
36 Maaf, Aku Menyerah!
"Bagaimana keadaan Granny di sana?" tanya Ardan saat Soraya kembali ke mansion sekembalinya dari menjenguk neneknya.
Ardan sedang duduk di sofa. Soraya menghampiri dan duduk di samping suaminya. Sedangkan Hana dibawa bermain oleh babysitter nya di atas karpet tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Baik. Beliau dalam keadaan sehat sehingga masih mampu memarahiku," sahut Soraya sambil tersenyum mengingat pertemuannya dengan sang nenek.
Meski sikapnya sering keras dan tegas, Soraya tahu nenek sangat menyayanginya. Mereka memang sering memperdebatkan banyak hal, tapi itu wajar. Selama tidak menimbulkan kebencian di antara mereka, perdebatan itu masih terbilang sehat.
Berbeda pendapat itu manusiawi. Demikian juga dengan perdebatan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Tapi tak boleh sampai menimbulkan kemarahan yang berakibat retaknya suatu hubungan.
Soraya paham kenapa dulu neneknya memisahkan dirinya dengan Ardan. Karena berdasarkan informasi yang didapatkan nenek, Ardan adalah sosok pria yang arogan, tak mau mengalah, dan juga tidak memperlakukan Soraya dengan baik.
Alasan terakhir itulah yang membuat nenek keukeuh memisahkan mereka. Menurut nenek, Soraya bisa bahagia tanpa kehadiran Ardan. Tapi sayangnya nenek keliru.
Mungkin Ardan sering menyakiti Soraya. Tapi itu dia lakukan di awal perkawinan mereka. Saat Ardan masih dalam trauma yang menyakitinya.
Soraya tak keberatan memaafkan Ardan. Selain karena dia masih mencintai suaminya, juga untuk Hana, yang memerlukan kasih sayang orang tuanya dalam masa pertumbuhannya.
Apalagi sekarang Ardan begitu mencintai mereka berdua. Jadi, untuk apa lagi mempermasalahkan masa lalu?
Siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan? Kesalahan adalah hal yang manusiawi.
Jika yang melakukan kesalahan sudah mengakui kesalahan yang diperbuatnya dan menyesalinya, maka kita harus mencoba memaafkannya dan memberikan kesempatan untuknya membuktikan penyesalannya.
"Hei, kok malah senyum-senyum sendiri?" kata Ardan sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Soraya.
"Mmm ... Aku cuma teringat pertemuan dengan Granny tadi."
"Kalau melihat ekspresi kamu, sepertinya pertemuan tadi berjalan lancar. Granny tidak marah lagi?"
Soraya menggeleng.
"Tidak! Awalnya sih masih marah, tapi aku mengajaknya bicara. Lama kelamaan akhirnya kami bisa bicara baik-baik, meskipun masih ada yang diperdebatkan."
"Tentang apa?" Ardan menegakkan tubuhnya mendengar Soraya masih berdebat dengan neneknya.
"Bukan apa-apa, hanya tentang nama Hana. Beliau marah, katanya seharusnya nama Palvin yang melekat di nama Hana, kenapa malah Hadisaputra. Ha ... Ha ... Ha ... Konyol bukan? Hanya untuk hal sepele seperti itu Granny marah-marah."
"Sebenarnya apa yang Granny katakan tidak salah. Memang seharusnya Hana juga menyandang nama Palvin," kata Ardan setelah mendengar perkataan Soraya.
"Apa ga aneh tuh namanya jadi panjang banget. Hana Wania Hadisaputra Palvin!" kata Soraya sambil mengeja nama lengkap anaknya.
"Atau Hana Wania Palvin Hadisaputra?"
Soraya mengernyit.
"Terserah deh, Mas! Bingung aku kalau harus memutuskan memakai nama yang mana untuk Hana. Kenapa mesti dibikin ribet sih?" sewot Soraya.
"Jangan begitu, sayang! Kita hanya mengabulkan kehendak orang yang lebih tua aja. Lagipula hal itu tidak memberatkan, 'kan?"
Ardan merengkuh bahu Soraya agar lebih merapat ke tubuhnya.
"Wah ... Wah ... Mesra sekali! Boleh dong gabung?"
Sebuah suara mengagetkan mereka.
__ADS_1
Di ambang pintu, sudah berdiri Antoni sambil nyengir.
Ardan langsung mendengus tak suka.
"Huh, mau apa kau kemari?"
"Duuh ... Sepupu ku sayang, kamu keterlaluan! Aku lagi ada bisnis di sini. Jadi, sekalian mampir. Mau lihat keponakan tersayang. Mana Hana ... Ah, itu dia! Sayang, sini ikut Om, ya!"
Antoni langsung menuju ke arah Hana dan mengambilnya dari tangan babysitter nya. Antoni menggendong dengan hati-hati sambil menciumi pipi Hana, yang membuatnya tertawa kegelian karena bulu halus di sepanjang rahang Antoni.
"Hei... Hei ... Jauhkan wajahmu dari putriku!"
"Apaan sih ... ! Sama anak aja pelit. Aku goda Soraya, marah. Aku cium si Hana, marah juga. Dasar temperamen! Lama-lama bisa darah tinggi! Kena serangan jantung, mati deh! Etapi ... Bagus dong! Aku bisa nikahin Soraya yang sudah janda."
Buk ...
Ardan memukul lengan Antoni kesal.
"Bisa-bisanya kau mengkhayalkan hal seperti itu. Memangnya kau benar-benar mau menikahi Soraya kalau aku mati?"
"Boleh! Aku ga keberatan kok dapat jandanya. Toh, Soraya itu wanita baik. Zaman sekarang, sulit lho nyari yang kayak dia. Jadi, boleh nih buat aku?" tatap Antoni dengan senyuman jahil di bibirnya.
"Enak aja. Gak boleh!!!"
Soraya yang sudah sering menghadapi perdebatan kedua orang itu hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Dia tak mengerti bagaimana Ardan masih saja bisa terpancing oleh semua godaan Antoni. Padahal mereka sudah bersama sejak kecil. Sedangkan Soraya yang baru saja mengenal Antoni, sudah paham kelakuan sepupu suaminya itu.
"Kenapa ga boleh? Toh, nanti kau sudah mati, ga bisa nolak lagi. Yeay ... Aku jadi ga sabar nunggu kamu mati ... Aduh!"
Antoni mengaduh saat Ardan menggeplak kepalanya.
Hana yang sedang berada di gendongan Antoni melihat papanya memukul kepala Antoni, ikut-ikutan memukul wajah Antoni dengan tangannya yang mungil.
"Tolong! Aku dikeroyok," teriak Antoni pura-pura kesakitan.
Soraya tertawa melihat kelakuan mereka.
"Eh, tapi sudah cocok kok, Ton!" kata Soraya sambil memperhatikan Antoni.
"Cocok apa?" tanya Antoni sambil mengernyit tak mengerti.
"Cocok jadi papa," kata Soraya sambil tersenyum geli.
"Jadi papanya Hana, ya Soraya?" sahut Antoni sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Soraya.
"Enak aja! Emangnya aku mau dikemanain?" tanya Ardan melayangkan tangan hendak memukul Antoni lagi, tapi Antoni sudah menghindar.
"Kau ... Ehm ... Enaknya diapain ya?" katanya sambil mengetuk-ngetuk dagunya seperti sedang berpikir. "Dimumi aja deh, Dan! Ha ... Ha ... Ha ... "
"Sialan! Sini kamu! Aku yang bikin kamu jadi mumi. Biar ga ganggu anak istriku lagi." kejar Ardan saat Antoni berlari sambil mengendong Hana.
"Coba aja tangkap kalau bisa ... Wee!" Antoni menjulurkan lidahnya mengejek Ardan.
Hana yang berada di tangan Antoni bukannya ketakutan, malah ikut tertawa saat Antoni berlari menghindari tangkapan Ardan.
Soraya malah yang cemas melihat Hana. Dia takut kalau Hana terjatuh dari tangan Antoni.
"Sudah, Ton! Itu Hana lagi di tanganmu, hati-hati!" teriak Soraya.
__ADS_1
"Tenang, sayang! Hana malah suka. Liat dia ketawa-ketawa," sahut Antoni sambil menghindari kejaran Ardan.
Ardan yang mendengar Antoni memanggil istrinya dengan sebutan sayang, bertambah geram.
Dia semakin gencar mengejar Antoni.
Tiba-tiba ...
Broot ... Preek ...
Antoni yang sedang berlari langsung berhenti. Wajahnya berubah pucat.
"Ada apa?" tanya Soraya saat melihat wajah Antoni yang pias.
"Ini ... Ini ... " sahut Antoni sambil meringis.
"Apa sih?" kata Soraya sambil mendekat.
Nampak lengan dan baju Antoni yang basah dan berwarna kekuningan.
Soraya langsung terbahak melihat Antoni yang terkena pup Hana.
"Soraya ... Hana pake pampers, 'kan?" tanya Antoni sambil mengerjapkan matanya, terlihat jijik.
Soraya masih menertawakan Antoni.
"Aduh ... Maaf, Ton! Kami baru tiba di mansion. Hana belum mandi dan ganti popok. Mungkin pokoknya penuh. Jadi pas pup, meluber keluar."
Ardan yang baru mengerti langsung ikut menertawakan Antoni.
"Rasain kamu, Ton! Ha ... Ha ... Ha ..."
"Tega kamu, Dan! Huwaaaa ...!" teriak Antoni.
Hana yang mendengar teriakan Antoni di dekatnya sontak ketakutan dan menangis dengan kencang. Babysitter segera mengambil Hana dari tangan Antoni dan membawanya ke kamar mandi.
Antoni masih terdiam, rupanya masih terkejut dengan apa yang terjadi.
Perlahan dia mengangkat tangannya yang basah ke hidung dan menciumnya.
"Huwaa ... Bau!"
bersambung...
**Rasain tuh Antoni! 😂😂
Terima kasih banyak buat reader yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.
Jangan lupa like dan krisan ya!
Krisan nya yang santun ya!
Kalau boleh minta vote nya juga dong! Biar aq tambah semangat! 💪💪💪
Mampir juga ya ke cerita aq yg ini... 👇**
__ADS_1