Luka Hati Mak Ningrum.

Luka Hati Mak Ningrum.
Bab 40


__ADS_3

Aku dan Dandi berhasil menangkis serangan mereka dan bahkan mampu membuatnya terdesak. Namun tidak aku sangka, pria ini menghunus senjata tajam.


Dengan hati-hati aku berusaha untuk menghindari dan mencari cara agar bisa merebut pisau dari lenganya.


Plak!


Benar saja aku berhasil menendang tangan lawan hingga pisau itu terpental. Pada akhirnya aku mampu membuat pria itu jatuh tersungkur. Bersamaan dengan itu kedua temanku satu tim datang membantu. Aku meninggalkan mereka, mudah-mudahan kedua teman aku mampu melawan. Karena dua lawanku sudah dalam keadaan terluka.


Aku menarik Dandi agar mengikutiku mencari dimana ruangan pak Agus disekap.


PoV Agus Kuat.


Aku membuka mata entah berapa lama jatuh pingsan. Ternyata dalam ruangan gelap, tetapi bukan karena tidak ada lampu, melainkan mataku ditutup dengan kain. Aku duduk di kursi dengan posisi tangan diikat. Mulutku pun di tutup dengan lakban. Arin wanita laknat itu benar benar kurangajar, gara-gara aku tidak mau tanda tangan sertifikat aku disiksa begini.


Samar-samar aku mendengar pertengkaran di luar kamar, itu pasti pria yang sedang mabuk. Andai saja aku bisa berteriak tentu aku akan minta tolong. Tetapi mustahil juga, walaupun minta tolong di tempat seperti ini, siapa yang mau berpihak kepadaku. Yang ada hanya orang-orang suruhan Arin dan juga pria hidung belang yang tidak punya hati.


Aku gerak-gerakan tangan mencoba melepas ikatan, tetapi yang ada hanya lelah tidak mau lepas juga.


"Kita harus tuntaskan malam ini juga agar pria itu mau tanda tangan." Suara Arin dari luar terdengar nyata. Aku mendelik gusar, andai saja aku mampu untuk berbuat sesuatu tentu akan melawan mereka. Tetapi apa daya dalam keadaan tidak di ikat pun kaki aku sulit untuk berjalan dengan baik, apa lagi saat ini.


Ceklak Ceklak.


Mendengar pintu dibuka aku pura-pura tidur. Langkah kaki yang mendekati aku rupanya lebih dari satu.


"Bagaimana Agus? Apa kamu masih keras kepala juga, untuk tidak menandatangani sertifikat ini?!" Tanya Arin lantang.


Pura-pura tidak mendengar akan lebih baik. Aku tidak akan sudi menandatangani sertifikat itu. Enak saja wanita tamak ini ingin menguasai rumah ini yang sudah aku cari dengan susah payah. Sebenarnya bisa saja aku mengalah. Toh, rezeki itu sudah di atur. Tetapi siapa yang rela jika rumah ini hanya digunakan untuk maksiat?


"Dengar Agus, jika kamu tidak mau tanda tangan, saya akan menyiksa kamu seperti kemarin." Ancam Arin satu sundutan rokok mengenai lenganku. Aku hanya bisa meringis menahan sakit. Sundutan rokok sudah hampir memenuhi lenganku ini. Begitulah cara wanita iblis ini dengan kejamnya menyiksaku sejak kemarin.


"Lepas ikatan tangan pria ini, agar segera tanda tangan." Perintah Arin kepada anak buahnya.

__ADS_1


"Baik Nyonya." Jawab pria itu segera berdiri di belakangku membuka ikatan dengan kasar. Selesai membuka ikatan, pria itu menarik lakban dengan sekali tarikan penutup mulut pun lepas.


"Agus, jika kamu tidak segera tanda tangan, rokok ini akan kembali menyundutmu!" Ancam Arin.


"Kamu bunuh pun saya tidak akan sudi tanda tangan wanita Iblis! Karena rumah ini, kamu tega menculik gadis-gadis yang tidak berdosa!" Jawabku geram.


Plak!!


Tangan wanita ini mendarat di pipiku. Inilah perlakuan Arin sejak tadi pagi hingga malam hari ini. Ketika rokok sudah tidak ngebul lagi. Ia gunakan tangannya untuk senjata.


"Kamu menantang saya Agus! Saya akan melaporkan dan menuntut hak gono gini saya." Ucapnya tidak di pikir dulu.


"Hahahaha..." Kali ini aku yang tertawa. Mungkin wanita ini tidak berkaca dulu, siapa dirinya hingga berani berkata tentang hukum. Rupanya ia tidak menyadari beberapa pelanggaran berat yang sudah ia lakukan. "Arin... Arin! Kamu ini lucu sekali. Wanita seperti kamu tahu juga tentang hukum rupanya. Jika kamu berani, silahkan saja laporkan dan siap-siap kamu masuk penjara." Ucapku sungguh-sungguh.


Tangan Arin di angkat bermaksud menamparku. Namun sebelum menyentuh pipiku, aku tangkap tanganya dengan kasar.


Buk!


Tiba-tiba tinju melayang ke wajahku tanpa aku duga, hingga bibirku berdarah.


Brak!


Pria itu naik pitam kaki kekarnya menendang kursi yang aku duduki. Kursi jatuh ke lantai, bersamaan dengan tubuhku jatuh membentur lantai. Kepalaku terasa pening dan kakiku yang sedang dalam tahap penyembuhan pun terasa sakit luar biasa. Kali ini aku sudah pasrah, mungkin hanya sampai disini sisa umurku.


"Maafkan aku Ningrum" Aku membatin. Arin berjongkok di hadapanku, mencekal tangan ini dan memberikan bolpen dan kertas. Lagi-lagi memaksaku untuk tanda tangan. Namun aku sudah tidak kuat lagi.


Brak!!


Kursi yang berada di sampingku ada yang melempar ke tembok. Aku masih bisa melihat samar-samar walaupun pandangan aku sudah kabur. Arga dan satu temanya menghajar pria itu.


"Alhamdulillah..." Lirihku. Hanya dengan beberapa kali tendangan Arga berhasil melumpuhkan pria itu. Sementara Arin berjalan cepat meninggalkan kami mungkin ia ketakutan.

__ADS_1


Nguiing... nguiiig...


Dalam keadaan tak berdaya telingaku masih bisa menangkap suara mobil polisi berhenti di depan rumah. Ini mungkin penyebab Arin takut.


Dor!!


"Jangan bergerak!"


Terdengar suara tembakan dan bentakan seorang pria, kungkin itu polisi yang menyerang rumah ini. Suara gaduh pun terjadi, sepatu yang beradu dengan lantai terdengar berisik. Mungkin itu suara para pelanggan dan juga para wanita yang kebingungan melarikan diri.


Dor!


"Tangkap mereka, jangan biarkan lolos." Perintah seorang pria. Aku yakin jika itu polisi.


"Arga, aku tidak kuat lagi." Lirihku. Karena benturan ke lantai menyebabkan kepala aku sakit sekali.


"Tahan Pak Agus, kami akan membawa Bapak ke rumah sakit," Jawab Arga, mengangkat tengkuku. Aku benar-benar tidak kuat menahan sakit kaki dan kepala.


"Dandi, mari kita angkat Pak Agus." Kata Arga. Arga bersama Dandi mengangkat tubuhku. Mataku walaupun samar-samar masih bisa melihat, telingaku masih bisa mendengar, tetapi aku sudah tidak mampu untuk bicara.


"Dandi, kalian harus waspada, pastikan jika anak buah Arin tidak mengganggu kita." Kata Arga.


"Tidak apa-apa Ga, polisi sudah mengepung rumah ini." Jawab salah satu teman Arga, entah siapa namanya.


Tiba di ruang tamu keributan semakin jelas terdengar derap kaki berlarian. Mungkin suara kaki polisi dan anak buah Arin yang hendak kabur.


Segera aku ditidurkan di mobil, kepalaku di pangku Arga. Namun mataku terasa gelap mungkinkah ini saat terakhir hidupku.


PoV Arga.


"Pak Agus, harus bertahan ya" Hiburku kepada beliau rupanya sudah tidak kuat menahan sakit. "Pir, cepat ke rumah sakit terdekat," Kataku karena bibir Pak Agus sudah berwarna biru. Dan sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Tidak menjawab aku lagi. Supir Tuan Daniswara segera ngebut. Di dalam hanya aku dan supir, sementara Dandi dan ketiga teman ku membawa motor kami.


...~Bersambung~...


__ADS_2