Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 49


__ADS_3

"Ayo Rum." Ajak Banuwati, mengait tanganku menghampiri suaminya yang sedang berbicara dengan Arga. Aku menajamkan pendengaran ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Bukan bermaksud ingin tahu urusan orang, tetapi sudah barang tentu yang Danis dan Arga bahas adalah; tentang anakku.


"Ga, kamu cepat sekali tiba disini apakah sudah mendapatkan donor darah?" Tanya Daniswara. Mereka berdiri berhadapan, walaupun Daniswara tergolong pria tinggi, ternyata Arga masih lebih lagi.


"Saya sendiri yang akan mendonorkan darah Tuan, karena golongan darah saya sama." Jawab Arga melegakan hatiku.


"Alhamdulillah..." Ucap kami. Aku berharap Arga lah yang menjadi perantara kesembuhan Gayatri atas ijin Allah.


"Terimakasih Arga." Ucapku bersamaan dengan Banuwati. Aku melirik Hendri di sebelahku, raut kecewa terlukis di wajahnya. Apa maksudnya? Apa Dia tidak suka jika Ratri sembuh. Atau, karena ia tidak bisa donor? Entahlah. Aku tidak mau berburuk sangka, yang penting putriku segera sembuh.


Dan pada akhirnya Hendri meninggalkan kami tanpa sepatah kata pun, entah apa yang pria itu risaukan.


"Sekarang juga saya akan menemui dokter Tuan." Arga bersemangat. Daniswara tidak bersuara hanya menepuk pundak Arga, sebelum Arga berlalu.


"Rum, kamu pucat sekali?" Tanya Banuwati menatap wajahku menyipitkan mata.


"Entahlah Mbak, kepala saya memang sakit, mungkin masuk angin," Jawabku. Jika terasa sakit begini biasanya aku di kerik Simbok.


"Biasanya itu faktor tekanan darah kamu yang terlalu rendah Rum." Sambung Daniswara. Tumben pria itu perhatian. Aku tidak menjawab, hanya menoleh sekilas lalu berpaling.


"Rum, sekarang kamu istirahat. Biar aku dan Mas Danis yang menunggu kabar dari dokter." Imbuh Banuwati.


Aku menganggukan kepala lalu ke kamar Mas Agus. "Rum, jadi mendonorkan darah?" Tanya Mas Agus, ketika aku tiba di sampingnya.


"Tidak bisa Mas, kepalaku sakit sekali," Jawabku, lalu merebahkan tubuhku di samping suamiku. Aku pijat pangkal hidung agar mengurangi rasa sakit di kepalaku yang sudah tidak kuat lagi.


"Kamu pucat sekali Rum," Mas Agus memijit perlahan pelipisku kiri dan kanan. Pandanganku kabur dan berkunang-kunang. Hendak mengucapkan kata sudah tak mampu lagi.


"Emaaakk... Bangun Maaakkkk... hu huuuu..." Mendengar tangis di telingaku, perlahan aku membuka mata, tetapi apa yang terjadi? Rasaya berat sekali. Telingaku mendengar tangis Jesi, dan Mas Agus samar-samar. Namun mataku sulit untuk dibuka.


"Maak... bangun Maaakkkk... kami semua sedih jika Emak sakit." Suara tangis Jesi, tangannya terasa memeluk perutku.


"Jesi, Emak tidak sadar sejak satu jam yang lalu, tolong panggilkan dokter Nak." Kata Mas Agus.


"Baik Yah," Terdengar alas kaki Jesi keluar sambil menangis.


Aku terkejut mendengar Mas Agus mengatakan bahwa aku baru saja pingsan. Ya Allah... harusnya aku menjaga anak dan suamiku, tetapi mengapa aku justeru lemah. Ingin rasanya aku berucap tetapi kenapa aku tidak kuat.

__ADS_1


Terdengar langkah kaki ramai mendekati ranjang dimana aku tidur di sebelah Mas Agus.


"Kenapa istrinya Pak?" Tanya pria, terasa menempelkan benda di dadaku. Sepertinya ini dokter. Dan satu lagi tangan halus memasang alat di lenganku, rupanya sedang memasang alat untuk tensi.


"Istri saya, tidak sadar sejak satu jam yang lalu dok."


"Dik, Ibu Anda mengalami hipotensi, sebaiknya pola makanya di jaga ya," Pesan dokter.


"Baik Dok." Jawab Jesi.


"Istri saya sejak kemarin tidak mau makan Dok." Mas Agus menjelaskan. Terasa tanganku ditusuk jarum, ternyata dipasang infus. Ya Allah... jika aku di infus, tentu tidak bisa bergerak bebas kesana kemari, padahal aku ingin tahu perkembangan Ratri dan juga mengurus Mas Agus.


Satu jam kemudian, setelah di infus aku terasa lebih segar dan bisa membuka mata. Aku menatap Jesi masih mengenakan seragam duduk di sampinku.


"Jesi..." Sapaku.


"Emaaakk..." Jesi kembali memeluk perutku.


"Kamu akhirnya sadar Rum." Tangan kekar mengusap kepalaku, ia adalah Mas Agus.


"Mas makan dulu." Aku memaksakan bangun. Namun Mas Agus dan Jesi menahan.


"Emak makan dulu, Jesi suapi ya, kata dokter... Emak kelaparan." Jesi membuka plastik tahan panas penutup piring. Nasi, lauk, sayur dan buah, dikemas dalam satu wadah terdapat sekat di dalamnya. Sudah pasti ini menu yang di sajikan oleh rumah sakit.


Aku tidak menjawab, termangu menatap makanan. Ya Allah... kenapa aku akhirnya tumbang juga.


"Benar Rum, kamu jangan hanya memikirkan aku saja. Tetapi pikirkan juga kesehatan kamu." Nasehat Mas Agus.


"Iya, biar Emak makan sendiri Jes." Aku ambil makanan dari tangan Jesi. Aku memang harus makan, agar tenagaku kembali pulih. Jika aku ambruk juga, siapa yang akan mengurus anak dan suamiku. Sesuap demi sesuap aku paksakan mengunyah, kemudian menelan hingga makanan habis.


"Alhamdulillah... Emak makannya habis." Jesi tersenyum. Ia ambil tempat makan yang masih di tanganku, lalu mengambilkan aku minum. Aku terharu memandangi anak ini dari belakang. Ia perhatian kepadaku. Bagusnya ada dia, jika tidak apa jadinya.


"Terimakasih Jes." Aku terima botol yang diberikan Jesi lalu meminumnya. "Kamu sudah makan Jes?" Tanyaku khawatir, jangan sampai Jesi juga sampai lupa makan, karena mengurus aku dan Ayahnya.


"Sudah di kantin sekolah tadi Mak. Sekarang... Mak istirahat, biar Ayah Jesi yang urus."


Aku menurut, kemudian memaksa untuk tidur siang, tetapi sebelumnya aku shalat dzuhur terlebih dahulu.

__ADS_1


Samar-samar mendengar Adzan, aku membuka mata. "Jam berapa sekarang Mas?" Tanyaku kepada Mas Agus. Ternyata Jesi sedang menyeka tubuh Ayahnya.


"Sudah Ashar Rum."


"Ya Allah... bagaimana kabar Ratri ya Mas?" Tanyaku sedih, karena aku belum tahu keadaan putriku. Apakah Arga memenuhi syarat untuk donor, atau justeru sama seperti aku dan Daniswara.


"Emak tenang saja, setelah Ayah selesai pakai baju, Jesi antar Emak, menemui Tante Banuwati ya." Usul Jesi.


Aku mengangguk, lalu hendak turun dari tempat tidur, namun sempoyongan. Ternyata kakiku masih lemas dan kepalaku terasa sakit.


"Rum" Tangan Agus spontan merangkul pinggangku.


"Emak mau ke kamar Mandi?" Tanya Jesi, berjongkok di hadapanku. Aku mengangguk. Jesi lantas ambil kursi roda milik Mas Agus mendorong aku ke kamar mandi. Selesai menuntaskan hajatku, lalu dibantu Jesi ambil air wudhu.


Di tempat tidur aku shalat sambil duduk, saat sedang berdoa, mendengar langkah kaki masuk. "Mbok Sri kesini?" Tanyaku. Ternyata Mbok Sri datang bersama Dewi.


"Saya mau menjenguk Ibu," Mbok Sri menuturkan, setelah diberi tahu Dewi jika aku sakit lalu ikut menjenguk.


"Mbok, sebaiknya jangan pulang dulu ya, saya disini membutuhkan bantuan Simbok," Pintaku. Tidak ada pilihan lain selain meminta Simbok menemani aku.


"Siap Bu" Jawab Simbok, lalu mengeluarkan dompet. "Bu Ningrum... selama Ibu tinggal di rumah sakit, saya yang menggantikan Ibu jualan di rumah. Maaf, makanya saya belum sempat menjenguk Ibu." Tutur Simbok lalu menyerahkan uang hasil jualan.


"Lalu siapa yang membantu Simbok?" Tanyaku terkejut.


"Dewi Bu."Simbok menoleh Dewi. Dewi hanya tersenyum.


"Kamu Dewi, memang kamu tidak capek?" Tanyaku heran. Sebab Dewi juga harus bekerja.


"Tidak Mak, ketika di kampung, saya sudah biasa bangun pagi membantu Mamak saya." Jawab Dewi.


"Keuntungannya Mbok Sri bagi dua saja, lalu modalnya Mbok simpan untuk modal jika saya sudah sembuh." Jawabku.


"Tidak usah Bu, Mak." Tolak keduanya. Namun aku tidak mau menerima, karena itu hak mereka.


Setelah ngobrol sebentar, aku minta diantar Simbok dengan kursi roda menjenguk Ratri, di ikuti Dewi. Sementara Jesi menemani Ayahnya.


Namun, lagi-lagi aku mendapat ujian berat, menurut penuturan Wati, putriku ternyata masuk ruang ICU. Aku menumpahkan air mataku yang tak kunjung kering.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2