
58 Maaf, Aku Menyerah!
"Lalu kapan tante tahu kalau Ardan masih hidup?" Kali ini Soraya mengalihkan pandangannya pada Diana.
"Aku juga baru tahu. Saat aku sudah tahu, aku bermaksud mengatakannya padamu. Itu adalah hari di mana aku menemukanmu tergeletak tak sadarkan diri karena over dosis. Katakan padaku, kenapa kau berpikir untuk bunuh diri?"
"Itu ... Itu bukan bunuh diri! Ada beberapa orang masuk ke kamarku, dua orang memegang kedua tanganku sedangkan yang lain membuka mulutku dengan paksa dan mencekokiku dengan obat. Aku mencoba meronta tapi tak berguna. Setelah melakukan itu, mereka melemparkan tubuhku ke atas ranjang dan keluar dari kamar."
"Kau ingat siapa mereka?" tanya Ardan.
Soraya menggeleng. "Aku tak merasa pernah bertemu dengan mereka, kecuali ... "
"Kecuali apa?" kejar Diana tak sabar.
"Kecuali wanita yang memaksaku menelan obat itu. Ah ... Aku ingat sekarang! Dia adalah pegawai magang di perusahaanku."
"Siapa?" Kali ini Aslan yang bertanya.
"Bella ... Tapi sampai sekarang aku masih tidak menemukan benang merah kenapa dia begitu membenciku sampai ingin membunuhku."
"Bella ... Wanita yang itu?" tanya Aslan pada pria muda di sampingnya dan pria itu mengangguk.
Soraya baru menyadari kalau pria muda itu telah berada di samping papanya. Kapan dia di sana?
"Siapa dia?" Soraya menatap tajam pada pria muda itu.
"Dia Peter. Anak angkatku."
"Apakah dia bisa dipercaya?" Selidik Soraya.
Aslan terkekeh. "Aku mempercayainya dengan sepenuh jiwaku."
"Mengapa papa berkata seperti itu?"
"Pertama, dia tak akan berkhianat karena dia tak punya siapa-siapa lagi selain aku di dunia ini. Kedua, dia membuktikannya dengan menyelamatkan Ardan, suamimu."
__ADS_1
"Benarkah? Jadi, dia yang telah menyelamatkan Ardan, yang disebutkan Ardan dalam ceritanya tadi?" tanya Soraya tanpa memutuskan pandangannya dari Peter.
Peter mengangguk dan menundukkan kepalanya pada Soraya dengan canggung.
Soraya kembali menatap Aslan. "Sekarang ceritakan padaku siapa itu Erick? Mengapa dia menjadi musuhmu?"
Tubuh Aslan menegang setiap kali mendengar nama itu. Dia menghela napas dengan berat. Tak dapat dihindari, dia memang harus menceritakan semuanya. Soraya berhak mengetahui kenapa Erick begitu membenci keluarga mereka.
"Dulu ... Aku, Erick, dan Alana bersahabat baik. Sudah lama aku tahu kalau Erick mencintai Alana. Tapi sayang Alana hanya menganggap Erick sebagai sahabat."
Aslan menghela napas kemudian meneruskan perkataannya.
"Masalah muncul saat Alana mengungkapkan perasaannya padaku. Dan Erick mengetahui hal itu. Dia menyalahkanku atas apa yang diluar kuasaku. Aku tak bisa melarang Alana menyukaiku. Seperti halnya dirinya yang menyukai Alana. Cinta segitiga itu kemudian membuat persahabatan kami merenggang.
Aku menjauhi Alana dengan harapan dia akan mengubur dalam-dalam perasaannya padaku. Tapi Alana tetap mengejarku. Erick semakin membenciku.
Di saat itu aku bertemu momy mu, Imelda. Wanita cantik dan lembut tapi sangat kuat.
Aku jatuh cinta pada pandangan pertama."
Aslan tersenyum mengenang hari pertemuan mereka. Siluet wajah Imelda menari di pelupuk matanya.
"Saat aku menolongnya bangun, dia bukan hanya tidak marah tapi tersenyum manis, yang membuat aku langsung tenggelam dalam pesonanya. Untuk beberapa waktu aku terdiam seperti orang dungu. Hanya menatapnya tanpa mengedipkan mata. Seolah kalau aku mengedipkan mata, bidadari yang ada di depanku akan menghilang. Ternyata tak hanya aku yang terpesona padanya, dia juga terpana melihatku. Dan kami jujur dengan perasaan kami. Tak lama setelah hari itu kami menjadi sepasang kekasih."
"Kami tidak pernah melalui hari tanpa bertemu ataupun bertukar kabar. Lama kelamaan Alana mengetahui hubungan kami. Dia berusaha menghancurkan hubungan kami dengan berbagai cara."
"Kami yang merasa kalau perasaan kami sangat tulus dan semakin dalam memutuskan untuk menikah. Kami tak ingin ada yang memisahkan kami. Granny mencoba menghalangi kami untuk menikah, tapi entah bagaimana Imelda bisa meyakinkan Granny untuk menerimaku dalam keluarga Palvin."
"Alana mendengar kabar pernikahan kami. Sehari sebelum pernikahan, dia dibantu Erick menculik Imelda. Aku berusaha keras menemukannya. Untung aku tiba tepat waktu. Saat itu Erick mencoba memperkosa Imelda."
Aslan menggeram mengingat kejadian itu.
"Tak hanya sampai di situ. Erick juga mencoba menghancurkan perusahaan ku. Tapi aku dapat mengendalikan kembali kondisi perusahaan yang hampir bangkrut. Seperti yang sekarang dia lakukan pada perusahaan Palvin."
"Aku kira dia telah menyerah untuk menghancurkan hidupku. Ternyata aku salah. Alana yang merasa sangat frustasi karena tak mungkin lagi memilikiku memutuskan bunuh diri dengan menegak obat tidur dalam dosis besar. Akibatnya dia meninggal karena over dosis. Itu mungkin yang membuat Erick memutuskan untuk membunuh Soraya dengan obat tidur saat itu."
__ADS_1
"Erick juga yang menimbulkan kesalahan pahaman antara aku dan Granny. Sehingga membuat kami bertengkar hebat. Granny memutuskan untuk memisahkan aku dan Imelda saat Soraya masih bayi. Karena aku tak ingin berpisah dengan anak istriku, aku memutuskan untuk membawa mereka pergi."
"Aku yakin kecelakaan malam itu juga perbuatan Erick. Dia menyalahkan kami berdua karena menganggap kami lah yang menyebabkan Alana bunuh diri."
"Dan sekarang dia masih ingin menghancurkan kita?" tanya Soraya.
"Ya ... Dia tak akan puas sebelum dendamnya terbalaskan."
"Lalu bagaimana ... Apakah kita hanya akan berdiam diri menunggu dihancurkan?" tanya Soraya geram.
"Tentu saja tidak! Sekarang kita sudah berkumpul semua. Sudah saatnya kita melakukan pembalasan," tukas Ardan.
"Tunggu! Di mana Naomi?" Soraya baru sadar akan ketiadaan bodyguard pribadinya itu.
"Dia masih dalam pemulihan," jawab Peter.
"Pemulihan? Apa sebenarnya yang terjadi padanya?" Soraya memang tidak memperhatikan keberadaan Naomi karena terlalu larut dalam kesedihannya.
"Pada malam Anniversary perusahaan itu sebenarnya Erick sudah menargetkan kalian semua. Ardan akan dibuat seakan kecelakaan tunggal. Hana mati diracun. Sedangkan dirimu sudah diincar oleh seorang sniper. Beruntung Naomi melihat bayangan sniper yang sedang membidikmu saat keluar dari tempat pesta untuk membawa Hana ke rumah sakit. Dan dia menghadang peluru yang melesat ke arahmu. Beberapa orang membawanya ke rumah sakit tapi berhasil kami cegat di tengah jalan dan kami bawa ke sini."
Soraya tertegun mendengar penjelasan Aslan. Dia tak menyangka harus berurusan dengan seorang psikopat seperti Erick. Orang jahat seperti Erick itu tak akan melepaskan buruannya.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?"
Aslan menyeringai. "Kita akan membasmi Mereka satu persatu. Dimulai dengan wanita bernama Marsya."
"Marsya? Jadi, dia ikut terlibat?" tanya Soraya lagi.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku mengatakan kalau Marsya lah yang telah meracuni Hana?" Mata Aslan menatap tajam ke arah Soraya.
"Tentu saja aku akan membuatnya merasakan hal yang sama dengan apa yang telah dia lakukan terhadap putriku Hana," Soraya menjawab dengan tegas.
Aslan terkekeh. "Kalau begitu persiapkan dirimu! Karena pembalasan akan segera dimulai."
Jangan lupa like dan vote ya!
__ADS_1
Jadi aku mau bilang kalau aku mungkin ga akan update tiap hari seperti biasa. karena aku harus fokus mempersiapkan endingnya. Aku akan update begitu dapat 2-3 part. Supaya lebih memuaskan. Seperti yang aku update hari ini, double update lho!
Tetap setia ya! 🥰