Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 61


__ADS_3

"Sah" Ucap para saksi, setelah Mas Arga mengucap ijab kabul dengan lancar. Aku cium tangan kekar di sampingku. Tangan yang sudah bebas aku sentuh. Aku mendongak menangkap tatapan matanya mengunci. Beberapa saat kami saling pandang. Aku yakin, bukan hanya aku yang jatuh cinta, tetapi Arga pun sama. Senyumnya melebar terasa hatiku dihinggapi kupu-kupu.


Namun senyumku tiba-tiba menghilang saat pandanganku tertuju kepada Papa. Papa duduk di kursi bersama para kerabat yang lain bukan di sebelah penghulu.


Air mataku menetes membasahi pipi. Hatiku bagai tersayat sembilu ketika menerima kenyataan bahwa yang menjadi wali aku bukan Papa. Momen yang selalu ditunggu kebanyakan pengantin.


"Jangan menangis," Arga mengusap kepalaku lembut. Namun tangisku semakin terisak. Kontan semua yang berada di tempat ini ikut menangis. Entah mereka tahu atau tidak apa yang aku rasakan.


Aku baru menyadari ternyata beginilah aku. Aku adalah anak haram yang sudah menyakiti hati Emak sejak dalam kandungan hingga terlahir ke dunia ini.


"Ratri, kenapa kamu sedih? Lupakan semua kesedihan yang mengganggu pikiran kamu. Saat ini kita sedang berbahagia." Nasehat Arga. Di peluknya erat tubuhku ketika aku sudah berdiri. Di dada Arga aku sesegukan. "Aku anak haram Mas," Ujarku lirih.


"Seeettt..." Mas Arga mengusap-usap bahuku. Hingga terdengar aba-aba MC agar kami menjalami ritual sungkeman.


Di pangkuan Emak pun tangisku semakin menjadi-jadi. "Maafkan Ratri Mak, selama ini belum bisa membahagiakan Emak,"


"Ratri, Emak sudah cukup bahagia karena kamu tumbuh menjadi anak baik. Kamu selalu ada di sisi Emak saat sedih maupun senang. Kamu yang selalu menghihur hati Emak, kala Emak dalam keadaan hati terluka parah." Emak menenangkan aku. Aku mengangkat kepala menatap emak lekat. Sedetik kemudian, Emak mencium pipiku lembut.


Kemudian aku bergeser memegang kedua tangan Mama tiriku yang baik hati. Mama bukan hanya sekedar Ibu tiri bagiku, tetapi wanita yang membesarkan aku hingga usia aku 18 tahun. Walaupun aku anak yang susah diatur. Namun, beliau selalu sabar menghadapi aku. "Maaf Ma..." Ucapku. Tidak mampu berkata-kata lagi di sela-sela isak tangis menenggelamkan wajahku di kedua paha Mama.


"Ratri, sekarang kamu sudah menjadi istri. Jadilah pasangan hidup suami kamu yang menyenangkan dibandingkan marah dan mengeluh jika terjadi masalah," Nasehat Mama.


"Aku mengerti Ma." Jawabku menatap wajah Mama yang selalu meneduhkan. Mama memang bisa menjadi istri teladan. Yakni menerima kekurangan Papa dan mampu menghadapi setiap masalah yang selalu datang menghadangnya dengan bijak.


Yang terakhir, aku pindah ke hadapan Ibu Retno, orang tua Arga. Di depan Ibu Retno pun aku menangis. Kali ini aku menangis bahagia, karena wanita ayu dan tidak membosankan jika dipandang ini menyambutku sebagai menantu dengan senang hati.


"Sekarang saya serahkan anak Ibu untuk kamu Nak Ratri. Ibu tahu siapa Arga, sampai sekecil-kecilnya. Arga itu sayang sama Ibu, sudah pasti menyayangi kamu sebagai istri, dan menerima kamu apa adanya." Tutur wanita yang baru saja menjadi mertua aku itu.

__ADS_1


"Terimakasih Bu." Pungkasku.


Selesai acara sungkeman, selesai pula drama air mata saat pernikahan aku. Tidak ada acara resepsi seperti yang sudah kami rencanakan. Mengingat kesehatan aku belum pulih. Bersama Arga aku duduk di sofa menyambut tangan-tangan orang terdekat yang mengucapkan selamat untuku. Mas Arga selalu jahil dan membuat lelucon mungkin untuk menghibur aku.


"Kalau kamu nggak kuat duduk lama-lama aku antar ke kamar ya." Kata Arga perhatian.


"Nggak mau, nanti kalau nggak ada aku di sebelah kamu, ada orang lain yang menggantikan posisi aku." Kelakarku.


"Berani ya sekarang, panggil aku. Kamu," Kata Arga terkekeh. Melingkarkan tangannya ke pinggangku. Jujur merinding bulu-bulu ku.


"Iya Mas Arga," Aku meralat.


"Kalau nggak boleh ada orang lain yang dekat dengan aku. Sekarang kita ke kamar. Teruuuss..." Mas Arga menaik turunkan alis sambil tersenyum.


"Iihh... ngeres!" Ketusku.


"Mereka jadian Mas?" Tanyaku. Jika aku perhatikan dari bahasa tubuh mereka seperti kekasih.


"Sudah sejak dua bulan yang lalu mereka jadian. Sudahlah, jangan bahas mereka. Sekarang ini hari bersejarah untuk kita." Mas Arga mencuri keningku, seketika aku terperanjat.


"Eheeemm..."


Saat aku sedang menunduk malu, mendengar deheman pria. Pandanganku beralih kepada pria itu. Rupanya dia Hendri. Astagfirullah... pasti Hendri memergoki aku.


"Selamat Arga, ternyata kamu yang memenangkan hati Ratri. Jaga dia baik-baik, aku percaya kamu lebih bisa membahagiakan Ratri. Daripada aku yang hanya Ratri anggap sebagai rekan bisnis," Kata Hendri menjabat tangan Arga.


"Terimakasih Mas Hendri, semoga Anda mendapat istri yang tulus mencintai Anda, dan saling mencintai seperti aku dengan Ratri." Jawab Mas Arga melirik aku.

__ADS_1


"Semoga Ga." Ucap Hendri. Melepas tangannya lalu beralih menatapku. "Selamat Tri, semoga samawa. Cepat sehat, terus kita cepat bertemu di meja rapat." Ujarnya.


"Siap, Kak." Aku acungkan jempol lalu Hendri meninggalkan kami.


"Gayatri...." Tiba-tiba wanita cantik berkulit putih memeluk aku sambil menangis. Dia adalah saudaraku, siapa lagi jika bukan Gendis.


"Kenapa kamu sakit tidak memberi tahu aku Ratri." Gendis melepas tanganya dari bahuku menatapku lekat.


"Sudahlah Ndis, yang penting aku sudah sembuh." Jawabku. Kami ngobrol sebentar, tatapanku tertuju kepada anak kecil yang digandeng Bima Ayahnya. Bima sedang ngobrol dengan Arga.


"Bara... sini sayang..." Panggilku. Anak Gendis berjalan ke arahku. Bocah itu sudah lebih tinggi. Terakhir bertemu, satu tahun yang lalu saat Emak menikah dengan Bapak.


"Bunda, Tante ini siapa?" Tanya Bara. Mendongak menatap Gendis.


"Ini Tante Ratri sayang, masa Gara lupa?" Aku membungkuk memegang dua pundak Bara.


"Ingat sedikit Tante." Jawab Bara. Menunjukkan ujung jari tampak lucu. Membuat aku dan Gendis tertawa. Gara kemudian merapat ke sisi Gendis.


"Wanita yang membuat kekacauan itu sudah ditangkap, Ga?" Tanya Kak Bima, kepada Arga tertangkap di telingaku.


"Sudah Tuan, saat ini sedang menjalani sidang di pengadilan." Mas Arga menjawab. Bima mengangguk-angguk, kemudian berlalu bergabung dengan sanak saudara setelah ngobrol sebentar.


"Mas, aku mau istirahat dulu ya." Pamitku. Aku ternyata belum kuat duduk dan berdiri terlalu lama. Nyatanya badanku terasa lelah.


"Ayo, aku antar." Mas Arga menuntun aku. Tiba di bawah tangga, Arga sigap membopong tubuhku. Rupanya Arga cukup peka jika aku merasa lelah menapaki anak tangga. Kali ini aku pasrah mengalungkan kedua tanganku ke tengkuknya. Tubuhku terasa terbang melayang, tiba-tiba sudah sampai di kamar. Mas Arga kemudian merebahkan tubuhku di kasur.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2