
Ardan membimbing Soraya masuk setelah membuka pintu. Hari ini Soraya sudah bisa pulang ke rumah atas ijin dokter. Tapi masih harus melakukan cek satu bulan sekali atau saat ada keluhan.
Setelah penjelasan Alena, Soraya masih mendiamkan Ardan. Dia belum mengatakan keputusannya. Juga tidak lagi mengungkit keinginan untuk berpisah.
Biarkan saja dulu, pikir Ardan. Mungkin dia masih memikirkannya. Lebih baik memberikan dia waktu.
Dan Ardan bersyukur karena Soraya tidak menolak kembali ke rumah mereka bersamanya. Itu merupakan hal yang baik. Karena bisa saja Soraya meminta untuk pulang ke rumahnya saja.
Tapi bisa jadi Soraya pun trauma untuk kembali ke rumahnya, karena teringat dengan penculikan dirinya.
Dan untuk mengantisipasi hal itu terulang kembali, Ardan menempatkan banyak bodyguard yang berjaga di luar rumah.
Hanya di luar rumah!
Ardan tak mau Soraya merasa tidak nyaman. Dia paham betul kalau Soraya selalu merasa tidak nyaman dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Dia juga tidak suka memakai bodyguard, seolah dirinya adalah tahanan. Itu katanya dari dulu.
Ardan membawa Soraya masuk ke dalam kamar dan meletakkan koper yang tadi diseretnya.
Soraya duduk di tepi ranjang, masih tetap setia dalam diamnya.
"Kau mau makan?" tanya Ardan.
Soraya menggeleng. Tatapannya tampak kosong.
'Bagaimana kalau mandi dulu?"
Soraya berdiri dan berjalan ke kamar mandi.
"Mau ku mandikan?" tanya Ardan lagi, yang ditanggapi delikan mata Soraya.
Ardan terkekeh. Dia sengaja menggoda Soraya, meskipun mendapat pelototan tapi dia senang. Setidaknya Soraya masih mau menanggapinya setelah beberapa waktu ini mendiamkannya.
Sambil menunggu Soraya yang masih mandi, Ardan duduk di sofa panjang dan mengambil iPad untuk memeriksa beberapa email. Pekerjaan memang tak ada habisnya.
Gemericik air telah berhenti, sepertinya Soraya sudah selesai mandi. Dan benar, sesaat kemudian Soraya telah keluar dengan memakai bathrobe.
Ardan meneguk ludah saat melihat leher Soraya yang jenjang dan kakinya yang putih mulus. Sabar! Puasa masih lama, glek!
Ardan mengalihkan pandangan ke iPad di tangannya. Tapi sayangnya konsentrasinya sudah pecah saat memperhatikan Soraya keluar dari kamar mandi tadi.
Hhh ... Ardan mengusap wajahnya frustasi. Kapan puasa ini berakhir? Betapa tersiksa dirinya!
Bagaimana dia bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya jika Soraya mondar-mandir di depannya. Mengambil pakaian di lemari, memakainya di depannya sebelum dengan cuek melepaskan bathrobe nya sehingga tubuh mulusnya terpampang begitu saja.
Apalagi melihat pakaian yang sedang dipakai Soraya.
Ardan ternganga, untung rahangnya tak jatuh ke lantai. Cepat-cepat ditelannya ludahnya sebelum lumer membasahi bajunya. Glek!
Benar-benar godaan dahsyat!
Soraya selesai berpakaian dan menoleh ke arahnya. Menatapnya dengan tatapan seolah mengatakan, "Ada apa, huh?"
Ardan menggeleng lemah sambil mengangkat bahunya. Berusaha mati-matian menampilkan ekspresi datar, yang sayangnya malah terlihat menyedihkan.
Soraya bukan tak tahu hal itu. Malah dia memang sengaja melakukannya.
Biarin ... Biar tahu rasa dia! Pikir Soraya.
Biar dia sadar kalau istrinya tak kalah menarik dari wanita-wanita di luar sana.
Rasain! Tahan aja itu libido! Batin Soraya puas.
Tak cukup sampai di situ. Soraya sengaja memilih pakaian yang agak berani. Dia melakukan itu karena di rumah ini hanya ada dirinya dan suaminya. Kalau ada orang lain, dia tak akan berani berpakaian seperti ini.
Soraya memakai kaos yang agak kebesaran sehingga bagian lehernya akan melorot ke bahu. Dan short pants sepaha.
Rasain! Emang enak hanya bisa memandang saja?"
__ADS_1
Kemudian Soraya sengaja mondar-mandir di kamar. Ada saja yang dia lakukan. Membereskan baju kotor, merapikan selimut, membersihkan nakas.
Ardan menarik napas dalam-dalam. Berusaha menenangkan diri dan juga 'junior' yang sudah bangun.
Hhh ... Ardan mendesah. Tubuhnya terasa panas, keringat mengalir tak henti, dia gelisah.
Karena tak tahan akhirnya Ardan membuka kemejanya dan menyampirkannya di sofa. Terpampang otot-otot dari tubuhnya yang polos. Otot bisep di tangannya dan otot perutnya yang membentuk kotak-kotak.
Soraya melirik dan menelan ludahnya. Pemandangan itu menggoda iman!
Dalam pandangannya seolah otot-otot di tubuh suaminya melambai padanya untuk di peluk. Begitu kuat dan liat! Betapa menyenangkannya bisa menyentuh itu. Glek!
Soraya memalingkan wajahnya yang mulai memanas.
Hhh ... Ada apa denganku? Kenapa aku tiba-tiba berpikiran mesum? Tidak ... Tidak! Batin Soraya sambil menggelengkan kepalanya mengenyahkan pikiran kotor yang merasukinya.
Ardan yang melihat kelakuan Soraya merasa kesenangan. Sambil tersenyum tipis dia meloloskan celana panjangnya sehingga yang tersisa hanya boxer di tubuhnya yang tegap.
"Eh, apa yang kau lakukan?" Kata Soraya gelapan saat Ardan berdiri dan mendekat padanya dengan keadaan setengah telanjang seperti itu.
Ardan berhenti di depannya dan berbisik di telinganya, "Aku hanya ingin mandi", katanya sambil meniup telinga Soraya dengan lembut.
Tubuh Soraya meremang dan masih berdiri terpaku, saat Ardan sudah berjalan ke kamar mandi sambil tersenyum penuh kemenangan.
Sialan! Dia mengerjaiku! Batin Soraya sambil menghentakkan kaki.
____________Helna______________
Makan malam mereka lalui dalam diam. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Soraya membereskan meja makan dan mencuci piring di wastafel.
Ardan terlihat duduk santai di depan televisi sambil memindah-mindah chanel.
Huh, tak ada yang menarik, gumam Ardan. Matanya kadang melirik Soraya yang masih beberes.
Ardan jadi uring-uringan. Dia ingin menerkam tapi takut kalau-kalau Soraya masih marah. Tapi berdiam diri juga sangat menyiksa diri.
Arghhh ... Apa yang harus aku lakukan?
Ardan mengacak rambutnya frustasi.
Soraya yang telah menyelesaikan pekerjaannya melangkah masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan Ardan.
Setelah melihat Soraya masuk ke kamar, Ardan mengekor di belakang. Membuat Soraya yang bermaksud menutup pintu terkesiap karena terkejut, tak menyangka Ardan berada tepat di belakangnya.
Soraya melepaskan tangannya dari pintu dan masuk ke kamar mandi. Kemudian keluar dan merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa memperdulikan Ardan.
Ardan yang sudah mengunci pintu langsung masuk ke kamar mandi sesaat setelah Soraya keluar dari sana.
Soraya memiringkan tubuhnya dan memejamkan mata berpura-pura tidur saat Ardan keluar dari kamar mandi.
Ardan yang tahu Soraya hanya berpura-pura, ikut merebahkan tubuhnya di samping Soraya. Dia telentang memandang langit-langit kamar.
Beberapa saat berlalu. Matanya masih terasa segar. Dia memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Soraya. Memandang istrinya yang membelakanginya.
Memperhatikan rambutnya yang panjang dan hitam dan lekuk tubuhnya yang indah.
Ardan mengulurkan tangan berniat mengelus rambut hitam Soraya tapi tangannya berhenti di udara karena ragu Soraya akan marah. Ditariknya tangannya perlahan.
"Sayang ... Kau sudah tidur?"
Hening beberapa saat. Soraya tak kunjung menjawab.
Ardan menghela napas. Mungkin Soraya memang sudah tidur, pikirnya. Dia mengubah posisinya menjadi telentang dan mencoba memejamkan mata.
Terdengar pergerakan dari samping. Ardan membuka matanya dan melihat ke arah Soraya yang sedang memandangnya.
__ADS_1
Sorot matanya sendu, ada kaca-kaca yang dijaganya agar tidak retak di sana.
"Ada apa? Apakah aku menyakitimu?" Tanya Ardan sambil memiringkan tubuh dan mengulurkan tangan mengelus pipi Soraya.
Soraya tidak menjawab. Matanya yang berkaca-kaca semakin buram dan tubuhnya tersengal. Akhirnya tangisnya pecah.
"Hei ... Kenapa kau menangis? Ada yang sakit?"
Soraya menggeleng.
"Aku ... Aku sudah kotor, Mas!"
Ardan terkesiap. Dia tak menyangka Soraya akan mengatakan itu.
"Tidak ... Jangan berkata seperti itu!" katanya sambil beringsut memeluk Soraya.
Tangisan Soraya semakin menjadi dalam pelukan Ardan.
"Sstttt ... Sudah!" Ardan bingung harus mengatakan apa.
"Mereka sudah menyentuhku. Aku sudah kotor! Aku tak pantas untukmu!" Kata Soraya setelah tangisnya agak reda, masih tersisa isakan.
"Tidak ... Bagiku kau tetap sama. Katakan padaku! Di mana mereka menyentuhmu? Biarkan aku menghapus jejak mereka. Hanya aku yang harus kau ingat bukan mereka."
Soraya mendongak menatap Ardan.
Ardan mendekatkan wajahnya.
"Apakah mereka menyentuh di sini?" Tanya Ardan sambil menunjuk di pipi Soraya.
Soraya mengangguk. Ardan segera mencium pipi Soraya.
"Di sini?" Tanya Ardan sambil mengelus bibir Soraya, yang di jawab anggukan.
Ardan menyesap bibir Soraya.
"Sudah ... Aku akan menghilangkan semua jejak mereka."
"Tapi mereka menyentuh di semua tubuhku." Kata Soraya sambil terisak.
Ardan mulai menciumi semuanya.
"Sudah, sayang! Kau tak perlu khawatir. Semua sudah kuhapus dengan sentuhanku."
Soraya menyurukkan kepalanya ke dada bidang Ardan.
"Aku takut kau akan jijik padaku!"
"Tidak. Jangan berpikir seperti itu!"
"Lalu ... " Perkataan Soraya menggantung.
"Lalu apa?" tanya Ardan bingung.
"Lalu ... Mengapa kau tidak mau menyentuhku?" Tanya Soraya sambil malu-malu di balik dada Ardan.
What! Realy!
Jadi, selama ini mereka saling menunggu.
Oh, tidak! Jangan sia-siakan kesempatan! Pikir Ardan yang segera mencumbu Soraya dan melalui malam panjang mereka tenggelam dalam lautan cinta yang tak habis direguk.
Bersambung...
Jangan lupa kasih like nya ya! Biar aku makin semangat.
Cerita akan di publish setiap hari
__ADS_1