
"Jes, ada apa kamu dengan Bu Hendro?" Tanyaku ketika kami sedang dalam perjalanan menuju kediaman Banuwati. Ingat interaksi antara Jesi dan Bu Hendro di jalan tadi mengganggu pikiranku.
"Begini Mak, saat Ibu Arin tinggal di rumah Emak. Saya ditanya Bu Hendro. Kenapa rumahnya tidak di sapu. Terus saya jawab. Di rumah itu ada setanya Bu. Begitu Mak." Jesi menirukan penuturannya dengan Bu Hendro.
"Setan?" Aku terkejut.
"Iya Mak, setan yang saya maksud teman-teman Ibu yang pada minum alkohol sama merokok, itu loh." Alasan Jesi berkata demikian, ia malu dan takut jika sampai tetangga datang ke rumah.
"Hehehe kamu ini lucu sekali." Aku tertawa, begitu juga dengan Mas Agus. Jesi bisa berpikir sampai disitu. Tetapi ada bagusnya juga jika tetangga sampai tahu dan Arin memutar balik fakta menyalahkan aku. Tentu aku akan dibenci warga.
"Kita sudah sampai, Jes." Kata Mas Agus lalu membuka kaca.
"Yang mana rumahnya Yah?" Tanya Jesi memelankan mobil nya.
"Nomer tiga dari sini," Mas Agus menjawab.
"Ini rumah Papa nya Mbak Ratri ya Bu?" Tanya Dewi yang sedang duduk di sebelah Jesi menemani di depan. Dewi tampak kagum melihat rumah mewah Daniswara.
"Iya Wi, calon atasan kamu. Oh iya, saya lupa tanya. Bagaimana hasil wawancara kamu?" Tanyaku berharap Dewi segera diterima kerja.
"Alhamdulillah Bu, hari senin saya disuruh masuk." Jawab Dewi senang. Baru kali ini aku melihat Dewi berbinar-binar setelah aku disekap Arin.
"Di bagian apa Wi." Sambung Jesi seraya turun dari mobil.
"Tapi cuma sebagai office Girls," Lirih Dewi.
"Bagian apa saja Wi, siapa tahu kamu nanti bisa kuliah terus bisa di angkat." Aku yang menjawab.
"Nggak apa-apa Wi, bentar lagi aku kan lulus. Aku juga mau kerja seperti kamu, terus kuliah malam saja." Ucap Jesi. Aku perhatikan Mas Agus menatap Jesi sendu. Mungkin suamiku merasa bersalah. Di saat putrinya membutuhkan biaya besar kini ia justeru tidak berdaya.
__ADS_1
"Ningrum... Pak Agus." Sapa Wati ketika kami tiba di teras rumah. Banuwati menyambut hangat kedatangan kami.
"Aku membawa pasukan kesini Mbak," Ucapku kepada mantan majikan aku itu, dulu aku memanggilnya Nyoya tetapi sekarang tidak mau dipangil itu.
"Aku malah senang Rum. Masuk-masuk." Titah Banuwati.
"Adik-adik ini siapa?" Tanya istri pengusaha sukses itu tersenyum kepada Dewi dan Jesi.
"Ini Jesi putri Mas Agus, lalu yang ini Dewi." Aku mengenalkan. Dewi dan Jesi pun salim tangan. Setelah berkenalan Jesi dan Dewi tidak ikut masuk. Mereka melihat kolam ikan yang di kelilingi tanaman hias membuat para wanita menjadi betah.
"Pak Agus, Mas Danis di ruang kerja bersama Arga, barang kali mau gabung mari saya antar." Kata Banuwati.
"Saya menunggu disini saya Mbak." Mas Agus merasa sungkan. Banuwati pun memanggil suaminya, tidak lama kemudian Daniswara keluar bersama Arga. Arga, anak muda ini memang tampan sekali. Pantas saja putriku jatuh cinta kepadanya.
"Sudah lama Gus." Tanya Daniswara kemudian lungguh di sebelah istrinya sementara Arga bersebelahan dengan suamiku.
"Mbak wati kedatangan kami kesini selain silaturahmi juga ada yang ingin kami bicarakan." Aku memulai bicara serius setelah ngobrol ringan.
"Ada apa Rum?" Tanya Wati tidak sabar.
Aku menceritakan jika motor pemberian Daniswara kepada Ratri telah hilang dan ada wanita yang memakai seperti yang aku lihat tadi pagi.
"Kok bisa hilang, memang garasinya tidak di kunci?" Sesal Daniswara. Wajar, karena motor itu harganya lumayan mahal
Aku menjelaskan bahwa motor itu hilang saat aku disekap Arin. Saat Arin mengambil alih rumahku.
"Maaf Tuan, saya menyela. Ratri sudah bercerita kepada saya, tetapi saya lupa menyampaikan kepada Tuan." Potong Arga.
"Ya sudah, ini tugas kamu Arga, selidik ciri-ciri wanita yang tinggal di kos jalan xxx, seperti yang dikatakan Ningrum." Perintah Daniswara.
__ADS_1
"Baik Tuan." Jawab Arga singkat.
"Lalu ada satu lagi Mbak Wati, ini menyangkut masa depan Ratri." Aku akan memulai bicara tentang perjodohan Ratri.
"Masa depan, apa itu?" Tanya Wati dan Daniswara bersamaan.
"Ratri minta saya menyampaikan kepada Mbak Wati. Dia menolak perjodohan itu." Tuturku. Aku selalu bicara dengan Wati bukan kepada Daniswara. Lantaran, jika menatap Daniswara sama saja aku membuka luka lamaku kembali menganga. Aku beralih menatap Arga tampak tidak berekspresi.
"Tidak bisa! Ini sudah menjadi keputusan saya, orang lain tidak boleh ikut campur." Ujar Daniswara tidak dipikir dulu.
"Mas..." Ucap Wati, tidak boleh suaminya bicara begitu.
"Jadi... Anda menganggap saya ini orang lain Tuan?!" Tanyaku ketus.
Arga, Mas Agus dan juga Banuwati terkejut, mungkin mereka tidak menyangka jika aku berani kepada Daniswara.
"Lagi pula tahu apa kamu tentang Ratri Rum?! Kamu pikir siapa yang membesarkan Ratri?!" Ketus Daniswara, sungguh melukai hati aku.
"Mas! Cek!" Potong Wati.
"Maaf Tuan Daniswara yang terhormat! Saya memang bersama Ratri terbilang baru. Tetapi saya ini Ibunya yang bisa menyelami hati putriku, tidak bisa main paksa. Jika Anda tahu, Ratri sudah mencintai orang lain. Sebagai sesama wanita pasti saya merasakan sedih jika saya mencintai pria lain lantas dipisahkan begitu saja!" Sindirku.
"Rum." Mas Agus mengusap pundakku.
"Biar Mas, cukup aku saja yang terluka, karena ulah pria ini. Tuan Daniswara tidak pernah merasakan sakitnya saya karena kena sangsi sosial hingga bertahun-tahun, ini semua karena Anda!" Emosiku memuncak.
"Rum, semua bisa kita bicarakan jangan emosi," Lerai Banuwati.
...~Bersambung~...
__ADS_1