
PoV Jesinta.
"Sepi" Itulah perjalanan hidupku selama ini. Setelah nenek meninggal ketika usiaku menginjak 13 tahun. Aku hidup seperti sebatang kara. Ayah seringkali kerja ke luar kota. Kadang seminggu, bahkan sampai satu bulan baru pulang. Seringkali aku menghalu, seandainya ada Ibu peri cantik, atau bidadari yang turun dari kayangan seperti negeri dongeng menjadi Ibuku walaupun hanya satu malam. Bercerita maupun mendongeng pengantar tidurku.
Kadang aku juga bermimpi bisa punya Ibu, seperti anak kebanyakan. Tidak usah yang muluk-muluk mengantar aku ke sekolah, cukup mencium aku sebelum berangkat dan memelukku ketika aku pulang sekolah, alangkah bahagianya.
Ingin sekali aku merasakan masakan Ibu, tidak terus membeli tiap kali mau makan seperti saat ini.
Ketika aku tanya kemana Ibu? Ayah selalu menjawab "Ibumu mencari uang yang banyak"
Kenapa sih? Orang tuaku semua sibuk mencari uang? Walaupun memang aku berbeda dengan teman-teman aku di sekolah. Selalu membawa uang jajan banyak. Tetapi bukan hanya itu yang aku mau. Apakah Ayah Ibu tidak tahu, jika aku ingin disayang juga. Tidak jarang aku menangis sendirian, ketika bangun larut malam merasakan sepinya malam.
Di sekolah aku menjadi anak pendiam dan selalu menyendiri, tidak ada teman yang mau mendekat. Hari-hari aku sibukan dengan membaca dan belajar hingga harus mengenakan kacamata tebal. Seriiring bertambahnya usia, aku selalu berdoa agar Ayah mau mencari Ibu untukku.
Saat kelas satu SMA doa aku di kabulkan.
"Jesi... Ayah ada kabar gembira buat kamu." Kata Ayah merangkul aku. Senyum ayah yang jarang aku lihat pun tampak lebar.
"Ada apa sihYah? Kayaknya senang banget?" Tanyaku bersandar di pundak ayah manja. Memang begitulah aku. Ketika ayah sedang di rumah aku selalu manja kepadanya.
"Kamu kan ingin punya Ibu, dan sebentar lagi, Ayah akan menikah." Tutur ayah akan menikahi janda bernama Ningrum. Menurut ayah Ningrum calon ibu yang baik.
"Benar Yah?" Aku segera mengangkat kepala menatap ayah lekat. Ayah mengangguk tanpa ada keraguan lagi di wajah beliau.
__ADS_1
"Tetapi Yah, bukankah Ayah pernah mengatakan bahwa Ibu kandung Jesi pergi mencari uang. Apa ayah tidak lebih baik mencari Ibu dulu." Kataku. Tentu jika disuruh memilih, aku akan memilih Ibu kandung daripada Ibu tiri.
"Jesi, bukan hanya setahun dua tahun, Ayah bersabar, tetapi sudah 16 tahun Ayah menanti Ibumu kembali. Awalnya Ayah berharap jika Ibu kamu kembali dan menyadari kesalahannya hati Ayah lapang memaafkan. Tetapi... sejak muda hingga tua begini nyatanya Ibumu jangankan ingat Ayah, kamu yang darah dagingnya saja dilupakan." Tutur ayah panjang lebar. Entah apa yang dilakukan ibu dulu kepada ayah. Yang jelas tergambar jelas luka yang di goreskan di hati ayah. Aku kasihan kepada ayah. Tanpa Ayah cerita tetang peliknya masalah masa lalu, aku sudah bisa mengerti.
Saat itu juga ayah akan memperkenalkan aku dengan calon istrinya, tetapi aku ingin datang saat acara pernikahan saja. Aku yakin bahwa ayah tidak akan salah memilih Ibu untukku.
Tiga bulan kemudian saat pernikahan Ayah dan Mak Ningrum kurang seminggu lagi.
Siang itu aku baru pulang sekolah setelah turun dari ojek, pandanganku tertuju pada mobil yang di parkir di halaman. Aku pikir mobil itu milik teman Ayah karena memang biasa begitu. Kebanyakan orang yang hendak menggunakan jasa Ayah, rata-rata orang kaya.
Aku masuk ke dalam rumah wanita berpakaian yang pas di badan dan menampilkan lekuk tubuhnya sedang duduk di ruang tamu. Anehnya wanita itu sedang merokok padahal Ayah saja selama ini aku belum pernah melihatnya merokok. Wanita itu tampak liar memindai seluruh isi rumah seperti maling yang sedang mengincar sesuatu.
"Assalamualaikum..." Ucapku. Namun, bukan wanita itu yang menyahut. Tetapi bibi dari dapur. Wanita itu tersenyum ke arahku. Aku membalas senyum itu lalu ke dapur ambil air minum.
"Saya tidak tahu Non." Jawab bibi, sambil mengaduk-aduk minuman mungkin untuk tamu itu.
"Ya sudah bi, saya mau istirahat dulu." Jawabku ingin segera beristirahat. Walaupun bibi menyuruh aku makan siang aku belum lapar, pasalnya sudah jajan baso di sekolah.
"Kamu pasti Jesi kan?" Tanya wanita itu ketika aku hendak naik tangga.
"Kok Tante tahu?" Aku menghentikan langkahku.
"Boleh saya bicara sama kamu," Pinta wanita itu lembut. Aku menunda naik ke kamar atas lalu duduk berhadapan dengan wanita itu.
__ADS_1
"Aku tahu semua tentang kamu sayang... karena aku Ibu kandungmu, yang melahirkan kamu," Tutur wanita itu membuat mataku melebar.
"Apa? Tante Ibu saya?! Jangan mengaku-ngaku," Jawabku kesal lalu aku tinggalkan wanita itu ke kamar, segera telepon Ayah.
Satu jam kemudian, aku mendengar ribut-ribut dari lantai bawah, ternyata Ayah sudah pulang. Aku menguping keributan itu ternyata benar wanita itu adalah Ibu. Dengan perasaan tidak karuan aku menghampiri Ayah dan Ibu.
Aku minta penjelasan pada Ayah jika wanita itu memang Ibuku. Ayah tidak menyangkal lagi. Setelah menerima kenyataan aku sempat benci dengan Ibu. Mengapa tega Ibu meninggalkan aku saat masih bayi,? Benci marah kecewa bertumpuk di hati.
Bukan hal mudah bagi aku untuk menerima Ibu, tetapi dengan caranya sendiri Ibu membujuk aku.
"Jesi, jika kamu tahu apa alasan Ibu pergi meninggalkan kamu pasti kamu akan mengerti Nak." Ucapnya sendu.
"Apa alasannya?" Tanyaku ingin tahu.
"Hiks hiks hiks" Ibu menangis terisak. "Ketika kamu masih bayi, Ayah kamu itu pengangguran. Kerjaannya nongkrong dengan teman-teman nya, padahal asi Ibu tidak keluar. Tentu kamu membutuhkan susu formula, tetapi Ayahmu tidak mau usaha. Padahal Ayah kamu punya motor, Ibu suruh narik ojek, tetapi menolak. Justru Ayahmu selingkuh dengan banyak wanita. Termasuk wanita yang akan menjadi Ibu tiri kamu sekarang." Tutur Ibu di sela-sela isak tangis.
"Lalu, Ibu ambil keputusan meninggalkan kamu lantas menjadi tkw di luar negeri. Sebenarnya Ibu ingin pulang bertemu kamu, tetapi peraturan disana tidak memungkinkan Ibu untuk pulang Nak." Kata Ibu meyakinkan.
Aku sedih mendengar cerita Ibu. Anak mana yang tidak akan sedih jika Ibu nya tersakiti. Tidak hanya itu, Ibu juga menceritakan keburukan Ayah.
Ketika Ayah menikah dengan Mak Ningrum aku tidak mau datang. Aku memilih ikut Ibu ke apartemen. Tetapi setelah Ayah menikah dengan Mak Ningrum. Ayah menjadi jarang pulang, dan merasa Mak Ningrum telah merebut Ayah dariku. Aku sedih lalu mengajak Ibu tinggal di rumah, tanpa ijin Ayah.
Ayah marah-marah padaku padahal selama ini Ayah tidak pernah begitu. Aku merasa Mak Ningrum telah merubah Ayah. Lalu aku minta Ayah agar kembali ke Ibu Arin. Ayah menolak, lalu aku mengancam akan bunuh diri, jika Ayah tidak mau kembali kepada Ibu."
__ADS_1
...Bersambung...