Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!
Bersamamu


__ADS_3

63 Maaf, Aku Menyerah!


Setelah makan malam dan menyelesaikan beberapa pekerjaan, Soraya dan Ardan telah bergelung di atas ranjang.


Soraya berbaring miring dengan Ardan yang memeluknya dari belakang. Kedua tangannya melingkar mesra di tubuh Soraya. Posisi kepala Soraya yang berada tepat di dadanya yang bidang membuat Ardan menempatkan dagunya di atas kepala Soraya. Kadang dia mengendus aroma sampo yang menguar dari rambut Soraya yang tergerai.


Dia suka saat-saat seperti ini. Bisa berduaan dengan istri tercinta. Menenggelamkan dirinya dalam rengkuhan tangannya seakan melindunginya dari orang-orang jahat yang ingin mencelakainya. Dan tak ingin melepaskan istrinya karena takut orang-orang itu kembali menyakiti.


Ardan mendesah beberapa kali. Dia benar-benar menyesal karena tidak bisa melindungi Soraya dan anak mereka. Penyesalan itu selalu menghantuinya.


"Sayang ... Kau kenapa? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Soraya, menyadari suaminya yang telah mendesah beberapa kali.


"Aku hanya menyesal karena tidak bisa menjaga kalian dengan baik. Kalian harus menderita karena aku tak becus menjadi suami dan ayah yang baik."


"Tidak! Itu bukan salahmu. Mereka memang orang jahat. Mereka berani menyentuh kehidupan kita. Jadi tak salah jika kita menuntut keadilan. Lagipula jika kita membiarkan mereka, itu akan membuat mereka semakin semena-mena."


"Ya ... Kau memang benar. Kita hanya membalas semua perbuatan mereka. Kita tak pernah mengganggu mereka tapi mereka telah berani mencoba menghancurkan kehidupan kita."


"Lalu bagaimana dengan Luke? Apakah sudah ada kabar? Terakhir, aku dengar dia mencoba melarikan diri ke luar negeri. Dan saat orang-orang kita mengejarnya, dia menghilang. Dia juga tidak berada di negara yang ditujunya. Bahkan maskapai penerbangan yang akan ditumpanginya mengkonfirmasi kalau tak ada penumpang bernama Luke yang ikut penerbangan hari itu."


Ardan mengeratkan pelukannya, dia mencium puncak kepala Soraya dengan lembut.


"Itu karena dia memang tak pernah berhasil naik ke pesawat."


Perkataan Ardan membuat Soraya terkejut. Dia membalikkan badan dan menghadap ke arah Ardan. Dia menatap suaminya dengan penasaran.


"Apa maksudnya, Mas? Bukankah orang-orang kita tak berhasil menangkapnya? Lalu di mana dia sekarang?"


"Kau tenang saja. Kami sudah menyerahkan Luke pada seseorang yang lebih pantas menghukumnya."


Soraya mengernyit. "Siapa?"


"Erick."


"What! Bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah mereka berada di pihak yang sama?"


Ardan terkekeh. "Itu mudah saja. Kami mengirimkan bukti kalau Luke mengkhianati Erick. Mengingat betapa kejamnya si Erick, dia tentu tidak akan melepaskan Luke. Dia akan menghukum Luke dengan pantas. Kita tak perlu mengotori tangan kita untuk menghukumnya."

__ADS_1


"Bagaimana dengan uang perusahaan yang dia curi? Kita akan menanggung kerugian karena kehilangan begitu banyak uang." gerutu Soraya.


Ardan mencubit hidung Soraya. "Kau tenang saja, My Queen! Aku juga sudah menyelesaikan hal itu. Uang yang dia curi sudah kembali ke perusahaan. Kita sudah tidak perlu berurusan lagi dengan manusia bernama Luke. Biarkan Erick yang memusnahkan tikus itu."


Mata Soraya membelalak. "Benarkah? Terima kasih, sayang!" serunya sambil memeluk Ardan dan menyurukkan kepalanya ke dada suaminya


"Tentu saja. Apapun akan aku lakukan untukmu."


"Bagaimana kau bisa mendapatkan kembali uang itu?"


"Itu mudah sekali. Aku hanya menyewa beberapa orang yang bisa melakukannya. Mereka melakukan peretasan pada beberapa bank yang memiliki akun Luke. Dengan sedikit usaha mereka berhasil menarik uang tersebut dan mengembalikan sesuai dengan jumlah yang dicuri Luke. Tampaknya dia belum menggunakan uang itu sama sekali."


"Mungkin dia menghindari kecurigaan."


"Hmm ... Mungkin juga. Dia telah berusaha untuk berhati-hati. Tapi dia tak menyangka kalau kita akan melakukan hal seperti ini."


"Dan apa maksud perkataan Ellias tempo hari yang mengatakan kalau telah mengirim Gentara ke malaikat mautnya?"


Ardan menyingkirkan anak rambut dari wajah Soraya.


"Oh, itu ... Saat menangkap Angel, anak buah Ellias telah mempersiapkan sesuatu yang akan mengarahkan kecurigaan Gentara pada Erick. Sehingga dia tak akan mengira kalau sebenarnya kita yang menculik Angel."


"Tentu saja! Bukti itu akan membuat Gentara melakukan penyerangan ke markas Erick. Mereka akan saling menghancurkan. Kita tidak perlu mengotori tangan untuk memusnahkan mereka. Kita hanya perlu satu batu untuk melumpuhkan tiga burung sekaligus."


"Bagaimana jika mereka menyadarinya? Dan bersatu untuk membalas kita." Ada nada khawatir dalam perkataan Soraya.


"Kau tenang saja. Kami juga telah memperhitungkan hal itu. Ketika mereka telah berkumpul di satu tempat dan telah kelelahan karena saling berkelahi, anggota Red Devil akan menyerang mereka."


"Sepertinya rencana kalian lumayan bagus. Aku berharap semua akan berjalan mulus sesuai rencana."


Mereka terdiam. Hanya detak jantung mereka yang terdengar.


"Soraya ... " panggil Ardan ragu.


"Hmm ... " Soraya mendongak menatap wajah suaminya.


"Bagaimana kesanmu tentang Ellias?"

__ADS_1


"Mengapa Mas tiba-tiba menanyakan itu? Ada apa?"


"Tidak apa. Dia pria yang tampan dan juga punya kekuasaan yang hebat."


"Lalu ... Apa hubungannya denganku? Jangan katakan kalau Mas cemburu padanya?" tebak Soraya.


"Bagaimana jika aku memang cemburu? Dan sepertinya dia memiliki perhatian padamu. Seperti halnya wanita, kami pun punya insting kuat saat pria lain menyukai wanita yang kami cintai."


"Jika dia menyukai aku, maka itu urusannya sendiri. Tak ada hubungannya denganku. Lagipula aku tak pernah memberikan dia perhatian khusus yang membuat dia terpesona padaku."


"Ya ... Aku percaya padamu. Tapi dia adalah seorang mafia. Dia sudah terbiasa mengambil apapun yang dia inginkan. Meski dengan cara kekerasan."


Soraya mengulurkan tangan membelai wajah suaminya.


"Sudahlah! Ke depannya kita lebih waspada. Untuk kecurigaanmu itu aku pikir lebih baik kalau aku tidak muncul lagi ke markasnya. Bagaimana?"


"Itu juga bagus. Tapi bagaimana dengan Angel?"


"Biarkan saja Ellias yang mengeksekusinya. Katakan saja padanya kalau aku sudah puas membalas Angel. Terserah padanya mau diapakan wanita j*lang itu."


"Baiklah ... Kau benar! Nanti aku hubungi Ellias lagi. Ngomong-ngomong kau harum sekali, sayang." kata Ardan sambil menggesek-gesekkan hidungnya ke leher Soraya yang membuatnya merinding karena bulu-bulu di sekitar wajah Ardan.


Tangannya juga mulai bergerilya ke dalam baju tidur Soraya yang terbuat dari sutra tipis.


"Akh ... Kau nakal sekali, Mas!" Desah Soraya saat tangan Ardan mencapai titik spotnya.


"Mmm ... Tapi kau suka, 'kan?" sahut Ardan sambil meneruskan 'serangannya'. Entah bagaimana, pakaian mereka sudah tergeletak di lantai. Tubuh polos mereka terlindungi di bawah selimut.


Tubuh Soraya menggelinjang saat kedua tangan Ardan menangkup bukit kembarnya. Tangannya begitu lihai memainkan puncaknya, memilin, mengelus, mencubitnya. Apalagi saat mulutnya ikut memainkan puncak bukit itu. Ketika mulutnya mengulum salah satunya, tangannya yang akan menggantikan posisi yang kosong.


Soraya melenguh. "Akh ... Mas!"


Ardan semakin bersemangat memberikan rangsangan pada seluruh tubuh Soraya. Kedua tangannya masih bermain dengan lihai di kedua puncak Soraya, mulutnya mulai turun ke bawah. Mencecap perut, paha, dan bagian inti tubuh Soraya. Membuatnya bergetar hebat karena gulungan hasrat dalam dirinya.


Setelah Soraya mendapatkan kenikmatannya, Ardan mulai memposisikan pusakanya yang telah mengacung sempurna.


Jleb!!

__ADS_1


Rintihan dan lenguhan kenikmatan keluar dari pasangan itu ketika penyatuan itu terjadi. Mereka berlomba untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih. Hanya terdengar erangan dan geraman diiringi deru napas memburu dari keduanya saat mencapai puncak.


Dua part menjelang ending ya guys!


__ADS_2