
50 Maaf, Aku Menyerah!
"Dia ingin acara yang akan berkesan bagi semua orang ... Kita akan mengabulkan keinginannya. Akan kita buat acara itu sangat berkesan bagi semua orang terutama baginya. Acara yang takkan pernah terlupakan seumur hidupnya. Ha ... Ha ... Ha ... " kata pria tua itu.
Dia telah mendapat laporan dari orang-orang yang disusupkannya ke sekitar Soraya.
Tak lama lagi! Ya ... Tak lama lagi dendamku akan terbalas. Seringai jahat muncul di wajahnya.
"Terus pantau perkembangan di sana. Jangan sampai lengah! Rencana kita harus berjalan dengan lancar. Aku tak mau mendengar kata 'gagal'."
"Bagaimana dengan Marsya?"
"Wanita itu juga akan ikut berpartisipasi tapi belum saatnya. Biarkan pion yang satu itu bergerak memuluskan rencana kita. Marsya akan berguna pada waktunya."
Asisten yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya menundukkan sedikit kepalanya. "Baik, Tuan! Kami akan menjalankan semua perintah sesuai rencana."
"Bagus! Tetap amati wanita itu! Aku masih tak yakin dengan dirinya. Sepertinya dia punya tujuan lain ikut dalam rencana kita."
"Maksud Tuan ... "
"Tentu saja! Siapa lagi?" tukas pria tua itu sebelum asistennya menyelesaikan perkataannya.
"Untuk kontes proposal itu, lakukan yang terbaik! Aku ingin orang kita yang terpilih untuk menyelenggarakan acara yang tak akan terlupakan bagi Soraya," katanya sambil mengangkat tangannya agar asistennya diam.
Sebelumnya dia melihat pintu yang sedikit terbuka. Sepertinya ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka. Dia tak akan membiarkan orang itu mendapatkan rahasia mereka.
Dia memberi isyarat kepada asistennya bahwa ada yang sedang mendengarkan percakapan mereka.
Asisten itu mengerti dengan isyarat bosnya. Perlahan dia melangkah ke pintu dan membukanya dengan cepat. Membuat seorang pelayan yang sedang menguping di sana tak sempat melarikan diri.
Pelayan itu langsung diseret masuk dan dihempaskan ke lantai. Tampak dia gemetar ketakutan.
"Ampun Tuan! Saya tidak bermaksud mendengarkan percakapan kalian. Saya berdiri di depan pintu untuk mengatakan bahwa makan siang sudah siap. Saya belum lama berdiri di depan pintu."
Pelayan itu menumpukan kedua tangannya di lantai dan berlutut.
"Siapa yang mengirimmu?"
"Maksud ... Maksud Tuan?"
"Bukankah kamu seorang mata-mata? Siapa Tuanmu?"
"Tidak Tuan! Saya bukan mata-mata! Saya hanya seorang pelayan. Tolong ampuni saya! Saya punya dua putri yang masih kecil. Meski dengan gaji seorang pelayan, saya bisa menghidupi kedua putri saya. Saya mohon ampuni saya!"
Pelayan itu bersujud berkali-kali di hadapan pria tua itu.
"Jika kamu mengatakan siapa Tuanmu, aku mungkin akan melepaskanmu," tawarnya.
"Saya bukan mata-mata. Saya hanya pelayan."
"Hmm ... Kau memang keras kepala. Baik ... Karena kau tak mau bicara, maka aku tak akan mengampunimu."
"Tolong ... Ampuni saya. Saya bukan mata-mata. Saya hanya pelayan biasa. Saya juga tidak mendengarkan percakapan Tuan. Tolong, lepaskan saya!"
__ADS_1
"Apa yang kau dapatkan dengan tetap menutup mulutmu? Aku berjanji akan melepaskan dirimu kalau kau mau mengatakan siapa yang mengirimmu. Tapi jika kau bersikeras, jangan salahkan aku karena harus menghukummu dengan keras."
Sekilas nampak keraguan di mata pelayan itu. Namun kemudian dia menggeleng dengan tegas. "Tidak Tuan! Saya hanya pelayan biasa. Saya bukan mata-mata."
"Hmm ... Begini saja. Bagaimana kalau aku memberimu uang dua kali lipat dari orang yang mengirimmu kemari?"
"Saya hanya pelayan. Tak ada yang menyuruh saya." Pelayan itu tetap kokoh dengan pendiriannya.
Mata pria tua itu memicing pada pelayan tersebut kemudian mengalihkan pandangannya pada sang asisten.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan," Kata pria tua itu pada asisten yang berdiri di samping pelayan itu. Dia sama sekali tak mendengarkan perkataan pelayan itu lagi.
"Jangan ... Tuan ... Saya mohon ...," teriak pelayan itu saat sang asisten menyeretnya melalui jalan rahasia yang ada di balik lemari dalam ruangan itu.
Sementara di tempat lain ...
"Papa ... Celaka!"
"Ada apa?" tanya pria yang dipanggil papa itu.
"Mata-mata yang kita susupkan di kediaman Erick tiba-tiba menghilang."
Pria itu mengerutkan keningnya.
"Kapan itu terjadi?"
"Dua jam yang lalu."
"Mengapa kau mengira dia menghilang?"
"Sepertinya Erick sudah mencurigai adanya mata-mata di sekelilingnya. Bagaimana dengan yang lain?"
"Masih berada di posisi masing-masing. Kenapa, Pa?"
Pria tua itu merenung.
"Mereka pasti merencanakan sesuatu. Mata-mata itu pasti sudah mengetahui itu. Dan mereka menyingkirkannya. Ini tidak baik!"
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Perketat pengawasan pada Soraya. Aku menduga, mereka pasti sudah mulai melaksanakan suatu rencana."
"Apakah ini akan membahayakan keselamatan Soraya?"
Pria itu menatap putranya dengan tatapan tak terbaca.
"Ini mungkin akan lebih mengerikan. Lebih baik persiapkan diri untuk kemungkinan terburuk."
"Kemungkinan terburuk? Maksud Papa apa?"
"Mereka mengincar nyawa Soraya beserta anak dan suaminya!!!"
"Apa!!!"
__ADS_1
Pria muda itu merasakan hawa dingin merasuk di tubuhnya yang membuat dirinya merinding.
Monster apa yang sedang mereka hadapi?
***
"Bagaimana, Jo?"
Bella menyejajari langkah Joanna yang sedang masuk ke lobi kantor.
"Apanya yang bagaimana?"
"Itu ... Proposal anniversary! Kau ikut kan?"
"Oh, itu ... Masih digarap. Bagaimana dengan punyamu?"
"Aku ... Aku sepertinya menyerah deh," kata Bella dengan sedih.
"Kenapa?"
Joanna menghentikan langkahnya dan menatap Bella.
"Aku ... Ee ... Sebenarnya aku ingin ikut tapi saudaraku masuk rumah sakit. Aku hanya punya dirinya. Jadi, aku tak punya waktu untuk membuat proposal karena sehabis pulang kantor aku langsung ke rumah sakit."
Joanna tertegun mendengar perkataan Bella. Hatinya terenyuh dengan jalan hidup temannya itu.
Dia menepuk bahu Bella. "Tak apa! Kau jaga saudaramu dengan baik. Aku akan berusaha memenangkan kontes itu. Nanti kita bisa menginap di hotel mewah. Oke?"
Mata Bella berkaca-kaca, dia mengangguk, kemudian memeluk Joanna.
"Terima kasih!"
"Eh, ada apa ini?" tanya Nessy yang baru saja datang.
"Ga papa kok! Dia cuma lagi pengen pelukan," kata Joanna.
"Aku juga dong!" Nessy ikutan memeluk kedua temannya.
"Saudara mu sebenarnya sakit apa?" tanya Nessy setelah mereka duduk di kubikel dan Joanna menceritakan saudara Bella yang sakit.
"Dokter mengatakan kanker paru," sahut Bella dengan sedih.
"Oh my God! Aku turut berduka. Semoga kau dan saudaramu kuat menghadapi ujian ini," kata Joanna.
"Ya, benar! Kau bisa mengatakan apapun pada kami. Kami akan mendengarkan keluh kesahmu. Setidaknya bisa sedikit mengurangi kesedihanmu."
"Terima kasih teman-teman! Aku beruntung bisa memiliki teman seperti kalian." Bella menyusut airmatanya.
Joanna dan Nessy segera beranjak dari kursi dan memeluk Bella.
"Kita harus saling mendukung. Kita ini orang kecil, kita tak punya uang, jabatan ataupun orang yang bisa menjadi backingan kuat di belakang kita. Setidaknya kita saling memiliki satu sama lain. Susah senang kita rasakan bersama. Oke?"
"Benar!" Joanna menyahut perkataan Nessy, sedangkan Bella mengangguk. Tampak senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1
kira2 ada yang bisa menebak, siapa wanita yang disusupkan Erick ke perusahaan Soraya?
Jangan lupa like dan vote ya!