
Ardan menatap sedih Soraya yang sudah tiga hari belum siuman. Hanya lewat cairan infus dapat dialirkan zat makanan.
Tadi pagi dokter yang telah memeriksanya mengatakan, "Sepertinya Nona Soraya menolak untuk bangun. Keadaan seperti ini terjadi karena pasien memutuskan untuk menetap dalam alam bawah sadarnya. Jika dia punya seseorang yang penting dalam hidupnya, lebih bagus jika orang itu memberikan dorongan kepada Nona Soraya agar segera bangun. Motivasi dari orang-orang sekitar juga sangat dibutuhkan. Ajaklah dia bicara! Mungkin akan terdengar tidak masuk akal tapi bisa dicoba karena sebenarnya orang koma itu masih bisa mendengar percakapan orang-orang di sekitarnya. Dan lagi, keadaan Nona Soraya ini biasa disebut semi koma".
"Maksudnya dokter?"
"Semi koma adalah kondisi di mana pasien mengalami penurunan kesadaran, masih bisa merasakan nyeri, dan respon pupil matanya masih ada. Terbukti dari hasil pemeriksaan tadi ketika kami berikan rangsangan berupa ketukan kecil pada lutut, jari kakinya bergerak. Itu menandakan pasien merasakan sakit. Dan ketika matanya kami sorot dengan senter, terlihat pupilnya berubah, itu menandakan masih peka terhadap rangsang cahaya".
"Jadi maksudnya kesempatan sadar lebih besar, begitu kan, Dok?"
"Bisa dibilang begitu. Itu juga tergantung keinginan dari pasien untuk sadar. Dan orang-orang terdekat lah yang harus memberikan motivasi agar pasien memiliki semangat untuk melanjutkan hidup".
"Baik, Dok! Terima kasih atas saran dokter".
Ardan yang teringat percakapannya dengan dokter tadi pagi merasa mendapat harapan baru. Meski ada ragu tapi tak ada salahnya untuk mencoba. Apalagi untuk kesembuhan Soraya.
Perlahan dia duduk di samping Soraya. Mengambil tangannya yang bebas tanpa infus dan menggenggamnya. Sebelah tangannya lagi mengelus lembut punggung tangan Soraya.
"Sayang ... Aku tahu kau mendengar suaraku. Sadarlah! Aku tak bisa hidup tanpamu".
Mata Ardan mulai berkaca-kaca.
"Aku akui semua adalah salahku. Jika nanti kau bangun, kau boleh marah padaku. Kau boleh memakiku, memukulku, atau apapun yang kau suka padaku. Tapi jangan seperti ini. Aku tak tahan jika kau mendiamkan aku seperti ini".
Ardan mengulurkan tangannya menyingkirkan anak rambut di dahi dan pipi Soraya.
Kemudian dia mengangkat genggaman tangannya pada tangan Soraya dan meletakkannya di pipinya.
"Sayang, aku janji, setelah kamu bangun aku akan mengabulkan semua permintaanmu. Aku juga tak akan menyakitimu lagi. Aku juga tidak akan merahasiakan apapun darimu lagi. Akan aku katakan semua rahasiaku padamu. Jadi kumohon, bangunlah!"
Pelupuk mata Soraya tampak bergerak tapi tidak terbuka. Hanya setetes airmata mengalir di sana. Seolah Soraya mendengar semua perkataannya.
Hati Ardan remuk. Seberapa dalam rasa sakit di hatimu, sayang?
__________Helna__________
Sudah sebulan keadaan Soraya tak berubah. Dia tak bergeming meski Ardan selalu mengajaknya bicara.
Tapi sudah ada beberapa kemajuan kecil. Seperti gerakan pada kelopak matanya, atau gerakan pada jari tangannya.
Menurut dokter itu merupakan perkembangan bagus karena meski sedikit tapi tetap ada kemajuan. Dibandingkan tak ada respon sama sekali.
Dan dokter juga menyarankan agar semua persendian Soraya sering-sering digerakkan agar nanti saat dia siuman otot kaki dan tangan tidak terlalu kaku.
Hal yang ditakutkan dokter adalah saat pasien tak merespon sama sekali terhadap rangsangan. Itu bisa berarti pasien semakin tenggelam dalam alam bawah sadarnya. Dan itu berbahaya! Pasien bisa koma selamanya!
__ADS_1
Seringkali pasien koma yang tidak ada harapan sembuh seperti itu hanya bertahan hidup karena ditopang oleh peralatan medis. Karena setelah peralatan itu dicabut dari tubuhnya, pasien itu pun otomatis langsung meninggal.
Hari ini Ardan mampir ke rumah sakit setelah meting dengan relasi kerja.
Dia duduk di samping Soraya dengan pandangan sedih. Dipandanginya wajah istrinya yang masih setia menutup mata. Seolah menghukum dirinya atas semua perlakuannya selama ini.
"Berapa lama lagi kau diamkan aku seperti ini? Bangunlah Soraya. Aku lebih senang kau marah padaku meski kau tak pernah melakukannya. Kau lebih memilih diam saat kau marah padaku. Seperti sekarang, kau memilih tidak menghiraukan aku dan terus menutup matamu."
Ardan mulai meneteskan air matanya. Dadanya terasa sesak.
"Kau tau ... Betapa aku merindukanmu. Rindu mendengar suaramu, tawamu yang berderai, senyummu yang manis dan hangat. Semua, aku rindu semua tentangmu".
Ardan tersengal, terisak dalam keputus-asaan. Dia menutup wajahnya agar isakannya tidak terdengar keluar.
Alena yang melihat semuanya di balik pintu tak kuasa membendung air matanya melihat penderitaan anaknya. Dia baru tiba setelah mengambil baju ganti untuk Soraya.
Tak jauh darinya, Antoni berdiri tanpa bicara.
" Bangunlah, sayang! Aku tak tahu harus melakukan apa lagi agar kau mau bangun".
Ardan tertunduk. Tiba-tiba dipegangnya kedua bahu Soraya, ditariknya hingga terduduk dan digoncangnya dengan harapan Soraya segera bangun.
"Bangun, Soraya! Bangun ... Sadarlah!"
Alena dan Antoni segera masuk melihat perbuatan Ardan.
Bugh ...
Antoni memukul Ardan.
Alena memekik, terkejut melihat Antoni memukul Ardan.
"Kau gila? Dia istrimu! Dan dia sedang koma! Bisakah kau sedikit bersabar padanya? Tidakkah kau sadar bagaimana dia telah bersabar padamu selama ini?"
"Aku hanya ingin membangunkannya", kata Ardan sambil menyeka darah di sudut bibirnya yang terluka karena pukulan Antoni.
Antoni menatap Ardan dengan sengit.
" Semua orang juga ingin Soraya segera siuman. Tapi tidak melakukan hal gila sepertimu. Kau memang selalu memaksakan kehendakmu. Dan aku muak! Seandainya boleh berharap, aku harap Soraya tak bangun lagi. Biarlah dia bahagia dalam alam mimpinya, daripada harus kembali bersamamu".
"Brengsek!"
Ardan bermaksud menyerang Antoni tapi segera dicegah Alena.
"Sudah ... Cukup! Ini rumah sakit, bukan ajang tinju. Antoni ... Ardan, bisakah kalian sekali saja tidak berantem jika bertemu?
__ADS_1
Alena merasa kesal sekali dengan mereka berdua.
Antoni memukul dinding, melepas kemarahannya. Sedangkan Ardan mengacak-acak rambutnya, marah dan frustasi.
"Brengsek ... Brengsek!" umpatnya sambil keluar dari ruangan itu.
"Ardan, mau kemana?" Tanya Alena.
"Pulang!" Sahut Ardan sambil terus berjalan.
Alena memalingkan pandangannya pada Antoni yang telah duduk di sofa panjang. Raut wajahnya memerah karena marah. Lalu dia berdiri.
"Lebih baik aku juga pulang. Tante tak apa kutinggal sendiri?"
Alena mengangguk.
"Tak apa. Nanti ada perawat yang menemani".
Antoni memeluk dan mencium pipi Alena, kemudian melangkah pergi.
Perawat jaga datang membawa air hangat. Sudah waktunya menyeka tubuh Soraya dan mengganti bajunya. Hal itu diperlukan agar pasien tetap dalam keadaan bersih dan terhindar dari kuman penyakit.
Alena menyiapkan baju ganti. Kemudian membantu perawat yang sedang membuka baju Soraya.
Mereka berdua membersihkan tubuh Soraya dengan hati-hati. Kemudian memakaikan baju ganti.
Perawat jaga permisi kepada Alena untuk membawa keluar air bekas membersihkan Soraya.
Alena duduk di samping Soraya sambil menyisir rambut hitamnya yang panjang dan lembut.
"Mami tahu betapa kau menderita hidup bersama Ardan. Tapi mami juga ingin kau memberi Ardan kesempatan untuk berubah. Mami tahu, keinginan Mami ini terdengar egois. Tapi Mami sadar kalau Ardan benar-benar mencintaimu".
Tes ...
Setetes air mata meluncur di pipinya. Alena menyapu air matanya.
"Sebenarnya Mami sudah tak ingin ikut campur dalam rumah tangga kalian. Mami trauma akan masa lalu, semua terjadi karena kami terlalu ikut campur dalam hubungan mereka. Kau tahu? Betapa Mami sangat menderita karena hal itu. Sebab itulah Kami tak lagi ikut campur dalam semua urusan Ardan, kami takut akan melakukan kesalahan sama".
Alena menghela napas dengan berat.
"Ternyata kami salah. Seandainya kami lebih memperhatikanmu, mungkin kau tak se menderita ini. Maafkan kami! Cepatlah bangun! Akan Mami ceritakan semuanya. Agar jelas trauma apa yang Ardan alami".
Alena mencium kening Soraya yang dia sayangi seperti anak kandung.
Kelopak mata Soraya bergetar. Perlahan kelopak mata itu terbuka.
__ADS_1
Bersambung ...