
Begitu tiba di depan rumah Papa, Arga segera menukar motor miliku dengan miliknya. Arga pun bergegas pulang. "Tidak pamit Papa dulu Mas?" Tanyaku.
"Tidak usah Tri, saya tadi sudah pamit Tuan kok, sore ini mau menjemput Ibu saya ke terminal," Jawab Arga panjang.
"Oh, Ibunya Mas Arga ke sini, boleh dong Mas, aku kenalan." Ucapku bersemangat.
"Buat apa? Nggak usah." Tolak Arga, lalu setarter motor meninggalkan aku yang masih manatapnya dari belakang.
"Dasar pelit!" Ucapku kesal. Tentu sudah tidak di dengar Arga.
Aku mengucap salam karena pintu dibuka. Yang menjawab pria berahang tegas dan sedang berkutat di depan lap top itu adalah Papa.
"Kamu sendirian, Arga kemana?" Tanya Papa menatap aku sebentar lalu kembali ke lap top.
"Pulang, katanya sudah ijin sama Papa." Jawabku. Aku letakan tas di atas meja lalu bersandar di sofa. Selama di Jakarta aku capek sekali. Tidak hanya tenaga, tetapi juga pikiran.
"Kamu lelah banget ya." Papa pun mendekati aku.
"Nggak juga sih Papa, tapi aku memikirkan pekerjaan aku di Surabaya, pasti sudah menumpuk." Jawab ku. Walaupun jika rapat bisa aku kerjakan online, tetapi bukan hanya itu masalahnya.
"Oh iya Papa... besok aku mau kembali ke Surabaya." Pamitku.
"Pulang." Potong Papa cepat. Rupanya Papa pun tampak keberatan.
"Iya Pa, banyak yang harus aku selesaikan disana." Aku menjelaskan. Walaupun sebenarnya aku pun terasa berat karena belum hilang rasa kangen meninggalkan Emak, Bapak, dan juga Papa dan Mama.
"Padahal bulan depan Papa mau menerima tamu yang akan melamar kamu." Kata Papa.
"Melamar?" Aku terkejut, menatap Papa tidak habis pikir. Aku heran, Papaku ini jika punya kemauan khususnya untuk aku selalu tidak membicarakan lebih dulu.
"Iya, pria itu baik kok, kalian sudah saling mengenal. Papa yakin, jika kalian nanti menikah pasti akan menjadi pasangan yang cocok." Papa tersenyum.
"Lalu, siapa pria itu Pa?" Tanyaku, menggoyang lengan Papa. Hanya ada dua pri yang dekat denganku. Yakni Hendri dan Arga, mudah-mudahan bukan Hendri orangnya.
"Hendri" Jawab papa tegas. Seketika aku diam seribu bahasa. Sungguh, Hendri pembisnis sukses itu bukan kriteria aku.
"Tidak, aku tidak mau." Tolakku cepat. Lalu aku meninggalkan Papa ke kamar. Aku jatuhkan tubuhku kasar di ranjang. Kali ini kesal sekali kenapa sih, Papa selalu memaksa. Aku pun akhirnya tidur, menjelang ashar kemudian bangun. Setelah shalat aku mau pulang ke rumah Emak.
__ADS_1
"Pa, menurut Mama, kalau Ratri tidak mau di jodohkan dengan Hendri, jangan di paksa." Terdengar suara Mama dari ruang keluarga. Aku menajamkan pendengaran di bawah tangga.
"Tidak ada alasan bagi Ratri untuk tidak menerima Hendri Ma, kurang apa coba Hendri. Anaknya baik dan sudah mapan," Jawaban Papa mengejutkan aku.
Aku heran, mendengar ucapan Papa, sejak kapan Papa menilai seseorang dari materi. Padahal aku tahu Papa dulu tidak pernah begitu.
"Papa tidak ingat dulu ya, ketika mau menjodohkan Ratri? Yang ada, Ratri malah kabur." Kata Mama panjang lebar.
"Ma, Papa menjodohkan Ratri itu, karena sudah banyak pengalaman, bahwa rumah tangga yang di jodohkan itu pasti bahagia. Contohnya, anak kita Gendis dan Bima. Besan kita, Ganendra dan Seruni, terus yang terakhir kita. Selama ini kita bahagia kan." Papa rupanya berkaca dengan orang-orang terdekatnya.
"Terserah Papa sih, tetapi aku sudah mengingatkan loh." Tegas Mama.
Tidak terdengar obrolan lagi, kemudian aku keluar dari persembunyian.
"Ma" Sapaku langsung duduk di tengah-tengah antara Mama dan Papa.
"Anak Mama... muachh..." Mama mencium pipiku. Rasanya senang sekali walaupun aku bukan anak kandung Mama. Tetapi Mama sayang sekali kepadaku. "Kamu tadi bobo ya?" Sambung Mama.
"Iya, Mama tadi kemana waktu aku datang tidak ada?" Tanyaku. Pura-pura tidak mendengar apa yang Papa dan Mama bicarakan.
"Mama tadi belanja, kalau tahu kamu akan datang, pasti Mama menunggu kamu." Kata Mama menyelipkan rambut aku ke atas daun telinga. Jika begini aku rasanya ingin kecil lagi seperti dulu tidak pernah ada masalah.
"Kalau gitu kamu malam ini menginap disini saja." Sambung Papa"
"Lain kali saja Pa, sekarang aku mau siap-siap dulu." Aku sebenarnya kasihan dengan Papa dan Mama. Pasalnya menginap disini hanya sekali. Wajar, banyak sekali masalah Emak yang harus di selesaikan lantas tidak kepikiran menginap lagi.
"Ya sudah... yang penting kamu disana jaga diri baik-baik." Nasehat Mama.
"Makanya Ratri, bulan depan kamu tunangan saja dulu, biar Papa disini tenang, jadi disana ada yang menjaga kamu" Sela Papa.
"Aku belum memikirkan untuk menikah Papa, kalau gitu aku pulang dulu." Pamitku memotong.
Malam harinya aku ngobrol sama Emak diluar rumah. Tampak rembulan menyinari kami. "Emak di rumah baik-baik ya, kalau sampai Arin berbuat macam-macam, Mak lapor saja kepada Mas Arga." Pesanku.
Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan Emak. Tetapi di rumah ini Mak tidak sendiri. Ada Jesi, Bapak, dan juga Dewi, mudah-mudahan, Emak tenang.
"Kamu juga hati-hati Nak, jangan khawatirkan Emak," Ujar Emak. "Ngomong-ngomong... kamu besok berangkat ke bandara di antar Arga kan?" Pertanyaan Emak mengejutkan aku.
__ADS_1
"Tidak Mak." Jawabku singkat. Arga membantu aku selama beberapa hari, bukan kemauanya sendiri. Tetapi karena profesional kerja, mana mungkin Arga mau mengantar aku.
"Kalau Emak perhatikan, anak Emak kayaknya jatuh cinta sama Arga deh," Emak tersenyum.
"Emak." Aku membalas senyum Emak. Namun, senyumku mendadak hilang kala ingat Papa akan menjodohkan aku.
"Aku akan dijodohkan lagi Mak," Aku mengadukan kepada Emak. Mungkin jalan satu-satunya aku harus minta tolong Emak agar berbicara dengan Papa, bahwa aku menolak perjodohan ini.
"Di jodohkan?" Emak tampak kaget.
"Begitulah Mak, tadi Papa bilang akan menjodohkan aku. Tolong ya Mak, katakan kepada Papa agar membatalkan perjodohan itu. Aku tidak mau Mak," Aku merengek seperti anak kecil.
"Tenang sayang, Emak akan menemui Banuwati." Jawab Emak meyakinkan aku.
"Terimakasih Mak" Ucapku. Malam semakin larut hawa dingin seolah mengusir aku dan Emak agar segera masuk ke rumah. Kami pun masuk rumah lalu ke kamar masing-masing. Suasana sudah sepi, mungkin Jesi dan Dewi sudah tidur.
Keesokan harinya.
"Kakak Jadi berangkat, sekarang?" Tanya Jesi sudah lengkap mengenakan seragam sekolah.
"Iya Jes, aku titip Emak, kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya."
"Siap Kak" Jawab Jesi.
"Mbak Ratri, barang kali suatu saat sempat singgah ke gubuk saya, ini alamatnya Mbak." Dewi memberikan alamat.
"InsyaAllah, Wi." Aku perhatikan Dewi sudah menggunakan baju kantor, karena akan wawancara di perusahaan Papa pagi ini.
"Iya Mbak, doakan lulus, pagi ini saya akan wawancara."
"Aamiin..."
"Kakak berangkat jam berapa?" Tanya Jesi.
"Jam tujuh Jes, tapi jam 6 harus sudah chek in" Aku mengamati jam di handphone saat ini sudah jam lima.
"Kalau gitu, Kak Ratri aku antar saja, sekalian mengantar Dewi." Usul Jesi. Memang jika ke bandara melewati kantor Papa. Tidak ada salahnya aku ikut. Aku segera pamit Emak dan Bapak, beliau mengantar ke pinggir jalan sekalian Emak melatih kaki Bapak.
__ADS_1
"Ratri biar saya saja yang mengantar." Suara pria mengejutkan aku. Ketika aku hendak naik ke mobil Jesi.
...~Bersambung~...