Aku kesal, ingin memastikan benda yang ia pegang. Namun ia mundur dan berhasil menyimpan benda tersebut.
Prak!!
"Awas Rum," Kata Mas Agus.Tanpa aku duga Arin merebut handphone milikku, kemudian melemparkan ke tembok. Aku menatap handphone mahal yang di belikan Ratri terpisah-pisah.
"Kurangajar kamu Rin!" Ujarku geram. Aku bingung bagaimana caranya telepon polisi sedangkan handphone Mas Agus masih di rumah.
"Keluar kamu dari sini!" Aku mendorong tubuh Arin ke arah pintu. Aku takut jika wanita ini nekat mencelakai Mas Agus, Namun Arin mencengkeram tanganku.
"Tidak usah kamu usir saya akan keluar Rum, tetapi tandangani sertifikat ini dulu." Ia ambil kertas dari dalam tas, sejenak aku mengamati kertas itu. Sudah pasti itu sertifikat rumahku.
"Jangan Rum, jangan biarkan maling ini mengusai rumahmu. Kamu tidak mau kan Rum, rumah kamu dijadikan tempat maksiat..." Lirih Mas Agus. Mas Agus kemudian memencet tombol di atasnya. Syukurlah aku merasa lega.
__ADS_1
"Jangan ikut campur kamu Gus! Kamu ini sudah sekarat, tetapi masih sok-sok-an kuat!" Hardik Arin berjalan mendekati Mas Agus. Namun secepatnya aku tarik tangan Arin jangan sampai mendekati suamiku.
"Keluar!" Paksaku.
Plak!!
Telapak tangan Arin mendarat di pipiku. Seketika aku lepas tangan Arin, karena mengusap pipiku yang terasa perih.
"Ibu!" Pekik Jesi. Ia baru datang bersama Dewi. Seketika menangkap tangan Arin ketika hendak menampar aku untuk yang kedua kali. Sementara Dewi menuntun aku mengajak menyingkir ke pinggir tembok.
"Lepas Jesi! Ibumu itu aku. Bukan wanita ini!" Tandas Arin menunjuk ke arahku. Tatapan Arin tertuju kepada Dewi. Aku rangkul Dewi kuat-kuat. Aku tidak boleh lengah hingga Arin berbuat kasar kepada Dewi juga.
"Hebat kamu Rum! Suami kamu mengatai saya maling. Tetapi maling nya itu kamu! Kamu sudah berhasil merebut rumah di Komplek mekarsari. Mengambil Dewi dan yang lebih parah kamu juga mengambil anakku!" Tudingnya.
"Ibu... sudah Bu... Jesi mohon, jangan sakiti Emak, Ayah, dan juga Dewi. Jesi mohon Bu." Jesi menangis tergugu merangkul kaki Arin. "Bu... Jesi mohon, sadarlah... Ibu sudah tua, gunakan sisa umur Ibu untuk bertobat Bu... hu huuuu..."
Di dalam semua menangis termasuk aku dan Mas Agus. Mendengar kata-kata Jesi.
"Jangan ajari Ibu Jesi! Lebih baik kamu minggir!" Arinta melepas tangan Jesi. Arin mendekati aku dan Dewi. Tetapi kali ini Dewi yang menjadi sasaran.
"Aow! Ampun Nyonya" Dewi kesakitan karena rambut panjang Dewi dijambak Arin.
"Ibu... jangan Bu..." Jesi yang masih duduk lemas di lantai segera bangkit merangkul Arin dari belakang. Kesempatan itu aku gunakan untuk membebaskan Dewi dari cengkeraman Arin.
Arin Abil benda dari tas besar yang menggantung di pundak.
"Maaakkkk... Awaaassss..."
Dooorrr!!!
__ADS_1
"Aaaakkkk..."
...~Bersambung~...