
Ardan dan Soraya sedang bergelung di bawah selimut. Kepala Soraya berbantalkan tangan kiri Ardan, sedangkan tangan kanannya memeluk pinggang istrinya sambil sesekali mengelus lembut perut buncitnya.
Mereka sedang beristirahat setelah kelelahan sehabis sesi panas mereka. Ardan mengecup dahi Soraya dengan penuh cinta.
Rasanya masih seperti mimpi indah.
"Sebenarnya aku masih penasaran apa yang terjadi? Pada awalnya kau menggugat perceraian, memalsukan keterangan tidak hamil sehingga aku menyangka kau menggugurkan anak kita. Tapi kemudian, aku mendapatkan foto mu yang memperlihatkan kalau kau masih mengandung anak kita. Lalu kita akhirnya berakhir di sini. Di mansion keluarga Palvin."
Soraya tersenyum dan mencuri kecupan di bibir suaminya.
Cup ...
"Kita akan bicarakan semua itu lain hari. Masih banyak waktu bagi kita untuk bertukar cerita. Aku juga penasaran bagaimana kehidupanmu setelah mengabulkan gugatan dariku. Apakah kau kembali menjadi player dan mengencani wanita cantik?"
Ardan menggesekkan hidungnya di dahi Soraya.
"Tidak! Mana mungkin aku melakukan hal itu saat hatiku sudah terlalu jatuh padamu. Aku terlalu mencintaimu, sehingga membencimu membuat diriku sendiri merasa kesakitan. Aku menyibukkan diri dalam pekerjaan. Sampai hari itu, aku mendapatkan foto yang memperlihatkan dirimu dengan perut buncitmu. Kau tak tahu bagaimana bahagianya aku saat itu. Rasanya aku ingin segera terbang menemuimu."
"Bukankah kau memang terbang kemari. Tidak menggunakan sayap sih, hanya menggunakan jet pribadi. Ha ... Ha ... "
Tangan Soraya memainkan rambut-rambut halus di dada bidang suaminya. Terkadang menarik-nariknya. Membuat Ardan menggeram rendah.
"Apa yang tadi masih kurang, sayang?"
"Huh ... Ga, dah cukup!" kata Soraya gelapan.
Ardan menatap Soraya dengan kerlingan menggoda.
"Benar sudah cukup? Bukankah kata dokter kita harus lebih sering nengokin bayinya ya, sayang."
Siang tadi mereka memang mengunjungi dokter kandungan untuk pemeriksaan kehamilan Soraya.
Karena kehamilan Soraya sudah mendekati Hari Perkiraan Lahir (HPL) jadi dokter menyarankan agar lebih sering melakukan hubungan suami istri. Hal itu sangat diperlukan untuk mempermudah proses melahirkan.
Dan tentu saja saran dari dokter itu menjadi hal yang paling diperhatikan oleh Ardan karena memang sesuai dengan keinginannya. (Emang maunya tuh... 😏)
Karena itu sepulang dari dokter, Ardan memberikan perhatian ekstra pada Soraya. Mengingatkan sudah waktunya makan malam. Maupun sudah waktunya istirahat dan tidur.
Dan sebelum tidur dapat dipastikan Ardan akan menggunakan saran dokter untuk mengerjai Soraya.
"Kapan dokter bilang gitu?" tanya Soraya.
"Lho, memangnya kau tak dengar apa kata dokter?"
"Dokter cuma bilang agar lebih sering melakukan hubungan suami istri. Bukan kayak Mas yang melakukannya berkali-kali. Ini aku jadi kelelahan kan!" sungut Soraya.
"Ah, aku rasa sama saja." elak Ardan sambil cengengesan.
"Itu mah emang kesukaan Mas, kan!" sembur Soraya sambil menusuk-nusuk dada suaminya dengan telunjuk.
"Mulai berani ya! Mau dihukum?" tatapan tajam Ardan membuat Soraya membenamkan wajahnya di dada suaminya.
"Ga mau!" teriak Soraya.
Ardan merasa gemas dengan kelakuan Soraya. Dia mengecup pucuk kepala istrinya dengan penuh kasih. Dan memeluk istrinya dengan erat.
"Sudah ... Ayo, tidur!"
Ardan menepuk-nepuk belakang Soraya yang membuatnya merasa nyaman. Tak lama napasnya yang teratur menandakan kalau dia sudah terlelap.
Melihat Soraya sudah tertidur, Ardan juga mulai memejamkan mata. Dia hampir tertidur saat Soraya terlihat gelisah dalam tidurnya.
"Eghh ... Eghh ...!"
Keringat dingin tampak memenuhi dahi dan lehernya.
"Ada apa, sayang?"
Soraya membuka matanya, mengerjap sebentar.
"Aduh, Mas! Perutku sakit."
Ardan ikut panik.
"Apa ... Apa memang sudah saatnya?"
Soraya terlihat meringis menahan sakit.
"Mungkin saja, Mas!"
"Kau masih sanggup berjalan?" terdengar nada cemas dalam suara Ardan.
"Masih sanggup, Mas!"
Ardan menuntun Soraya dan menenteng tas yang memang sudah dipersiapkan terlebih dahulu agar dapat langsung dibawa jika sewaktu-waktu Soraya merasakan sakit.
Sopir segera melajukan mobil setelah Soraya dan Ardan masuk. Ardan menghubungi orang tuanya. Permana dan Alena mengatakan akan segera menyusul ke rumah sakit.
__ADS_1
Kedua orang tuanya memang sudah berada di Budapest sehari sebelumnya. Menjelang hari-hari terakhir kehamilan Soraya, Alena ingin lebih sering berada di sisi menantunya. Perkiraan persalinan seringkali tidak tepat, kadang maju dari tanggal, bahkan ada juga yang lebih lama dari tanggal yang diperkirakan.
Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit area khusus persalinan.
Perawat sigap mendorong brankar saat Soraya sudah dibaringkan di atasnya.
Ardan tetap mendampingi saat Soraya memasuki ruang persalinan. Dia berada di sisi Soraya sambil memegang erat jemari istrinya.
"Huft ... Huft ..." Soraya mengatur pernapasan sesuai dengan yang pernah dia pelajari di kelas ibu hamil. Hal itu berguna mengurangi ketegangannya.
Rasa sakit yang datang seperti ombak di lautan. Kadang datang menghempas, kadang tenang, kemudian datang lagi dengan hempasan yang lebih kuat.
Soraya belum boleh mengejan karena pembukaannya belum cukup. Kontraksi yang dirasakan Soraya semakin kuat dan sering. Kemudian ...
Blash ...
Cairan bening merembes dari jalan lahir.
"Air ketubannya sudah pecah. Saya akan memeriksa lagi."
Dokter yang menanganinya memeriksa pembukaan, dan ternyata pembukaan sudah sempurna.
"Baik Nyonya, atur napas ... Tarik ... Hembuskan. Nanti kalau saya bilang ejan ... Nyonya mengejan seiring menghembuskan napas ya!"
Soraya mengangguk lemah.
"Ya ... Siap. Tarik napas ... Ejan dengan kuat ... Tarik napas ... Ejan lagi ..., " Dokter mengarahkan sambil menunggu di depan jalan lahir.
"Ergh ... Ergh ... " Soraya melakukan semua arahan dokter. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya sambil mengejan dengan kuat.
Ardan memegang tangan Soraya dan membersihkan keringat di dahi istrinya. Padahal tubuhnya sendiri gemetar dan mandi keringat.
"Bagus ... Teruskan ... Tarik napas ... Ejan ... Ya, bagus ... Ini kepalanya sudah kelihatan. Ejan lagi ... Lebih kuat ... "
"Erghhh ... Erghhh ... "
Soraya sudah mulai kelelahan.
"Ayo, sayang! Kamu pasti bisa!" Ardan mengecupi dahi istrinya. Memberi semangat pada istrinya, padahal dia sendiri serasa sudah mau pingsan saking tegangnya. (Rasain... Bikinnya enak kan. 😂)
Soraya mengumpulkan sisa kekuatannya. Dengan tenaga terakhir yang dimilikinya dia mengejan dengan kuat.
"Erghhh ... "
Oek ... Oek ... Oek ...
"Selamat, Pak! Bayi nya perempuan." kata seorang suster di samping dokter.
Dokter sigap menyambut bayi Soraya dan meletakkan di dada Soraya setelah memotong tali pusarnya.
Bayi itu mulai mencari ****** ibunya. Dan setelah ketemu dia menyedotnya dengan lahap.
Setelah dokter membersihkan jalan lahir bayi. Dokter mengangkat bayi Soraya dan membersihkannya sekaligus melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Soraya yang merasa sangat lelah, menutup matanya untuk beristirahat.
Ardan yang melihat itu merasa ketakutan.
"Sayang ... Kau kenapa?" katanya sambil menepuk lembut pipi Soraya.
"Biarkan saja Pak ... Istri Anda perlu istirahat."
"Oh, begitu ya suster! Saya hanya takut."
"Tak apa, Pak. Persalinan ibu berjalan lancar. Dan sepertinya tidak ada masalah. Tekanan darah pun stabil. Darah yang keluar juga normal."
Ardan menghela napas lega mendengar penjelasan suster.
Kemudian dokter yang telah selesai memeriksa bayi mereka segera menyerahkan bayi itu ke salah seorang suster untuk diberi pakaian.
Bayi yang sudah berpakaian rapi diserahkan kepada Ardan.
Ardan menerima dengan canggung. Dengan dibantu seorang suster dia belajar cara mengendong dengan benar. Kemudian mengalunkan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri anaknya.
Seorang suster mengambil alih sang bayi dari tangan Ardan dan membawanya ke ruangan bayi.
Soraya dipindahkan ke ruang perawatan. Ardan meminta kamar VVIP agar istrinya merasa nyaman.
Ardan sedang merapikan rambut istrinya saat Permana dan Alena datang.
"Bagaimana? Di mana cucu Momy?" tanya Alena tak sabar.
"Ada di ruang bayi, Mom!"
"Laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan."
__ADS_1
"Alhamdulillah ... Aih ... Dah ga sabar mau nimang cucuku. Pasti cantik kayak neneknya." kata Alena antusias.
"Ya sudah, nanti kita lihat di sana ya!" kata Permana sambil merengkuh bahu istrinya.
"Ya, ga mungkin mirip neneknya. Pastinya mirip kami dong, Mom!" sahut Ardan.
Alena mendelik.
"Ga suka kalau anakmu mirip neneknya?"
"Ya enggak lah ... Neneknya dah keriput." kata Ardan menggoda Momy nya.
"Apa ... Emangnya di mana keriputnya?" Alena bergegas mencari cermin di dalam tas nya dengan cemas dan menatap pantulan wajahnya di sana.
Ardan tersenyum geli melihat momy nya yang terlihat cemas kalau ada keriput di wajahnya.
"Kau ini ... Suka sekali menggoda momy mu." kata Permana sambil duduk di sofa. Ardan sudah lebih dulu duduk di sana.
"Bagaimana keadaan Soraya?"
"Baik, Pa! Dia hanya tertidur setelah berjuang melahirkan anak kami."
Ada nada bangga dan bahagia dalam suaranya.
"Sekarang kau sudah menjadi seorang ayah. Bersikaplah lebih dewasa dan bijaksana."
"Iya, Pa! Aku akan melakukan semua pesan Papa."
"Mas ... . " terdengar suara lemah Soraya.
Ardan dan Permana segera menghampiri Soraya.
"Ada yang sakit, sayang?" tanya Ardan sambil mengelus rambut Soraya.
"Tidak, Mas! Aku hanya ingin melihat anak kita."
"Aku akan minta perawat membawa putri kita kemari." kata Ardan, kemudian melangkah ke pintu.
Pintu telah terbuka, sebelum Ardan mencapai gagangnya. Seorang perawat membawa putri mereka.
"Nyonya sudah bangun? Si kecil sepertinya sudah lapar." kata perawat itu.
Alena yang baru keluar dari kamar mandi langsung heboh melihat sang cucu.
"Duh, cucu nenek cantiknya! Pipinya tembem ya." kata Alena sambil menowel pipi si kecil.
Oek ... Oek ... Oek ...
"Tuh, Mom bikin si kecil nangis." kata Ardan tak rela anaknya menangis.
"Wajarlah, Dan, si kecil kan lagi haus. Cepat kasih sama momy nya." perintah Alena pada perawat.
Soraya menerima bayinya dari perawat. Dan memperhatikan arahan perawat cara menggendong dan menyusui yang baik.
"Saya permisi dulu. Nanti kalau si kecil sudah selesai menyusu, panggil saja saya." kata perawat itu.
"Terima kasih, Sus." kata Alena sambil mengantarkan perawat itu ke pintu.
Ardan mendekati Soraya yang lagi menyusui anak mereka. Dia memandang keduanya dengan perasaan yang sangat bahagia.
"Mas sudah siapkan nama untuk anak kita?" tanya Soraya sambil menatap suaminya.
Ardan mengangguk.
"Hana Wania Hadisaputra."
"Artinya Mas?"
"Kegembiraan yang menjadi karunia Allah SWT pada keluarga Hadisaputra."
Mata Soraya berkaca-kaca mendengar indahnya nama putrinya, apalagi dengan arti yang sangat bermakna.
"Terima kasih, Mas!"
"Aku yang harus berterima kasih. Karena kalian mau hadir dalam hidupku. Kalianlah penyemangat hidupku!" Kata Ardan sambil mengecup puncak kepala Soraya.
Mereka memandang penuh kasih pada Hana yang sedang memuaskan dahaganya di dada ibunya.
"MAKA NIKMAT TUHANMU YANG MANAKAH YANG ENGKAU DUSTAKAN."
****
**Jangan lupa like dan krisan ya!
Harap Krisan dengan bahasa yang santun ya!
Anda sopan, saya segan!
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir di work pernah saya. 🥰**