Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!
Pergi Ke Distrik Barat


__ADS_3

37 Maaf, Aku Menyerah!


Soraya sedang membereskan pakaiannya ke dalam koper saat Ardan pulang dari kantor.


"Ada apa, Sayang? kau mau ke mana?"


"Aku mau ke distrik barat, proyek di sana sedang ada masalah. Katanya, para buruh sedang berdemo karena adanya miskomuni dengan penanggung jawab proyek. Mereka ingin bertemu dengan pimpinan."


"Apakah tidak berbahaya kau pergi ke sana? Apalagi jika berhadapan dengan para buruh yang sedang marah. Belum lagi jika ada pihak musuh yang sengaja memancing di air keruh."


Soraya mengerti kekhawatiran suaminya. Dia mendekati Ardan dan memeluknya.


"Aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi aku benar-benar harus pergi. Aku akan menjaga diri dengan baik," katanya dalam pelukan suaminya.


Ardan membelai rambut soraya dan menghidu aroma istrinya yang selalu dia rindukan jika jauh darinya.


"Hmm ... sepertinya aku tidak bisa menahan kepergianmu. Baiklah! Tapi kau harus janji padaku, untuk menjaga dirimu dengan baik. Aku takut hal buruk akan terjadi.


Soraya mendongak dan menjulurkan kedua tangannya untuk membelai rahang suaminya.


"Sayang ... Aku janji akan kembali dengan selamat. Kenapa kau jadi paranoid seperti ini?"


Ardan memejamkan matanya, menikmati belaian Soraya di rahangnya.


"Kau tahu ... setelah perpisahan kita dulu, aku sangat takut kehilanganmu. Aku bahkan masih dibayangi mimpi buruk saat harus kehilanganmu dan anak kita."


"Oh, Sayang ... Maafkan aku! Aku tak bermaksud membuatmu ketakutan seperti ini. Dan juga itu hanya masa lalu. Kita lupakan saja. Oke!"


Ardan mengangguk dan membuka matanya, menatap penuh cinta pada istrinya yang berada di pelukannya.


Istrinya!


Soraya istrinya!


Sampai saat ini dia masih merasa bahwa semua ini hanyalah mimpi. Bisa berkumpul kembali dengan Soraya yang telah menggugat cerai dirinya, dan mendapat kejutan lain yaitu anak yang sudah dikiranya mati, ternyata masih berada dalam kandungan istrinya. Kemudian melihat sendiri proses kelahirannya yang membuatnya ketakutan setengah mati tapi setelah bayi itu lahir, kebahagiaan memenuhi rongga dadanya menggantikan rasa cemas dan takutnya selama mendampingi proses persalinan.


Ardan sadar bagaimana selama ini nasib bercanda padanya. Membuatnya merasakan kehilangan agar dapat menghargai apa yang sekarang dia miliki. Memang benar kata orang, kita takkan pernah memahami betapa berarti kehadiran seseorang dalam hidup kita sebelum kita merasakan kehilangan.


Dan Ardan bersyukur. Karena kehilangan itu mengajarkannya betapa penting kehadiran Soraya dalam hidupnya. Oh, tidak! Soraya adalah mataharinya, porosnya. Kehidupannya berpusat pada Soraya.


"Mengapa kau memandangiku seperti itu?' tanya Soraya, melihat Ardan yang memandanginya dengan intens.


Ardan mengerjapkan matanya. "Hmm ... Aku hanya sedang bersyukur, karena Allah menghadirkan dirimu dalam hidupku. Aku tak dapat membayangkan jika suatu saat harus berpisah dan kehilanganmu. Rasanya ... Begitu menyakitkan!"


Wajah Ardan berubah sendu.

__ADS_1


"Sayang ... Aku cuma pergi untuk mengurus pekerjaan, bukan untuk pergi berperang. Kau berpikir terlalu banyak. Sudah ah ... Ayo, kita makan malam! Aku sudah lapar sekali."


Ardan merenggangkan pelukannya.


"Ya ... Aku mandi dulu. Tubuhku rasanya gerah sekali."


"Ish ... pantesan dari tadi aku mencium bau kecut," kata Soraya sambil pura-pura menutup hidungnya bermaksud menggoda suaminya.


"Heleh ... siapa tadi yang meluk duluan? Bilang aja kamu suka kan berada di pelukanku. Sampai ga bisa tidur kalau ga aku peluk, Hmm ...," kata Ardan sambil menaik turunkan alisnya.


"Aih ... kepedean! Sudah sana mandi! Aku tunggu di meja makan,' kata Soraya sambil mendorong tubuh suaminya ke kamar mandi.


Ardan terkekeh dan menghilang di balik pintu kamar mandi.


Soraya menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya dan meletakkannya di atas ranjang. Sementara menunggu suaminya mandi, dia memeriksa lagi semua keperluan yang akan dibawa, agar tak ada yang ketinggalan.


"Berapa lama kau akan pergi?" tanya Ardan yang ternyata telah selesai mandi. Tubuhnya dililit handuk di bagian pinggang sampai ke lutut dan mengeringkan kepalanya dengan handuk yang lain.


"Rencananya tiga hari, Mas! Semoga semuanya berjalan lancar. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, mungkin aku bisa segera pulang dalam dua hari."


Soraya memandangi Ardan yang sedang memakai celana dan kaos hitam. Hmm, suaminya terlihat lebih muda saat memakai pakaian kasual.


"Lama sekali! Aku kira cuma satu hari," gerutu Ardan.


"Tidak bisa, Sayang! Itu pun cuma untuk pekerjaan lho! Bukan untuk bersenang-senang."


"Iya ... iya! Bawel amat sih!


"Hmm ... belum apa-apa sudah rindu," kata Ardan sambil mengggandeng Soraya keluar kamar menuju ke ruang makan.


***


"Bagaimana perkembangannya?" tanya Soraya pada manajer proyek setelah duduk di mobil yang menjemputnya.


Sang manajer yang duduk di samping sopir menengok ke belakang, ke arah Soraya.


"Masih sama seperti laporan terakhir. Mereka bersikeras ingin bertemu dengan Nyonya," katanya.


"Apa sebenarnya yang mereka inginkan?" tanya Soraya sambil memperhatikan manajer yang menatap ke depan lewat pantulan kaca spion.


Terlihat raut wajah manajer itu yang agak memucat. Dan itu semua tak luput dari tatapan tajam Soraya.


"Sebenarnya saya sudah berusaha bernegosiasi dengan mereka. Tapi mereka tidak lagi mendengarkan saya. Mereka tetap ingin bertemu Nyonya. Apalagi pimpinan mereka yang bernama Diana itu. Dia menghasut para buruh untuk melakukan demo. Katanya pekerjaan yang mereka lakukan tidak sebanding dengan gaji yang mereka terima. Padahal gaji mereka sudah sesuai dengan minimal UMR yang ditetapkan pemerintah," jelasnya panjang lebar.


Hmm ... Sepertinya aku harus berbicara langsung dengan pemimpin mereka. Mungkin dengan begitu, akan mempermudah mendapatkan kata sepakat dan mengakhiri demo ini, pikir Soraya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu. Memang tak ada cara lain. Atur pertemuan dengan pimpinan buruh itu," perintah Soraya setelah mendengarkan penjelasan manajer itu.


"Baik, Nyonya!"


Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan hotel yang akan Soraya tempati selama berada di sana.


"Silakan, Nyonya!" kata sopir yang membukakan pintu untuknya.


Soraya keluar dari mobil dan berjalan dengan tenang memasuki hotel diiringi manajer yang membantu membawakan koper Soraya.


Setelah sampai di kamarnya, Soraya menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


"Capek sekali," gumamnya.


Setelah beberapa lama berbaring, dia bangun dan membersihkan diri. Kemudian beristirahat setelah menghabiskan makan malam yang diantar pihak hotel ke kamarnya.


Dia memang sedang tak ingin bertemu siapapun sekarang. Yang ingin dia lakukan adalah beristirahat yang cukup agar besok dapat menghadapi pemimpin buruh dan bernegosiasi dengan baik.


Sambil berbaring Soraya teringat kalau belum mengirim kabar kepada suaminya. Dia tak mau suaminya berpikiran buruk.


Soraya mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video.


Panggilan diangkat setelah dering pertama. Nampak di layar, Ardan sedang menggendong putri mereka, si Hana.


"Assalamualaikum, Momy!" kata Ardan dengan suara meniru anak kecil sambil melambaikan tangan Hana.


Hana yang melihat momy nya di layar ponsel, mencoba meraih-raih ponsel untuk menyentuhnya. Ardan terpaksa menjauhkan ponsel itu dari jangkauan Hana.


"Waalaikum salam. Apa kabar putri momy yang cantik?"


"Baik, Mom! Momy kapan pulang?" sahut Ardan lagi.


"Sayang, momy baru sampai. Besok baru mau rapat. Doakan urusan momy lancar, ya! Biar momy cepat pulang."


"Aamiin. Take care, momy!"


"Terima kasih, Sayang. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Soraya meletakkan ponsel di atas nakas dan menarik selimutnya. Tak lama dia pun terlelap.


bersambung...


**Jangan lupa like dan krisan ya!

__ADS_1


Kalau ga keberatan minta vote nya boleh dong!


komentar nya yang santun ya**!


__ADS_2