Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!
Cerita Ardan


__ADS_3

57 Maaf, Aku Menyerah!


Ardan, Aslan dan Diana sedang berbincang di ruang keluarga. Mereka tidak menyadari kalau Soraya sudah lama berdiri di ambang pintu.


Dia memperhatikan interaksi mereka sambil mengamati pria tua yang duduk di kursi roda.


Siapa orang itu? Mengapa terasa familiar? Tapi sepertinya aku belum pernah bertemu sebelumnya. Batin Soraya.


Ardan yang terlebih dahulu menyadari kehadiran Soraya langsung berdiri dan menyambutnya.


"Sayang, kau di sini? Sudah lama?"


Soraya menggeleng. Dia sangat bersyukur karena masih memiliki kesempatan bertemu Ardan, suaminya. Dia mengira sudah kehilangan kedua orang yang paling penting dalam hidupnya.


Ardan membimbing Soraya duduk di sofa. Aslan memandang Soraya dengan penuh kerinduan. Meski dia selalu memantau gerak-gerik Soraya, namun belum pernah melihatnya sedekat ini.


Putriku!


Putri kami!


Imelda ... Putri kita sudah dewasa. Dia menjelma menjadi wanita yang kuat. Sama seperti dirimu.


Merasa diperhatikan, Soraya balas menatap Aslan. "Maaf ... Mengapa Anda menatapku seperti itu?"


Tatapan itu ...


Meski sorot mata itu tidak terlihat melecehkan tapi Soraya tetap merasa risih.


Aslan tersenyum. "Aku hanya ... Ehmm ... Rasanya ini mimpi yang menjadi nyata. Setelah puluhan tahun tak bertemu. Akhirnya bisa melihatmu lagi." Suaranya terdengar bergetar.


Soraya tidak mengerti apa maksud orang tua itu. Dia mengalihkan pandangan dari Ardan ke Diana.


"Apa maksudnya? Siapa pria ini, Tante?"


Diana mengambil tangan Soraya dan menepuk-nepuk dengan lembut.


"Dia papamu, Aslan Petrova."

__ADS_1


"Apa!!! Tak mungkin ... Bukankah Tante sendiri yang mengatakan kedua orang tuaku meninggal saat kecelakaan itu?"


"Ya ... Aku dulu juga mengira begitu. Aku tak menyangka dia bisa selamat dari kecelakaan itu. Aku juga baru tahu akhir-akhir ini. Itu juga karena dia yang menghubungiku. Dia benar-benar bisa menyembunyikan dirinya dengan baik. Hingga Nyonya Besar maupun Erick tak mengetahui keberadaannya."


"Tunggu! Siapa itu Erick?" Sela Soraya.


Diana menghela napas, dia mengalihkan pandangannya ke Aslan. "Biar Papamu sendiri yang menjelaskan siapa itu Erick. Karena dia lah dalang dari semua kekacauan ini. Musuh masa lalu papamu."


"Musuh masa lalu papa ... ," Soraya mencoba mencerna hal itu.


Semua diam membiarkan Soraya yang mulai menerima penjelasan sedikit demi sedikit.


"Sebelum menjelaskan tentang Erick, aku ingin tahu bagaimana suamiku bisa selamat dari kecelakaan itu. Sayang, kau berhutang penjelasan padaku!"


"Ya ... Aku akan menceritakan apa yang terjadi malam itu."


Seperti yang kau ketahui sebelumnya. Aku melakukan meeting dengan investor asing yang sudah lama kami incar.


Pertemuan diadakan di bagian selatan kota. Daerah yang cukup jauh dan harus melewati pegunungan yang jalannya berliku. Sebenarnya aku sendiri merasa heran kenapa Monsieur Levi memilih tempat itu untuk melakukan meeting. Tapi karena sudah lama menginginkan kerjasama itu, aku mengesampingkan kecurigaanku.


Aku berpikir ... Aku tak pernah berselisih ataupun mencari perkara dengannya. Jadi, tak mungkin dia ingin mencelakakanku.


Aku maklum dengan alasannya karena dia memang seorang pengusaha yang super sibuk. Untuk mendapatkan janji temu saja harus menyesuaikan dengan jadwalnya yang padat.


Pertemuan itu sebenarnya tidak terlalu lama, karena pada pertemuan sebelumnya telah mencapai kesepakatan. Malam itu hanya penandatanganan kontrak kerja dan sedikit perbincangan.


Sebenarnya penandatanganan itu bisa saja diwakilkan kepada salah satu bawahanku. Tapi aku merasa tidak enak, takut Monsieur Levi menganggap aku tidak bersungguh-sungguh ingin bermitra dengannya.


Setelah pertemuan itu berakhir, aku bergegas meninggalkan tempat itu. Saat meninggalkan parkir aku tak menyadari ada mobil yang membuntutiku. Yang ada di pikiranku saat itu adalah secepatnya tiba di tempat pesta agar tidak membuatmu kecewa.


Aku bahkan masih menerima pesan yang kau kirim dan berniat membalas. Tapi aku merasa mobilku bergoncang kuat.


Aku tidak menyadari sudah dibuntuti selama itu.Aku baru sadar saat mobil itu mulai menubruk mobilku dari belakang.


Aku mulai menaikan laju mobilku untuk menghindari tubrukan dari belakang. Tapi mobil itu terus mengejarku.


Semakin lama mobil itu bisa mengejar laju mobilku dan kembali menubruk. Mobil itu memaksaku menekan pedal gas lebih dalam. Kecepatannya sangat tinggi dan sangat beresiko untuk jalan di pegunungan yang berliku.

__ADS_1


Aku tetap berusaha melarikan diri. Mereka tetap memepet mobilku, hingga pada belokan yang agak patah dari arah depan muncul sebuah truk. Sorot lampu dari truk itu membuatku silau dan terkejut. Spontan aku membanting kemudi ke kanan hingga menabrak pembatas jalan.


Mobilku langsung terjun bebas ke jurang yang sangat dalam. Aku beruntung karena sempat melompat keluar dari mobil. Tapi aku masih belum selamat karena mobil yang mengejarku berhenti dan orang yang ada di mobil hampir keluar saat sebuah mobil patroli datang. Sehingga mereka menghentikan niat untuk melihat keadaan ku yang sedang tergantung di sisi jalan.


Seandainya mereka benar-benar memperhatikan, mungkin aku tak akan selamat.


Seseorang dari mobil patroli itu keluar dan memperhatikan ke bawah, ke arah jatuhnya mobilku. Dan dia menemukan diriku yang masih bertahan dengan kedua belah tangan yang hampir terlepas dari pegangan. Dia menolong diriku.


Untungnya dia bukan orang jahat. Ternyata dia adalah orang yang dikirim papamu untuk menyelamatkan aku.


Dan aku akhirnya dibawa ke tempat papamu yang cukup tersembunyi dari pengawasan Erick.


Dengan bantuan papamu, kami menyusun rencana untuk menghancurkan Erick. Tak diduga ternyata Erick sudah melaksanakan rencananya. Kami terlambat menyadari pergerakannya.


"Dan kita juga kecolongan karena telah mempercayai seorang pengkhianat."


"Pengkhianat? Siapa?" tanya Soraya penasaran.


"Coba kau tebak?" Ardan masih ingin berteka-teki.


Soraya mengerutkan kening dan mulai mengingat. Orang yang paling dekat dan paling mengetahui semua tentangnya selain Ardan dan Tante Diana adalah Luke. Mungkinkah?


"Apakah Luke?" tanya Soraya dengan harapan tebakannya salah.


Biar bagaimana pun, Luke sudah seperti keluarga. Tapi melihat ekspresi Ardan dan dan yang lain, Soraya akhirnya harus menelan kekecewaan.


"Jadi benar Luke yang sudah berkhianat?" Soraya memastikan.


Ardan mengangguk.


"Tak kusangka kita memelihara ular." Soraya menggeram penuh amarah.


"Tenangkan dirimu! Kita pasti akan membalas semua yang telah dia lakukan." Ardan mengusap-usap bahu Soraya dengan lembut.


Soraya mengalihkan pandangannya ke Ardan. "Lalu kenapa kau tidak menghubungiku, memberitahuku kalau kau masih hidup? Apakah kau memang sengaja ingin melihat aku menderita?"


"Tidak sayang! Itu tak mungkin! Membuatmu menderita adalah hal yang paling aku hindari. Maafkan aku! Sebenarnya aku ingin mengabarimu tapi papamu melarangku. Dengan alasan, tak bisa mempercayai siapapun yang ada di sekitarmu sekarang. Dan aku pikir, perkataan papamu tidak salah. Dengan menyembunyikan diriku, akhirnya kami dapat mengetahui pengkhianatan Luke. Maafkan aku!"

__ADS_1


Kepanikan terdengar dari suara Ardan. Dia tak ingin membuat Soraya marah padanya. Kehilangan Soraya akan menjadi kiamat baginya.


__ADS_2