
60 Maaf, Aku Menyerah!
"Jangan memandangiku seperti itu, Mas!" kata Soraya yang masih memejamkan matanya.
"Bagaimana kau tau aku sedang memandangimu?" tanya Ardan tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Soraya.
"Aku merasakannya. Apakah sekarang kau merasa jijik padaku? Setelah melihat perbuatanku pada Marsya."
"Tidak! Dia pantas mendapatkannya."
Jawaban Ardan membuat Soraya membuka matanya. Setelah melakukan eksekusi pada Marsya, Soraya dan Ardan segera pulang.
Semenjak duduk di mobil, Soraya menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menutup matanya. Dia takut melihat ekspresi jijik Ardan padanya.
Pria itu mungkin akan memandangnya dengan pandangan yang berbeda. Karena belum pernah melihat kekejaman Soraya.
"Kau tidak menghakimiku karena telah menyiksa Marsya seperti itu?" Soraya menatap lekat ke bola mata Ardan.
Ardan menatap dengan hangat. Dia mengambil tangan Soraya dan mengecupnya.
"Bukankah tadi sudah aku katakan kalau aku akan selalu mendukungmu. Apa kau meragukanku, huh?"
"Aku... Aku hanya takut."
"Takut? Apa yang kau takutkan?"
"Aku takut kau memandangku dengan pandangan berbeda," cicit Soraya hampir tak terdengar. Dia mengalihkan pandangannya ke kaca mobil.
"Hmm... Aku sekarang memang memandangmu dengan pandangan berbeda."
Pernyataan Ardan sontak membuat Soraya kembali menatap Ardan dengan pandangan terluka.
"Jangan salah paham! Aku tidak menyalahkanmu. Seperti yang kukatakan tadi, aku akan selalu mendukung semua yang kau lakukan. Aku hanya tidak menyangka kau dapat menyelesaikan eksekusi tadi tanpa aku harus turun tangan. Kau benar-benar wanita kuat, sayang!"
Ardan merengkuh Soraya dalam pelukannya.
"Kau adalah istriku yang berhati lembut. Jika sekarang kau berubah menjadi seperti ini, itu karena mereka yang terlebih dulu melampaui batas dan menyakiti kita. Jika kita berbuat lunak, mereka yang akan menghabisi kita. Kita hanya membalas semua perbuatan mereka."
Soraya terdiam dalam pelukan suaminya. Sungguh... Yang diperlukannya sekarang memang sebuah pelukan hangat. Untuk menghangatkan kembali hatinya yang beku karena kehilangan buah hati yang sangat dia sayangi. Mereka melukainya begitu dalam!
"Kita masih harus melakukan pembalasan pada beberapa orang lagi. Apakah kau masih ingin melanjutkannya?"
"Tentu saja! Jangan biarkan mereka lolos! Mereka semua harus membayar setiap kesakitan yang dirasakan keluarga kita." geram Soraya.
Ardan terkekeh. "That's my Queen!"
Mereka sama-sama terdiam, tak ada percakapan untuk beberapa waktu.
__ADS_1
"Sekarang, siapa yang menjadi target kita selanjutnya?" tanya Soraya tanpa melepaskan tubuhnya dari pelukan Ardan.
"Wanita yang telah mencekokimu dengan obat ... Dia sasaran berikutnya!" Perkataan Ardan mengandung amarah yang ditekannya.
Berani-beraninya wanita itu menyentuh istriku! Meski harus ke lubang semut, akan kucari dia! Batin Ardan.
"Lalu di mana kita bisa menemukannya? Bukankah papa mengatakan kalau wanita itu sudah tidak bekerja lagi di perusahaan?"
Ardan mengecup puncak kepala Soraya. "Jangan khawatir! Meski dia bersembunyi di tempat yang sangat rahasia. Kita akan dapat menemukannya. Dan untuk itu kita perlu bantuan seseorang."
"Bantuan siapa?" Soraya merasa penasaran.
"Sebentar lagi kita akan menemuinya. Persiapkan dirimu! Untuk mengejar orang-orang yang menjadi musuh kita, kita tidak boleh tanggung-tanggung. Aku berusaha meminta bantuan pada ketua mafia 'Red Devil'."
"Red Devil? Bukankah itu mafia yang sangat ditakuti? Apakah tidak terlalu berbahaya meminta bantuan pada kelompok mereka?" Soraya agak ragu.
"Tidak! Ellias Park berhutang padaku. Sudah saatnya menagih hal itu."
"Berhutang? Memangnya kau pernah berurusan dengan mafia?" Soraya memandang Ardan penuh selidik.
"Ehkhm ... Sebenarnya aku tidak sengaja mencampuri urusan mereka. Aku hanya pernah menyelamatkan nyawanya dari kejaran kelompok 'Socrety'. Dan dia telah berjanji untuk membalas jasaku. Kinilah saatnya kita menggunakan janji itu."
"Memangnya kenapa kita harus menggunakan bantuan dari mafia? Apakah anak buah kita tak mampu mendapatkan wanita itu?"
"Tidak! Wanita itu tak dapat dijangkau karena dia dilindungi oleh ketua mafia 'Socrety'. Jadi, sebenarnya Ellias tidak hanya membayar hutang janji padaku tapi juga mendapat keuntungan mengalahkan ketua mafia 'Socrety'."
"Kita telah sampai. Jika tidak diperlukan, lebih baik kau diam saja." kata Ardan sambil membukakan pintu.
"Bagaimana jika aku di mobil saja?" Soraya merasa agak takut.
"Tak apa My Queen. Jangan takut! Kau bersamaku." Sahut Ardan sambil menarik lembut.
Ardan menggandeng Soraya masuk ke markas Red Devil setelah penjaga di depan pintu memberi hormat dan mengarahkan jalan.
Mereka menyusuri lorong-lorong yang panjang. Tempat itu lebih tepat disebut kastil tua karena bentuknya yang besar terkesan kuno. Menambah aura menyeramkan yang melingkupi bangunan itu.
Penjaga yang mengarahkan mereka membukakan sebuah pintu. "Tuan Ellias sudah menunggu di dalam."
Soraya masuk lebih dulu ke dalam ruangan yang cukup luas. Tampak di tengah ruangan seorang pria dengan raut tegas sedang berdiri menatap kedatangan mereka.
"Akhirnya ... Kau datang juga." Pria itu menyapa tanpa sedikitpun berkedip. Tatapannya yang tajam serasa menembus ke dalam diri Soraya. Melihat auranya yang begitu gelap dan menakutkan, rasanya memang pantas dirinya menggenggam pucuk pimpinan mafia Red Devil yang membuat orang-orang ketakutan ketika mendengar tentang mereka.
"Sepertinya kau sudah tidak sabar untuk membayar hutang padaku, huh!" Seringai terbit di bibir Ardan.
Soraya hanya diam melihat interaksi antara Ardan dan Ellias. Mereka saling tatap dengan ekspresi datar.
__ADS_1
"Well... Maaf, aku belum mempersilakan tamu terhormat untuk duduk." Tangannya terentang menunjuk ke sofa di sudut ruangan.
Ardan menggamit Soraya yang tampak tegang. Jujur saja, berada dalam satu ruangan dengan seorang mafia berbahaya merupakan hal menakutkan baginya.
Soraya mengikuti Ardan yang mendudukkan dirinya di sofa. Dia tak berkata satu patah kata pun. Dan sepertinya, Ellias memahami ketakutannya. Mata elangnya menatap Soraya dengan tajam.
"Apakah aku begitu menakutkan, my Lady?" tanya Ellias sambil menyunggingkan senyum setengah di ujung bibirnya.
Soraya memandang Ardan dan Ellias bergantian. "Eh, tidak ... Tidak! Aku hanya merasa kurang nyaman di tempat asing."
"Maafkan! Jika tempat kami membuatmu tak nyaman. Aku merasa bersalah karena telah membuat wanita cantik sepertimu ketakutan seperti itu."
Geraman rendah Ardan mengalihkan perhatian Ellias. Dia terkekeh.
"What!! Jangan katakan kau cemburu! Aku hanya ingin bersikap sopan pada istrimu yang cantik."
"Well ... Sudahi basa-basinya! To the point ... Kami ingin kau membantu menangkap wanita ini." Ardan meletakkan sebuah foto di atas meja kaca.
Ellias meraih foto tersebut dan memiringkan kepalanya sambil memperhatikan lebih dalam wanita yang tercetak di sana.
"Hmm ... Kenapa harus melibatkan orang-orang ku? Bukankah orang-orang mu juga cukup hanya untuk mencari seorang wanita?"
"Dia bukan wanita biasa."
"Lalu?"
"Dia dilindungi Gentara ... You know him!"
"Gentara 'Socrety'?"
"Yup!" Ardan mengangguk sambil mempelajari ekspresi Ellias yang terlihat sedikit terkejut.
"Ada masalah apa sehingga kalian harus berurusan dengan wanita Gentara?" Tatap Ellias penuh selidik.
"Yeah ... Cerita lama. Kau tak perlu tahu."
"Kalau kau tak mau menceritakannya, aku juga tak mau membantu. Aku curiga ini hanya akal-akalan kalian untuk membuatku berurusan dengan Gentara."
"Hei ... Bagaimana bisa kau mencurigaiku seperti itu setelah apa yang telah aku lakukan untukmu." Cecar Ardan.
Ellias bersidekap, dia memandang tajam menunggu penjelasan. Akhirnya Ardan menceritakan semuanya.
"Baiklah ... Aku akan menyebar orang-orang ku untuk menemukannya. Aku bisa sekaligus menuntut balas atas kematian Amanda. Tak kusangka dapat menemukan kelemahan Gentara." Seringai kejam terbit di bibirnya. Pria tampan yang sangat berbahaya.
Jangan lupa like dan vote ya!
__ADS_1
Maaf kalau ga bisa update tiap hari seperti biasanya. Hari ini benar-benar sibuk. Ini masih disempatkan menulis. Jadi kalau ada typo, tolong kasih tau ya!