Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!
Perjalanan


__ADS_3

Sekarang mereka sedang berada di pinggir Sungai Danube. Menyaksikan indahnya pemandangan matahari terbenam.


Ufuk barat tampak jingga kemerahan dengan cahaya emas mengelilingi. Subhanallah! Sungguh suatu lukisan yang sangat indah dari salah satu kebesaran Allah SWT.


Ketika menyaksikan betapa kuasa Sang Pencipta, lidah tak berhenti berzikir dan hati senantiasa kagum akan semua ciptaan-Nya.


Soraya menikmati indahnya matahari terbenam dalam pelukan suaminya yang berdiri di belakangnya. Dagu Ardan berada di bahu kanan Soraya.


Hmm ... Betapa menyenangkan saat ini. Seandainya bisa menghentikan waktu, Soraya ingin saat seperti ini tidak cepat berlalu.


Bertahun-tahun tenggelam dalam ketidakberdayaan. Dinikahi tapi tak dianggap. Wanita mana yang tidak merasa sakit. Soraya bertahan karena yakin suatu saat suaminya akan berubah. Doa dan kesabarannya akhirnya berbuah manis.


Tanpa dia sadari air mata menetes dari sudut matanya.


Ardan yang melihat istrinya menangis langsung bertanya.


"Ada apa? Apakah aku menyakitimu?"


"Tidak! Ini tangisan bahagia. Setelah semua yang terjadi, aku tak pernah membayangkan akan berada di sini. Dalam suasana romantis dan berada di pelukanmu. Dulu hubungan kita sebatas pelepas dahaga. Kau acuh padaku dan tak pernah memandang aku sebagai istrimu."


Ardan terdiam. Menyadari betapa dalam dia menyakiti perasaan Soraya. Dia membiarkan Soraya mengeluarkan semua yang ada di hatinya. Sehingga dia bisa memperbaiki semua kesalahannya.


"Aku masih berpikir ini hanyalah mimpi indah yang selalu aku inginkan. Diperlakukan dengan baik. Disayangi, dihargai, dan dicintai. Apakah keinginanku terlalu muluk? Setiap wanita pasti ingin bahagia bersama dengan orang yang dicintainya."


"Apakah kau mencintaiku?" Ardan bertanya dengan suara bergetar.


Dadanya penuh dengan kesedihan dan kebahagiaan mendengar perkataan Soraya. Suatu hal yang berkebalikan, dia merasa sedih mendengar betapa inginnya Soraya untuk diperlakukan sebagai seorang istri, tapi dia bahagia mendengar pengakuan Soraya bahwa dia mencintainya.


"Kau suamiku, tentu aku mencintaimu. Ketika aku memutuskan untuk menyerah, itu berarti perasaanku padamu telah mati."


"Lalu bagaimana dengan hari itu ... Saat kau berkata kau menyerah."


"Saat itu hatiku sudah terlampau sakit. Aku masih mampu bertahan saat kau mengacuhkan keberadaanku atau saat kau pergi bersenang-senang dengan wanita lain. Tapi, saat aku tahu seorang wanita mengandung anakmu. Aku sudah tak tahan. Kau yang selalu menolak memberiku anak, tapi menebar benihmu pada wanita lain. Betapa pedih hatiku! Sakit sekali!"


"Sstttt ... Sudah. Maafkan aku!" Ardan mengeratkan pelukannya dan mengecup rambut Soraya.


Dadanya terasa sakit saat mendengar itu. Seperti ada sembilu menyayat hatinya. Perih!


"Maafkan aku! Itu telah berlalu. Mari kita membuka lembaran baru dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Tak akan kubiarkan hatimu bersedih karena diriku lagi. Aku tak akan memaafkan diriku sendiri jika itu terjadi. Aku janji sayang."


Soraya memegang lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di dadanya yang bidang.


Mereka terus berpelukan meski matahari sudah tenggelam menyisakan pendar cahaya yang tampak remang-remang.


"Ugh ... Sebentar sayang. Aku mau ke toilet dulu." kata Soraya melepaskan pelukan Ardan di perutnya.


"Perlu kutemani?"


"Tak usah. Lebih baik kau pesan makanan. Aku sudah merasa lapar."


"Oh, baiklah! Cepat kembali! Aku tak tahan berpisah lama denganmu. Baru saja kau lepas dari pelukanku, aku sudah rindu."


Soraya bersemu merah mendengar gombalan suaminya.

__ADS_1


"Kau bohong!"


Ardan mengambil tangan Soraya dan menempelkannya ke dadanya.


"Aku tidak bohong. Coba kau rasakan detak jantungku yang menggila karena dirimu."


"Ah, sudah ... Bagaimana aku bisa ke toilet kalau tanganku kau pegang begini."


Ardan melepas tangan Soraya dan tersenyum bahagia melihat istrinya memerah malu.


Pandangannya mengikuti langkah Soraya sampai wanita itu menghilang di balik pintu toilet.


Ardan segera memesan makanan di gerai yang banyak berjejer di pinggir jalan.


Sungai Danube merupakan salah satu destinasi wisata karena itu terdapat banyak gerai makanan di sepanjang jalan. Juga tersedia meja maupun kursi untuk para tamu menyantap hidangan yang tersaji.


Ardan memilih meja yang berada tepat di pinggir sungai. Dia duduk menunggu kedatangan Soraya. Pesanan mereka akan segera diantar oleh pramusaji.


Soraya yang telah selesai dan keluar dari toilet, berjalan sambil mengedarkan pandangan. Mencari keberadaan suaminya. Dia tidak menyadari ada seseorang di sampingnya. Dan saat dia berbalik, tubrukan pun terjadi.


"Oh, I Am sorry!" Soraya merasa tak enak.


Wanita yang ditubruknya tampak menatapnya dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan. Mulutnya membuka dan menutup, seakan ingin mengatakan sesuatu tapi tak ada suara yang keluar.


"I am sorry, Madam! And excuse me." Soraya pamit saat wanita itu tak kunjung mengatakan apapun.


Dia melihat suaminya sedang duduk di kursi ujung. Segera dia melangkah ke sana.


Wanita yang tadi ditubruknya masih mengikuti kepergiannya dengan tatapan yang aneh.


"Ya ... Ya ... Aku tak apa. Selidiki tentang wanita itu! Aku ingin tahu semua detail tentang dirinya. Dalam waktu satu jam kau sudah melaporkan hasilnya padaku."


"Baik, Nyonya."


Asisten yang berdiri di sampingnya segera melaksanakan perintah atasannya.


"Ayo, kita pergi!" katanya setelah dapat menguasai diri. Dia masih harus menghadiri meeting penting setelah ini.


Siapa wanita itu? Mengapa mirip sekali? Banyak pertanyaan berkecamuk dalam batin wanita itu. Tapi dia harus bersabar. Setelah semua informasi didapatkan, dia akan tahu apakah kecurigaannya benar. Dan dia rasanya akan meledak menunggu saat itu.


Soraya yang tidak lagi memperhatikan wanita yang ditubruknya tadi melangkah ke meja yang sudah ditempati Ardan.


Ardan berdiri dan menarik kursi untuk Soraya. Tak lama setelah kedatangan Soraya, pesanan mereka diantarkan oleh pramusaji.


Soraya memperhatikan makanan yang tersaji di meja. Makanan itu sejenis crepe berbentuk gulungan tipis yang disajikan bersama siraman kuah sup yang kental dengan irisan tipis daging muda ditambah dengan irisan paprika merah.


Kriukk ... Kriukk ...


Bunyi perutnya menandakan betapa lapar dirinya. Soraya memegang perutnya dan menunduk malu.


"Sudah, tak usah malu. Wajar kan kalau perutmu sudah lapar. Ayo, makan!


Dengan tak sabar diraihnya sendok dan garpu, mulai memotong dan menyendok potong kecil dan menyuapnya.

__ADS_1


Yummy ... Soraya merasakan lidahnya seakan menari begitu mencecap rasa yang timbul dari makanan yang disuapnya. (Penulisnya ngiler 🤤 )


"Bagaimana ... Kau suka?"


Hemmmm ... Soraya mengangguk. Dia tak berkata lagi. Dia hanya ingin menikmati makanan yang benar-benar terasa lezat di lidahnya ini.


Gulungan yang seperti dadar tapi terasa renyah dengan kuah sup kental disertai rasa pedas membuat Soraya berdecap-decap nikmat.


Ardan memandang istrinya yang terlihat begitu menikmati makan malamnya sehingga dia tidak mengganggunya.


Makan malam mereka berjalan dengan tenang.


"Setelah ini kita kemana?" tanya Soraya sambil celingukan.


"Kau mencari siapa?"


"Di mana guide kita?"


"Aku sudah menyuruhnya pulang. Untuk hari ini aku rasa cukup. Besok kita lanjutkan lagi. Kita perlu istirahat. Aku tak mau kau terlalu capek. Kita liburan, bukan bekerja. Jadi, kita harus menikmati perjalanan ini. Setelah ini kita pulang ke mansion. Kita bisa membuat 'baby'." kata Ardan sambil mengedipkan sebelah matanya.


Uhuk ... Uhuk ...


Soraya tersedak saat menyesap minumannya.


Ardan menepuk-nepuk punggung istrinya sambil terkekeh geli. Sedangkan Soraya merasa wajahnya panas.


Huft ... Es, mana es!


Keterlaluan! Bisa-bisanya dia menertawakanku. Awas ya! Batin Soraya.


Mereka kembali ke mansion dan membersihkan diri.


Soraya segera masuk ke balik selimut dan memejamkan mata.


Ardan keluar dari kamar mandi, tubuh atasnya polos dengan hanya memakai boxer, seolah sengaja mengekspos otot dan dadanya yang bidang.


Glek! Soraya yang mengintip dari celah matanya yang sedikit terbuka menelan salivanya melihat pemandangan yang begitu menggoda.


"Sayang, kau sudah tidur?" tanya Ardan melihat Soraya memejamkan mata.


Hhhh ... Gagal deh mau bulan madu! Batin Ardan nelangsa. Tapi beberapa saat kemudian dia melihat kelopak mata Soraya bergetar. Ardan sadar kalau Soraya hanya berpura-pura.


Dia tersenyum senang.


Awas kau, aku datang!


Ardan merebahkan tubuhnya di samping Soraya dan mulai menyurukkan kepalanya ke leher istrinya. Mencium, menjilat, meng*i*it. Membuat Soraya tak sadar meloloskan erangan.


Akhhhh ...


(Titoot... Kena sensor... 😂😂😂)


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa like dan krisan ya! 🙏


__ADS_2