
51 Maaf, Aku Menyerah!
Tumpukan proposal tampak memenuhi meja Soraya.
"Apa ini?" Soraya menunjuk tumpukan itu.
"Proposal untuk anniversary perusahaan," jawab Luke.
Jawaban Luke lantas membuat Soraya menatap horor pada asistennya itu.
"Apa ... Bukankah Nyonya sendiri yang meminta untuk memeriksanya?"
Soraya merasa ingin menjedotkan kepala Luke ke dinding.
"Kenapa kau tiba-tiba bisa begitu bodoh?" tukas Soraya sambil menatap tajam.
Luke meringis, menyadari kebodohan yang dilakukannya.
"Sepertinya aku terlalu memanjakanmu, Luke! Apakah aku harus mengirimmu ke basecamp untuk pelatihan lagi?"
"Tidak! Itu ... Itu tidak perlu Nyonya. Saya akan segera menyusun team untuk memeriksa proposal itu."
"Bagus! Rupanya otakmu sudah mulai bekerja dengan baik jika di bawah ancaman, heh!" Sindir Soraya lagi.
"Tidak, Nyonya! Saya cuma salah memahami instruksi Anda sebelumnya. Tolong, maafkan kecerobohan saya." Luke menggaruk tengkuknya. Dibandingkan dengan Nyonya Besar, Soraya jauh lebih baik. Nyonya Besar sangat pelit untuk memuji bawahan. Kalau Soraya, dia akan memuji jika bawahannya mengerjakan tugas dengan baik dan akan menegur dengan tegas jika bawahannya melakukan kesalahan. Seperti yang dilakukannya tadi.
"Lalu mengapa kau masih di sini?"
"Eh ... Saya akan langsung menyusun team sekarang."
Luke segera keluar ruangan dan melaksanakan perintah Soraya. Tak butuh waktu lama. Lima proposal terbaik sudah berada di meja Soraya.
Soraya mempelajari satu persatu proposal tersebut. Ada satu proposal yang menurutnya cukup menarik.
"Luke ... Siapa Joanna?" tanya Soraya sambil mengacungkan proposal di tangannya.
Luke tampak mengetik sesuatu di iPad nya. Tak lama, muncul semua data tentang Joanna lengkap dengan foto dirinya.
"Joanna Smith. Usia 23 tahun. Lulusan terbaik Perguruan Negeri Budapest. Anak tunggal. Orang tua bercerai. Dia hidup mandiri sejak remaja. Karyawan baru, statusnya masih magang."
Luke membacakan biodata Joanna. Soraya mendengarkan dengan seksama. Jemarinya mengetuk-ketuk di atas meja membentuk irama sederhana.
"Itu saja?" tanya Soraya begitu Luke berhenti membaca.
Luke mengangguk. "Apakah perlu diselidiki lebih lanjut?"
"Tak ada salahnya. Kita tetap harus mengutamakan keamanan dan keselamatan."
Luke mengerti. Dia segera menerapkan prosedur yang biasanya dilakukan. Tak mudah untuk memberikan kepercayaan kepada orang baru.
"Selama kita menunggu hasil penyelidikan, aku ingin bertemu dengan Joanna. Aku ingin mendengar sendiri bagaimana dia menjelaskan konsep dalam proposal yang telah dibuatnya."
"Apakah tidak terlalu beresiko?" Kekhawatiran terlihat di wajah tampan Luke. Entah kenapa Soraya selalu merasa nyaman dan aman selama Luke mendampinginya sebagai asisten. Seperti bersama saudara sendiri.
__ADS_1
"Aku rasa resikonya terlalu rendah. Jika dia musuh, dia tentu tak akan menyerangku di tempatku sendiri. Kecuali dia memang sudah memutuskan mengorbankan nyawanya untuk melenyapkanku."
Sudah tak mau berdebat lagi, Luke keluar untuk memanggil Joanna.
Tak lama Joanna sudah berdiri di dalam ruangan Soraya.
"Duduklah!"
Soraya berusaha membuat suasana lebih santai. Raut wajah Joanna yang agak tegang membuatnya tak nyaman.
"Terima kasih, Nyonya!"
Setelah duduk di sofa yang ditunjukkan Soraya, ketegangan yang melingkupi Joanna perlahan memudar.
"Kau tahu kenapa dipanggil kemari?"
"Hmm ... Apakah tentang proposal yang saya buat?" tebak Joanna.
"Ya ... Saya ingin menanyakan beberapa hal yang berhubungan dengan proposal itu. Apakah kau juga tahu kalau pemilik proposal yang terpilih akan bertanggungjawab atas penyelenggaraan acara sampai selesai?"
"Ya, manajer memberitahu kami saat pengumuman kontes proposal."
"Bagus! Berarti aku tak perlu lagi menjelaskan kepadamu."
"Emm ... Jadi, proposal saya menang, Nyonya?"
"Menurutmu?"
Mata Joanna tampak berbinar, gadis itu benar-benar terlihat antusias.
Sambil tersenyum Soraya memperhatikan ekspresi Joanna. Siapapun bisa melihat kalau gadis itu terlalu lugu untuk menyimpan motif tersembunyi.
"Terus terang saya cukup tertarik dengan proposal yang kau buat. Karena itu saya memanggilmu kemari."
"Apakah ada kesalahan dalam proposal saya?" Ada nada khawatir dalam pertanyaan Joanna.
"Tidak ... Hanya beberapa pertanyaan tentang isi dan pelaksanaan proposal itu kelak."
"Oh, silakan! Nyonya bisa menanyakan apapun. Saya akan menjawab semampu saya."
"Oke! Darimana kau mendapatkan ide saat membuat proposal itu?"
"Ide itu bukan sepenuhnya dari saya. Saat pengumuman kontes itu, saya sudah memikirkan beberapa ide, tapi saya rasa kurang cocok. Lalu teman saya memberi ide ini."
"Teman? Apakah teman kamu juga karyawan perusahaan ini?"
"Benar, Nyonya! Dia juga karyawan magang seperti saya. Dia memberikan ide itu pada saya karena dia tidak dapat ikut kontes."
"Kenapa? Padahal ide yang dimilikinya itu merupakan ide yang sangat bagus. Kenapa bukan dia sendiri yang mengusulkan proposal itu?"
"Itu karena pada saat bersamaan saudaranya masuk rumah sakit. Dan dia merasa sayang kalau idenya hilang begitu saja. Jadi, dia memberikannya pada saya. Bahkan tidak hanya sebatas ide, dia memberikan saya gambaran kasar proposal tersebut. Saya hanya merapikan dan menambahkan sedikit di beberapa tempat."
"Lalu apakah kau merasa mampu untuk menjadi penanggungjawab acara tersebut? Mengingat proposal itu berasal darimu, tentunya akan lebih baik langsung dilaksanakan di bawah petunjukmu."
__ADS_1
"Emm ... Bolehkah saya meminta bantuan pada kedua teman saya?"
"Boleh saja. Kau bisa minta bantuan pada siapapun di perusahaan ini. Tapi ingat, kau yang akan bertanggungjawab atas penyelenggaraan acara sampai berakhir."
"Baik, Nyonya! Terima kasih karena telah memilih proposal saya. Akan saya pastikan untuk membuat Nyonya puas dan terkesan dengan hasil kerja saya."
"Aku suka dengan semangat yang kau miliki. Baiklah! Selamat bekerja! Semoga kau tidak mengecewakan aku.
"Semoga tidak, Nyonya! Saya akan mengerahkan seluruh perhatian dan kemampuan saya."
"Oke! Aku tak sabar menunggu acaranya."
"Kalau begitu, saya sudah boleh kembali ke ruangan saya?"
"O, iya ... Silakan! Untuk mulai mengatur acara, kau bisa menghubungi asisten Luke untuk memberi arahan."
"Baik, Nyonya! Sekali lagi terima kasih untuk kepercayaan yang Nyonya berikan pada saya."
Joanna berdiri dan membungkukkan badan sekali lagi sebelum keluar dari ruangan Soraya.
Pintu ruangan ditutup. Soraya masih tersenyum mengingat percakapannya dengan Joanna. Gadis lugu yang sudah susah dicari sekarang ini.
Dari percakapan tadi, Soraya bisa menilai kalau Joanna adalah gadis polos yang dapat dipercaya.
Apalagi beberapa saat kemudian, Luke mengirim hasil penyelidikan terhadap Joanna. Tak ada yang perlu dicurigai dari gadis itu. Semuanya sesuai dengan profilnya saat masuk perusahaan ini.
Soraya bisa bernapas lega dan memberikan kepercayaan penuh pada gadis itu untuk mempersiapkan anniversary perusahaan.
"Bagaimana?" tanya Bella setelah melihat Joanna kembali ke kubikelnya.
Dengan senyuman lebar Joanna merangkul Bella. "Proposal ku terpilih, yeayy!!!"
"Serius?" sahut Nessy.
"He eh... "
"Wow! Kita bisa menikmati bermalam di hotel mewah dong." Nessy mulai membayangkan tidur di kasur yang empuk sebuah kamar hotel berbintang lima.
"Tapi sebelumnya kalian harus menolong aku dulu."
"Menolong apa?" tanya Nessy tak mengerti.
"Tentu saja menolongku mengatur agar acaranya berjalan dengan sempurna."
"Oh, oke! Tentu kami bersedia menolong. Bukan begitu, Bella?"
"Iya ... Iya ... Pasti!"
Hmm ... Acaranya pasti akan berjalan sangat sempurna. Senyum tipis tampak muncul di bibir gadis itu.
Sudah bisa menebak siapa penyusup itu?
Jangan lupa like dan vote ya! Ga minta banyak kok, 10 vote aja. 🥰
__ADS_1