
PoV Arga.
"Tole... kamu kok akhir-akhir ini sibuk sekali? Pulang malam ketika Ibu sudah tidur, berangkat pagi-pagi sekali ketika Ibu belum bangun. Apa kamu selalu bekerja tidak mengenal waktu seperti ini? Ingat Lee... kerja itu ada waktunya, mesin saja jika terus-terus-an menyala, bisa jebol kok" Nasehat Ibu, setengah protes. Saat ini sudah hampir jam 12 malam rupanya Ibu sengaja menunggu aku pulang.
"Iya Bu, Ratri masuk rumah sakit." Jawabku sambil membuka sepatu. Aku memang belum sempat cerita kepada Ibu karena jujur, setelah Ratri dirawat, banyak sekali tugas yang aku emban. Maka selama seminggu aku tidak bertemu Ibu.
"Ratri masuk rumah sakit? Kenapa, Arga?" Cecar Ibu, kaget dan syok.
Aku menceritakan kepada Ibu apa yang terjadi dengan Ratri, dan juga perjalanan Ibu Ningrum. Aku tahu semua yang terjadi dengan masalalu Emak Ningrum. Wajar, karena aku bekerja dengan Daniswara sudah 10 tahun.
"Astagfirullah... jadi begitu ceritanya Lee... masalalu Ningrum ternyata rumit ya." Ibu geleng geleng.
"Iya Bu, terus sekarang Ratri masuk ruang ICU lagi." Ucapku sesak.
"Astagfirullah... Ibu besok mau menjenguk Ratri ya Lee... dirawat dimana Ratri? Pantas saja, Dia janji mau main kesini, tetapi tidak datang, ini to, alasanya." Ibu lagi-lagi syok.
"Tetapi menjenguk juga percuma Bu, pasti tidak diijinkan masuk." Aku menjelaskan.
"Tidak apa-apa Lee... setidaknya Ibu bisa menghibur Ningrum. Besok pagi-pagi Ibu ikut kamu boleh kan..." Ibu tidak mau dibantah.
"Bisa Bu, sekarang Ibu istirahat, sudah terlalu malam." Saranku.
"Kamu makan dulu, tiap kali Ibu memasak akhir-akhir ini hanya Ibu yang makan." Keluh Ibu.
"Maaf Bu, aku selalu dibelikan makan, Tuan Daniswara." Jawabku memang begitu adanya.
Ibu pun akhirnya masuk ke kamar. Sementara aku merebus air untuk mandi. Sudah terlalu malam, jika mandi dengan air dingin hawatir masuk angin. Setelah mandi lalu merebahkan tubuhku di kasur.
Aku menatap langit-langit rumah, memikirkan Ratri. Jika tahu akan begini nasibnya, tentu aku memilih mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya. Seharusnya aku berjuang untuk mendapatkan restu tuan Daniswara, bukan malah pura-pura acuh kepada Ratri. Saat ini aku hanya bisa berdoa agar Ratri segera sadar, dan aku akan ungkapkan perasaanku kepadanya. "Semoga"
Kriiing... kriing...
Terdengar dering tiga kali, aku membuka mata. Itulah alarm handphone yang aku nyalakan sebelum adzan subuh berkumandang. Perasaan baru sebentar terlelap tetapi waktu sudah menuntunku untuk melanjutkan aktivitas. Setelah duduk sebentar mengumpulkan nyawa, aku memulai rutinitas pagi, yakni mandi. Tepat adzan subuh aku sudah selesai mengenakan pakaian kemudian membentang sadjadah berserah diri kepada Allah.
__ADS_1
"Ibu memasak lagi?" Tanyaku. Jika biasanya setelah subuh sudah berangkat, kali ini aku akan menunggu Ibu.
"Ibu tidak memasak Lee, mubazir soalnya. Sekarang menghangatkan saja."
Aku memandangi Ibu dari samping, merasa bersalah. "Nanti kalau Ratri sudah sembuh, dan boss aku sudah kembali ke kantor. Aku janji Bu, mau makan bareng sama Ibu seperti kemarin kemarin." Aku merangkul pundak Ibu dari samping.
"Nggak apa-apa Lee... sekarang kita sarapan dulu, terus Ibu berangkat bareng kamu." Tutur Ibu, memasukkan tumis tempe dan kacang panjang ke dalam mangkok, dan ikan kembung yang sudah dibumbu sambal balado ke dalam piring.
"Kamu kalau nggak ada Ibu, nggak pernah memasak?" Tanya Ibu sembari berjalan ke arah meja makan.
"Masak Bu, hanya akhir-akhir ini saja." Jawabku, lantas menarik kursi duduk di meja makan. Sebenarnya masih terlalu pagi untuk sarapan, tetapi demi Ibu aku akan sarapan.
"Lee... kasihan Ratri, padahal Dia itu suka sama kamu loh. Tetapi Ibu perhatikan kamu tidak menanggapi. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Ratri, kamu akan menyesal Lee." Nasehat Ibu.
Aku mengangkat kepala cepat, menatap Ibu yang sedang menyendok nasi. "Aku tahu Bu, tapi aku cukup tahu diri. Siapa aku? Sampai berani mendekati putri boss." Jawabku lirih.
"Ibu tahu Lee... tetapi tidak ada salahnya kan, menyenangkan anak bos kamu. Mudah-mudahan saja, kamu tidak terlambat menyadari." Pungkas Ibu.
Tiba di rumah sakit, Ibu Ningrum sudah keluar dari kamar Pak Agus. Mungkin beliau hendak menjenguk Ratri.
"Bu, itu Bu Ningrum." Bisikku kepada Ibu.
"Masa sih Lee... kok kurus banget, padahal dulu Ningrum itu badanya bagus." Dahi Ibu berkerut. Rupanya beliau tidak mengenali Mak Ningrum.
"Sekarang kita hampiri Bu." Aku dan Ibu mempercepat langkah kami mengejar Mak Ningrum, sebelum sampai di depan ruang ICU.
"Bu Ningrum."
"Arga... kamu sudah sampai?" Tanya Mak Ningrum. Aku tatap mata cekung karena terlalu kurus itu, menyembunyikan perasaan sedihnya lalu tersenyum kepadaku.
"Iya Bu... kenalkan, ini Ibu saya," Walaupun kata Ibu, Mak Ningrum adik kelasnya ketika SMK, tetapi aku tidak mau memberi tahu. Apakah Mak masih mengenal Ibu.
"Saya Ningrum Mbak..." Ucapnya lalu menjabat tangan Ibu.
__ADS_1
"Rum, kamu masih ingat saya tidak?" Tanya Ibu, mengulum senyum.
"Siapa ya?" Mak Ningrum menatap lekat wajah Ibu. Rupanya memang lupa.
"Kamu masih ingat wakil ketua osis SMK 3 Gunungkidul nggak?" Tanya Ibu.
"Mbak Retno Wulandari?" Tanya Mak Ningrum. Ibu mengangguk lalu keduanya menghambur ke pelukan.
"Ya Allah, Mbak... sumpah deh! Mbak lebih cantik sekarang daripada dulu." Puji Mak Ningrum. Ibu hanya berdecak tidak percaya dengan ucapan Emak.
"Kamu kenapa, jadi langlit begini Rum." Ibu tampak ngenes.
"Apa itu langlit, Mbak?" Mak Ningrum menyipitkan mata.
"Langlit itu... tulang sama kulit Rum." Jawab Ibu. Mak Ningrum tertawa. Aku senang melihat Emak bisa tertawa lepas, selama hampir satu bulan ini aku tidak pernah melihatnya.
Selama Pak Agus di rumah sakit terlebih lagi, Ratri kena tembak, menjadi pukulan berat bagi Mak Ningrum. Rupanya kehadiran Ibu membuat hati Emak terhibur.
"Mbak... saya mau menyeka tubuh Ratri dulu ya." Pamitnya.
"Aku ikut Rum." Kata Ibu, kemudian keduanya masuk ke ruang ICU. Aku menunggu diluar. Suasana sepi sekali. Rupanya Tuan Daniswara dan Banuwati tidak ada disini.
15 menit kemudian.
Dokter dan perawat berjalan cepat menuju ruang ICU. Aku bisa memastikan bahwa di dalam, Ratri sedang dalam keadaan tidak baik. Dengan cepat pula aku menerobos masuk.
Dari kejauhan Mak Ningrum menangis histeris, memeluk tubuh Ratri. Aku melangkah lebih dekat menatap layar monitor bergaris lurus, kakiku terasa lemas. Apakah ini saat terakhir Ratri? Dadaku terasa sesak. Aku tidak bisa menahan air mata ini akhirnya jatuh juga.
"Bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Tuhan berhendak lain" Kata Dokter.
"Tidaaakk.....
...~Bersambung~...
__ADS_1