Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!
Kehilangan Yang Menyakitkan


__ADS_3

52 Maaf, Aku Menyerah!


Hotel mewah yang menjadi tempat penyelenggaraan anniversary perusahaan Palvin terlihat semakin wah dengan hiasan yang memenuhi ruangan sampai ke bagian lobi dan pintu masuk.


Soraya sudah datang bersama dengan Hana. Sedangkan Ardan akan menyusul karena masih ada meeting penting yang tidak dapat ditinggalkan.


Dalam hati Soraya memuji kinerja Joanna yang telah berusaha keras membuktikan kepadanya bahwa dia mampu membuat Soraya terkesan. Dan dia benar-benar terkesan dengan dekorasi yang menghiasi tempat acara.


Tempat acara itu terlihat begitu mewah dan elegan. Sesuai dengan kebesaran keluarga Palvin.


Tamu mulai berdatangan. Soraya tampak sibuk menyapa dan menyambut tamu yang merupakan orang-orang penting. Baik dalam bisnis maupun pemerintahan.


"Wah, selamat Nyonya Soraya! Pesta ini benar-benar mengagumkan," puji perdana menteri yang datang bersama istrinya yang cantik.


"Ah, terima kasih kalau Tuan Perdana Menteri menyukai pesta ini," jawab Soraya merendah.


"Jangan merendah seperti itu. Saya sangat mengagumi sepak terjang Nyonya Soraya selama ini. Selain cantik dan masih muda, Nyonya Soraya juga memiliki kecakapan yang handal dalam mengelola bisnis. Saya benar-benar kagum."


Ckk ... Dasar pria, apakah dia tidak memikirkan perasaan istrinya yang sedang berdiri di sampingnya mendengar suaminya memuji wanita lain, pikir Soraya.


Tapi tak urung dia tetap tersenyum untuk menghormati pria itu.


"Maaf, Perdana Menteri! Saya harus ke sana menyapa yang lain." Dia mengundurkan diri dengan sopan.


"Baiklah ... Silakan!"


"Nikmati pestanya, Perdana Menteri!" katanya lagi sebelum benar-benar berlalu.


Perdana Menteri melambaikan tangan pertanda dia mengiyakan perkataan Soraya.


Acara pun dimulai oleh dua orang host. Soraya mengedarkan pandangan mencari keberadaan Ardan. Namun pria itu sepertinya memang belum hadir. Soraya berdecak kesal.


Huh ... Bukankah dia sudah berjanji untuk secepatnya menghadiri acara ini. Ckck ... Benar-benar menyebalkan!


Soraya mengambil ponselnya dari tas tangannya.


[Kau di mana?]


Ceklis dua tapi tak dibaca. Apakah dia sedang dalam perjalanan? Pikir Soraya.


Beberapa orang yang menyapanya membuat dirinya harus membalas dengan ramah meski kekesalan menggayuti hatinya.


Dia kembali mengangguk dan tersenyum pada beberapa orang yang dilaluinya.


Tibalah di acara puncak. Dirinya akan memberi pidato selaku presiden direktur perusahaan Palvin.


Dengan langkah pasti dia bergerak ke depan. Sebelum memulai pidatonya dia kembali mengedarkan pandangan, berharap Ardan sedang berdiri di antara salah satu tamu yang hadir. Hasilnya tetap nihil.


Soraya mengepalkan tangan menahan rasa kesalnya. Sabar! Dia harus menyampaikan pidato terlebih dahulu. Setelahnya dia akan menghubungi Ardan kembali.


Tepuk tangan memenuhi ruangan saat Soraya mengakhiri pidatonya.


Bahkan setelah pidatonya selesai, pria itu juga belum menampakkan batang hidungnya.


Soraya kembali memeriksa ponselnya, berharap Ardan mengirimkan pesan. Tapi jangankan memgirim pesan padanya, bahkan pesan yang Soraya kirim pun belum dibaca.


[Ardan ... Kamu di mana?]

__ADS_1


[Hei ... Jawab aku!]


[Ardan!!!]


[Oke ... Jangan pulang sekalian!]


[Ardan! Kau sudah janji padaku]


[Ardan ... Kau di mana]


[Jawab aku! Beraninya kau mengacuhkanku!!!]


Deretan pesan Soraya hanya ceklis dua tanpa terlihat dibaca.


Ada apa ini? Tak biasanya Ardan seperti ini! Kecemasan mulai melingkupi Soraya.


"Ada apa?" Diana yang sudah berada di samping Soraya melihat kegelisahannya.


"Ardan belum tiba. Dan dia tidak mengirim kabar. Bahkan pesanku belum dibaca."


"Apakah dia biasa seperti ini?"


"Tidak! Tak pernah! Dia selalu mengirim kabar kalau sesuatu terjadi padanya."


Diana mengernyitkan keningnya. "Atau sesuatu yang menimpanya membuatnya tak bisa mengirim kabar padamu."


"Maksud Tante?" Kecemasan Soraya semakin bertambah.


"Ini hanya dugaanku. Berdoa saja suamimu tak apa-apa." Diana menepuk-nepuk lengan Soraya kemudian berlalu meninggalkannya.


"Tante mau ke mana?"


"Iya, Hana sedang beristirahat di kamarku. Tante bisa menemuinya di sana."


Karena tidak ada juga balasan dari Ardan, Soraya memutuskan untuk menyusul Diana ke kamarnya.


Ketika hampir mencapai pintu kamar, terlihat beberapa orang mengerumuni di depan pintu.


Ada apa? Pikir Soraya.


Dia menyeruak kerumunan itu dan mendapati Diana sedang menggendong Hana.


"Ada apa Tante?" Teriak Soraya.


"Ada yang meracuninya. Cepat, kita harus membawanya ke rumah sakit."


Soraya hanya mengikuti arahan Diana. Saat ini otaknya terasa buntu. Setelah mencemaskan Ardan, sekarang dia mendapati Hana yang diracuni.


Soraya masuk ke mobil lebih dahulu, kemudian Hana diserahkan Diana padanya. Mobilnya segera melaju dengan kecepatan tinggi.


Di pelukannya, tubuh mungil Hana mengejang beberapa kali. Kemudian dia muntah darah. Matanya memerah darah, air matanya meleleh menandakan rasa sakit yang luar biasa. Tangisannya tercekat oleh darah yang memenuhi mulutnya. Napasnya tersengal-sengal. Kemudian dia terkulai lemah.


TIDAK!!!


"Cepat kemudikan mobilnya!" Soraya begitu panik.


"Hana ... Sayang ... Kau harus bertahan!" Soraya memeluk tubuh kecil Hana dengan gemetar.

__ADS_1


Mobil sudah sampai di depan pintu IGD rumah sakit. Soraya menggendong Hana yang sudah tidak berdaya. Meletakkannya di atas brankar yang segera dilarikan perawat ke dalam ruang tindakan.


Soraya mondar-mandir menunggu dengan jantung berdegub kencang.


"Tenanglah Soraya!" Diana mencoba menenangkan Soraya.


"Dia tak akan apa-apa kan, Tante?" Mata Soraya berkaca-kaca dan meneteskan air mata menatap penuh harap ke Diana.


"Dokter sedang berusaha. Kita harus mendoakan keselamatan Hana." Hibur Diana.


Tak lama pintu terbuka ...


Dokter keluar, langsung disambut Soraya.


"Bagaimana anak saya dokter?"


Dokter itu menggeleng. "Maaf ... Kami sudah berusaha. Kami gagal menyelamatkannya."


"Tidak ... Itu tidak benar! Dokter bohong kan? Hana masih hidup kan?" Teriak Soraya histeris. Dia mencengkram baju dokter dan menguncang-guncangnya.


Diana merangkul bahu Soraya agar melepaskan dokter itu. Soraya berjalan dengan lunglai, tubuhnya terasa lemas, pikirannya kosong.


Kejutan ini benar-benar mengoncangnya. Kakinya seakan mati rasa. Dia jatuh terduduk.


"Tidak ... Ini tidak mungkin. Hana masih hidup," gumamnya.


Diana mendekat dan memeluknya. Soraya masih bergumam di pelukan Diana.


Brankar yang membawa jenazah Hana keluar dari ruangan. Soraya cepat bangkit dan berlari menuju Hana yang terbujur kaku.


Soraya memeluk tubuh Hana dan menciuminya.


"Sayang ... Anak mama sedang tidur ya! Tidur yang nyenyak ya anak pintar," kata Soraya seakan menidurkan anaknya. Namun sejurus kemudian dia menjerit.


"Hana ... Bangun! Jangan tinggalkan mommy! Hana ... Bangun, sayang!" Soraya mengguncang tubuh Hana. Matanya tertutup rapat, di bibirnya masih tersisa jejak darah yang dimuntahkannya tadi.


"Soraya ... Sabar!" Diana menepuk lembut bahu Soraya.


Seseorang mendekat dan berhenti di depan mereka. Soraya mendongak dan melihat Luke yang menunduk. Firasatnya mengatakan ada berita buruk yang dibawa asistennya.


"Ada apa?" Tanya Soraya dengan parau.


"Maaf, Nyonya! Kami baru dapat kabar kalau Tuan Ardan mengalami kecelakaan. Mobil yang dikemudikan beliau jatuh ke jurang. Tim SAR sudah melakukan evakuasi pada bangkai mobil. Namun Tuan Ardan tidak ditemukan. Kemungkinan besar terseret arus deras karena bertepatan dengan air pasang."


Soraya tak dapat mendengar lagi penjelasan Luke. Setelah mendengar Ardan kecelakaan dia kehilangan kesadarannya.


TIDAK!!! INI TAK MUNGKIN TERJADI!!!


Tubuhnya ambruk diiringi teriakan Diana dan Luke.


"Soraya!"


"Nyonya!"


Bersambung...


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote ya!


__ADS_2