Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 34


__ADS_3

Dalam perjalanan ke kantor, aku hanya diam begitu juga dengan Hendri. Mungkin dia sudah kehabisan kata-kata konyol nya. Karena aku selalu malas menanggapi ucapanya sebab yang dia bahas masalah aku dan dia. Kecuali Hendri berbicara tentang pekejaan baru aku akan menyahut.


Sebagai pengelola usaha baru tidak aku pungkiri bahwa Hendri banyak membimbing aku. Dan aku juga tahu bahwa Hendri klien ideal perusahaan Daniswara grup. Namun tidak pantas bukan? Jika aku mencampur aduk antara urusan pekerjaan dan masalah pribadi.


"Sampai nanti ya" Kata Hendri ketika aku hendak turun dari mobil karena sudah tiba di kantor.


"Terimakasih Kak."


"Sama-sama," Jawab Hendri, tangannya melambai kepadaku. Aku menganggukan kepala menunggu hingga mobil nya menjauh. Aku kemudian masuk ke dalam lift bersama anak buahku entah bagian apa tentu tidak mengenal semua karyawan. Tetapi mereka rata-rata mengangguk santun kepadaku.


"Selamat pagi Bu" Sapa sekretarisku segera bangkit dari duduknya lalu mengikuti aku dari belakang.


"Selamat pagi Hel." Ucapku kemudian masuk ruangan yang sudah sepekan aku tinggalkan. Helda meletakan berkas-berkas di atas meja sambil memberi tahu jadwal hari ini.


Segera aku duduk bismillah akan memulai bekerja dengan baik agar tidak mengecewakan papa. Lupakan dulu tentang cinta dan perjodohan semua Allah yang atur.


"Ibu mau minum apa?" Tanya Helda, kebetulan sekali karena aku memang belum sarapan.


"Kopi susu saja Hel, biar hilang rasa ngantuk." Jawabku. Ketika badanku lelah begini, minum kopi biasanya langsung segar.


"Baik Bu." Helda keluar ruangan.


***********


PoV Ningrum.


"Mas, aku tinggal sebentar ya." Pamitku hari ini aku akan belanja ke pasar, karena besok aku akan mulai jualan sarapan pagi. Selain untuk kesibukan lumayan bisa menambah pendapatan.


"Mau kemana Rum?" Mas Agus menatap aku yang sedang melihat isi dompet. Walaupun Ratri memberikan atm jika tidak kepepet aku tidak akan menggunakan, kecuali untuk biaya sekolah Jesi dan pengobatan Mas Agus.


"Mas, besok aku akan mulai jualan, doakan lancar ya." Ucapku.


"Maaf Rum, aku belum bisa memberi uang belanja untuk kamu. Doakan juga ya, supaya aku segera mendapat pekerjaan, tadi aku sudah minta tolong di carikan klien Tuan Daniswara." Lirih Mas Agus.


"Aamiin..." Ucapku.

__ADS_1


"Tidak usah risau Mas, rezeki itu sumbernya dari mana saja." Aku kasihan tiap kali Mas Agus merasa tidak nyaman jika aku membahas tentang uang.


"Rum, apa aku jual saja ya, mobil Jesi. Untuk biaya sekolah dia dan juga yang lain," Mas Agus tampak menyerah.


"Jangan Mas, kasihan Jesi. Kalau untuk biaya sekolah, jangan pikirkan. Aku masih punya tabungan," Hiburku.


"Terimakasih Rum, kamu sudah mau menampung aku dan Jesi di rumah ini."


"Cek! Mas ini bicara apa sih?! Sudah! Jangan pikir yang aneh-aneh. Kalau pikiran Mas tenang, kaki Mas Agus akan cepat pulih. Jadi dengarkan aku." Omelku. Kadang aku sedih jika Mas Agus bicara yang tidak-tidak.


"Sudah ya, aku mau berangkat dulu." Aku salim tangan Mas Agus, kemudian berangkat setelah pamit Mbok Sri.


Aku belanja bukan ke mall seperti orang kaya, tetapi aku memilih ke pasar tradisional. Biasanya pasar tradisional sayuranya baru semua di samping murah harganya.


"Sudah sampai Mbak Ningrum," Kata tukang ojek yang mangkal di pinggir jalan dekat rumah. Dia mengantar aku hingga tiba di depan pasar. Mereka rata-rata sudah kenal aku, karena mereka rata-rata tetangga semua.


"Mbak Rum, belanja nya lama tidak, jika tidak... lebih baik saya tunggu." Tukang ojek menawarkan jasa.


"Nggak juga sih Bang." Jawabku karena aku hanya akan membeli lauk dan sayur, bahan-bahan kering di warung pak Waluyo juga banyak.


Di tengah perjalanan seperti biasa jalanan macet. Pandangan mataku tertuju pada Honda Scoopy yang di kendarai seorang wanita. Bukan motornya yang membuat aku penasaran. Tetapi plat motor tersebut adalah milik Ratri.


"Bang, coba perhatikan. Plat motor di depan itu kok seperti punya Ratri ya?" Tanyaku kepada ojek.


"Oh iya Mbak Rum, sebelum Non Ratri datang. Motor Ratri memang di pakai oleh wanita. Ketika kami tanya, katanya dia sepupu Non Ratri." Tutur Ojek.


"Sebentar Bang." Potongku. Aku ambil handphone baru yang dibelikan Ratri kemarin mengambil foto motor tersebut. Aku tidak salah lagi jika motor itu memang milik putriku yang di belikan Papa nya beberapa waktu lalu. Nanti sore aku harus menemui Banuwati agar melacak motor tersebut.


"Bang, bisa ikuti motor itu tidak? Jangan khawatir akan ada ongkos tambahan," Ucapku ketika motor sudah jalan merayap.


"Bisa Mbak." Tukang ojek mengikuti motor itu, hingga masuk ke salah rumah kos.


Sudah Bang kita jalan lagi," Kataku. Yang penting aku sudah tahu kediaman wanita yang memakai motor tersebut.


"Memang siapa yang menggunakan motor Non Ratri itu Mbak?" Tanya tukang ojek ketika dia sudah berjalan.

__ADS_1


"Saya belum tahu Bang, hanya dugaan sementara sepertinya motornya Ratri ada yang mencuri."


"Waduh, kampung kita tidak aman Mbak." Tukang ojek tampak kaget.


Kami pun menghentikan percakapan karena ojek sudah tiba di depan rumah. Tukang ojek putar balik setelah menurunkan belanjaan.


Mbok Sri melihat aku sudah tiba segera mengangkat belanjaan "Cepat sekali ke pasarnya Bu?" Tanya Mbok Sri. Mungkin hanya basa basi, padahal justeru lama, gara-gara penasaran mengikuti motor tadi.


"Iya Mbok, di tunggu ojek soalnya." Jawabku. Aku biarkan Mbok Sri membereskan sayuran, kemudian menemui Mas Agus di kamar, setelah ke kamar mandi dapur cuci kaki dulu.


Sayup-sayup terdengar pria membaca Alqur'an aku buka pintu perlahan ternyata Mas Agus yang mengaji. Aku tersenyum lalu menutup pintu kembali.


Sore harinya.


"Mas, aku mau ke rumah Banuwati ya" Kataku kepada Mas Agus setelah selesai mandi.


"Mau apa Rum?" Mas Agus terkejut.


"Jangan kaget gitu, Ratri pesan agar aku membujuk Banuwati. Ratri tidak mau di jodohkan dengan rekan bisnis Tuan Daniswara Mas." Paparku. Lalu aku ceritakan juga, jika di perjalanan tadi mencurigai bahwa ada wanita yang mengguanakan motor Ratri.


"Jangan-jangan... wanita itu orangnya Arin Rum," Mas Agus menduga-duga.


"Makanya itu Mas, aku harus membicarakan masalah ini juga, kepada Wati." Tegasku.


"Kalau gitu aku ikut Rum minta diantar Jesi." Usul Mas Agus, tentu aku setuju saja. Dewi mengantar Mas Agus ke pinggir jalan, sementara aku dan Jesi memilih jalan kaki.


Di tengah jalan kami berpapasan deng bu Hendro yang letak rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Ia tersenyum kepadaku, lalu beralih menatap Jesi tidak berekspresi.


Sementara Jesi tidak mau menatap mata bu Hendro. Jesi seperti ketakutan, entah apa yang Jesi dan Bu Hendro sembunyikan.


"Bu Hendro, kalau gitu saya berangkat dulu."


"Iya Mbak Rum, saya dengar, Pak Agus mengalami kecelakaan. Semoga cepat sembuh. Maaf, saya belum sempat menjenguk"


"Tidak usah repot Bu Hendro, Mas Agus sudah sembuh kok." Aku pun akhirnya berlalu. Rupanya Jesi gelisah sudah tidak nyaman berhadapan dengan Bu Hendro, lebih baik aku segera berangkat.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2