
49 Maaf, Aku Menyerah!
"Untuk acara Anniversary perusahaan saya minta kalian ajukan proposal yang menarik untuk tahun ini. Bukankah hal itu sudah saya sampaikan pada rapat terakhir?"
Soraya memandang ke seluruh jajaran direksi yang sedang duduk menghadiri rapat internal ini.
Hari ini agenda rapat adalah pembahasan tentang rencana Aniversary perusahaan yang akan diadakan satu bulan lagi. Selain itu juga mengevaluasi kinerja para direktur yang berada di kantor cabang maupun di kantor pusat.
Proposal yang berada di depan Soraya tak ada satupun yang menggugah minatnya. Agendanya terlalu monoton, sama sekali tak menarik.
"Proposal sebanyak ini tidak ada satupun yang menarik. Acara yang ingin diadakan terlalu membosankan. Saya tak berminat!"
Para direktur yang ada di ruangan itu menahan napas kemudian berusaha bernapas dengan takut-takut.
"Apakah tidak ada yang paham keinginan saya? Kalau begitu, sia-sia saya mempekerjakan kalian!" tandas Soraya lagi.
"Sekali lagi saya katakan. Saya ingin acara yang spektakuler sehingga orang-orang yang hadir tak dapat melupakannya untuk waktu yang lama. Saya ingin sesuatu yang berkesan di hati para undangan. Karena itu saya perlu kalian memikirkan acara seperti apa yang sesuai dengan keinginan saya."
"Kalau begitu, kami akan merundingkan lagi dengan bagian perencanaan," sahut salah satu direktur.
"Apakah kalian yakin akan mendapatkan ide cemerlang dalam beberapa hari ini? Acaranya akan digelar satu bulan lagi. Kalau untuk proposal saja kalian menghabiskan waktu hampir satu bulan, bagaimana dengan persiapannya?" Perkataan Soraya membuat para direktur saling berpandangan.
"Maaf, Nyonya! Saya menyarankan, bagaimana kalau kita adakan kontes?"
"Kontes? Kontes apa?" Mata Soraya menatap tajam pada pria berwajah orientalis tak jauh dari kursinya.
"Kontes membuat proposal terbaik untuk acara aniversary perusahaan?" kata direktur cabang itu.
"Lalu siapa pesertanya?" sahut yang lain.
"Pesertanya adalah semua karyawan yang ada dalam perusahaan. Tidak terbatas pada karyawan biasa ataupun setingkat direktur." Direktur cabang memaparkan pendapatnya.
"Bagaimana dengan hadiahnya?"
"Hadiahnya bisa voucher liburan ataupun bonus yang menggiurkan."
Soraya mengangguk samar sambil berpikir.
"Usul yang menarik! Begitu saja ... Proposal itu sudah harus selesai dalam lima hari. Saya sendiri yang akan menjadi jurinya. Dan juga pemilik proposal yang akan bertanggung jawab untuk perencanaan sampai acara berakhir."
Para direktur mengangguk.
__ADS_1
Kemudian rapat dilanjutkan dengan evaluasi kinerja para direktur. Selama rapat, Soraya melucuti habis-habisan direktur yang memiliki kinerja buruk. Bahkan tak segan-segan untuk memecat direktur yang dianggapnya tidak kompeten.
"Saya mempekerjakan kalian untuk keuntungan perusahaan. Jika kalian memanfaatkan kedudukan kalian untuk mempertebal kantong sendiri, jangan salahkan saya bertindak kejam. Dari awal saya mengambil alih kekuasaan ini, sudah saya sampaikan. Bahwa saya menghargai kerja keras dan saya membenci pengkhianat."
Tatapan tajam Soraya seperti menembus satu persatu anggota rapat. Ketegangan memenuhi ruang rapat.
"Jika kalian menggerogoti perusahaan ini, kalian jangan berpikir saya tidak tahu. Perusahaan ini tidak memerlukan tikus-tikus yang akan meruntuhkan dari dalam. Saya pastikan akan membasmi tikus itu."
Beberapa orang terlihat mengambil sapu tangan dan menyapu keringat yang ada di dahinya. Padahal AC dalam ruangan itu berfungsi dengan baik. Perkataan Soraya membuat mereka berkeringat dingin.
"Jika kalian tak berbuat salah, kalian tak perlu takut. Berani karena benar, takut karena salah. Hanya orang-orang bersalah yang akan ketakutan."
"Sekarang saya ingin mendengar penjelasan dari Pak York tentang keadaan di bagian cabang yang Bapak pimpin. Bagaimana bisa defisit terjadi tiga bulan berturut-turut?"
Seorang direktur yang bertubuh gempal terlihat menyapu keringat di dahi dan lehernya. Terlihat gelisah dan berusaha tersenyum untuk menutupi kecanggungan.
"Eh, itu dikarenakan beberapa sebab." Wajahnya yang sudah putih semakin terlihat pucat.
"Katakan sebabnya!" Nada dingin dari Soraya membuat tubuh gempal pria itu terlihat gemetar.
"Manajer yang biasanya mengatasi hal itu tiba-tiba berhenti dan meninggalkan pekerjaan banyak terbengkalai. Selain itu para karyawan juga banyak mengundurkan diri mengikuti manajer itu. Entah karena apa ... Tapi yang saya dengar, manajer itu menghasut para karyawan." Pria itu mengemukakan pembelaan dirinya.
Soraya mencibir dalam hati. Jauh sebelum rapat ini diadakan, dia sudah melakukan investigasi pada kantor cabang di bawah pimpinan pria gempal itu.
Bagi Soraya, seseorang yang seperti manajer itulah yang sangat penting untuk perusahaan. Selain kinerjanya yang bagus, juga memiliki aura kepemimpinan sehingga karyawan yang lain cenderung membelanya.
"Apakah bukan karena manajer itu mengetahui kebobrokan dirimu?"
Cess ...
Perkataan Soraya seperti panah yang menancap tepat sasaran, membuat direktur itu tak berkutik. Dia membuka dan menutup mulutnya tanpa bisa mengatakan apa-apa.
"Saya harap kau segera membereskan barang-barangmu. Mulai sekarang kau tak bekerja di perusahaan ini lagi. Silakan keluar dari ruangan ini!"
Keputusan final dari Soraya membuat pria gempal itu berdiri dan meninggalkan ruangan rapat dengan muka tertunduk.
"Baiklah ... Saya kira pembahasan kita sampai di sini. Untuk kontes proposal itu, segera umumkan. Agar para karyawan bisa mempersiapkan yang terbaik."
Setelah mengucapkan itu, Soraya berdiri dan meninggalkan ruang rapat.
***
__ADS_1
"Eh, kau ikut kontes tidak, Nessy?" tanya Bella pada temannya yang berada di kubikel sebelahnya.
"Kontes apa?" Keheranan jelas tercetak di wajahnya.
"Tuh, kan ... Pasti ga ngikutin info grup. Itu lho kontes proposal untuk anniversary perusahaan yang akan diadakan satu bulan lagi."
Nessy dan Bella adalah karyawan baru di perusahaan. Bahkan status mereka pun masih sebagai pegawai magang. Ada lagi Joanna yang agak pendiam dibanding mereka berdua.
"Memangnya pegawai magang seperti kita boleh ikut?"
Bella mengetuk-ngetuk dagu dengan telunjuknya. "Hmm ... Aku kira boleh saja. Dalam pengumuman itu dikatakan untuk semua karyawan."
"Kita ini bukan karyawan, baru setengah karyawan."
"Eh, bener juga ya." Seperti tersadar, mereka mengikik geli mengingat bahwa mereka hanya setengah karyawan.
"Nanti aku tanya sama manajer deh," kata Bella lagi.
"Nanyain apa?" Bisik Joanna yang berada di kubikel kirinya.
"Itu kontes proposal." jawab Nessy yang kubikelnya berada di tengah.
"Oh, itu ... Aku dengar manajer mengatakan kalau kontes itu terbuka untuk semua karyawan termasuk yang masih magang."
"Wah ... Kalau gitu kita ikutan yuk!" kata Bella penuh semangat.
"Memangnya kita bisa?" Nessy terdengar tak percaya diri.
"Yah ... Dicoba dulu. Lagian hadiahnya lumayan tuh. Menginap di hotel Ritz dan bonus tiga kali gaji. Gimana?"
"Boleh juga tuh. Kalau salah satu dari kita bisa menang, kita bisa menginap di hotel mewah." Bella menerawang seperti membayangkan menghabiskan malam di hotel mewah dan menikmati fasilitasnya seperti orang kaya.
Tuk ...
Bella meringis setelah sebuah tepukan singgah di kepalanya. Dia ingin marah tapi melihat jika yang menepuknya adalah manajer, dia langsung mingkem.
"Kerja! Jangan kebanyakan ngobrol!" Tatapan tajam manajer menghunus mereka bertiga sebelum akhirnya masuk ke ruangannya.
Ketiga pegawai magang itu tak lagi berani bicara. Masing-masing mengerjakan tugas di kubikelnya.
Seorang wanita mengirimkan pesan singkat. "Umpan sudah dimakan. Tunggu mangsa masuk jebakan!"
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya!