
Ardan mematung di depan pintu. Dia dan Soraya hanya terhalang sebuah pembatas. Apa yang akan dia katakan nanti? Apa yang harus dia lakukan saat bertemu dengan Soraya? Bagaimana jika Soraya menolaknya? Akankah dia sanggup kecewa untuk yang kesekian kali?
Ardan gelisah. Dia mengusap-usap wajahnya berusaha menenangkan perasaannya. Banyaknya kemungkinan membuat dia merasa takut.
Sedikit lagi! Di balik pintu itu ada wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Wanita yang kini sedang mengandung anaknya. Wanita yang pernah menjadi istrinya tapi telah diceraikannya. Wanita yang bernama Soraya!
Menghela napas kuat-kuat, Ardan mendorong pintu perlahan.
Bismillahirrahmanirrahim!
Pintu terbuka ...
Nampak seorang wanita yang sedang menatap ke luar jendela kaca. Dia seperti tenggelam dalam dunianya sendiri sehingga tidak mendengar suara pintu yang ditutup Ardan dengan perlahan. Tangan kirinya berada di bawah perutnya seakan menopang perut itu. Sedangkan tangan kanannya mengusap lembut dari atas ke bawah secara berulang-ulang. Dia seperti sedang berbicara dengan bayinya.
Ardan memandang takjub pada pemandangan yang ada di depan matanya. Dia tak pernah menyangka akan dapat menyaksikan hari ini, melihat wanita yang dia cintai sedang bercakap-cakap dengan calon bayi mereka. Mengingat lima bulan yang lalu, Ardan bahkan tak akan mau lagi bertemu dengan Soraya. Dan betapa besar kebenciannya pada wanita itu. Padahal alasan kebenciannya hanyalah sebuah kebohongan.
Ya! Dia membenci Soraya karena telah menggugurkan bayi mereka. Tapi sekarang ... Setelah dia melihat sendiri perut Soraya yang membuncit - yang sudah pasti mengandung anaknya - kebencian itu sirna tak berbekas. Yang tertinggal hanyalah rasa cintanya yang semakin besar dan dalam.
Sejenak dia ingin waktu dapat berhenti. Dia tak ingin momen ini cepat berlalu. Betapa dia sangat menikmati pemandangan di depannya.
Wanita itu terlihat semakin cantik dengan perut besarnya. Dan di beberapa titik tubuhnya juga ikut mengalami perkembangan, seperti bagian depan dan bokongnya.
Glek! Ardan harus menelan ludahnya. Sudah berbulan-bulan dia puasa. Wajar saja jika libidonya langsung naik melihat betapa semok tubuh Soraya.
Bagaimana rasanya bercinta dengan istrinya yang sudah berperut besar seperti itu? Pikiran mesumnya timbul. (Hadeeeh... 😒)
Soraya mengalihkan pandangannya dari jendela kaca saat merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Dan matanya menangkap sosok pria yang selama ini dia rindukan.
"Mas ...," suaranya tercekat. Dia tak percaya dengan pandangan matanya. Mengira itu hanya halusinasi karena kerinduannya yang menggebu.
Mata mereka saling beradu. Tatapan itu seolah bisa mewakili rasa yang tak terungkap lewat kata. Kerinduan yang mendalam terlihat jelas dari sorot mata yang terpancar dari dua orang itu.
Langkah mereka perlahan saling mendekat.
Soraya menangkup wajah pria di depannya. Menyusuri wajah yang sangat dia rindukan. Ibu jarinya menyapu alis tebal, hidung, sampai ke bibir pria itu.
"Kau ... Nyata!" gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
Ardan mengangguk membenarkan perkataan wanita yang sedang menikmati meraba wajahnya. Matanya berembun. Dadanya sesak oleh kebahagiaan. Dengan tak sabar direngkuhnya tubuh Soraya ke dalam pelukannya.
Soraya tersentak merasakan pelukan Ardan. Dia mencoba melepaskan diri. Ardan mengeratkan pelukannya.
"Sebentar ... Biarkan seperti ini. Aku mohon!" bisiknya di telinga Soraya.
Soraya diam, membiarkan Ardan memeluknya untuk beberapa saat. Ardan merenggangkan pelukannya, dan Soraya merasa kekecewaan menghampiri. Dia sudah merasa nyaman dalam pelukan itu.
Tidak! Ini tidak benar!
Kesadaran Soraya mengingatkannya akan status mereka. Dia mendorong tubuh Ardan. Tampak Ardan tak rela melepaskan pelukannya.
"Ini ... Ini tak benar, Mas!" kata Soraya sambil menyembunyikan raut wajahnya yang memerah karena malu dan sungkan.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Ardan kebingungan.
"Kita bukan pasangan lagi. Kita sudah bercerai. Kau harus ingat itu, Mas! Tak layak bagi kita berpelukan seperti tadi."
Ardan menatap tajam ke arah Soraya, membuat wanita itu salah tingkah.
"Kenapa ... Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Soraya gelagapan. Rona di wajahnya makin bersemu merah.
"Aku suka. Aku sangat suka menatap wajahmu yang sedang merona. Semakin terlihat cantik." kata Ardan sambil menatap Soraya sambil tersenyum menggoda.
"Mas ... Sadarlah! Aku bukan istrimu lagi. Jangan menggodaku seperti itu."
Alis Ardan terangkat, "Benarkah?"
Soraya mengangguk dengan raut sedih. Dia tampak memilin jemarinya dan menundukkan wajahnya.
Ardan tak suka menatap wajah sedih Soraya. Diraihnya dagu wanita itu dan mengangkatnya agar menatapnya.
Deg!
Pandangan mereka bertemu. Terasa aliran listrik menyambar lewat tatapan itu. Mengantarkan rasa hangat bagi keduanya.
"Soraya ... Katakan padaku sejujurnya! Apakah kau masih mencintaiku?"
Soraya terkejut dengan pertanyaan Ardan yang tiba-tiba. Tapi hati kecilnya menginginkan agar dia jujur dengan perasaannya sendiri.
Soraya mengangguk, "Ya, aku masih mencintaimu."
"Kalau begitu, kau mau rujuk denganku?" tanya Ardan hati-hati, matanya memandang penuh harap.
Soraya menatap ke mata Ardan, dan melihat kesungguhan di sana.
"Kau memaafkanku?"
Alih-alih menjawab, Soraya malah mengajukan pertanyaan.
Ardan mengangguk cepat. Dia memegang kedua belah tangan Soraya, menggenggam erat jemarinya.
"Aku sudah memaafkanmu. Kau juga mau memaafkan aku, kan?"
Soraya memandang Ardan dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tersentuh dengan perlakuan Ardan.
"Iya, Mas! Aku sudah lama memaafkanmu. Kita saling menyakiti dan terluka. Dan sekarang kita sudah saling memaafkan."
"Sekarang, jawab pertanyaanku! Kau mau kan rujuk denganku?" Ardan mengulang pertanyaannya.
Soraya terlihat ragu. Terselip ketakutan di hati Ardan.
"Tapi kita sudah bercerai lebih dari lima bulan, Mas! Masa iddah ku sudah habis."
"Itukah yang kau pikirkan dari tadi?" tebak Ardan yang langsung disambut anggukan Soraya.
__ADS_1
Ardan bernapas lega. Tadi dia takut Soraya tak mau rujuk karena sudah tak mau lagi kembali padanya. Ternyata ketakutannya tidak terbukti. Soraya memikirkan hal lain.
"Sayang ... Karena kita bercerai saat kau sedang hamil, maka iddahnya berakhir saat kau melahirkan. Jadi, karena kau masih belum melahirkan, kau masih dalam masa iddah. Dan itu berarti, kita masih punya kesempatan untuk rujuk."
Ardan menjelaskan dengan perlahan kepada Soraya.
Wanita itu mengerjapkan matanya berulangkali.
"Jadi, kita bisa rujuk, Mas? Tidak perlu menikah kembali?"
"He eh...," Ardan mengangguk dan tersenyum.
"Kau mau, kan? Rujuk denganku?" Ardan kembali memastikan.
Soraya mengangguk dengan cepat. Ardan segera memeluk istrinya. Ya, istrinya! Soraya menjadi istrinya lagi!
"Alhamdulillah! Yeayy!" Ardan mengangkat tubuh Soraya dan memutar-mutarnya.
"Mas, turunkan aku! Aku berat. Ingat dedek di perutku!"
Ardan cepat-cepat menurunkan Soraya. Dia tadi terlalu bahagia sehingga lupa bayi dalam kandungan istrinya. Semoga saja si kecil tidak terhimpit tadi! pikir Ardan.
"Maaf! Aku sangat bahagia sehingga lupa dengan kehamilanmu. Kau tidak apa-apa?"
Soraya menggeleng dan tersenyum manis.
Ardan mengulurkan tangan menyentuh perut Soraya.
"Anak Papa sehat? Hai ... Ini Papa, sayang! Kita akan bersama lagi. Papa dan mama tak akan terpisah lagi. Maafkan Papa yang mengira kau sudah meninggalkan kami! Kami akan menunggu kedatanganmu ke dunia ini. Baik-baik di perut mama ya! Jangan bikin mama susah!"
Seolah mendengar, janin itu bergerak membalas sentuhan Ardan.
Ardan terpekik merasakan gerakan di perut Soraya.
"Sayang ... Dia mendengarku!"
Soraya tersenyum melihat betapa antusiasnya Ardan melanjutkan percakapannya dengan calon bayi mereka.
Ini mimpi yang menjadi nyata. Dan jika ini hanya mimpi, mereka tak ingin bangun lagi. Karena mereka takut mimpi indah ini akan pergi.
Ah, betapa bahagianya!
Bersambung ...
*************
Jangan lupa like dan krisan ya!
Ayoo, absen dulu!
Ada yang ikut bahagia?
__ADS_1