
64 Maaf, Aku Menyerah!
Gentara memandang penuh amarah saat melihat rekaman CCTV yang menampilkan proses penculikan Angel.
Pantas Angel menghilang begitu saja. Ternyata Erick yang telah menculiknya. Pikir Gentara dengan geram.
Tangannya mengepal, wajahnya memerah. Dia begitu murka. Angel adalah wanitanya. Berani-beraninya pria tua itu menyakitinya.
Tunggu aku, Angel! Aku akan menyelamatkanmu.
"Siapkan orang-orang kita! Aku ingin menyerang ke markas Erick sekarang." Perintah Gentara pada Lou, yang merupakan orang kepercayaan sekaligus tangan kanannya.
"Sabar, Bro! Kita tidak tahu apakah benar Nona telah diculik oleh Erick. Sebaiknya kita selidiki dulu." Lou mencoba menenangkan Gentara agar tidak gegabah.
Gentara melotot. "Kau pikir siapa dirimu hingga berani menghalangi aku?"
"Maaf ... Maafkan saya! Saya hanya takut, itu adalah jebakan."
"Jebakan? Kau pikir siapa yang berani menjebakku?"
"Bagaimana kalau itu jebakan dari Red Devil?"
"Itu tidak mungkin! Aku tak pernah mengekspos hubunganku dengan Angel. Ellias tak akan tahu kalau Angel adalah wanitaku. Satu-satunya orang yang tahu hanya Erick."
"Untuk apa Erick menculik Angel? Bukankah selama ini mereka berada di pihak yang sama untuk menjatuhkan Palvin?" tanya Lou.
"Aku sendiri tidak tahu. Mungkin ada sedikit kesalahpahaman di antara mereka. Karena itu, sekarang jangan halangi aku untuk menyelamatkan Angel."
"Tapi ... " Lou masih berusaha meyakinkan Gentara agar mengurungkan niatnya.
"MINGGIR!!!"
Bentakan Gentara membuat Lou menggeser badannya ke samping, membiarkan Gentara lewat meski dengan terpaksa.
Gentara menghentikan langkahnya sebelum mencapai pintu. Tanpa berbalik dia mengatakan, "Kau tak usah ikut. Jaga Socrety dengan baik. Jika sesuatu terjadi padaku. Kau harus meneruskan kepemimpinan."
Lou mencoba menghampiri Gentara tapi kemudian menghentikan langkahnya saat melihat Gentara mengangkat tangannya.
Dengan tatapan nanar diikutinya kepergian Gentara yang menghilang di balik pintu.
Semua gara-gara wanita j*lang itu! Tuan Gentara selalu menuruti semua keinginan Angel. Mencarikan dokter operasi plastik terbaik dan menyanggupi dananya yang tidak sedikit. Hal itu dilakukan Angel karena obsesi untuk balas dendam pada Soraya dan Ardan. Sekarang, wanita itu bahkan menyeret Tuan Gentara ke jurang kehancuran. Jika bukan karena Tuan Gentara sangat mencintai Angel, Lou pastikan akan membuat wanita itu menghilang dari muka bumi ini.
Bahkan wanita itu tak benar-benar menghargai usaha Tuan Gentara. Dia sering bermain dengan pria lain, tak terkecuali Ardan. Entah kenapa, Tuan Gentara seperti menutup mata atas perilaku Angel. Huh, cinta memang buta! Bahkan juga sangat *****!
Tuan ... Semoga kau baik-baik saja!
***
__ADS_1
Byur ...
Seember air membasahi wajah Luke, membuatnya gelagapan dan terbangun.
"Ada apa? Mengapa aku di sini?" tanya Luke keheranan karena berada di ruang rahasia Erick. Dan yang membuatnya semakin terkejut adalah keadaannya yang sedang terikat di lantai.
"Ada apa ... Tidak kah kau tahu apa kesalahanmu?" Suara berat Erick terdengar marah.
"Saya tidak tahu, Tuan! Dan ... Bagaimana ... Bagaimana saya bisa di sini?"
Erick mendekat dan membungkuk. Dia mendekatkan wajahnya ke Luke, kemudian mengulurkan tangannya menepuk-nepuk wajah Luke.
"Bagaimana kau ada di sini? Tentu saja setelah anak buahku menjemputmu di bandara. Sekarang, katakan padaku! Apa yang kau lakukan di bandara, huh?" Sinar bengis menyorot dari matanya.
Luke menyadari bahaya di depannya. Tubuhnya gemetar. Bagaimana tidak, seorang iblis sedang berdiri di depannya.
"Itu ... Itu ... Anu ... Saya sedang ada urusan di luar negeri."
"Urusan? Urusan apa? Berani-beraninya kau bohong padaku! Rasakan ini!"
Bugh ... Bugh ... Bugh ...
Erick menendang tubuh Luke bagai kesetanan.
"Ampun, Tuan! Ampun ... Akh ... ." Luke muntah darah. Perutnya dan beberapa bagian tubuhnya yang terkena tendangan terasa sakit sekali.
"Kau mengkhianatiku! Kau membuat aku menanggung banyak kerugian. Semua karena kau yang telah menyabotase beberapa proyekku. Apakah kau berpikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?" tangannya menjambak rambut Luke dan menariknya dengan kuat, membuat Luke terdongak ke atas.
"Tidak ... Tuan ... Saya tidak mungkin melakukan hal itu. Saya berani bersumpah."
"Sumpah? Siapa yang masih percaya dengan sumpah seorang pengkhianat sepertimu?" tukas Erick.
Luke terdiam. Dia tak bisa membuktikan kalau dirinya tidak bersalah. Jika seperti ini keadaannya, dia takut tak akan dapat melihat matahari lagi esok hari.
"Kau tidak bisa menyangkalnya lagi. Aku punya bukti kuat kalau kau juga mengkhianatiku. Kau kira aku sebodoh Soraya yang bisa mempercayai orang sepertimu? Dasar tikus tak berguna! Kau hanya sampah!" makinya sambil kembali menendang tubuh Luke yang sudah babak belur.
Bugh! Bugh! Bugh!
Luke kembali muntah darah. Beberapa tulang rusuknya terasa sakit, mungkin ada yang patah. Matanya bengkak, bibirnya pecah. Tapi itu tidak seberapa. Kemarahan Erick masih belum reda.
Dia mengambil cambuk yang tergantung di dinding.
Clar! Clar!
Ujung cambuk itu menyentuh tubuh Luke dan membuat pakaiannya sobek di sana sini.
Erangan kesakitan Luke tidak membuat Erick merasa kasihan. Dia terus menyabetkan cambuk itu ke tubuh Luke yang gemetar karena rasa sakit.
__ADS_1
Clar! Akh ... !
Teriakan kesakitan menggema di ruangan itu. Namun jangankan menghentikan aksinya, Erick malah semakin beringas memecutkan cambuknya. Seakan-akan teriakan kesakitan Luke membuatnya semakin ingin menganiaya pria itu.
Tiba-tiba ...
Brak!
Pintu ruang rahasia itu didobrak dengan paksa oleh beberapa orang yang tak dikenal.
Setelah pintu terbuka, tampak Gentara masuk dengan tatapan marah. Dia langsung menuju ke arah Erick. Dia mengacungkan handgun ke kepala Erick.
"Di mana Angel?"
Erick bukannya takut, dia malah terkekeh. "Kau salah alamat kalau mencari Angel di sini. Aku tak tahu di mana Angel."
Kekehan Erick semakin menyulut kemarahan Gentara. Dia merasa pria tua itu menertawakannya.
"Br*ngsek! Kau ingin mati Pak Tua?" Bentaknya sambil mengacungkan handgun.
"Kalau kau berani, tembak saja! Kau telah memasuki wilayahku. Dan berani menodongkan senjata padaku. Kau yang ingin mati!" Teriak Erick.
Derap langkah mendekati mereka. Tak lama, muncul para bodyguard Erick. Mereka mengelilingi orang-orang Socrety dan mengarahkan senjata pada mereka.
"Baiklah! Hari ini kita tentukan siapa yang akan mati di sini." tantang Gentara.
"Bagus! Nyalimu besar juga, Anak Muda!" Mata Erick mengisyaratkan pada para bodyguard untuk segera menyerang.
Pertempuran pun tak dapat dihindari. Tembakan saling berbalasan. Desingan peluru seperti hujan yang menyeruak di udara.
Dor! Dor! Dor!
Luke melihat Erick yang sibuk melayani Gentara. Dia mencoba menyingkir dari tempat itu. Dengan susah payah dia menggerakkan tubuhnya yang terasa ngilu. Tapi sebelum dia mencapai pintu, sebuah peluru bersarang di batok kepalanya.
Akh ... Daras mengucur dari lubang di kepalanya. Tubuhnya roboh ke lantai.
Kedua belah pihak terlihat mulai kewalahan. Mereka sama-sama kuat. Hanya pihak terkuat yang dapat bertahan sampai akhir.
Tapi kejutan datang menghampiri mereka. Orang-orang Red Devil tiba-tiba membombardir mereka dengan peluru dari segala arah. Mereka tak dapat lagi menghindar. Baik Erick maupun Gentara sama-sama terkapar setelah diterjang puluhan peluru yang sebagian besar berhasil bersarang di tubuh mereka.
Akhirnya semua orang dari pihak Erick maupun Gentara jatuh bergelimpangan.
"Bagaimana?" tanya Ellias pada anak buahnya yang memeriksa kondisi Erick, Gentara dan Luke.
"Mereka sudah mati." sahut sang anak buah.
Ellias memerintahkan pada anak buahnya untuk segera meninggalkan tempat itu karena tak lama lagi polisi akan datang.
__ADS_1
Satu part lagi ya, Guys!