
Hai, update lagi!
Sesuai dengan janjiku, hari senin bakal update lagi.
Masih semangat kan ngikutin cerita Soraya?
Kalau semangat, jangan lupa kasih like dan vote ya!
39 Maaf, Aku Menyerah!
Soraya dan Diana sudah selesai makan siang. Percakapan mereka kembali dilanjutkan. Jika pagi tadi mereka habiskan untuk membicarakan masalah pribadi, maka kali ini mereka akan membahas tentang pekerjaan yang merupakan tujuan utama Soraya ke distrik ini.
"Siapa wanita yang selalu bersamamu?" tanya Diana sambil berjalan ke sofa.
"Oh, itu bodyguard pribadiku."
"Kau yakin bisa mempercayainya?"
"Aku yakin. Karena dia kutemukan dan kulatih sendiri. Bukan seperti bodyguard lain yang merupakan bodyguard lama. Meski mereka sangat terlatih dan berpengalaman, tapi aku tak yakin mempercayai mereka."
"Kalau kau yakin, aku tidak akan berkomentar lagi."
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya Soraya setelah mereka duduk dengan santai di sofa. Hal yang tak mungkin dia lakukan jika lawan bicaranya bukan seseorang yang cukup dekat dengan dirinya seperti Tante Diana.
Diana mengambil beberapa berkas dari dalam tasnya, kemudian menyerahkannya pada Soraya.
Soraya meraih berkas yang berada di depannya dan mempelajarinya beberapa saat. Keningnya berkerut menandakan sedang berpikir keras.
"Buruh mengajukan protes karena gaji yang mereka terima tidak sesuai dengan berat kerja yang harus mereka pikul. Sedangkan menurut manajer, gaji yang diberikan perusahaan sudah sesuai dengan UMR. Sebenarnya siapa yang bertanggung jawab?"
"Ini permainan orang ketiga."
"Maksud Tante ... " Soraya tak meneruskan perkataannya saat melihat Diana mengangguk.
Hmmm ... Benar tebakan Ardan, pikir Soraya. Ada yang berusaha memancing di air keruh.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Soraya sambil memandang Diana.
"Menurutku, sebaiknya kau memeriksa beberapa orang yang berada di tim penanggung jawab. Karena masalah ini bermuara dari sana. Untuk para buruh, serahkan padaku. Aku akan mencoba menenangkan mereka. Tapi itu juga tergantung bagaimana kau mengatasi para tikus itu. Sehingga keputusan yang kau buat dapat mengembalikan kepercayaan para buruh kepadamu dan kepada perusahaan."
"Tante ... Apakah Tante betah di sini?"
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Hmm ... Aku sebenarnya bermaksud menarik tante ke perusahaan. Jadi, aku bisa meminta saran dari tante dalam pengelolaan perusahaan."
Diana tampak memikirkan permintaan Soraya.
"Tante rasa tidak etis jika itu dilakukan dalam waktu dekat ini. Selain masalah di sini belum selesai, juga bisa menimbulkan masalah baru."
"Masalah baru? Masalah apa lagi? Aku tak mengerti."
"Jika aku tiba-tiba berada di sampingmu, tentunya akan menimbulkan kecurigaan banyak orang. Mereka bisa mengira aku menerima suap sehingga aku membantumu memenangkan kepercayaan buruh. Dan sebagai balasannya, kau memberiku kedudukan yang layak di sampingmu. Tidakkah kau sekarang mengerti?"
"Aku-aku tak memikirkan sampai ke sana."
"Ckck ... Itu karena kau terlalu naif. Orang sepertimu akan mudah ditipu dan dijatuhkan oleh mereka yang biasa memainkan permainan licik dalam bisnis. Tapi tante sudah lama dalam dunia usaha yang sangat kejam ini, sehingga tante sudah bisa memprediksi apa yang akan mereka lakukan dan apa tujuan mereka sebenarnya."
"Jadi, aku tak bisa membawa tante ke sisiku?"
"Dasar anak bodoh! Aku tidak mengatakan tidak bisa. Kau bisa melakukan itu karena kekuasaan ada di tanganmu. Tapi tunggu waktu yang tepat."
"Waktu yang tepat? Kapan pastinya itu?"
"Aku terserah tante. Tapi kalau bisa, aku ingin lebih cepat misalnya tiga bulan."
"Tidak bisa! Terlalu cepat, rentan resiko."
"Oke! Aku ikut apa kata tante. Tapi ingat lho! Dalam enam bulan tante sudah pindah ke sisiku."
"Aku usahakan. Aku juga akan mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk menjadi mataku di sini."
"Untuk apa?"
"Kau tahu kenapa mereka menimbulkan masalah di sini?"
Soraya menggeleng. Dia baru mengambil alih kekuasaan, belum memiliki kesempatan mempelajari keadaan di semua anak perusahaan.
"Distrik Barat merupakan anak perusahaan yang paling banyak meraih keuntungan sehingga banyak pihak musuh yang menginginkan dan mengincar anak perusahaan ini. Jika terjadi permasalahan antara anak perusahaan dengan perusahaan utama, dan anak perusahaan melepaskan diri dari perusahaan utama, maka mereka akan segera mengambil alih anak perusahaan ini."
"Oh, seperti itu!" Soraya sekarang paham mengapa ada yang mencoba menimbulkan permasalahan di antara buruh dan manajer di sini.
"Tante ... Bagaimana jika tante yang kuangkat jadi manajer di sini? Supaya tante bisa mengambil keputusan yang tepat untuk tempat ini."
__ADS_1
"Hal itu juga tidak bisa dilakukan, Soraya! Karena seperti yang aku bilang tadi. Jika tiba-tiba aku menempati posisi yang lebih tinggi, akan menimbulkan kecurigaan. Kita jangan gegabah."
Soraya menghela napas kecewa. Ternyata meski dirinya memiliki kekuasaan sepenuhnya tapi dia tetap tidak dapat melakukan semua yang dia inginkan.
Sekarang dia mengerti bagaimana posisi seorang raja yang memiliki kekuasaan di tangannya tapi sering kali harus menelan kekecewaan karena tidak bebas melakukan apapun tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan. Kekuasaan yang sia-sia!
Soraya bahkan merindukan kehidupannya dulu semasa masih di Indonesia. Mungkin dia tak memiliki kekayaan dan kekuasaan sebagai seorang Palvin, tapi hidupnya terasa bebas tanpa beban.
"Bagaimana ... Kau mulai merindukan kehidupanmu dulu?" tebak Diana seolah mengetahui apa yang sedang Soraya pikirkan.
Soraya mengangguk dengan wajah sedih. Dia tak heran jika Diana bisa menebak dengan mudah pikirannya. Karena Diana lah yang sudah membesarkannya. Diana sudah seperti ibu untuknya. Dan seorang ibu pasti selalu mengerti anaknya.
"Jadi begini, kau segera melakukan investigasi pada mereka. Jika kau sudah menemukan siapa-siapa yang bertanggung jawab, pecat mereka! Aku akan membantu mencarikan pengganti yang dapat dipercaya."
Soraya mengangguk. "Baiklah, Tante! Sekarang kita akhiri dulu pertemuan kita. Agar tak ada yang curiga karena pertemuan kita yang sudah cukup lama."
"Kau benar! Ah, tak terasa sudah seharian kita bicara. Aku kembali sekarang. Kau ingat apa yang aku katakan tadi. O, iya, ini nomorku. Kau bisa hubungi aku jika ada apa-apa."
Soraya mengambil kartu nama yang diletakkan Diana di atas meja dan menyimpannya ke dalam tas.
"Sampaikan salamku pada suamimu dan kecup manis untuk si kecil Hana."
Setelah mengatakan itu, Diana berdiri diikuti Soraya yang segera memeluknya.
"Ingat! Jangan terlihat akrab di hadapan orang lain. Kita bersikap normal sebatas kenalan saja. Itu memudahkan jalanku untuk terus mengamati orang-orang di sekitarmu."
Perkataan terakhir Diana sebelum menghilang di balik pintu.
Soraya segera melaksanakan semua anjuran Diana. Dia melakukan investigasi terhadap semua orang. Dan berhasil menemukan beberapa orang yang dicurigai.
Proses selanjutnya dilaksanakan oleh tim khusus. Soraya tetap memantau karena belum yakin siapa yang bisa dia percayai.
Ternyata untuk menyelesaikan semuanya memerlukan waktu seminggu. Soraya pun menghubungi suaminya untuk memberitahukan kalau dia akan pulang jika urusannya sudah selesai.
Ardan menanyakan perkembangan yang ada. Soraya tidak bisa menceritakan lewat telpon, takut telponnya di sadap. Dia berjanji akan menceritakan semuanya kalau sudah kembali.
Diana membantu Soraya seperti janjinya. Para buruh tidak lagi melakukan demo. Semua kembali bekerja seperti semula.
Hari ini Soraya pulang. Dia sudah berada di pesawat yang mengangkasa. Soraya memandang ke luar jendela. Tampak awan-awan putih yang memenuhi langit. Wajah orang-orang yang dia sayangi seakan ikut muncul di antara awan yang berarak. Rindu!
Jangan lupa like, krisan dan juga vote ya! Makasih.
__ADS_1