Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!
Jangan pergi!


__ADS_3

Klub itu terlihat lengang di siang hari. Hanya ada beberapa pekerja yang bertugas membersihkan sisa-sisa aktivitas klub semalam.


Ardan sengaja memilih tempat itu untuk bertemu dan bicara dengan Angel. Klub itu adalah milik temannya, Lukas.


Di sana lah semua bermula dan di sana juga Ardan ingin mengakhiri semuanya.


Matahari sudah mulai meninggi. Ardan sudah menghubungi sekretarisnya agar mencancel semua agendanya pagi ini. Dia harus secepatnya menyelesaikan urusannya dengan Angel sebelum menimbulkan masalah dalam rumah tangganya.


Sebuah Civic hijau berhenti dan Angel keluar diiringi dua pria berbadan kekar.


Ardan tersenyum sinis saat melihat Angel masuk membawa bodyguard. Pintu ditutup setelah mereka masuk.


"Takut, heh?" Sindirnya saat Angel telah berada di depannya.


"Tidak! Hanya berjaga untuk melindungi aset berharga". Angel tersenyum tipis.


Ardan mengangkat sebelah alis, menatap tak mengerti.


Angel tergelak melihat ekspresi Ardan. Bagaimana jika mengetahui yang sebenarnya? Mungkin ekspresi nya akan lebih menarik, pikir Angel.


" Aku hamil". Angel tak mau membuang waktu.


"Kau kira aku percaya?"


Angel mengambil sebuah surat dari dalam tas dan melemparkannya ke atas meja.


Ardan mengambil surat itu dan membacanya. Kemudian menghempaskannya setelah terlebih dahulu meremasnya.


"Lalu apa maumu?"


"Ceraikan Soraya dan nikahi aku!"


Ardan tertawa sinis.


"Kau pikir aku akan menuruti kemauanmu?"


"Ardan, aku mengandung anakmu. Bukankah kalian sudah lima tahun menikah, dan Soraya belum memberimu seorang anak pun. Dia wanita mandul. Tinggalkan dia!" Angel mendekati Ardan dan membelai dadanya.


Kemarahan tercetak jelas di wajah Ardan. Dicengkeramnya wajah Angel sampai Angel meringis kesakitan. Wajahnya mendekati Angel, kilatan marah di matanya membuat Angel ketakutan.


Kedua bodyguard Angel bermaksud menyerang Ardan tapi dari balik pintu beberapa orang berseragam hitam datang dan mengamankan mereka.


"Dengarkan aku wanita dungu. Aku tak peduli dengan anak dalam kandunganmu. Satu-satunya wanita yang akan melahirkan anak-anakku hanya Soraya. Hanya Soraya yang pantas menjadi ibu dari anak-anakku. Jadi, aku sarankan kau gugurkan saja. Kalau pun kau bersikeras melahirkan anak ini, aku tidak akan pernah mengakuinya. Karena aku tak menginginkannya. Satu hal lagi, Soraya bukan wanita mandul. Aku yang belum mengijinkannya untuk hamil. Dan kau lihat betapa penurutnya dirinya. Dan kau menyuruh ku menceraikannya? Kau mimpi!"


"Tapi... Janin ini darah dagingmu", Angel mencicit ketakutan.


" Aku tidak peduli".


Ardan melepaskan cengkeramannya di wajah Angel. Dan berjalan menjauh.


"Aku akan memberitahu Soraya tentang kehamilanku ini".


Perkataan Angel itu menghentikan langkah Ardan. Dia berbalik, mengambil sebuah kursi dan membantingnya ke lantai.


Brak!


Angel gemetar saat Ardan menunjuk ke arahnya.


"Jangan berani melakukan itu jika kau masih sayang nyawamu. Kau tak akan mau tahu apa yang bisa aku lakukan".

__ADS_1


Ardan berbalik dan melangkah ke pintu. Namun sebelum membuka pintu dia berkata, " Dan jangan berani menyakiti Soraya, mendekatinya pun jangan! Aku akan menghabisimu jika kau berani melanggar larangan ku".


Brak!


Ardan menutup pintu dengan keras.


Angel menatap getir. Tak ada pilihan lain. Dia mengambil ponsel dan mengirimkan beberapa foto dan video ke nomor Soraya. Kemudian dia tersenyum puas.


"Jika aku tidak mendapatkanmu, maka aku harus pastikan kau juga tak akan bisa berbahagia dengan wanita itu".


__________ Helna____________


Soraya menatap keluar jendela yang mengarah ke taman bunga di samping rumah. Tapi pikirannya kacau. Terutama perasaannya.


Apa yang akan dia lakukan sekarang?


Teringat lagi percakapannya dengan Lusi tadi siang.


"Cukup kau bersabar dalam lima tahun ini. Ardan tak pernah berubah. Lihat apa yang dia lakukan? Hanya menyakitimu! Sampai kapan kau mau bertahan?"


Pertanyaan yang sama selalu dia tanyakan pada dirinya sendiri.


Setelah semua yang telah dia lakukan, Ardan tetap tak berubah. Dia menyakitinya lagi, dan lagi.


Jika dia terus bertahan di sisi Ardan, dia merasa dia tak akan mampu. Perasaannya sudah cukup tersakiti.


Soraya mendengar deru mobil memasuki garasi. Tak lama, Ardan masuk dan menghampirinya.


"Hai, sayang". Ardan mengecup dahi Soraya.


Dan Soraya hanya diam sambil memejamkan mata. Dia harus bicara. Mereka berdua harus bicara. Semua harus jelas hari ini juga. Tekad Soraya.


Soraya menatap Ardan.


"Kita harus bicara".


" Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan".


Ardan membimbing Soraya duduk di sofa.


"Aku mohon kau jawab dengan jujur semua pertanyaan ku!"


"Oke".


" Siapa wanita bernama Angel itu? Kekasihmu atau istri simpananmu?"


"Dia bukan siapa-siapa".


Ardan menjawab dengan tenang. Terlalu tenang sehingga membuat Soraya muak.


" Jika benar dia bukan siapa-siapa, mengapa kalian menghabiskan malam bersama?"


Raut wajah Ardan sedikit terkejut, namun sejurus kemudian kembali tenang.


"Mengapa kau bertanya seperti itu? Siapa yang bilang aku menghabiskan malam bersamanya? Kau jangan percaya perkataan orang. Kau harus percaya padaku, suamimu sendiri".


" Justru karena kau suamiku makanya aku ingin mendengar kejujuran itu darimu. Bukan mengelak dari kenyataan".


"Aku jujur mengatakan dia bukan siapa-siapa. Lalu kau mau apa lagi? Kalau kau tak percaya, aku bisa apa".

__ADS_1


Cukup! Soraya sudah muak dengan kebohongan suaminya.


Diambilnya ponsel di atas meja. Disodorkannya pada Ardan. Ardan menerima dengan penasaran.


" Apa ini?"


"Lihat saja sendiri. Dan katakan padaku, apakah aku harus mempercayaimu atau apa yang ada di sana".


Raut wajahnya berubah saat melihat foto dan video yang diterima Soraya tadi siang.


Diletakkannya ponsel itu di atas meja. Tangannya terulur meraih tangan Soraya dan menggenggamnya.


" Sayang, dengarkan aku! Itu semua jebakan. Angel menjebakku. Dia menaruh obat perangsang pada minumanku sehingga aku tak sadar apa yang terjadi. Sungguh, aku tak ingin melakukannya!" Tersirat kepanikan dalam suara Ardan.


Soraya menatap Ardan dengan sorot mata terluka. Air mata mengambang di pelupuk matanya.


Soraya melepaskan tangannya dari genggaman Ardan. Kemudian dia menangkup wajah Ardan dengan kedua tangannya. Menatapnya dengan penuh cinta dan kepedihan.


"Setelah lima tahun kebersamaan kita, apakah kau pernah menghargai perasaanku? Aku hanya minta kejujuranmu. Tapi kau membohongi ku untuk menutupi perbuatanmu".


Ardan terdiam, dia memegang tangan Soraya yang berada di wajahnya. Sorot matanya memancarkan penyesalan.


" Kau tahu apa yang kurasakan? Setelah semua kebersamaan kita, kau khianati cintaku dan juga kepercayaanku. Kau menolak memiliki anak bersamaku, tapi kau malah menanam benih pada wanita lain. Tidakkah kau berpikir, bagaimana hal itu menyakitiku, menghempasku begitu dalam, menorehkan luka yang terasa pedih".


Ardan membiarkan Soraya mengeluarkan semua yang ingin dia katakan.


Soraya memejamkan matanya. Mengangkat wajahnya agar air matanya tidak jatuh.


"Kau tahu? Aku merasa tertolak. Tidak berharga di matamu".


Melepaskan tangan dari wajah Ardan. Soraya bangkit dari duduknya.


" Mungkin lebih baik kita berpisah. Aku akan pergi dari rumah ini".


Soraya melangkah menuju kamar tapi Ardan memeluknya dari belakang.


"Tidak! Aku tak mau berpisah denganmu". Katanya sambil mengeratkan pelukannya.


Akhirnya airmata Soraya jatuh juga. Dia terisak.


" Kau tahu ... Aku benci pembohong. Aku juga benci pengkhianat. Dan kau melakukan keduanya. Aku lelah bertahan. Aku lelah bersamamu yang tak pernah mengerti. Aku lelah denganmu yang selalu mengecewakanku. Maaf, aku menyerah!"


Soraya melepaskan pelukan Ardan, masuk ke kamar dan mengambil koper yang telah dia siapkan tadi siang. Menyeretnya keluar rumah dan masuk ke mobil yang sudah menunggunya.


Ardan merasakan tubuhnya lemas, dia jatuh di atas lututnya. Dan tanpa bisa dia cegah, Soraya sudah pergi.


"Soraya... Jangan tinggalkan aku!'


Bersambung....


Nyesek nulis part ini... 😭😭😭


Author harus ambil jeda berkali-kali. Aku tuh sedih banget. Kasihan Soraya... 😭😭😭


Tobat Author bikin part nyesek kayak gini. Huu... Huu...


Kalian tim mana?


Soraya - Ardan

__ADS_1


Soraya - Antoni


__ADS_2