Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 31


__ADS_3

Aku terharu melihat Bapak dan Jesi menangis saling berpelukan. Aku, Arga dan Dewi melihat dan mendengar dari kejauhan. "Jesi... kamu kemana saja selama sebulan ini Nak? Lalu bagaimana sekolah kamu?" Tanya Bapak.


"Aku sewa apartemen Yah." Jesi menceritakan semuanya kepada Bapak dan Emak. Tidak ada yang di tutup-tutupi.


"Tetapi Ayah tidak bisa memperpanjang sewa apartemen kamu lagi Jes. Ayah sekarang sudah bangkut Nak, Ayah hanya tinggal raga yang renta."


Mendengar penuturan Bapak.Jesi dan Emak menangis tidak terkecuali aku. Aku tidak tega melihat keadaan Bapak.


"Sudah... sekarang Jesi tidak boleh sewa apartemen lagi, kamu tinggal disini saja Nak" Usul Emak.


"Tapi Mak" Jesi menunduk. Mungkin dia malu. Kepada Emak setelah apa yang diperbuat Arin.


"Tidak usah tapi-tapian, sekarang kamu tinggal disini. Kita ini keluarga Jes," Tulus Emak. "Nanti kamu bersama Dewi bisa tidur satu kamar." Terdengar Emak ingin membeli dua tempat tidur untuk Dewi dan Jesi. Aku bangga Emak rela menolong orang yang sedang susah.


"Sekarang kita makan siang dulu." Emak menyudahi obrolan, lalu menatap ke arah kami yang masih berdiri di bawah tangga. "Ngapain kalian di situ? Ratri... ajak Arga dan Dewi kesini," Panggil Emak.


"Iya Mak." Aku pun menarik kursi meja makan untuk Arga.


"Jangan-jangan saya bisa sendiri," Tolak Arga cepat.


Kami makan siang bersama di selingi obrolan kecil. Aku senang melihat Emak sedari tadi tampak tersenyum. Semoga mulai saat ini dan seterusnya Emak selalu tersenyum tidak ada lagi derita.


Usai makan kami berkumpul di ruang tamu. Emak dan Bapak sudah sepakat akan menceritakan kepada Jesi bahwa rumah Ayahnya di gunakan Arin untuk maksiat.


"Hiks hiks hiks" Mendengar cerita kami, Jesi menangis sejadi-jadinya. Bapak dan Emak berusaha untuk menenangkan putrinya dengan berbagai nasehat. "Kenapa Ibuku begini Yah," Jesi merangkul tubuh Bapak.


"Itulah Jesi, buatan Ibu kamu sudah tidak bisa di biarkan Nak, jadi kamu jangan sedih jika suatu saat Ibu kamu di penjara." Kata Bapak.


Jesi hanya bisa mengangguk, mungkin Jesi sudah mengerti jika hukum memang harus di tegakkan.

__ADS_1


Tidak hanya Jesi yang menangis, rupanya Dewi pun sama. Mungkin Dewi sakit hati atas perlakuan Ibunya Jesi. Dewi beranjak lantas meninggalkan kami ke lantai atas.


Emak menatap Dewi dari belakang seoalah merasakan kesedihan yang Dewi rasakan.


"Jesi... Dewi itu korban seperti Emak Nak." Tutur Emak.


"Jadi, Dewi itu salah satu wanita yang dipaksa Ibu, menjadi wanita malam?" Tanya Jesi menoleh Dewi yang sedang menangis menapaki anak tangga.


"Begitulah Jes, Dewi awalnya diajak tetangganya mau dicarikan pekerjaan, tetapi justeru dijual kepada Ibu kamu." Tutur Emak.


"Kalau gitu aku susul Dewi Mak," "Kata Jesinta lalu beranjak. Aku dan Arga pun menyusul Jesi.


"Tunggu Mas." Cegahku ketika tiba di depan gudang yang baru selesai kami bersihkan ternyata sudah dipel oleh bibi. Kami perhatikan Jesi mendekati Dewi yang sedang menangis memeluk lutut.


"Dewi... atas nama Ibu, saya minta maaf," Ucap Jesi sendu, besimpuh di depan Dewi.


Dewi mengangkat wajahnya menatap Jesi berlinang air mata. "Karena Ibu kamu, masa depan saya hancur Jesi. Andai semua ini dengan mudahnya bisa di bayar dengan kata maaf." Dewi tergugu.


"Hidup keluarga saya selama ini selalu dalam kesusahan Jes, kalau kamu mau tahu. Orang tua saya berjuang mati-matian jualan sayuran bangun tengah malam, hanya demi kami anak-anaknya agar bisa makan dan sekolah. Tetapi Jika orang tua saya tahu semua ini apa yang akan terjadi Jes." Dewi mengguncang tangan Jesi yang diam menunduk.


"Harta yang saya jaga selama18 belas tahun sekarang hilang Jes. Dan semua ini karena ulah Ibu kamu! Lalu dengan mudahnya kamu minta maaf!" Dewi rupanya mengeluarkan uneg-uneg.


Sementara Jesi hanya bisa menangis. Dua gadis hanya berbeda satu tahun itu sama-sama menangis. Aku menarik tangan Arga lalu ke dalam kamar, mendekati keduanya.


"Dewi... kami tahu apa yang kamu rasakan, tetapi alangkah tidak adil jika kita menghakimi Jesi." Nasehatku bukan tidak merasakan apa yang dirasakan Dewi, tetapi Jesi tidak tahu apa-apa dalam hal ini.


"Jesi sebenarnya sama dengan kamu dan Emak Wi, kita semua korban." Aku menceritakan kepada Dewi, jika Jesi baru bertemu Arin agar semuanya jelas. Dan pada akhirnya Dewi pun mengerti.


"Kamu seperti Nenek-Nenek saja" Kata Arga ketika aku sudah keluar dari kamar Dewi.

__ADS_1


"Nenek Nenek?" Aku melirik Arga.


"Iya, waktu kamu menasehati Dewi tadi, saya jadi teringat Nenek." Kelakar Arga. Aku hanya melengos saja, lalu mendahului nya.


"Bagaimana Nak? Dewi sudah tenang?" Tanya Emak saat ini masih di ruang tamu bersama Bapak.


"Sudah Mak." Jawabku lalu aku duduk di depan Ayah dan Emak, disusul Arga.


"Mak, alhamdulillah, masalahnya sudah sedikit teratasi. Masalah Arin dan sertifikat rumah Emak biar Mas Arga yang urus. Sudah seminggu aku di Jakarta dan sudah waktunya kembali ke Surabaya." Pamitku, masalah Arin biar Arga yang lapor ke polisi toh semua sudah jelas.


"Secepat itu sayang..." Emak tampak keberatan memegang punggung tanganku.


"Kok, tiba-tiba kamu memutuskan kembali ke Surabaya? Apa karena Jesi tinggal disini Nak?"


"Bapak... ya jelas tidak lah." Potongku cepat. Rupanya Bapak berpikir demikian.


"Alasan aku kembali cepat, karena ada beberapa klien yang ingin bertemu langsung denganku Pak, Mak. Tetapi besok kalau sudah senggang, aku akan usahakan cepat kembali," Jawabku memang benar adanya.


"Ya sudah Nak, tetapi kamu disana hati-hati ya," Kata Emak terasa berat.


"Iya Mak, nanti aku mau pamit Papa, sekalian mampir mall beli handphone untuk Emak. Agar kita bisa telepon setiap malam." Kataku. Mak hanya mengangguk. Kami ngobrol masalah ke pulangan aku. Namun Arga sama sekali tidak berucap. Terjawab sudah ternyata cinta aku bertepuk sebelah tangan.


Saat itu juga aku akan pamit Papa, setelah minta ijin Emak aku diantar Arga ke rumah Papa.


"Kamu yakin mau pulang besok?" Tanya Arga saat kami sudah berangkat.


"Iya, memang kenapa?" Tanyaku berharap ia akan mencegah aku, walaupun aku tetap akan pergi.


"Tidak apa-apa hanya tanya, mamang nggak boleh." Ujarnya. Kami pun akhirnya saling diam tidak lama kemudian tiba di kediaman Papa.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2