
Hai... Update lagi!
Masih nunggu lanjutan ceritanya khan?
45 Maaf, Aku Menyerah!
Pagi ini masih seperti biasanya. Soraya yang telah selesai memandikan Hana, memakaikan pakaian padanya, menyisir rambutnya yang hitam dan ikal, menyapukan bedak pada wajahnya yang imut dan cantik.
Hana kecil sudah berusia lebih dari satu tahun. Dia sudah mulai belajar berjalan. Kaki mungilnya melangkah tertatih-tatih menjauhi Soraya yang merayunya agar mau makan. Soraya mengejar Hana yang berjalan sampai ke ruang televisi. Sambil tertawa, dia melangkah mendekati Ardan dan memeluk kakinya.
"Pa ... Pa ..., " celotehnya.
Ardan membungkuk, mengangkat tubuh Hana dan menggendongnya.
"Wah, anak papa sudah bisa panggil papa ya!" katanya sambil menciumi pipi Hana yang kembali tertawa karena dihujani ciuman oleh papanya.
"Diih, yang senang dipanggil papa," cibir Soraya.
"Iya dong! Hana kan anak papa, ya?" katanya sambil menggesekkan hidungnya ke hidung mungil Hana.
"Enak aja! Hana kan anakku."
"Ya udah, anak kita bersama. Muach ...!" Ardan merentangkan tangannya yang bebas untuk merangkul Soraya dan mencium dahi istrinya dengan mesra.
"Muah ... Muah ..., " celoteh Hana lagi yang membuat Soraya dan Ardan tertawa mendengar Hana menirukan papanya.
Melihat papa dan momy nya tertawa, si kecil Hana juga ikut tertawa meski tak mengerti apa yang ditertawakan orang tuanya.
"Til ... Til ... ."
Dahi Ardan berkerut mendengar celoteh Hana yang tidak dia mengerti.
"Dia mengatakan apa?" tanya Ardan pada Soraya.
"Oh, itu ... Dia biasanya jam segini nonton kartun kesukaannya." Soraya segera menghidupkan televisi melalui remote yang berada di tangannya, dan mencari chanel yang menayangkan kartun kesukaan Hana.
"Anak usia begini sudah ngerti nonton?" Ardan terlihat heran.
__ADS_1
"Maklum, bibit unggul!" sahut Soraya sambil tersenyum.
Ardan menurunkan Hana yang meronta di gendongannya. Lalu mendekati Soraya dan memeluknya dari belakang. Melingkari tubuh Soraya dengan tangannya yang kokoh.
Menopangkan dagunya di bahu Soraya sambil berbisik di telinga Soraya, "Bagaimana kalau kita menambah bibit unggul lagi? Dua atau tiga?"
Wajah Soraya memerah, entah karena malu mendengar perkataan Ardan atau karena merasa geli ketika Ardan meniup telinganya sesaat setelah perkataannya selesai.
Dia menyodok pelan perut suaminya dengan siku. "Dasar mesum!" bisiknya, takut kedengaran Hana.
Bisa berabe kalau sampai Hana mendengar kosa katanya barusan. Dia tak dapat membayangkan Hana akan berceloteh, "mecum ... Mecum."
"Tapi kamu suka, 'kan!" Alis Ardan terangkat dengan senyum menggoda.
Oh, Tuhan ... Suamiku kok tampan sekali! pekik Soraya dalam hati.
Tapi berbeda dengan apa yang dirasakannya, Soraya malah pura-pura cemberut dan berkata, "Gak ... Gak suka! Nanti mesumnya menyebar ke wanita lain."
Ardan membalik tubuh Soraya. Kedua tangannya berada di pinggang istrinya. Dan menyatukan dahi mereka. Matanya menatap Soraya dengan penuh cinta.
"Aku mesumnya cuma sama kamu. Tak pernah terlintas bayangan wanita lain. Kau percaya padaku?"
Dada Soraya bergemuruh karena rasa bahagia. Dia berjinjit untuk mencium kening suaminya.
Mereka masih dalam keadaan berpelukan ketika mata Soraya melihat berita yang sedang tayang.
"Mas ... Coba lihat!" serunya sambil menepuk lengan suaminya.
Ardan mengalihkan pandangan ke arah televisi.
"Pelecehan yang terjadi pada Nona Marsya terjadi pada hari selasa. Menurut pengakuan korban, pada awalnya korban menemui pelaku agar pelaku mau membantunya membujuk istri pelaku agar memaafkan kesalahan yang dilakukannya. Pelaku mengatakan akan membantu korban dengan imbalan korban mau diajak bercinta. Korban menolak karena menghargai dan menghormati istri pelaku. Namun pelaku tetap memaksa dan melecehkan korban yang tidak dapat melawan."
Lalu berita itu menampilkan foto yang jika dilihat oleh masyarakat yang tidak tahu apa-apa pasti langsung yakin kalau pelecehan itu memang terjadi. Padahal foto itu merupakan rekayasa yang dibuat oleh Marsya untuk memfitnah Ardan.
"Sayang ... Kau percaya aku tak akan melakukan itu, 'kan?" tanya Ardan dengan cemas.
Dibandingkan dengan pandangan orang lain, tanggapan Soraya jauh lebih penting sekarang.
Dia tak mau Soraya salah paham pada dirinya yang bisa mengakibatkan keretakan dalam rumah tangganya lagi.
__ADS_1
Soraya yang masih tertegun melihat berita tersebut tak mendengar perkataan Ardan.
Ardan menguncang tubuh Soraya, membuatnya tersadar dan menatap suaminya dengan lembut.
Dia menangkup wajah Ardan dengan kedua tangannya. "Aku percaya padamu! Kau jangan mengkhawatirkan aku. Kepercayaanku padamu tak akan tergoyahkan hanya karena gosip murahan seperti ini."
Ardan menghembuskan napas lega.
"Tapi sayang, kapan Marsya menemuimu?"
Ardan menghembuskan napas dengan kesal.
"Hari selasa kemaren. Dia datang menemuiku dan memintaku untuk membujukmu melepaskan perusahaan papanya. Aku menolak. Karena aku selalu mendukung semua keputusan yang kau ambil. Kemudian dia menjerit sambil memegang kepalanya. Spontan aku menangkap tubuhnya yang terlihat akan limbung. Saat aku menggapai tubuhnya ke pelukanku, aku merasa ada yang memotret kami. Aku melepaskan tubuh Marsya dan mengejar orang yang telah memotret tadi, tapi orang itu telah menghilang. Saat aku kembali ke dalam ruanganku, Marsya sudah tak ada lagi di sana."
Soraya terdiam memikirkan skenario apa yang sedang dijalankan Marsya. Ternyata wanita itu belum kapok juga. Dia masih berani bermain-main dengan keluarganya.
Kegeraman tampak di wajah Soraya. Tapi dia harus memikirkan jalan keluar terbaik untuk masalah ini.
"Fitnah ini bukan main-main. Akan sangat berpengaruh pada nama baik keluarga dan juga akan berdampak buruk pada perusahaan."
Ardan mengangguk membenarkan perkataan istrinya.
"Kita jangan gegabah menghadapi permasalahan ini. Negara ini meski menganut asas kebebasan tapi untuk perkara pelecehan akan mendapat hukuman berat. Belum lagi sangsi dari masyarakat."
"Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah meminta bagian humas untuk melakukan klarifikasi kalau berita itu adalah kebohongan. Sementara kasus ini masih diselidiki, kita harus mencari siapa yang telah mengambil foto saat itu."
"Apa yang kau katakan memang benar. Aku tadi bermaksud mencari Marsya, membawanya ke depan media untuk mengakui fitnah yang dilakukannya."
"Jangan ... Itu hanya akan membuang waktu sia-sia. Karena saat ini kemungkinan besar Marsya pasti akan disembunyikan oleh orang yang melindunginya. Atau bisa juga orang itu memanfaatkan perseteruan kita dan Marsya. Sehingga saat kita terfokus pada Marsya, orang itu sudah mengambil kesempatan melaksanakan rencananya yang lain."
"Jadi maksudmu, Marsya hanya pion?"
"Benar! Coba kau pikir lagi. Beberapa waktu yang lalu dia masih menemuiku agar melepaskan perusahaan papanya. Kemudian dia tidak datang lagi. Ternyata dia menargetkan Mas untuk membalasku. Jika hanya dia sendiri, dia tak akan mampu menyusun strategi seperti itu."
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Karena wanita manja seperti Marsya tak akan mau bersusah payah memikirkan suatu rencana untuk menghadapi kita. Dia biasanya selalu bertindak sesuai emosi. Sedangkan sekarang adalah hal yang harus dilakukan secara terencana. Dan lagi, pasti ada yang membantunya."
Dahi Ardan berkerut memikirkan kemungkinan yang disampaikan istrinya.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya!
Dimohon untuk komentar dengan santun. Aku sedih kalau ada yang komentar nya agak pedas ya! Itu bikin kami para author jd down.