
"Jesi... kamu sudah besar sayang... seharusnya sudah bisa mengerti. Mengapa Ayah dan Ibu kamu tidak bisa lagi bersatu," Aku ajak Jesi duduk berdua berbicara dengan tenang. Ancaman bunuh diri yang terlontar dari mulut Jesi seperti bukan dirinya. Permintaan anakku mencengangkan. Pasalnya Jesi meminta aku agar kembali bersatu dengan Arin.
"Kenapa nggak bisa? Toh, di luaran sana banyak kok Yah, suami yang mempunyai istri dua." Jawab Jesi semakin ngelantur.
"Cek! Kamu ini Jesi, tadi kamu bilang malu dengan teman-teman karena tidak punya Ibu. Tetapi jika Ayah punya istri dua, kamu pikir kamu tidak malu?!" Dengusku.
"Terserah Ayah, jika Ayah tidak mau tinggal di rumah ini. Lebih baik aku akan pergi bersama Ibu." Lagi-lagi Jesi mengancam lalu pergi. Mengapa Jesi menjadi sering mengancam terlebih kepadaku.
Aku kesal meninju angin semua ini gara-gara Arin. Dengan hati yang gondok, aku mendatangi kamar Arin. Aku akan buat perhitungan dengannya, memang siapa dia sudah berani mempengaruhi Jesi.
"Brak!
Aku tendang pintu kamar Arin hingga terbuka lebar. Dia yang sedang santai di tempat tidur sambil main handphone dan senyum-senyum seperti orang gila. Wanita itu kaget lalu aku dekati menyandak kerah bajunya.
"Siapa yang suruh kamu tinggal disisi?!" Tanyaku emosi.
"Jangan gitu Mas, aku tinggal di rumah ini bukan kemauan aku kok, tapi Jesinta yang memohon agar aku tinggal disini bersamanya." Ujarnya menyeringai.
"Lalu apa hak kamu mencuci otak Jesi?! Selama ini, Dia anak baik, tetapi setelah kedatangan kamu kesini tabiat nya berubah!"
"Aku tidak pernah bicara apa-apa Mas, kamu saja yang tidak becus mengurus anak! Karena kamu sibuk dengan janda!" Ucapan Arin membuat emosi ku memuncak. Tanganku terangkat siap melayangkan tamparan.
"Jangan Ayah!" Cegah Jesi, tiba-tiba dia sudah masuk ke kamar. Aku dorong kerah Arin hingga kepalanya membentur ujuk ranjang.
"Aduh!" Pekik Arin memegangi kepalanya.
"Jesi... tolong Jes, kepala Ibu berdarah." Arin menunjukkan jari yang berlumuran darah.
"Ibu..." Jesi mendekat lalu memeriksa kepala Arin. Lagi-lagi tangan Jesi pun berlumuran darah. "Ayah, cepat tolong Ibu kita bawa ke rumah sakit." Perintah Jesi.
__ADS_1
Aku menurut saja, segera kedepan menyalakan mobil dan membawa Arin berobat ke rumah sakit.
Sore harinya Arin sudah dibawa pulang.
"Ibu... Ayah galak, lebih baik kita pergi dari rumah ini." Kata Jesi membuat hatiku hancur. Anak yang sudah aku besarkan selama ini, sekarang bersekongkol menyerangku.
"Tidak Jesi, Ibu akan melaporkan Ayah kamu, karena sudah melakukan kdrt" Ancam Arin. "Ibu sudah punya barang bukti akan segera memenjarakan Ayahmu!" Ujarnya tidak main-main.
"Jangan Bu, jangan hukum Ayah, lebih baik kita pergi saja." Jesi menangis terisak dalam pelukan Arin.
"Baiklah Jes, sekarang kita pergi, tetapi Ibu tetap akan melaporkan Ayah kamu. Hukum harus di tegakkan!" Ujarnya, sok tahu tentang hukum.
Jesi keluar lalu masuk ke kamar sebelah hendak membereskan baju miliknya. Aku mengejarnya mana mungkin aku merelakan Jesi pergi. Ia adalah hartaku.
"Jesi... jangan pergi Nak" Aku memeluk Jesi dari belakang. Air mata aku membasahi bajunya. Aku benar-benar kalah. Anakku telah di kuasai Arin. Aku bingung, ancaman Arin akan melaporkan aku ke posisi pasti tidak main-main. Jika sampai aku masuk penjara Jesi pasti akan menjadi anak yang tidak baik.
Tidak ada pilihan lain bagiku selain mengangguk. Jesi lalu ke kamar Arin. Aku mendengar percakapan Arin dan Jesi dari luar. "Bu, jangan penjarakan Ayah. Sebaiknya kita tidak usah pergi, aku yakin Bu, Ayah tidak akan berani kasar lagi sama Ibu."
Aku menjatuhkan dahiku ke tembok berbantalkan tangan. Pikiran aku kemana-mana. Bagaimana caranya agar aku bisa tinggal di rumah ini. Sedikit demi sedikit mengembalikan Jesiku yang penurut dan santun. Tidak ada pilihan lain aku harus mengajak Ningrum tinggal disini. Mengenai Arin yang berada di rumah ini aku akan bicara jujur dengan Ningrum.
Selama seminggu aku banyak melamun dan menjadi perhatian Ningrum.
"Mas kenapa sih... aku perhatikan semiggu ini murung terus, ada apa? Jika ada masalah cerita sama aku, siapa tahu aku bisa bantu." Ucapan Ningrum menyejukan hatiku.
"Rum... anakku mengajak aku tinggal bersama, tetapi apakah kamu mau tinggal bersama kami?" Tanyaku. Akan menceritakan tentang Arin dengan Ningrum, tetapi tidak sekarang. Aku takut jika tahu ada Arin di rumah, Ningrum akan menolak.
"Kalau hanya itu masalahnya tidak usah di pikirkan Mas. Aku ini kan istrimu, tentu akan ikut kemana suami aku pergi." Jawab Ningrum melegakan hatiku. Sebenarnya aku tidak tega membohongi Ningrum. Namun, hanya ini jalan untuk menyelamatkan Jesi.
Aku mengajak Ningrum tinggal di rumah. Awalnya Jesi tidak menerima kehadiran Ningrum. Tetapi, aku selalu memberi pengertian begitu juga dengan Ningrum memberi perhatian khusus kepada Jesi.
__ADS_1
Namun, ketika Jesi mulai menyayangi Ningrum, aku telah berbuat kesalahan. Yang ada dalam pikiran aku hanya Jesi. Aku sering tidur di kamarnya. Tentu Ningrum merasa terabaikan. Pertengkaran aku dengan Ningrum sering terjadi hingga diantara kami tidak ada komunikasi lagi.
Belum lagi Arin selalu membuat ulah sering bertengkar dengan Ningrum. Jika aku membela Ningrum, Arin selalu mengancam akan memenjarakan aku.
Niat hati ingin menyelamatkan Jesi, tetapi rumah tanggaku menjadi taruhan. Aku benar-benar pusing terjebak dalam permainan aku sendiri. Sering kali aku menyembunyikan keburukan Arin di depan Ningrum. Tentu saja Ningrum salah paham dan selalu menuduh jika aku dengan Arin masih ada hubungan suami istri.
Puncaknya Ningrum pergi dari rumah, namun sayanganya aku tidak bisa mencegah. Aku akui memang bodoh. Selama tidak ada Ningrum separuh hatiku terasa hilang. Selama seminggu aku sering melamun.
Sore itu motor yang aku kendarai di hantam mobil hingga ringsek. "Ningrum..." Rintihku saat itu aku masih sedikit mendengar suara orang yang menolong aku. Entah siapa yang menolong aku saat itu aku tidak tahu.
PoV Ningrum.
Di dalam mobil diiringi isak tangis seperti anak kecil, Mas Agus menceritakan semuanya. Kini mas Agus bersandar di jok, sesekali meraup wajahnya.
Aku yang berada di sebelahnya menarik napas sesak. Aku memang marah, kecewa, dan tidak habis pikir dia berani berbohong kepadaku. Tujuanya baik ingin menyelamatkan moral putrinya. Tetapi caranya yang tidak benar. Tidakkah terpikirkan olehnya bahwa yang di lakukan Mas Agus menyakiti hatiku. Dan sekarang haruskah aku menghakimi dirinya yang sedang menahan sakit luar dalam. Manusia tempatnya salah. Aku juga menyadari bahwa aku bukan wanita baik.
"Minum Mak, Pak." Ratri yang sudah duduk di depan memberikan dua botol air mineral. Memecah keheningan.
"Terimakasih Ratri," Ucapku dan Mas Agus.
"Sama-sama."
"Pak Agus ada yang dirasakan, kok pucat sekali?" Tanya Arga mengurungkan menyalakan mobil, menoleh ke belakang.
"Benar Pak, jika ada yang dirasakan mumpung kita masih disini," Sambung Ratri.
"Tidak Nak, sebaiknya kita pulang saja," Tolak Mas Agus.
...~Bersambung~...
__ADS_1