Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 53


__ADS_3

Ibu membuktikan ucapanya menghubungi Om Margono adik kandung Ibu di kampung. Ibu minta agar Om mengirimkan umbi gadung. Tiga hari kemudian, Om sudah datang mengangkut umbi dengan mobil Pick Up.


"Kamu yakin mau produksi gadung ini?" Tanya Om Margono. Mengangkat Umbi yang masih ada batangnya.


"Yakin Om, InsyaAllah, doakan lancar ya, Om." Jawabku optimis


"Aamiin..."


Dengan semangat aku menurunkan umbi dari mobil, kemudian dibantu Om bersama Ibu mengupas gadung hingga seharian penuh, termasuk mengiris dengan mesin pemotong yang baru aku beli. Usaha ini tentu tidak mengeluarkan modal banyak, hanya membeli mesin pemotong, dan bumbu agar menghasilkan potongan yang tipis.


Gadung yang sudah dipotong aku rendam dengan garam agar racun sianida yang terdapat di dalamnya hilang dan aman untuk dikonsumsi. Pengolahan gadung memang agak lama karena selain merendam hingga beberapa hari juga menjemur hingga kering. Inilah alasan penduduk Gunungkidul tidak telaten mengolah.


Sambil menunggu proses gadung kurang lebih sepekan. Aku membuat keripik kentang dan singkong yang aku beli di pasar. Tentu membeli juga alat pengemas selayaknya kemasan modern agar menarik konsumen.


"Ibu, lebih baik istirahat, biar aku saja yang mengerjakan semuanya." Kataku. Aku kasihan kepada Ibu, selama seminggu ini sibuk membantu.


"Tidak Le, Ibu senang mengerjakan ini, jadi ada kesibukan. Ibu juga senang, dengan kamu usaha sendiri waktu kita jadi banyak," Kata Ibu tampak bahagia.


"Lalu, dagangan ini mau kamu pasarkan kemana Le?" Tanya Ibu.


"Langkah pertama kita titipkan ke toko-toko, Bu. Kedua, kita gunakan garasi kita untuk jualan. Dan yang ketiga, aku juga mau promosi online." Jawabku. Garasi rumah ini masih kosong hanya untuk menyimpan motor, tidak ada salahnya aku gunakan untuk memajang makanan kering.


Dengan mengucap "bismillah" Aku mulai mengemas produk buatan aku sendiri dengan kemasan yang menarik, agar disukai semua kalangan, termasuk anak-anak. Keripik ini aku buat dengan berbagai rasa, tidak lupa juga aku beri nama "Gadung Alas" Yang artinya dalam bahasa jawa. Gadung berasal dari hutan.


Tentu sebelum memasarkan makanan mendaftarkan izin edar ke BPOM dulu, untuk tanda resmi bahwa produk yang aku buat berkualitas dan memenuhi standar gizi untuk anak-anak.


"Bu, aku mau ke rumah Mak Ningrum ya," Pamitku setelah semua selesai, aku akan mengantarkan keripik ini agar Emak mencicipi.


"Iya Le, sampaikan salam Ibu untuk Ningrum," Pesan Ibu dari dapur.


"Baik Bu." Jawabku, sambil menarik motor keluar lalu berangkat ke rumah sakit, sekaligus menjenguk Ratri. Ingat Ratri sudah satu bulan dia belum sadar dari koma. Entah sampai kapan ia akan seperti ini. Setiap menjenguk Ratri aku bersembunyi-sembunyi, tentu tidak ingin ketahuan Daniswara. Bukan karena tidak berani menghadapi Daniswara. Tentu saja karena aku tidak mau ribut dan memilih kerja sama dengan Mak Ningrum. Jika Tuan sudah di rumah sakit, lebih baik aku menunda.


Tiba di lantai tiga, dimana Ratri dan Pak Agus di rawat, aku menjenguk Ratri terlebih dahulu. Aku berjongkok memegang tanganya tampak kurus dan keriput. Ya Allah... sungguh aku tidak tega, menqapa begitu menyedihkan nasib Ratri.

__ADS_1


"Ratri... aku datang, terus kapan kamu mau bangun dan memberikan senyum untukku?" Aku mengajaknya bicara. "Kamu tidak kasihan Emak Ningrum? Beliu ingin putri satu-satu segera bangun kemudian memeluknya"


Lagi-lagi air mata menetes di ujung matanya. Setelah aku hapus dengan telunjuk, lantas beranjak. Aku tidak bisa lama-lama disini, khawatir Tuan datang lantas mengusir aku. Segera aku buka pintu samar-samar mendengar obrolan pria dari ruang tunggu.


"Maaf Tuan Daniswara, saya terpaksa membatalkan perjodohan ini, karena putri Anda tidak juga sadar." Kata Tuan Bhanu, papa Hendri, ketika aku menguping pembicaraan mereka lebih dekat.


"Saya tidak bisa memaksa Pak Bhanu." Jawab Tuan Daniswara pendek.


"Papa, tidak bisa begitu, aku mencintai Ratri," Sela Hendri.


"Tidak Hen, banyak wanita sehat diluar sana memang kamu mau menunggu sampai kapan? Sampai ramhut kamu ubanan?!" Tandas Mama Hendri.


Orang tua dan anak itu justeru bertengkar sendiri, sementara Tuan Daniswara sama sekali tidak ikut campur. Segera aku menyelinap, mencari jalan agar tidak kelihatan oleh mereka.


Alhamdulillah... aku lolos dari perhatian Tuan, kemudian masuk ke ruang rawat Pak Agus. Rupanya pak Agus sudah terlihat segar, dan sudah berpakaian rapi.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsallam..."


"Alhamdulillah...." Jawabku ikut senang.


"Terimakasih Nak Arga, selalu merepotkan kamu" Kata Pak Agus tampak tidak enak hati.


"Jangan pikirkan itu Pak Agus. Semoga setelah beberapa kejadian buruk yang menimpa keluarga Bapak, besok tidak akan terjadi lagi," Doaku.


"Semoga begitu Nak, walaupun kami masih risau, nyatanya Arin hingga kini belum ditangkap," Jawab Pak Agus resah.


"Maaf Pak Agus, akhir-akhir ini saya sibuk jadi tidak sempat membantu Bapak," Jawabku.


"Tidak apa-apa Nak, itu bukan wewenang kamu, semoga saja, polisi segera berhasil menangkap Arin." Sambung Emak.


"Lalu bagaimana rencana usaha kamu?" Tanya Emak mengalihkan.

__ADS_1


"Alhamdulillah Bu, produksi pertama sudah berhasil, Emak boleh coba." Aku menyerahkan kantong plastik.


Emak mengeluarkan isinya, setelah menelisik kemasan kemudian membuka dan mencicipi.


"Enak sekali Nak, besok... Emak mau bantu kamu menjual produk kamu di depan rumah ya." Kata Emak antusias sambil mengunyah, berbagi dengan Pak Agus.


"Kalau begitu saya pesan taksi dulu." Inisiatifku, tanpa Emak minta segera memesan taksi online.


"Terimakasih Ga, saya memang tidak punya handphone, sudah dihancurkan Arin belum sempat servis," Keluh Emak.


"Nanti saya yang akan membawa ke tempat servis Bu," Jawabku. Emak lalu memberikan handphone tanpa kaca.


"Mari saya bantu, Bu." Aku membantu Emak membawa tas, keluar dari ruang rawat. Tiba di depan ruang rawat Pak Agus, aku bertemu orang yang ingin aku hindari.


"Selamat siang Tuan," Sapapu seolah tidak terjadi sesuatu.


"Siang." Jawabnya pendek. Tuan Daniswara kini hanya sendiri, entah kemana Nyonya Banuwati, padahal biasanya tidak lepas dari gandengannya kecuali ke kantor.


"Gus, biar di antar supir saya," Ucapnya, tanpa memperdulikan aku.


"Tidak usah Tuan, Arga sudah memesan taksi." Jawab Pak Agus. Sementara Mak Ningrum diam seribu bahasa.


"Ya sudah." Jawabnya lalu memencet tombol lift entah mau kemana. Aku hanya bisa memandang bahu Daniswara. Tidak menyangka, jika Daniswara akan berubah seperti ini. Padahal, selama puluhan tahun bersamaannya, beliau orang baik dan welas asih. Aku hanya berharap, akan ada pelangi setelah hujan badai.


"Rum, aku mau menjenguk Ratri dulu," Kata pak Agus.


"Ayo." Jawab Ningrum, mendorong Pak Agus, aku mengikuti dari belakang.


"Ratriiii..." Pekik Emak, terdengar dari luar, karena Mak Ningrum masuk lebih dulu.


"Kenapa Ratri Ga?" Tanya Pak Agus panik.


"Bapak menunggu disini dulu." Saranku, karena kami hanya boleh masuk dua orang. Dengan perasaan bertanya-tanya, ada apa dengan Ratri, aku menyusul Emak. Aku takut jika mimpiku satu bulan yang lalu menjadi kenyataan, yakni Ratri meninggal.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2