Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!
Bonchap 1


__ADS_3

Lima bulan kemudian


Perusahaan Palvin sudah stabil bahkan semakin berkembang pesat. Itu tidak terlepas dari kerja keras Soraya dan dukungan Ardan.


Soraya dan Ardan sudah bersiap untuk berangkat kerja. Setelah sarapan bersama seperti biasa, mereka segera meninggalkan meja makan menuju mobil masing-masing.


Mereka memang sengaja tidak menggunakan satu mobil, karena kepentingan bisnis mereka yang berbeda. Menggunakan satu mobil akan membatasi ruang gerak mereka. Sehingga tidak leluasa dalam melaksanakan tugas sebagai pimpinan perusahaan. Apalagi perusahaan mereka berada di arah yang berbeda.


"Aduh... , " kata Soraya sambil memegang kepalanya. Tubuhnya agak limbung.


"Ada apa?" Ardan menatap Soraya dengan khawatir.


"Aku merasa pusing dan agak lemas."


"Kalau merasa kurang sehat lebih baik istirahat di rumah. Pekerjaan kan bisa dilimpahkan pada asistenmu."


"Entahlah... Hari ini ada klien penting. Aku... "


Belum sempat Soraya menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya ambruk ke lantai. Untung Ardan cepat menangkap tubuh istrinya.


Dia mengangkat tubuh Soraya dan memasukkannya ke dalam mobil.


"Ke rumah sakit!" Perintahnya pada sopir.


"Baik, Tuan!" Sahut sopir pribadinya.


Ardan mengelap keringat di dahi Soraya. Tubuh Soraya terasa dingin. Ardan cemas kalau istrinya mengidap suatu penyakit.


Mobil telah sampai di depan pintu rumah sakit. Ardan mengangkat tubuh Soraya dan meletakkannya di atas brangkar yang telah disiapkan perawat.


Ardan mengikuti perawat yang mendorong brangkar hingga sampai di sebuah ruangan. Dan seorang perawat menahannya untuk ikut masuk.


"Maaf, Pak! Anda silakan tunggu di sini. Dokter akan segera memeriksa."


Ardan menghentikan langkahnya. Perawat itu segera menutup pintu.


Dengan perasaan yang tak karuan, Ardan mondar-mandir di depan ruangan, menunggu dokter selesai memeriksa Soraya.


Setengah jam kemudian, pintu terbuka. Perawat kembali mendorong brankar Soraya. Ardan yang kebingungan langsung menahan tangan dokter dan meminta penjelasan.


"Ada apa dengan istri saya?"


"Kami masih harus melanjutkan pemeriksaan."


"Lalu istri saya mau dibawa ke mana?"


"Ke bagian obygin," jawab dokter sambil meneruskan langkah.

__ADS_1


"Obygin?" gumam Ardan semakin bingung. Namun dia mengikuti kemana para perawat membawa istrinya.


Hingga sampai di sebuah ruangan. Ardan berdiri di samping brankar Soraya.


Dia melihat dokter yang berbeda mengangkat baju atasan Soraya sehingga menampakkan area perutnya. Kemudian mengoleskan semacam gel bening dan menggerak-gerakkan di atas perut Soraya. Dokter itu melakukan hal itu beberapa saat sambil menatap layar monitor yang terpasang di dinding. Ardan juga memperhatikan monitor tersebut tapi tak mengerti apa yang sedang diperhatikan dokter dari gambar buram yang ditampilkan di sana.


Dokter itu mengangguk-angguk. "Selamat, Pak! Istri Anda positif hamil. Itu ... titik hitam itu menandakan kalau dalam rahim istri Anda."


"Hamil, Dok?" Ardan melongo mendengar perkataan dokter.


"Eh... " Soraya mulai siuman.


"Sayang... ," Ardan meraih jemari Soraya dan menciumnya.


"Mas, aku di mana?"


"Kita di rumah sakit. Tadi kamu pingsan, jadi langsung kubawa ke rumah sakit. Ternyata kamu sedang hamil, sayang!"


"Hamil?" gumam Soraya tak percaya.


"Benar, Nyonya, " sahut dokter yang masih meneruskan pemeriksaan.


Soraya baru sadar kalau dokter itu masih memeriksa area perutnya.


"Dan dari gambar ini bisa dipastikan kalau Nyonya sedang mengandung dua bayi kembar," lanjut dokter lagi.


"Apa? Kembar?" sahut Soraya dan Ardan berbarengan.


Dokter meletakkan alat yang ada di tangannya kemudian duduk di mejanya. Perawat membersihkan sisa gel di perut Soraya.


Ardan membantu Soraya bangun dan turun dari brangkar, menuntunnya menuju meja dokter dan mendudukkannya dengan hati-hati.


"Ada keluhan untuk sementara ini?" tanya dokter.


"Tidak ada, Dok! Tadi pagi tiba-tiba merasa pusing dan lemas."


Dokter itu mengangguk sambil menuliskan sesuatu. "Pusing itu disebabkan tekanan darah Nyonya yang rendah. Sedangkan lemas disebabkan kehamilan ini. Saya sudah meresepkan obat. Tak ada keluhan mual?"


"Tak ada, Dok!"


"Bagus! Biasanya ibu hamil akan mengalami mual di pagi hari. Saya anjurkan perbanyak makan buah, jangan banyak beraktivitas yang bisa mengakibatkan kelelahan. Selain itu, harus menjaga perasaan, jangan sampai tertekan dan stress karena berpengaruh pada perkembangan bayi. Diharapkan suami selalu memperlakukan istri dengan baik dan menjaga perasaan istri."


Ardan mengangguk sambil meremas lembut jemari Soraya. "Iya, Dok! Saya akan selalu mendampingi istri saya."


"Kalau begitu, saya kira pemeriksaan sudah selesai."


"Baik. Kalau begitu kami permisi."

__ADS_1


"Ya. Dan jangan lupa periksa setiap bulan atau ketika ada keluhan. Dan juga sempatkan untuk ikut kelas kehamilan."


"Baik, dokter!"


Ardan membimbing Soraya dengan hati-hati sampai ke mobil. Kemudian menyuruh sopir untuk menebus obat ke apotek.


Tak lama sopir kembali dengan membawa bungkus obat.


"Sekarang lebih baik kau mengurangi kesibukanmu di perusahaan, " kata Ardan saat mereka telah berada di dalam mobil.


"Iya, Mas! Aku juga berpikir begitu. Aku memutuskan untuk fokus pada kehamilan ini. Perusahaan akan dijalankan sementara oleh asisten saja."


"Iya. Sekali-sekali aku akan membantu memantau perkembangan di perusahaanmu."


"Terima kasih, Mas!" Soraya menyandarkan kepalanya ke bahu Ardan yang membelai rambutnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Mereka terdiam beberapa saat.


"Mas, nanti singgah di mini market ya!"


"Beli apa?"


"Susu hamil."


"Oh, iya... Pak, nanti mampir di mini market ya!" perintah Ardan pada sopir.


"Iya, Tuan!" sahut sopir.


Mobil berhenti di depan sebuah mini market. Ardan ingin memerintahkan sopir untuk membelikan susu hamil tapi dicegah oleh Soraya.


"Lebih baik beli sendiri. Aku ingin memilih susu hamil yang benar-benar bagus untuk kehamilanku. Kalau nyuruh sopir, mana tahu yang mana yang bagus," omel Soraya.


Ardan mengikuti Soraya dari belakang. Soraya langsung berjalan ke area yang menjual aneka susu. Dia mengambil satu merk susu hamil dan memperhatikan komposisi yang tertera di kotaknya. Kemudian membandingkan dengan susu merk lain.


Setelah mengamati beberapa merk, akhirnya Soraya mengambil dua merk susu hamil yang dianggapnya paling baik dibanding yang lain.


Kemudian dia berjalan ke area buah segar. Ardan setia mendorong stroller sementara Soraya memilih buah dan meletakkannya ke dalam stroller.


"Sudah selesai?" tanya Ardan saat melihat Soraya berhenti memilih buah.


"Aku kira cukup. Ayo, kita bayar ke kasir."


"Biar aku yang bayar. Kamu duduk saja." Soraya mengangguk mendengar perkataan suaminya. Dia juga merasa agak pusing.


Ardan mendorong stroller ke arah kasir. Sedangkan Soraya duduk di kursi yang tidak jauh dari kasir.


Setelah membayar, Ardan mengangkat belanjaan dan menuntun Soraya ke mobil.

__ADS_1


Seluruh keluarga bergembira mendengar berita kehamilan Soraya. Bahkan papa Soraya memberikan bonus di perusahaannya sebagai wujud syukur karena berita gembira itu.


Tante Diana juga sangat bersemangat mendengar kehamilan Soraya. Dia memerintahkan semua pelayan di mansion Palvin untuk membersihkan seluruh mansion agar terhindar dari kuman penyakit.


__ADS_2