
Hai, update lagi!
Kasih like dan vote ya! 🙏
40 Maaf, Aku Menyerah!
Jam kantor hampir selesai. Soraya masih terlihat sibuk memeriksa beberapa berkas. Karena ditinggalkan seminggu ke Distrik Barat, pekerjaannya jadi menumpuk. Mau tak mau beberapa hari ini Soraya harus bekerja ekstra keras. Begitu juga dengan sekretarisnya yang harus menjadwal ulang semua meeting yang dicancel selama kepergian Soraya.
Tok ... Tok ... Tok!
"Ya, masuk!"
Devi, sekretaris kedua Soraya muncul dari balik pintu.
"Maaf, Nyonya! Ada yang ingin bertemu."
Soraya mengangkat pandangannya dari berkas yang sedang ditelitinya.
"Siapa? Sudah ada janji?"
"Tidak tahu. Katanya penting, urusan pribadi. Mmm ... Belum ada janji sebelumnya."
"Pria atau wanita?"
"Wanita."
Soraya mengernyit. Urusan pribadi? Wanita? Hmm, sepertinya akan menarik!
"Biarkan dia masuk! Aku ingin tahu, apa yang dia inginkan."
Brak!
Belum sempat Devi keluar ruangan, seorang wanita muncul dan membuka pintu dengan kasar.
"Anda belum dipersilahkan masuk." kata Devi pada wanita itu.
"Minggir! Aku ingin bicara dengan bosmu." Wanita itu mendorong tubuh Devi dengan keras.
Devi mencoba menghalangi tapi ...
"Devi, keluarlah!" Perkataan Soraya membuatnya menghentikan tindakannya.
"Nyonya, apakah saya perlu memanggil Naomi?" tanya Devi.
"Tidak perlu. Jika hanya menghadapi wanita ini, aku bisa sendiri," jawab Soraya dengan pasti.
"Baiklah, saya akan keluar. Jika Nyonya perlu bantuan, segera hubungi saya."
Soraya mengangguk sambil mengisyaratkan agar Devi segera keluar. Dia penasaran, apa yang diinginkan wanita yang sedang memandangnya dengan tatapan sinis itu.
"Ekhem ... Silakan duduk!" katanya dengan sopan. Dia masih menahan diri karena belum tahu untuk apa wanita itu menemuinya.
"Tak perlu! Aku kemari hanya untuk menyuruhmu untuk melepaskan Ardan."
WHAT!!!
Berani sekali wanita itu mengucapkan hal yang tidak masuk akal seperti itu. Pikir Soraya.
"Kau tahu siapa aku?" tanya Soraya.
__ADS_1
"Aku tahu kau istrinya. Karena itulah aku ingin kau melepaskan dirinya."
"Mengapa kau ingin aku melepaskan Ardan? Sedangkan kau sendiri tahu kalau aku adalah istrinya, istri yang sah di mata agama, hukum, dan negara."
Wanita itu tertawa, seolah menertawakan perkataan Soraya.
"Istri? Dirimu hanya istri yang dijadikan Ardan sebagai tameng, agar Ardan tidak lagi dijodoh-jodohkan oleh orang tuanya."
Soraya terkejut karena wanita di depannya tahu banyak tentang hubungan mereka. Tapi dia tidak menampakkan itu di raut wajahnya yang masih tampak tenang.
Soraya sudah melatih emosinya, agar tidak mudah dibaca orang lain. Dalam pekerjaannya, perlu pengendalian emosi yang sangat baik sehingga orang lain tak akan mudah mempengaruhinya.
Dan hal itu sangat berguna sekarang. Jika di dalam dadanya bergemuruh karena perkataan wanita itu, berbeda dengan sikap dan raut wajahnya yang masih tampak tenang.
"Darimana kau mengetahui hal konyol seperti itu?" tanya Soraya. Dia menyatukan semua jarinya di depan dadanya sambil menggoyang kursinya.
"Ardan yang menceritakan semuanya padaku. Dia berjanji akan menceraikanmu dan menikahiku ketika aku kembali."
Sialan, Ardan! Masih saja berani main perempuan. Tunggu aku memberimu pelajaran!
Soraya memiringkan kepalanya dan menatap tajam ke arah wanita itu.
"Maaf, kita belum berkenalan. Bolehkah aku tahu siapa namamu?" Soraya hanya ingin tahu siapa wanita yang mengaku-ngaku di hadapannya ini.
Wanita itu mengangkat dagunya dengan angkuh.
"Aku Marsya Adelia Gouda."
"Oh, jadi Nona muda dari perusahaan G.Kard sedang berada di hadapan ku sekarang!" kata Soraya seakan terkejut dan menampakkan kekaguman.
Perkataan Soraya itu membuat Marsya semakin bertambah angkuh.
Kata-kata yang begitu memprovokasi. Tapi Soraya masih tak bergeming. Sudut bibirnya terangkat menampilkan sebuah senyuman tipis dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.
Berarti wanita di depannya balum tahu perkembangan terakhir dirinya sehingga masih beranggapan seperti itu, batin Soraya.
"Mengapa kau menyuruhku meninggalkan Ardan? Bukankah lebih praktis kalau kau menyuruh kekasihmu itu untuk meninggalkan aku?"
Marsya terlihat tidak karuan. Sialan! Aku kemari hanya untuk memprovokasinya untuk meninggalkan Ardan. Jika Ardan masih mencintaiku, aku tak perlu bersusah payah kemari menemui wanita menyebalkan ini. Pikir Marsya.
"Hmm ... Karena aku masih memberimu muka agar masih memiliki harga diri sebagai seseorang yang memutuskan Ardan, bukan yang diputuskan. Jika orang lain mendengar ini, mereka akan berpikir kalau kau yang sudah tidak suka dengan Ardan. Bukankah aku terlalu bermurah hati?" kata Marsya.
Cih! Pandai sekali kau bersilat lidah, wanita ular. Batin Soraya.
Tapi Soraya tak habis akal.
"Aku bukan orang yang suka mendengar dari satu pihak saja. Aku akan memutuskan setelah mendengar cerita dari versi Ardan sendiri." Soraya mengambil ponsel dan menekan nomor Ardan.
Tut ... Tut ... Tut ...
[Ya, Sayang! Ada apa?] terdengar suara Ardan di seberang sana.
[Kau sedang apa?]
[Aku sedang menghadiri rapat. Kenapa?]
[Mmm ... Sebenarnya tidak dapat disebut darurat juga. Tapi aku perlu kau kemari untuk mengklarifikasi sesuatu]
[Tentang apa?]
__ADS_1
[Di sini ada Marsya, KEKASIH KAMU] Soraya mengatakan itu sambil melirik Marsya dengan ujung matanya.
[Apa? Oke ... Aku segera ke sana!]
[Oke! Aku tunggu]
Soraya menutup panggilannya. Memutar tubuhnya dan menatap Marsya.
"Dia akan kemari. Biarkan dia yang memilih. Aku atau kamu! Sementara menunggu lebih baik kau duduk dulu," kata Soraya sambil menunjuk ke sofa.
Tanpa bersuara Marsya duduk di sofa, dia terlihat tegang. Dia mengubah posisi duduknya beberapa kali, kentara sekali dia sedang khawatir.
Sedangkan Soraya lebih memilih untuk pura-pura tidak memperhatikan dan meneruskan pekerjaannya tanpa merasa terganggu dengan kehadiran Marsya di ruangan itu.
Tak lama Ardan pun sampai di ruangannya.
"Sayang ... Ada apa ini?" tanya Ardan yang langsung melangkah menuju Soraya tanpa menghiraukan Marsya.
Wajah Marsya tampak marah karena diacuhkan Ardan.
Soraya berdiri dan menyambut kedatangan suaminya. Rasa jengkelnya pada Ardan masih dapat ditahannya. Dia ingin memperlihatkan pada Marsya kalau hubungannya dengan Ardan sangat harmonis. Sehingga wanita itu tahu diri. Dan tidak menampakkan wajahnya lagi.
Ardan memeluk dan mencium dahi Soraya. Semua itu tak lepas dari pandangan Marsya yang semakin merasa marah.
Sialan, Ardan! Berani-beraninya dia melakukan itu di hadapanku. Batin Marsya. Dia mengepalkan kedua tangannya.
"Ekhm ... Sayang. Aku punya kejutan untukmu. Itu kekasihmu sedang menunggumu," kata Soraya dengan tenang sambil mengedikkan dagu ke arah Marsya.
"Kekasih?" Perkataan Soraya mengejutkan Ardan. Spontan dia membalikkan tubuh dan terkejut dengan kehadiran Marsya di depannya.
"Hai, Sayang! Aku sudah kembali." Marsya menyapa Ardan dengan senyuman termanis sambil melangkah untuk menghampiri Ardan.
"Berhenti di situ!" Ardan mengangkat tangannya.
Marsya berhenti melangkah melihat sorot mata Ardan yang menajam.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Ardan dengan dingin.
"Aku ingin dia melepaskan dirimu," teriak Marsya dengan marah sambil menunjuk Soraya.
Sedangkan Soraya menghadapinya dengan tenang. Dia merasa cukup Ardan yang menghadapi wanita itu.
"Kau gila! Kita sudah tidak punya hubungan lagi setelah kau pergi. Jangan pernah mengharapkan aku lagi! Aku sudah menikah dan punya seorang putri. Aku tak pernah lagi memikirkanmu."
Marsya menatap tak percaya mendengar perkataan Ardan.
"Kau kejam! Kau berjanji menungguku kembali," katanya sambil terisak.
"Pergilah! Menjauh dari keluargaku! Aku tak akan memaafkanmu jika kau melakukan hal lain melebihi hari ini."
Marsya menghentakkan kakinya dengan kesal dan meninggalkan tempat itu.
Soraya tak tahu seperti apa hubungan Ardan dan Marsya sebelumnya. Dan dia tak ingin tahu. Itu hanya masa lalu! Tapi dia tetap akan menghukum Ardan karena kekacauan yang dilakukan Marsya.
Awas kau, Ardan!
**Jangan lupa like, krisan, dan vote ya!
Biar author tambah semangat. 🥰**
__ADS_1