
**Hai... update lagi!
47 Maaf, Aku Menyerah!
Brak .. .
Semua berkas yang ada di atas meja jatuh berhamburan.
"Sialan! Tak kusangka dia dapat menyelesaikan masalah itu dengan cepat. Brengs*k!"
Makian dan umpatan keluar dari mulut pria di balik meja kerja itu setelah menonton siaran live konferensi pers yang digelar oleh Ardan.
Pria yang berada di sampingnya hanya bisa diam, tak berani berkata apa-apa, takutnya hanya akan memperparah keadaan.
"Kenapa kerjamu kali ini tampak kacau? Biasanya kerja yang kau lakukan selalu bersih dan memuaskan." Matanya mendelik marah pada pria muda di depannya.
"Maaf ... Maafkan, saya! Beri saya kesempatan!" Pria muda itu memohon.
Pria tua itu mengambil cerutu dari sebuah kotak, menyalakannya, mengisap dalam-dalam untuk kemudian menghembuskan asapnya ke udara.
Tampak bulatan-bulatan kecil terbentuk dari asap yang keluar dari celah bibir pria tua itu.
Pria itu tampak berpikir. Hal itu terlihat dari banyaknya bulatan asap yang terbentuk di udara. Kebiasaan lama yang sudah diketahui para bawahannya. Jika pria itu dalam keadaan seperti itu lebih baik tidak menganggunya. Karena dia pasti sedang memikirkan sebuah rencana di benaknya.
Kemudian senyum samar nampak terukir di bibirnya.
"Tak apa. Sekarang kita mungkin kalah. Tapi lain kali, aku pastikan mereka semua akan mati. Ha ... Ha ... Ha ... "
Pria muda itu mulai menghela napas lega dengan perlahan.
"Apakah Tuan punya rencana lain?" Pria muda itu memberanikan diri bertanya.
"Ya ... " sahut sang majikan dengan tatapan ke satu titik.
"Kalau boleh tahu rencana apa dan kapan kita bergerak?"
Pria tua itu menatap pria di depannya dengan tatapan tak suka. Hal itu disadari oleh pria muda itu.
"Eh, maafkan kelancangan saya! Saya hanya terlalu bersemangat untuk membayar kesalahan saya," katanya sambil menunduk dalam.
"Tak apa. Rencana yang kususun masih belum dapat dilaksanakan dalam waktu dekat. Karena kita perlu menunggu momen yang tepat."
Pria muda itu mengangguk samar.
"Bagaimana dengan Marsya?" tanya pria tua itu.
"Dia masih berada di tempat yang aman. Mereka tidak akan menemukannya."
"Bagus! Setidaknya kau masih bisa diharapkan. Jaga baik-baik wanita itu! Kita masih memerlukannya untuk rencana selanjutnya."
__ADS_1
"Apakah kita masih menggunakannya?"
"Tentu saja! Pastikan kau membuat api dendam di hatinya semakin membara. Sehingga dia dengan sukarela melaksanakan apa yang kita suruh."
"Saya akan melaksanakan perintah Tuan."
Pria itu mematikan cerutunya ke dalam asbak.
"Lebih baik kau kembali sekarang. Tak menguntungkan jika kau berlama-lama di sini. Kau bisa dicurigai. Sepertinya mereka mulai mengendus adanya mata-mata di dekat mereka. Untuk sementara waktu tak usah menghubungiku. Nanti kalau waktunya tiba, aku yang akan menghubungimu."
Pria muda itu menundukkan kepalanya.
"Baik, Tuan! Saya permisi."
Pria muda itu segera keluar dari ruangan. Meninggalkan pria tua yang masih berkutat dalam pikirannya. Menyusun sebuah rencana menyingkirkan Soraya dan Ardan dari muka bumi. Dan dia yakin rencananya kali ini tidak akan gagal.
Dia menyeringai penuh kemenangan.
***
Soraya menggeliat saat merasakan adanya kecupan-kecupan kecil singgah di wajahnya. Perlahan dia membuka matanya yang masih terasa berat.
"Eghh ... Apa sih, Mas! Ini kan hari minggu. Aku masih ingin tidur."
Soraya kembali memejamkan matanya. Tubuhnya masih terasa lelah setelah tadi malam Ardan kembali mendominasi tubuhnya berjam-jam. Katanya sebagai balasan karena telah membuatnya puasa seminggu lamanya. Heck!!
Dirinya tentu tidak akan menghukumnya kalau Ardan tidak melakukan kesalahan. Apalagi kesalahan itu mengakibatkan persoalan yang cukup rumit. Untung saja dapat mereka tangani secepatnya.
Sekarang dia punya kuasa untuk melawan bahkan melancarkan serangan balik. Siapapun yang ingin berurusan dengannya harus berpikir ribuan kali, kalau tidak ingin diratakan dengan tanah.
Tampak sombong sebenarnya. Tapi itu sepadan dengan kekuasaan yang dimilikinya sekarang. Jika dirinya yang merupakan orang terkaya di negeri itu saja masih bisa dibully orang, apalagi orang-orang yang berada di bawahnya.
Karena itu dia harus menyingkirkan belas kasihannya. Mereka yang jahat harus diberi hukuman yang setimpal sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya.
Tentu saja masih ada pertimbangan lain untuk mereka yang benar-benar insaf dan menyesali perbuatannya. Soraya akan memberikan kesempatan kedua.
Cup ...
Sebuah kecupan kembali singgah di bibirnya.
"Ayo dong bangun, sayang!"
"Apa sih ... " Mau tak mau Soraya akhirnya membuka matanya. Kalau tidak, suaminya pasti tak akan berhenti mengendus-endus lehernya.
Saat dia membuka matanya dengan lebar, barulah dia melihat suaminya yang sudah berpakaian dengan rapi.
Meski hanya pakaian kasual, tapi tetap menampilkan sosok tampan dan gagah suaminya**.
__ADS_1
"**Mau ke mana, Mas?"
"Ada deh ... Makanya cepat bangun! Mandi dulu terus sarapan. Kami menunggu di ruang makan," kata Ardan sambil senyum-senyum.
"Kami?" Soraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tanpa buang waktu, Soraya segera melangkah ke kamar mandi. Dia tak menghabiskan waktu lama untuk mandi. Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Soraya keluar dengan bathrobe handuk melilit di kepalanya.
Sebuah kaos bermotif abstrak dan hotpant sepaha sudah ada di atas kasur.
Soraya mengernyit. Tak biasanya Ardan menyiapkan pakaiannya. Sebenarnya ke mana dia akan membawa mereka. Pikir Soraya sambil memakai kaos dan celana itu.
Setelah berdandan seperlunya, Soraya bergabung di meja makan bersama dengan suami dan anaknya.
Hana sedang duduk di kursi makannya, sedang disuapi oleh babysitter nya.
Selesai makan Ardan segera menggandeng Soraya menuju ke mobil. Sedangkan Hana digendong oleh babysitter dan masuk ke kursi belakang.
Sepanjang perjalanan, Soraya memandang heran ke wajah suaminya.
"Ekhm ... Aku tahu aku memang tampan, tapi tatapanmu bisa membuat aku kehilangan konsentrasi lho, Yang!"
Blush ...
Wajah Soraya terasa memanas mendengar perkataan narsis dari suaminya. Apalagi di mobil juga ada babysitter yang mendengar. Untuk menghindari rasa malu pada babysitter itu Soraya berbicara dengan bahasa Indonesia.
"Narsis sih narsis, Mas! Tapi jangan kelewatan!"
"Eh, bukannya narsis! Ini kenyataan! Kau bisa lihat kan wanita-wanita yang rela mengantri untuk kukencani? Eits ... Duuh, sakit Yang ... Ampun!" teriaknya sambil meringis kesakitan karena cubitan Soraya mampir di pinggangnya.
"Masih berani kamu, Mas!" serunya sambil menatap dengan tatapan setajam silet.
Cess ...
Tatapan itu langsung membuat Ardan terdiam.
"Mmm ... Ga lagi kok Yang! Aku dah tobat. Suer! Percaya, ya ... Ya!" bujuknya sambil mengedipkan matanya memelas.
"Coba saja kalau berani! Tuh si otong bisa puasa satu bulan penuh," ancam Soraya sambil menyeringai.
"Wah ... Jangan dong! Satu minggu aja udah sekarat, apalagi sebulan. Bisa karatan si otong," sahut Ardan dengan sedih sambil melirik ke bagian bawah tubuhnya.
Soraya melirik ke spion tengah, melihat ekspresi bingung di wajah babysitter yang tidak mengerti percakapan mereka karena mereka menggunakan bahasa Indonesia.
Tak lama mobil mereka tiba di tempat yang merupakan destinasi perjalanan mereka.
"Kita sudah sampai!" Perkataan Ardan menyadarkan Soraya yang tadi terfokus memperhatikan babysitter yang duduk di belakang mereka.
Wah ... Indah sekali, batin Soraya. Matanya melebar melihat pemandangan di depannya.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya**!