
Ardan masih melingkarkan tangan di pinggang Soraya dengan posesif. Memandang tajam pada Antoni seperti seekor Singa yang sedang menjaga teritorinya.
Antoni acuh sambil menghenyakkan tubuhnya di sofa. Lalu menatap ke arah Soraya dengan tatapan menggoda dan menepuk bagian sofa di sampingnya.
Gila! Antoni cari mati!
Ardan menggeram kesal melihat tingkah Antoni, sedangkan Soraya hanya tersenyum geli melihat bagaimana kejahilan Antoni selalu bisa membangkitkan kemarahan Ardan.
"Sudah kukatakan berkali-kali. Berhenti menggodanya! Dia istriku!"
"Aku hanya menggoda. Jika dia mau ... Yaa, lanjut! Kalau tak mau, yaa, sudah!"
"Sudahlah, Ton! Apakah kau tak capek menjahilinya terus? Aku saja capek melihat kalian berdua." kata Soraya sambil berjalan ke pantry.
"Mau minum apa?" tanya Soraya pada mereka berdua.
"Kopi saja. Tak usah pakai gula. Yang bikin dah manis, kok!" Sahut Antoni sambil tersenyum.
Namun sejurus kemudian mengaduh karena Ardan menoyor kepalanya.
"Aduh ... Terlalu kamu, Dan! Sakit tau!"
Antoni meringis sambil memegang kepalanya.
"Rasain! Sekarang katakan kalau kau akan berhenti mengejar istriku! An ... An ... Memangnya kau sudah kehabisan stok wanita sehingga menyukai istri sepupu mu sendiri?"
Ardan mengambil duduk di samping Antoni.
Antoni cengengesan.
"Bagaimana ya ... Istrimu cantik sih. Lagipula aku suka membuatmu cemburu. Kapan lagi bisa melihat wajahmu yang memerah seperti itu. Lucu ... Ha ... Ha ...!"
Pletak!
Tuh kan ... Kena geplak tuh kepala Antoni lagi.
Antoni bersungut-sungut.
"Yaelah ... Melayang terus tuh tangan. Emang ga bisa diajak becanda. Soraya, emangnya kamu tahan sama si muka es ini?" tanya Antoni sambil memandang Soraya.
Antoni cepat menghindar saat tangan Ardan kembali melayang ke arah kepalanya.
Soraya yang melihat kelakuan kedua orang itu hanya menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir bagaimana mereka bisa bersahabat sejak kecil jika setiap kali berkumpul akan selalu berseteru seperti itu.
{Sebenarnya Antoni itu anak baik dan setia kawan tapi dia sangat jahil. Dia paling senang menjahili Ardan. Dan Ardan selalu termakan kejahilan Antoni sehingga kemarahannya akan meledak-ledak. Sedangkan Arman, dia yang paling bijak di antara mereka bertiga. Arman yang selalu menengahi ketika Ardan sudah benar-benar kehilangan kesabaran pada kejahilan Antoni. Karena itulah mereka berdua benar-benar merasa kehilangan saat Arman tiada.}
Soraya teringat perkataan Alena.
Dia membawa dua cangkir kopi dan menyerahkannya pada Ardan dan Antoni.
Telpon Ardan berbunyi.
{Ya ... }
{Apa? Di stasiun televisi apa?}
Ardan terlihat marah, raut wajahnya memerah.
__ADS_1
Ardan mengambil remote TV dan menyalakannya.
Soraya yang melihat Ardan yang tergesa menyalakan televisi dan mencari chanel yang disebutkan si penelepon menjadi penasaran.
Ada apa? Pikirnya.
Televisi berukuran besar yang berada di ruangan itu menyala dan menampilkan sebuah konferensi pers.
Nampak banyak wartawan yang hadir dan mengabadikan acara itu.
Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya. Seorang wanita yang sedang bicara di depan layar lah yang menyedot perhatiannya.
Wanita itu ... Tiba-tiba Soraya ingat siapa wanita itu. Kilasan kenangan menyakitkan menyerbu ingatannya. Tubuhnya bergetar mengingat hal itu.
Tubuhnya luruh ke sofa. Ardan memeluk tubuhnya dan menenangkannya.
"Sstttt ... Tak apa! Aku di sampingmu." katanya sambil mengelus lembut bahu Soraya.
Perlahan Soraya merasa tenang dan dapat menguasai dirinya.
Perhatian mereka tertuju pada konferensi yang sedang berlangsung.
{Saya hanya minta dia bertanggungjawab. Tapi dia tidak mau. Dia malah menyuruh saya menggugurkan kandungan saya.
Saya ... Saya ... Saya hanya ingin anak ini lahir memiliki bapak. Bukan sebagai anak haram.}
{Siapa pria yang tidak mau bertanggungjawab itu?}
Seorang wartawan yang memakai kemeja biru bertanya.
{Hiks ... Hiks ... Sebenarnya saya tidak mau melakukan hal ini. Tapi saya tak punya cara lain. Saya mencintainya. Karena itulah saya menyerahkan segalanya, bahkan kehormatan saya. Tapi setelah dia puas, dia meninggalkan saya. Memang ini salah saya, karena saya tahu dia memiliki istri. Tapi karena terlalu cinta, saya tak berdaya. Pria itu adalah Ardan Hadisaputra.}
Gemuruh terdengar di lokasi tempat konferensi itu berlangsung setelah mendengar siapa pria yang menghamili Angel.
Wanita itu menangis, terlihat menyedihkan bagi orang yang tak tahu fakta sebenarnya.
{Saya hanya minta keadilan. Tak ada motif lain. Jika pria itu mau bertanggungjawab, kami akan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Tanpa harus melibatkan saudara-saudara pers sekalian}
{Coba kalian pahami keadaan saya. Apakah saya salah? Saya hanya minta dia bertanggungjawab. Saya tidak minta dia meninggalkan istrinya. Saya cukup tahu diri. Saya hanya ingin status untuk anak yang saya kandung}
Wanita itu mulai menuai simpati banyak orang.
{Apakah Nona Angel memiliki bukti kebersamaan kalian?}
Angel menyerahkan beberapa foto yang langsung ditayangkan oleh stasiun yang meliput.
Tampak beberapa foto kebersamaan Angel dan Ardan menghiasi layar kaca.
"Sialan!" Ardan memaki, terlihat dadanya turun naik menahan amarah.
Sejurus kemudian dia teringat Soraya yang berada di sampingnya. Menatap dengan cemas ke arah Soraya.
Tangannya meremas jemari Soraya, menyalurkan ketenangan di saat hatinya sendiri panas.
Soraya membalas remasan Ardan. Dia berpaling, tatapan mereka bertemu seolah memahami pikiran masing-masing.
Soraya tersenyum dan mengangguk. Dia paham tatapan cemas suaminya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Aku sudah tahu wanita seperti apa si Angel itu. Aku tak akan meragukanmu. Walaupun pernah terjadi sesuatu, itu karena dia menjebakmu. Bukan karena kau sengaja mengkhianatiku. Kau tenang saja, aku tak akan terpengaruh dengan perkataannya. Kau hadapi saja si Angel yang sudah mencemarkan nama baikmu." kata Soraya sambil membalas remasan Ardan.
Antoni yang juga melihat acara itu segera mengambil ponsel dan menghubungi sebuah nomor.
{Kau masih menyimpan semua foto dan video itu}
{Masih, Bos!}
{Oke! Mungkin sudah saatnya kita menggunakannya. Persiapkan konferensi pers! Undang semua wartawan! Dan pastikan konferensi itu disiarkan live oleh semua stasiun televisi}
{Baik, Bos!}
Antoni memutus panggilannya.
Ardan menatap Antoni yang berdiri tak jauh darinya. Dia mengangguk.
"Sayang ... Aku harus pergi sekarang! Kau percaya kan padaku?"
"Apa yang akan kau lakukan? Jangan lakukan tindakan kriminal yang akan merugikan dirimu!"
"Tidak! Percayalah padaku! Kami punya kartu As untuk membungkam Angel. Dan kami harus bergerak sekarang. Semakin cepat semakin baik. Karena hal ini akan berpengaruh pada kestabilan perusahaan."
Soraya menatap Ardan dengan lembut dan mengangguk.
"Aku percaya padamu. Hadapi Angel! Patahkan semua serangannya. Kau harus menjebloskan dirinya ke penjara."
Ardan terlihat semakin bersemangat karena dukungan Soraya.
"Bagaimana denganmu? Apakah kau akan menungguku di sini atau pulang?"
Soraya terlihat berpikir.
"Lebih baik aku pulang saja."
"Ingat! Jangan kemana-mana dulu. Sampai keadaan kembali stabil."
"Iya! Aku juga akan segera pulang. Kau pergilah dulu!"
"Aku akan minta asisten ku untuk menyiapkan mobil untuk mengantarmu. Tak aman untuk menggunakan taksi online untuk saat ini."
"Lebih baik kalau penjagaan Soraya juga diperketat." Antoni ikut bicara.
Dan tidak seperti biasanya, Ardan yang selalu berselisih dengan Antoni segera mengangguk membenarkan perkataan Antoni
"Aku pergi." Ardan mengecup dahi Soraya dengan lembut.
Antoni dan Ardan melangkah pergi meninggalkan Soraya yang masih termenung di depan layar televisi.
Tak tampak lagi aura permusuhan yang tadi sempat ada. Mereka terlihat solid menghadapi serangan Angel.
Benar apa kata Alena, mereka memang sering bertengkar tapi akan tetap kompak dalam menghadapi orang-orang yang berniat jahat pada mereka.
"Apa yang harus aku lakukan? Apakah Ardan dapat menghadapi tuduhan Angel dan membersihkan namanya?" gumam Soraya.
Setelah membereskan rantang bekas bekal makan siang, Soraya keluar dari ruangan Ardan yang langsung di iringi lima orang bodyguard berpakaian serba hitam dengan earphone di telinga masing-masing.
Bersambung ...
__ADS_1