
Waktu baru menunjukkan pukul 10.00 pagi saat Ardan pulang.
"Masukkan bajuku ke koper."
"Ada apa?" tanya Soraya heran.
Dia mengambil koper suaminya dan mulai menata baju, kemeja, celana, dan underwear.
"Ada permasalahan yang harus kutangani di Budapest." tangannya sedang melepaskan dasi.
"Kau akan pergi? Berapa lama?"
"Untuk urusan pekerjaan paling cuma 2 hari. Untuk urusan pribadi, mungkin satu minggu."
"Pribadi? Maksudnya?" tatapan Soraya menyelidik.
Ardan tersenyum geli dan merangkul pinggang Soraya dengan kedua lengannya.
"Kau mau ikut?"
"Untuk apa? Aku hanya akan mengganggu pekerjaanmu." tukas Soraya agak ketus.
Terus terang dia merasa curiga dengan urusan pribadi yang tadi disebutkan Ardan. Jangan-jangan...
"Tidak! Kau tak akan menggangguku. Sekarang dan untuk seterusnya kau harus ikut kemana pun aku pergi."
Eh, maksudnya? Pikir Soraya.
"Aku tak ingin lagi jauh darimu. Jadi, siapkan juga kopermu. Setengah jam lagi kita berangkat. Aku mau mandi dulu."
"Kenapa aku harus ikut sih? Biasanya kan kau pergi sendiri."
Ardan yang sudah melepaskan kemejanya berbalik ke arah Soraya.
"Aku takut tak dapat berkonsentrasi menangani masalah di sana jika jauh darimu. Kau bisa ikut, kan? Please!"
Ardan menatap Soraya dengan tatapan memohon. Soraya mengangguk. Ardan tersenyum senang, mencium dahinya dan masuk ke kamar mandi.
Soraya mendesah. Sejak kapan suaminya lengket padanya seperti itu. Tapi tanpa banyak bertanya lagi dia membereskan pakaiannya ke dalam koper.
Tok... Tok... Tok...
Soraya membuka pintu kamar.
Tampak asisten suaminya sudah berdiri di sana.
"Suami saya masih mandi."
Asisten itu mengangguk.
"Apakah kopernya sudah siap? Biar saya bawa dulu ke mobil." katanya dengan sopan.
Soraya menyerahkan kedua koper yang telah dia siapkan. Asisten itu segera membawanya turun.
Ardan keluar dari kamar mandi saat Soraya tengah bersiap-siap. Dia menyempurnakan tampilannya dengan memoles bibirnya. Warna peach yang membuat bibirnya terlihat segar.
__ADS_1
Ardan yang sedang memakai celananya cepat-cepat memalingkan wajahnya. Jika dia meneruskan menatap istrinya, bisa dipastikan keberangkatan mereka akan tertunda, karena dia tak akan dapat menahan diri untuk tidak menerkam istrinya.
"Sudah selesai?" tanya Ardan saat melihat Soraya mengambil tas bahunya.
Soraya mengangguk dan tersenyum manis.
"Ayo!"
Ardan melingkarkan lengannya pada pinggang Soraya dan menghelanya keluar dari kamar.
____________Helna__________________
Penerbangan yang menghabiskan waktu kurang lebih enam belas jam itu benar-benar melelahkan.
Soraya tertidur di kamar pesawat.
Untungnya mereka tidak menggunakan pesawat komersil. Tidak dapat Soraya bayangkan jika dia harus duduk selama itu. Meskipun kursi dapat disetel saat penumpang mau tidur tapi tetap tidak akan senyaman tidur di atas ranjang.
Ardan tersenyum geli saat melihat ekspresi Soraya ketika tahu akan menaiki pesawat pribadi milik keluarga Hadisaputra.
Soraya memang tak pernah tahu seberapa kaya suaminya. Selama ini dia hanya tahu keluarga Hadisaputra merupakan keluarga kaya dan terpandang. Selebihnya dia tak bertanya dan tidak ingin mencari tahu.
Soraya tak tahu kapan mereka tiba di tujuan. Dia merasakan tubuhnya melayang dalam gendongan seseorang. Aromanya yang sangat familiar di penciuman Soraya membuatnya tenang dan memutuskan melanjutkan tidurnya yang agak terganggu.
Dia merasa nyaman dalam pelukan suaminya yang menggendongnya masuk ke mobil. Kemudian Soraya merasakan kalau mobil yang mereka tumpangi mulai melaju.
Soraya kembali tenggelam ke alam mimpi.
Mobil yang membawa mereka masuk ke dalam sebuah mansion.
Ardan menggendong Soraya dan membawanya masuk. Langsung menuju ke kamarnya di lantai dua, mendorong pintu menggunakan kakinya dan merebahkan istrinya di atas ranjang dengan perlahan, takut akan mengganggu tidurnya yang lelap.
Dia merasa tubuhnya lengket karena perjalanan yang lumayan lama. Memutuskan mandi untuk menyegarkan tubuh sebelum pergi ke perusahaan.
__________Helna___________
Urusan di perusahaan ternyata hanya memerlukan waktu satu hari. Selebihnya mereka gunakan untuk menjelajah di Budapest.
Ardan membawa Soraya mengunjungi Istana Buda.
Sebuah kompleks istana raja-raja Hongaria. Merupakan bangunan yang merupakan perpaduan Roma, Gotik, dan Turki.
Soraya tak henti mengagumi keindahan arsitektur bangunan yang selesai dibangun pada tahun 1265 tersebut.
Seorang guide membersamai kunjungan mereka. Menjelaskan rincian tempat tersebut dari asal mula pembangunan sampai tata letak Istana Buda.
"Dulu, bangunan ini dikenal dengan nama Istana Kerajaan dan Kastil Kerajaan. Istana Buda dibangun di bagian selatan Bukit Kastil dan dibatasi oleh Distrik Kastil di utara." Guide itu menjelaskan dengan lebar menggunakan bahasa Inggris yang fasih.
Soraya dan Ardan mendengarkan sambil menikmati corak dan arsitektur yang benar-benar indah.
"Mengapa tempat ini juga memiliki corak Turki?" tanya Soraya.
Guide itu berhenti melangkah dan menjelaskan.
"Karena pada abad ke-15 Hongaria pernah jatuh ke tangan Kesultanan Utsmaniyah dan merupakan kekuasaan Ottoman. Dan Hungaria mengalami revolusi pada abad ke-18. Sehingga sebagian bangunan bersejarah masih tersisa corak Turki."
__ADS_1
Soraya takjub dengan perpaduan arsitektur yang ada pada bangunan itu.
"Setelah ini kita akan kemana?" tanya Soraya.
Ardan menatap Guide dan meminta pendapat.
"Karena hari sudah menjelang siang, lebih baik kita meneruskan ke Great Market Hall Budapest. Di sana disuguhkan beragam makanan khas Hongaria. Semoga Tuan dan Nyonya menyukai makanan khas negara kami." kata Guide itu sambil mengarahkan mereka ke tempat parkir.
Soraya menyandarkan kepalanya ke bahu Ardan.
"Lelah?" tanya Ardan sambil mengelus lembut rambutnya.
"Tidak! Aku hanya merasa lapar."
"Sebentar lagi kita akan makan. Atau kau mau makan aku dulu?" tanya Ardan dengan kerlingan menggoda.
Soraya merasa gemas dengan godaan suaminya dan mencubit pinggang Ardan.
"Aduh, sakit! Ampun!" Ardan meringis kesakitan.
"Rasain! Makanya jangan mesum!"
Guide yang berada di samping sopir ikut tersenyum melihat interaksi mereka. Meski dia tidak paham bahasa pasangan itu, tapi melihat rona merah di wajah si istri, bisa dipastikan mereka sedang bercanda atau si suami sedang menggoda istrinya.
Mereka tiba di Great Market Hall. Bangunan yang terdiri dari tiga lantai itu sangat luas. Terbagi dalam beberapa kawasan, buah-buahan dan sayuran segar, produk susu, salamis, acar, ikan segar, dan souvenir.
Bagian teratas merupakan tempat makan seperti kedai dan rumah makan.
Guide membawa mereka langsung ke bagian teratas karena jam sudah menunjukkan waktunya makan siang.
Soraya melihat banyak terdapat souvenir seperti tas, pakaian, dan kerajinan tangan. Setelah makan dia bermaksud untuk membeli beberapa barang.
Guide yang menemani mereka masuk ke sebuah rumah makan sederhana.
Ada bermacam menu tapi Soraya bingung harus memilih yang mana. Akhirnya dia menunjuk beberapa menu, yaitu Halaszle, goulash, fozelek, dan somloi Galuska.
Halaszle yang merupakan sup nelayan. Seperti gulai, dimasak dalam ceret di atas api terbuka. Sup ini dibuat dari ikan sungai campuran (ikan mas, lele, bertengger atau tombak) dengan sejumlah besar paprika panas. Memiliki banyak varietas seperti La Baja (dibuat dengan pasta tebal untuk ikan gurame). Atau szeged (campuran empat macam ikan) merupakan makanan yang paling terkenal.
Sedangkan goulash adalah sup daging dengan saos tomat dan paprika.
Fozelek merupakan sup sayuran yang kental.
Somloi Galuska merupakan hidangan penutup lezat yang terbuat dari roti bolu, dilapisi dengan krim cokelat, kernel kenari, rum, dan krim kocok di bagian atasnya.
"Yakin cuma mesan ini?" tanya Ardan.
"Iya ... Nanti kalau lapar, kita kan bisa beli camilan di pinggir jalan." kata Soraya sambil menyendok halaszle.
Hmm ... Nikmat!
Kuahnya yang lezat dan pedas menambah selera makan.
Ardan tidak ikut memilih menu. Karena dia berpikir menu yang sudah dipesan Soraya cukup untuk mereka berdua.
Guide yang bersama mereka duduk di kursi yang tidak jauh dari mereka. Dia tidak mau mengganggu pasangan yang sedang menikmati makan siangnya.
__ADS_1
Bersambung...
jangan lupa like dan krisan ya! 🙏