Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 59


__ADS_3

Tiba di ujung gang, Mas Arga menggendong aku turun dari mobil. Aku malu karena supir Papa senyum-senyum menatapku. Kala sang supir membukakan pintu.


"Mas, turunkan aku, pesan ojek saja." Aku pikir Arga hanya akan menurunkan aku dari mobil saja, kemudian numpang ojek. Tetapi Arga justeru terus berlalu menggendong ku melewati gang.


"Seettt" Desis Arga.


"Mas... malu." Ujarku menyembunyikan wajahku di dada Arga. Walaupun sudah menjelang siang, tetapi masih wangi.


"Sedikit lagi sampai." Jawabnya. Aku mengalah, walaupun menahan malu, karena sudah pasti akan menjadi perbincangan para warga.


"Ratri kenapa Ga?" Tanya Emak memekik kaget ketika aku tiba di rumah. Terdengar langkah kaki Emak mendekati aku. Pasti Emak mengira aku kenapa-napa.


"Tidak apa-apa Bu." Arga terkekeh, lalu mendudukan aku di kursi. "Mas Arga nih Mak." Jawabku. Tersipu malu, karena Mak senyum-senyum menatapku.


"Mbok, tolong buatkan Arga minum, ya." Seru Emak dari ruang tamu.


"Iya Bu" Sayup-sayup terdengar jawaban Simbok.


"Kalian sudah bicara dengan Papa?" Tanya Emak, duduk di depan kami, mulai bertanya serius mengenai pertemuan Arga dengan Papa.


"Sudah Bu, minggu depan menurut Tuan Daniswara, saya sudah harus berangkat ke Surabaya." Tutur Arga seperti yang Arga bicarakan dengan Papa tadi. "Tetapi... jika Ibu berkenan, saya akan mengajak Ratri ikut serta," Imbuh Arga.


"Masalah itu Emak tidak setuju Ga, Ratri masih butuh perawatan khusus, lagi pula kalian belum menikah," Tolak Emak. Mungkin beliu berpikir yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Maksud saya begini Bu, jika Ibu mengijinkan, saya akan menikahi Ratri dalam waktu dekat, Agar saya bisa kerja dengan tenang, dan juga menjaga Ratri." Tutur Arga seperti yang di bicarakan dengan aku tadi.


"Lalu kalian sudah bicarakan dengan Papa kamu?" Tanya Mama.


"Belum Mak, kami punya rencana ini ketika di dalam mobil tadi. Kira-kira, Emak sama Bapak setuju tidak? Jika Emak setuju, kami akan bicarakan sama Papa." Jawabku.


"Emak sih tidak masalah Ratri, biar Simbok nanti ikut kamu ke Surabaya. Tapi masalahnya, apa Papa kamu yang keras kepala itu setuju." Kata Emak ragu.


"Makanya Mak, nanti aku mau bicarakan lagi sama Papa," Jawabku. Emak pun mengangguk.


Setelah ngobrol panjang lebar aku masuk ke kamar beristirahat, setelah makan dan minum obat. Ya Allah... sampai kapan aku akan minum obat sperti ini. Rasanya sudah nek jika bukan karena aku ingin cepat pulih dan tidak menjadi beban Emak, Mas Arga, atau orang-orang terdekatku.


Keesokan harinya, semua berkumpul di kediaman Papa Daniswara. Kali ini ada Emak, Bapak, dan juga Ibu Retno. Membicarakan rencana Mas Arga.


"Papa sih setuju saja, tetapi sebenarnya pernikahan Ratri akan aku buat acara semeriah mungkin. Jika kalian menikah dalam waktu dekat tidak mungkin kita bisa mempersiapkan secepat ini."


"Baiklah saya akan restui kalian," Jawab Papa pada akhirnya.


"Lalu bagaimana dengan Pak Agus, calon besan, dan juga kamu Ningrum." Mama minta pendapat.


"Saya dengan Ningrum, sejak kemarin sudah menyetujui rencana anak-anak Mbak." jawab Bapak.


"Apa saya boleh usul?" Tanya bu Retno. Kami beralih menatap beliu.

__ADS_1


"Tentu boleh jeung." Mama yang menjawab.


"Saya pernah mendengar cerita dari Arga, beberapa waktu yang lalu. Bahwa Ratri sudah bertunangan. Lalu bagaimana dengan tunangan Ratri yang dulu?" Tanya Bu Retno memastikan.


"Jangan khawatir jeung Retno, pihak mereka sudah membatalkan perjodohan sejak Ratri masih belum sadar dari koma." jawab Mama.


Hasil kesepakatan bersama, pernikahanku akan dilaksanakan hari minggu besok dan hanya akan mengundang kerabat dekat saja.


Setelah semua sepakat, dilanjutkan makan siang bersama. Aku duduk di kursi roda tidak bergabung di meja makan. Emak membawa piring lalu berjongkok di hadapanku.


"Anak Emak sebentar lagi mau menikah, jika sudah menjadi istri Arga, kita pasti jarang bertemu. Sekarang Emak mau menyuapi kamu, ya," Kata Emak menatap aku berkaca-kaca.


"Emak..." Aku menoleh memastikan jika tidak ada orang yang melihat tentu malu. Tetapi ternyata Mas Arga pun menyusul duduk di sampingku tersenyum simpul. Aku menunduk malu, nanti Arga menyangka kalau aku anak yang manja.


"Itu mau disuapi Emak kok nggak mau, atau aku yang suapi kamu?" Arga lagi-lagi tersenyum lebar.


"Iya Mak." Aku makan sepiring berdua dengan Emak, setelah habis Emak meninggalkan aku.


"Sekarang kamu makan sepiring berdua sama Emak, tetapi hari senin besok kita akan terus makan sepiring berdua." Kelakar Arga. Lalu aku cubit lenganya. Arga terkekeh lalu beranjak meletakan piring di atas meja.


Selesai makan, kemudian aku pulang bersama Bapak dan Emak diantar supir. Sementara Arga mengantarkan bu Retno. Saat ini kami masih berkumpul di halaman.


"Maaf ya, aku nggak bisa ikut mengantarkan kamu pulang." Kata Arga, ketika sedang menunggu bu Retno, yang masih salaman dengan Mama. "Nanti malam aku ke rumah kamu lagi," Sambung Mas Arga.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Mas, aku kan pulang sama Emak, Bapak." Pungkasku.


...~Bersambung~...


__ADS_2