
54 Maaf, Aku Menyerah!
"Bagaimana kau bisa setenang ini saat Soraya harus menghadapi semuanya?" Cecar Diana pada pria tua di hadapannya.
Pria tua itu tersenyum. "Terkadang kita harus melakukan hal yang tidak kita suka untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuan kita."
"Maksudmu?"
"Sebentar lagi kau juga akan tahu. Selain itu bersabar untuk mencapai kemenangan itu rasanya akan sangat layak dilakukan."
"Tapi kondisi Soraya sudah sangat memprihatinkan. Apakah kau ingin melihat putrimu gila?" teriak Diana dengan geram.
"Gila? Aku sudah pernah melaluinya saat harus kehilangan istri yang sangat aku cintai di malam kecelakaan itu. Juga sepasang kaki yang membuatku harus berada di kursi roda ini selamanya. Coba kau bayangkan sendiri! Di saat itu aku bahkan sudah kehilangan harapan. Aku hampir bunuh diri. Kemudian aku teringat Soraya yang bersamamu. Dengan keyakinan untuk berkumpul kembali bersama putriku Soraya aku bangkit dari keputus-asaan. Dan aku yakin kau bisa memberi semangat pada Soraya agar bangkit dari keterpurukan."
"Kau memang gila!" desis Diana.
"Setelah menyembunyikan diri selama puluhan tahun kau kira aku tak ingin bertemu putriku? Kau tak akan pernah tahu betapa tersiksanya aku. Bagaimana aku melalui hari-hari panjang merindukan orang-orang yang aku cintai. Berada jauh dari putriku tanpa bisa mendampingi pertumbuhannya. Tidak bisa seperti orang tua pada umumnya. Tidak bisa memeluknya dan menciumnya sebelum dia tidur. Tidak bisa menenangkan di saat dia ketakutan. Dan juga tidak bisa menguatkan dirinya saat dia rapuh. Tidak kah kau mengerti?" Nada suaranya meninggi.
Diana terdiam.
"Aku melakukan ini untuk mengakhiri semuanya. Agar Soraya bisa hidup damai tanpa dihantui dendam masa lalu."
"Dendam masa lalu? Apakah kau ingin mengatakan kalau semua ini adalah pekerjaan Erick?" Mata Diana melotot sempurna.
Pria itu mengangguk.
"Aku sudah lama mencurigainya. Tapi tak pernah mampu mengumpulkan bukti. Sehingga iblis itu bisa bebas sampai sekarang."
"Kau yakin? Lalu apakah kau hanya akan berdiam diri seperti ini?" desak Diana tak sabar.
"Belum ... Belum saatnya! Jika aku menampakkan diri sekarang, aku yakin Erick akan semakin waspada. Aku memanfaatkan kondisi Soraya sehingga membuat dia lengah. Sebentar lagi kita akan dapat menyeretnya ke tiang gantungan."
"Jika aku tidak benar-benar mengenalmu, aku mungkin sudah berpikir kalau kau itu manusia tanpa perasaan. Bagaimana mungkin kau memanfaatkan putrimu sendiri untuk mencapai tujuanmu?"
"Hei ... Aku melakukan ini adalah untuk dirinya. Untuk kebahagiaannya di masa depan."
"Kebahagiaannya? Bagaimana dia bisa berbahagia jika suami dan anaknya menjadi korban?" Pekik Diana.
"Kau belum tahu semuanya. Dan lagi pengorbanan ini akan sepadan dengan hasilnya."
"Aku masih tak mengerti dirimu. Sekarang katakan padaku apakah kau sudah punya bukti untuk menghancurkan Erick?"
Pria tua itu terkekeh. "Tidak hanya bukti untuk menyeret Erick ke tiang gantungan yang telah aku dapatkan, tapi semua pengkhianat di sekitar Soraya. See ... Bukankah kesabaran akhirnya akan berbuah manis?"
Diana menatap horor. "Perusahaan Palvin hampir kolabs sekarang, suami dan anaknya mati. Bagaimana bisa kau mengatakan itu sebagai buah manis?"
"Tenang! Pengorbanan selalu diperlukan. Semakin besar tujuan yang ingin dicapai maka semakin besar juga pengorbanan yang akan dilakukan."
__ADS_1
Diana berdecak, "ckck ... Aku tak tahu kapan kau berubah menjadi seorang pria dingin seperti ini."
"Sejak malam itu ... Sejak itu hidupku berubah. Aku sudah bersumpah untuk membalas Erick untuk semua kejahatan yang dilakukannya." Geraman rendah terdengar dari pria itu. Kentara sekali dendam tak berkesudahan antara dia dan Erick memang harus segera diakhiri.
"Baiklah kalau kau tetap bersikeras meneruskan rencanamu. Aku harus kembali ke Soraya, entah bagaimana keadaannya sekarang."
"Sedikit lagi! Kita hanya harus bersabar sebentar lagi. Agar semuanya tidak menjadi pengorbanan yang sia-sia."
Diana keluar dari ruang kerja diiringi pria itu dengan kursi rodanya. Sepanjang lorong mereka lalui dengan kebungkaman.
Ketika melalui sebuah kamar yang pintunya agak terbuka Diana menghentikan langkahnya. Dengan tak sabar dia mendorong pintu untuk melihat seseorang yang mencuri perhatiannya sedari tadi. Meyakinkan dirinya bahwa orang itu bukanlah orang yang ada dipikirannya. Namun kenyataan di depan matanya membuat matanya melotot.
"Apa maksudnya ini? Kau ... Kau masih hidup?" Telunjuknya lurus ke wajah orang itu.
Tatapannya beralih dari orang itu dan pria di kursi roda.
"Aku perlu penjelasan. SEKARANG!!!" Diana benar-benar murka.
***
Keadaan semakin kacau. Perusahaan Palvin hampir di ambang kehancuran. Posisi saham merosot tajam. Para pemegang saham tak berani ambil resiko, mereka beramai-ramai menjual saham mereka.
Asisten Luke mulai melakukan pemindahan uang perusahaan ke rekening pribadinya. Selain menjalankan semua perintah Erick dia juga mengambil keuntungan dari kejatuhan Palvin.
Untuk mencegah kesembuhan Soraya, asisten Luke memerintahkan untuk mengurung Soraya di dalam mansion dan tidak memperbolehkan siapapun mengunjunginya. Dengan alasan untuk kebaikan Nyonya Soraya. Sehingga tak ada yang akan mencurigai dirinya.
Diana yang hari itu ingin mengunjungi Soraya terpaksa harus gigit jari karena beberapa bodyguard menghalangi langkahnya ke dalam mansion Palvin.
Apa yang harus kulakukan? pikirnya.
Dia mencoba memutar otak untuk mencari cara untuk masuk ke dalam mansion. Akhirnya dia menemukan celah yang bisa dia masuki, tapi dia masih harus berhati-hati karena banyak bodyguard yang berkeliaran di halaman maupun di depan kamar Soraya.
Hmm ... Sepertinya pengkhianat itu sudah memikirkan semua ini dengan sangat baik. Tapi aku tak akan menyerah!
Diana masuk ke kamar pelayan dan keluar setelah mengganti pakaiannya dengan seragam pelayan.
Dengan berhati-hati dia melangkah menuju kamar Soraya.
"Hei, kamu!"
Sebuah panggilan mengejutkannya. Dia mengangkat kepalanya.
"Eh, kamu pelayan baru ya?"
"Bukan, Tuan! Beberapa hari ini saya sakit cacar sehingga harus dikarantina agar tidak terjadi penularan pada pelayan yang lain."
"Oh, begitu! Apakah kau benar-benar sudah sembuh?" Ada keraguan di mata bodyguard itu, dia memundurkan langkahnya agak menjauh dari Diana.
__ADS_1
Jika tidak dalam situasi genting, Diana mungkin akan terpingkal-pingkal karena melihat ekspresi bodyguard itu yang benar-benar lucu.
"Iya, Tuan! Saya benar-benar sudah sembuh. Saya harus segera bekerja." Diana ingin segera meninggalkan bodyguard itu, dia takut jika bodyguard itu menyadari kalau dia berbohong.
Dia melihat ke arah bodyguard itu dengan sudut matanya. Nampaknya bodyguard itu tidak mencurigainya.
Perlahan didorongnya pintu kamar Soraya.
Kreek ...
Diana masuk setelah merapatkan pintu kembali.
Soraya nampak tengkurap di atas ranjang. Rambut panjangnya terurai menutupi wajahnya yang mengarah ke kanan.
Diana merasa ada yang janggal. Soraya tak pernah tidur tengkurap!!!
Deg!!!
Di lantai kamar, samar-samar Diana melihat botol obat dan beberapa butir obat tercecer.
Diana segera mencengkram tubuh Soraya dan membaliknya ...
Diana menahan napas saat melihat wajah Soraya yang pucat. Dari bibirnya keluar busa. Dia menggapai tangan Soraya dan mencoba mencari nadinya.
TAK ADA!!!
Dengan gemetar Diana mencoba menempelkan telinganya ke dada Soraya. Degup jantungnya terdengar lemah. Diana cukup lega. Setidaknya masih ada harapan.
Apa yang terjadi sebenarnya?
Apakah Soraya mencoba bunuh diri?
Atau orang-orang itu yang sudah mencekokinya dengan obat supaya terkesan bunuh diri?
Diana menghentikan rasa penasarannya. Dia harus segera membawa Soraya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
Dengan sekuat tenaga dia berteriak, "Tolong ... Tolong ... Tolong Nyonya!"
Para bodyguard yang berjaga di luar segera menghambur masuk.
"Apa yang terjadi?" tanya salah satu dari mereka.
"Nyonya mencoba bunuh diri dengan menelan obat yang banyak. Tolong, bawa Nyonya ke rumah sakit." Pinta Diana.
Para bodyguard itu saling pandang namun hal itu tak bertahan lama. Mereka segera mengangkat tubuh Soraya ke mobil dan melarikannya ke rumah sakit.
Diana ikut melompat ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan dia menggenggam tangan Soraya.
__ADS_1
Kau harus bertahan, Soraya!
Jangan lupa like dan vote ya!