Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!
Pembalasan Untuk Marsya


__ADS_3

59 Maaf, Aku Menyerah!


"Kau yakin mau ikut?" nada suara Ardan terdengar ragu.


"Ya ... Memangnya kenapa?" Soraya bertanya balik.


"Aku takut kau akan merasa kasihan padanya."


Soraya tertawa sumbang. "Belas kasihanku sudah mati saat dia meracuni Hana. Aku tak akan puas jika tidak melihat sendiri eksekusi atas dirinya. Kalau perlu aku sendiri yang akan melakukan eksekusi itu."


Sorot mata Soraya begitu penuh keyakinan.


"Baiklah kalau begitu. Ingat! Jika kau merasa tak sanggup untuk meneruskan, kau bisa meninggalkan tempat itu kapanpun kau mau."


"Iya ... Iya ... Ayo, berangkat! Jangan membuang waktu lagi!"


Soraya menggandeng tangan Ardan dan menyeretnya ke mobil.


Mobil meluncur dengan cepat di jalan raya. Setelah menyusuri jalan besar beberapa saat, mobil mereka berbelok ke sebuah jalan kecil. Di sepanjang jalan hanya ada pepohonan besar. Tak berapa lama mereka tiba di sebuah gedung yang merupakan satu-satunya bangunan di tempat itu.


Kedatangan mereka disambut beberapa bodyguard. Ardan membukakan pintu mobil, Soraya segera turun.


Soraya berdiri beberapa saat memandangi bangunan di depannya.


"Ayo!" Ardan menggamitnya dan membawanya masuk ke dalam.


Ruangan di dalam mirip basecamp Palvin karena terdapat beberapa ruangan besar yang berfungsi sebagai tempat latihan para bodyguard juga ruang tidur besar yang bisa menampung puluhan orang. Memang disengaja tidak dibuat per kamar agar dapat memantau setiap orang. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan adanya mata-mata. Jadi tak ada ruang pribadi, semuanya ruang bersama. Terkecuali untuk para petinggi.


Soraya memperhatikan setiap detil bangunan itu sambil melangkah mengiringi Ardan.


Mereka berhenti di depan pintu yang tertutup. Dua penjaga berada di depan pintu, mengangguk hormat pada Ardan dan Soraya.


"Dia di dalam?" tanya Ardan pada mereka.


"Ya." sahut salah satu di antara mereka sambil membukakan pintu.


Ardan masuk diiringi Soraya.


"Kau??" Marsya melotot saat melihat kedatangan Soraya. Kedua tangannya terbelenggu rantai yang menancap di dinding. Begitu juga dengan kedua kakinya yang terbuka.


"Kenapa? Kau terkejut mendapat kunjunganku? Apakah aku tamu kehormatan bagimu?" tanya Soraya sarkas.


"Seharusnya kau sudah mati." teriak Marsya penuh kebencian.


"Wah ... Kau benar-benar mengharapkan kematianku ternyata! Apakah kau berpikir akan semudah itu menyentuhku?"


Soraya perlahan mendekat, tangannya mencengkram wajah Marsya kemudian mendekatkan wajahnya. "Aku beritahu padamu, tak semudah itu untuk menyingkirkan aku. Aku seorang Palvin!"

__ADS_1


"Cuih ... Tak peduli kau seorang Palvin ataupun raja neraka. Kau pantas mati!"


Soraya menghapus ludah Marsya dari wajahnya dengan sapu tangan. Dia terkekeh.


"Raja neraka? Boleh juga! Akan aku perkenalkan dengan raja neraka yang sebenarnya." Soraya menghunuskan tatapan tajam pada Marsya.


Marsya terpaku melihat aura dingin dan kejam yang belum pernah dilihatnya dari seorang Soraya.


"Akan kau lihat dan rasakan bagaimana pembalasanku atas perbuatanmu pada putriku." desis Soraya sambil berjalan ke sebuah meja yang berisi alat-alat penyiksaan.


"Itu ... Itu salahmu sendiri! Kau yang membuat keluargaku hancur. Kau yang telah membuat perusahaan kami kolab sehingga membuat ibuku bunuh diri dan membuat papaku terkena serangan jantung."


"Kau menyalahkanku ... Heh?" Soraya menatap dengan dingin. "Apakah kau tak menyadari perbuatanmu sendiri yang mendorong keluargamu ke jurang kehancuran? Dan kau tak memikirkan hal itu tapi kembali membuat ulah. Ternyata aku terlalu baik padamu. Seharusnya sudah kuhancurkan dirimu sebelum kau menyentuh putriku!" Teriak Soraya.


Tatapan yang membuat Marsya merasa membeku. Apa ... Apa yang sudah kulakukan?


Tangan Soraya memilih sebuah alat dan mengisyaratkan pada penjaga di sana untuk memakaikannya pada Marsya.


"Apa ... Apa yang akan kau lakukan?"


"Apa yang kulakukan? Aku hanya ingin bermain sebentar sebelum mengirimmu ke alam baka. Ayo ... Temani aku bermain! Anak baik." Seringai dari bibir Soraya tampak menakutkan.


Aura gelap tampak menyelimutinya. Dia berdiri dengan angkuh dan penuh kemarahan. Tanpa sadar Marsya mulai gemetar ketakutan.


Alat yang dipilih Soraya telah terpasang kuat di jari-jari Marsya. Soraya memalingkan wajahnya ke arah Ardan.


"Apa kau yakin masih sanggup berada di sini, Sayang?" tanya Soraya pada suaminya.


Sudut bibir Soraya terangkat membentuk senyum sinis sambil melirik Marsya. "Siapa tahu kau tak akan tahan melihat mantan kekasihmu harus tersiksa dan meregang nyawa di tanganku."


"Kau meragukanku, huh? Atau kau ingin aku ikut bermain bersamamu?" tanya Ardan dengan seringai berbahaya.


"Tidak! Aku ingin menikmati permainan ini. Kalau begitu, kau duduklah dengan manis di sana. Cukup nikmati pertunjukan yang sebentar lagi aku perlihatkan."


"Terserah padamu, My Queen!" jawab Ardan tanpa beranjak dari tempat duduknya semula setelah tiba di ruangan itu.


Dia membiarkan Soraya menyalurkan seluruh amarahnya pada Marsya. Dan Ardan akan menyelesaikan Marsya jika Soraya telah terpuaskan.


Soraya kembali memfokuskan pandangannya pada Marsya.


"Kau siap bermain?"


"Apa yang akan kau lakukan padaku?" Marsya melotot.


"Pertama-tama ... Aku akan meremukkan jari jemari yang telah lancang menyentuh dan meracuni putriku. Dan jika aku murah hati, aku akan segera mengakhiri penderitaanmu."


"Kau ... Kau biadab!" Sembur Marsya.

__ADS_1


"Biadab? Biadab mana dirimu dengan aku? Kau tega meracuni anak kecil yang tak berdosa. Jika kau menyalahkan aku karena membuat ibumu bunuh diri, maka kau salah. Ibumu memiliki pilihan untuk mati atau melanjutkan hidup sedangkan putriku tidak. Kau merenggut nyawanya dengan kejam. Karena itu jangan salahkan aku menuntut keadilan hari ini."


Tanpa ampun Soraya menekan tombol yang berada di depannya.


Kreekk ...


Aaaaa ...


Bunyi tulang patah dan teriakan kesakitan memenuhi ruangan itu. Alat itu bekerja dengan cepat. Tampak jari jemari Marsya sudah tak berbentuk, lunglai karena semua tulangnya patah.


Tubuh Marsya bergetar menahan rasa sakit. Darah menetes dari jemarinya yang robek, tampak tulang menyembul di sela-selanya.


"Arghhh ... Bunuh saja aku! Jangan kau siksa seperti ini!" teriak Marsya diantara helaan napasnya yang tersengal.


"Apakah kau berpikir kalau kau punya hak untuk tawar menawar di sini, huh?" Soraya mendengus.


Soraya mendekat dan menyentuh jemari Marsya dan meremasnya.


Arghhh ...


Teriakan kesakitan kembali menggema.


"Sialan kau Soraya! Kau ... Kau ... Akan mati dengan tragis!" Tatapan Marsya mengabur karena airmata. Rasa sakitnya terasa sampai ke ujung rambut. Dia gemetar menahan sakit di seluruh jari tangannya.


"Baiklah... Anggap saja aku masih bermurah hati padamu. Bawakan obatnya!" Perintah Soraya pada salah satu penjaga yang segera mengambilkan benda yang dimaksud.


"Obat? Obat apa?" tanya Marsya tersengal-sengal.


"Obat untuk mengobati dirimu. Supaya kau tidak lagi kesakitan. Obat yang akan mengantarkanmu ke liang lahat." Jawaban Soraya membuat Marsya gemetar hebat.


"Racun ... Kau ingin meracuniku."


"Tentu saja! Kau harus merasakan bagaimana sakit yang dirasakan putriku saat ajal menjemputnya. Minumkan padanya!"


Marsya menutup rapat mulutnya tapi para penjaga membukanya dengan paksa dan membuatnya menelan racun itu.


Tak lama ...


Arghhh ...


Tubuh Marsya mengejang, matanya melotot, dia menggelepar dengan kuat. Dari mulutnya menyembur darah segar. Kemudian terkulai lemah.


Seorang penjaga memeriksa denyut nadinya.


"Dia sudah mati." lapornya pada Soraya.


Soraya menatap dingin pada jasad Marsya.

__ADS_1


Jangan salahkan aku! Kau yang sudah melampaui batas.


Mohon komen dengan sopan ya!


__ADS_2