Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!
Misi Menyelamatkan Soraya


__ADS_3

55 Maaf, Aku Menyerah!


Diana bergerak dengan gelisah. Sesekali dia menatap pintu yang tertutup di depannya. Dia sangat berharap pintu itu segera terbuka dan dokter memberikan kabar gembira.


Tapi ketakutan juga menghantuinya. Bagaimana jika dokter tak mampu menyelamatkan Soraya? Bagaimana jika Soraya menyerah untuk bertahan?


Membayangkan akan kehilangan Soraya membuat Diana merasa lemas. Soraya sudah seperti anaknya. Dia yang telah membesarkan Soraya, melihat tumbuh kembangnya. Hatinya mencelos saat melihat keadaan Soraya yang tak berdaya.


Tidak! Soraya harus bertahan! Aku tak akan memaafkan mereka yang membuatnya menderita. Soraya bertahanlah!


Diana mendekap tubuhnya. Menghilangkan rasa dingin maupun ketakutannya. Dia berjalan mondar-mandir. Kadang menghela napas berat. Serasa ada batu besar mengganjal di dadanya.


Itulah hati seorang ibu! Dia akan lebih menderita melihat anaknya begitu terpuruk. Diana mengerti rasa kehilangan yang dialami Soraya.


Dirinya saja sudah secemas ini, padahal Soraya hanya anak angkatnya. Apalagi Soraya yang kehilangan anak dan suaminya. Tak terbayang betapa hancur dan terpukul perasaannya.


Diana menghentikan langkahnya saat melihat dokter keluar. Dia segera menghampiri dan menanyakan keadaan Soraya.


"Bagaimana, Dok?" Pandangan cemas memancar di matanya.


"Kami sudah menguras isi perutnya. Untung obat yang dia konsumsi belum bereaksi sepenuhnya. Anda membawanya tepat waktu. Seandainya terlambat sedikit lagi, pasti nyawanya tak akan tertolong."


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"


"Untuk sementara Nyonya Soraya masih belum siuman. Tapi masa-masa kritis sudah berlalu."


"Huft ... Untunglah! Terima kasih dokter." Jawaban dokter membuat Diana menghela napas lega.


"Umumkan kematiannya, Dokter!"


Sebuah suara berat menginterupsi, membuat Diana dan dokter itu menoleh ke arah suara.


Ardan sedang mendorong Papa Soraya.


"Apa maksudmu?" desis Diana. Dia merasa sangat marah. Mereka berdua juga turut andil dalam keterpurukan Soraya.


"Itu untuk kebaikannya sendiri," jawab Aslan dengan tenang tanpa terpengaruh tatapan sinis Diana.


"Kau terus mengatakan kalau semua ini kau lakukan untuk kebaikan Soraya. Padahal kau yang membuat hidupnya semakin memburuk. Sialan kau!" sembur Diana. Dia seperti seekor singa betina yang melindungi anaknya dari predator.

__ADS_1


"Tenanglah sedikit!" Aslan mencoba membujuk Diana.


"Tenang? Bagaimana aku bisa tenang melihat Soraya yang hampir mati? Kau memang sudah gila. Persetan dengan misi balas dendammu! Mati saja kau sekalian dengan si keparat Erick!" Diana melengking menandakan amarahnya telah sampai di ubun-ubun.


"Itulah kenapa wanita tak bisa mengikuti rencanaku. Karena mereka tidak memiliki kesabaran. Ckck ... Soraya tak akan mati semudah itu."


Perkataan Aslan membuat Diana mendelik. Bagaimana mungkin ada seorang ayah yang begitu tenang melihat anaknya hampir sekarat?


"Tenanglah Tante!" Ardan mencoba menenangkan Diana. Meski dia baru kedua kalinya bertemu Diana setelah pertemuan pertama di mansion Papa Soraya, tapi dia tahu Diana sangat menyayangi Soraya.


"Huh ... Kau juga sama! Aku heran bagaimana Soraya bisa bertahan dengan suami pengecut seperti dirimu. Kamu tak pantas mendampingi Soraya!" Cecaran Diana membuat Ardan bungkam.


Aslan memalingkan pandangannya ke dokter, "Tolong umumkan kematian Soraya! Ini untuk keselamatan pasien."


Dokter itu menatap Aslan sejenak, tapi kemudian dia mengangguk. "Baiklah! Jika untuk keselamatan pasien, kami akan mengikuti perkataan Anda."


"Dan tolong rahasiakan hal ini!" Pinta Aslan lagi saat dokter itu akan melangkah pergi.


"Baik! Akan kami rahasiakan."


Aslan kemudian memandang ke Diana yang sedang menatapnya dengan marah. Tangannya bersedekap di dada. Wajahnya merah padam. Nampak sekali kemarahan yang menggelegak.


"Daripada kau terus menyemburkan kemarahanmu pada kami, lebih baik kau bantu kami memindahkan Soraya ke tempat yang lebih aman."


Diana terdiam. Perkataan Aslan masuk akal. Musuh mereka sewaktu-waktu bisa menyusul ke rumah sakit. Untung para bodyguard itu hanya diperbolehkan menjaga di pintu masuk ICU, sehingga mereka tidak mendengar percakapan di dalam sini. Diana tak bisa mempercayai mereka. Bisa jadi salah satunya merupakan mata-mata Luke.


Semarah apapun Diana pada Aslan, keselamatan Soraya tetap prioritas utama. Karena itulah dengan menahan rasa marahnya, Diana mengikuti kemauan Aslan.


"Oke ... Tapi sekarang aku harus menemui mereka. Supaya mereka tidak curiga."


"Benar ... Lakukanlah sekarang! Setelah itu kita harus bergerak cepat memindahkan Soraya."


Diana bergegas menemui bodyguard di depan pintu ICU. Dia mengatakan bahwa Nyonya Soraya telah meninggal. Sambil menangis tersedu-sedu, Diana mengatakan akan tinggal di rumah sakit untuk mengurus jenazah Nyonya Soraya. Dan menyuruh para bodyguard itu untuk kembali ke mansion dan mengabarkan hal ini pada semua penghuni mansion.


Tanpa curiga, para bodyguard itu pergi meninggalkan rumah sakit.


Setelah mereka pergi, Diana membantu Ardan dan Aslan memindahkan Soraya dengan cepat.


Semua administrasi telah selesai dibereskan oleh Ardan ketika Diana menemui bodyguard tadi.

__ADS_1


Mereka mendorong brankar dengan hati-hati. Sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, takut kalau-kalau ada yang memperhatikan.


Setelah memasukkan Soraya ke bangku belakang, Diana masuk ke sampingnya. Sedangkan Ardan dan Aslan menggunakan mobil lain.


Kedua mobil itu pergi ke arah yang berbeda. Menghindari kecurigaan jika sewaktu-waktu ada yang mengamati CCTV.


Setelah melaju beberapa saat di jalan, mobil Ardan terlihat mengiringi di belakang mereka. Diana masih merasa tegang. Dia takut kalau ada yang mengiringi mereka. Jemarinya saling meremas. Hingga mereka sampai di tempat yang dituju, baru Diana merasa lega.


***


"Tuan ... Barusan ada pemberitahuan dari salah satu penjaga di mansion palvin. Mereka mengatakan Soraya sudah meninggal."


"Hmm ... Bagus sekali! Pekerjaanmu memang memuaskan kali ini."


Luke tersenyum senang. Selain karena pujian dari Erick, juga karena membayangkan rekeningnya membengkak dengan uang yang dicurinya dari Soraya.


Hmm ... Tak sia-sia kesabaranku selama ini menghadapi Nyonya Besar dan Nyonya Soraya. Aku mendapatkan kepercayaan penuh sehingga dapat menjalankan semua rencana dengan mulus. Aliran uang ke rekeningku itu adalah bonus atas semua jerih payahku. Tuan Erick merupakan iblis berwujud manusia. Dia tak akan melepaskan buruannya. Bahkan Nyonya Soraya yang sudah hampir gila pun disingkirkannya. Begitu juga dengan Nyonya Besar yang sudah tidak memiliki kekuasaan pun habis dilibas. Aku tak boleh memiliki masalah dengan Tuan Erick jika ingin hidup dengan damai.


Luke bergidik ngeri.


"Sekarang kita akan menunggu keruntuhan keluarga Palvin. Ha ... Ha ... Ha ... " Erick tertawa puas.


"Lalu bagaimana dengan orang-orang yang membantu Soraya selama ini?" Alex mengingatkan Erick akan orang-orang misterius yang selalu membantu Soraya.


"Biarkan saja! Sekarang mereka hanya cecunguk tak berguna. Mereka akan tercerai karena kekuasaan Palvin sudah runtuh. Tak usah memperdulikan mereka lagi."


Luke mengangguk tanpa berani menyela lagi. Karena Erick sangat tak suka ada yang melawan perkataannya.


"Setelah pengumuman bangkrutnya keluarga Palvin selesai. Kita akan mengadakan pesta untuk merayakannya. Ha ... Ha ... Ha ... ." Tawa Erick menggema ke seluruh ruangan.


****


Jangan lupa like dan vote ya!


Makasih. 🥰


Tinggal beberapa part lagi menuju ending.


Aku akan hiatus untuk beberapa waktu. Nanti akan kembali dengan cerita baru. Terima kasih buat yg terus ngikutin cerita ini dan dukung aku. Love you all! 😘

__ADS_1


__ADS_2