
"Emaaakk... Awaaassss..."
Dooorrr!!
"Aaaaaggghhhh..."
"Mbaaakkk..."
"Kakaaak..."
"Ratriii..." Jeritku. Bersamaan dengan Mas Agus, Dewi dan Jesi. Pasalnya Ratri jatuh ke lantai bersimbah darah.
Ketika baru datang menatap Arin menodongkan pistol ke arahku, Ratri dengan cepat menghalangi tubuhku. Tak elak peluru bersarang ke tubuh putriku entah bagian mana aku tidak berani menelisik. Yang jelas darah keluar dari dada kebawah mengalir ke perut. Kakiku terasa lemas jatuh di samping putriku yang sudah tidak sadarkan diri.
"Ratriii... bangun sayang..." Pita suara aku tidak bisa kencang lagi mungkin sudah putus. Kenapa hidupku selalu begini, Musibah menimpa keluargaku secara bergantian. Air mataku membanjiri pipi. Aku bingung entah harus berbuat apa. Putriku kini tidak berdaya. Jerit tangis memenuhi ruangan termasuk Mas Agus di tempat tidur.
"Kak Ratri... bangun Kak, maafkan aku Kak. Ibu aku jahat Kak. Ibu jahat! Yah... Ibu jahaaattt... hu huuuu..." Jesi menangis histeris. Sementara Dewi hanya bisa menangis mencium tangan putriku
Sementara Arin kabur entah kemana. "Kurangajar kamu Ariiin... hiks hiks hiks" Aku mendengar langkah kaki cepat membuka pintu aku pikir dokter, tetapi ternyata Arga. Entah kenapa petugas tidak kunjung datang, padahal Mas Agus sudah memencet tombol sejak tadi.
"Astagfirullah... Ratri..." Arga yang baru datang entah darimana sehingga tidak datang bersama Ratri hanya Arga yang tahu. "Ratriii... bangun..." Arga segera memangku tubuh putriku tidak perduli darah membasahi pahanya. Tidak bedanya dengan aku Arga menangis sejadi-jadinya.
"Jesi... cepat panggil dokter Nak." Suara Mas Agus hampir tidak terdengar.
"Baik Yah" Jesi segera keluar. Tidak lama kemudian dokter dan perawat datang. Tubuh putriku sudah di angkat. Kami meninggalkan Mas Agus sendirian mengikuti tanduk yang membawa putriku. Hingga tiba di depan salah satu ruangan, Ratri dibawa masuk dan tidak ada yang boleh ikut hanya satu orang yaitu Arga.
Aku menjatuhkan bokongku di kursi panjang hanya bisa menangis pilu. Hanya doa yang bisa aku panjatkan semoga putriku dalam keadaan baik-baik saja.
"Emak... maafkan aku Mak..." Ucap Jesi entah sudah berapa kali ia berucap. Aku tatap matanya sendu, tanpa ragu aku peluk dua gadis yang berada di sebelahku. Mereka sama-sama anak yang terluka hatinya sama seperti aku. Kami ini wanita-wanita yang teraniaya tidak hanya fisik tetapi juga secara mental. Ini semua gara-gara Arin. "Kita doakan Ratri sama-sama sayang.
"Emak menjenguk Bapak di kamar dulu," Ucapku. Tidak ada yang bisa aku lakukan disini. Mas Agus tentu membutuhkan aku.
Tiba di kamar, Mas Agus menatapku dengan mata merah. "Bagaimana keadaan Ratri Rum?"
__ADS_1
"Aku belum tahu Mas," Jawabku serak.
"Maafkan aku Ningrum, semua kejadian buruk yang menimpa kamu, aku penyebabnya. Aku sudah memasukkan rubah seperti Arin ke dalam kehidupan keluarga kamu yang awalnya adem ayem sekarang berubah menjadi panas."
"Mas... jangan banyak berpikir." Potongku.
"Tidak mungkin aku tidak berpikir Rum. Jujur, aku dulu menikahi kamu ingin membahagiakan kamu. Tetapi nyatanya aku tidak bisa membuktikan janji itu. Tetapi justeru kehadiran aku membuatmu menderita."
"Cek! Cukup Mas, jangan banyak berpikir aku bilang!" Ketusku. Namun Mas Agus tetap bicara tidak mau diam.
"Biarkan aku bicara jangan dipotong Rum, nyatanya tidak hanya sampai disitu. Aku dan anakku menjadi beban dalam hidup kamu dan juga Ratri "
"Mas!" Sungutku.
"Sekarang ini aku hanya pria tidak berdaya, tidak ada gunanya lagi, yang ada hanya bisa merepotkan kalian."
"Kalau Mas Agus nggak mau diam, akan aku tinggal sendirian." Ancamku. Mas Agus lantas diam.
"Sekarang ini aku sedih memikirkan Ratri Mas, jika mendengar Mas Agus terus mengeluh begini, justeru membuatku semakin sedih" Aku menangis. "Sekarang yang harus Mas lakukan ibadah. Jika tidak mampu berdiri, Allah maha pengampun bisa sambil tidur." Nasehatku.
"Sekarang Mas tidur, jangan pikirkan yang aneh-aneh, supaya cepat sembuh." Aku menyelikuti Mas Agus.
"Aku mau ke kamar mandi dulu Rum" Lirih nya.
"Baiklah" Segera aku ambil kursi roda mendekatkan ke pinggir ranjang, membantu nya duduk, kemudian mendorong nya ke kamar mandi. Aku mencoba tegar di depan Mas Agus, walaupun sebenarnya hatiku hancur. Bagaimana tidak? Mas Agus saja belum bisa bangun sendiri. Tetapi kini putriku justeru entah bagaimana nasibnya.
"Terimakasih Rum." Ucap Mas Agus ketika sudah selesai ke kamar mandi. Begitulah Mas Agus, akhir-akhir ini selalu merasa tidak enak hati, tiap kali aku membantu mandi, makan mengantar ke toilet dan lain sebagainya. Padahal aku merawatnya dengan tulus.
"Sekarang... Mas Agus istirahat." Ucapku setelah aku bantu merebahkan dirinya.
"Aku lihat keluar dulu ya Mas, mudah-mudahan sudah ada kabar dari dokter tentang Ratri." Pamitku.
"Iya Rum, mudah-mudahan luka Ratri tidak serius."
__ADS_1
"Aamiin..." Ucapku. Lalu keluar.
"Bagaimana kerja Anda? Meringkus satu orang wanita macam Arin saja tidak becus!"
Tiba di ruang tunggu seorang pria sedang marah-marah, di telepon. Siapa lagi jika bukan Daniswara. Banuwati sedang menenangkan suaminya itu.
Aku bergabung dengan Jesi dan Dewi. "Sudah ada kabar Nak?" Tanyaku.
"Belum Mak" Jawab keduanya.
"Lalu apakah Arga sudah keluar?" Sambungku. Dewi dan Jesi menggeleng. Aku menarik napas panjang, mendongak menahan air mata yang aku tahan sejak di kamar tadi agar tidak jatuh. Namun mana bisa? Anakku di dalam sana belum ada kabarnya.
Aku pun duduk bergabung dengan Jesi dan Dewi. "Sebaiknya kalian istirahat, besok kan sekolah." Titahku.
"Iya, Jesi juga mau menunggu Ayah dulu Mak." Jawab Jesi, lalu mengait lengan Dewi. Keduanya pun berlalu.
"Rum" Panggil Banuwati ternyata sudah berada di sampingku bersama Daniswara, dan Hendri. Aku segera berdiri lalu Banuwati menghambur ke pelukan aku, kami sama-sama menangis.
"Yang sabar Rum." Hibur Wati. Padahal dia pun tak kalah syok.
"Kenapa Arin bisa masuk ke rumah sakit ini Rum? Apakah di rumah sakit ini tidak ada peraturan jam besuk, hingga semua orang bebas masuk?" Sesal Daniswara.
"Bukan tidak ada aturan jam besuk Tuan, rumah sakit ini, jam besuk nya jam 11 pagi dan setelah magrib. Jadi wajar, jika Arin bisa masuk dengan mudah." Aku menceritakan juga saat aku meninggalkan Mas Agus shalat, tidak ada yang aku tutupi.
"Bagaimana keadaan Agus Rum?" Tanya Daniswara,.
"Ada perkembangan sedikit, saat ini sudah bisa duduk," Jawabku serak.
Saat kami ngobrol pintu ruang periksa dibuka, Arga keluar dengan wajah penuh kesedihan. Lagi-lagi aku terisak, dengan menatap raut wajah Arga aku sudah bisa menebak, bahwa putriku tidak dalam keadaan baik. Terlebih menatap pakaian Arga yang penuh dengan darah.
"Arga Bagaimana keadaan Ratri?" Sambar Daniswara.
"Ratri masih belum sadar Tuan, peluru tadi mengenai dadanya." Tutur Arga. Pria yang biasa tegar itu kini tampak putus asa.
__ADS_1
...~Bersambung~...