
44 Maaf, Aku Menyerah!
Marsya mengerjapkan matanya karena saat membuka mata dia merasa asing dengan ruangan tempat dia berada sekarang.
Dia bangun dengan tergesa dan membuatnya meringis karena kepalanya terasa sakit. Spontan dia memegang kepalanya. Dan dia baru sadar kalau di tangan kanannya sedang terhubung dengan selang infus.
Dia mengerti kalau sekarang dia berada di rumah sakit.
"Oh, kau sudah bangun?"
Sebuah suara mengagetkannya. Seorang pria yang tak dikenalnya sedang duduk di sofa yang berada tak jauh dari ranjangnya.
"Siapa kau? Mengapa aku ada di sini?"
"Ckck ... Apa kau tak ingat sudah tak sadarkan diri kemaren?"
"Kemaren?" Marsya ingat kejadian terakhir saat dia mencoba membujuk Soraya untuk melepaskan perusahaan papanya. Namun usahanya sia-sia. Soraya sama sekali tak menghiraukan kehadirannya. Juga tak menggubris permintaan, ralat, permohonannya.
Kemudian dia tak ingat lagi apa yang terjadi setelahnya karena dia ambruk ke tanah.
"Jadi kau yang sudah membawaku ke rumah sakit ini?"
"Tentu saja aku yang telah menyelamatkan dirimu yang terkapar tak berdaya."
"Terima kasih."
"Hanya itu?"
"Lalu kau mau apa? Aku sudah tidak punya uang. Keluargaku telah jatuh miskin. Aku tak bisa membayarmu."
"Aku tak perlu bayaran. Aku tahu semua yang terjadi pada perusahaan kalian. Bukankah itu ulah Soraya?"
"Bagaimana ... Bagaimana kau tahu?"
"Dalam dunia bisnis, angin pun bisa menyampaikan kabar. Apalagi perusahaanmu bukan perusahaan kecil. Butuh kekuatan yang besar untuk menjatuhkan kalian. Dan hanya Palvin yang mampu melakukan itu."
Marsya terdiam.
"Dan juga kejadian di restoran cukup menjadi alasan Palvin untuk ******* habis keluarga kalian."
Marsya menatap ke arah pria itu.
"Jangan-jangan kau ingin bertanya bagaimana aku mengetahui kejadian di restoran itu? Ckck ... Kenapa kau bodoh sekali? Di sana banyak eksekutif sedang berkumpul bersama dengan Soraya. Kau melakukan hal yang benar-benar fatal."
Marsya sekarang mengerti mengapa Soraya membalas perbuatannya dengan menjatuhkan perusahaan papanya. Dia telah mempermalukan Soraya di depan para koleganya.
Tapi dia tak akan menyerah. Nasib perusahaan berada di tangannya.
"Apakah kau berpikir untuk tetap memohon pada Soraya?"
Marsya menatap horor pada pria itu yang selalu dapat menebak jalan pikirannya. Apakah dia cenayang, pikir Marsya.
Pria itu terkekeh melihat Marsya yang menatapnya dengan pandangan tak percaya.
"Aku dapat mengetahui apa yang kau pikirkan karena kau itu seperti buku yang terbuka. Mudah untuk dibaca."
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa kau? Mengapa kau menolongku?"
"Siapa aku bukanlah hal penting. Yang terpenting adalah musuh yang kita hadapi sama. Jika kau mau bekerjasama, kita bisa membalas Soraya dan menghancurkannya."
Mendengar perkataan pria itu membuat Marsya terkejut. Sebenarnya dia ingin membalas Soraya tapi dia sadar siapa yang dia hadapi. Jika dengan dukungan pria di depannya ini pembalasannya tidak berhasil, bukankah semuanya akan semakin kacau?
__ADS_1
Marsya berada di persimpangan. Dia harus memilih jalannya. Karena masalah ini disebabkan oleh dirinya, maka dia juga yang harus bertanggungjawab memperbaiki semuanya.
Tidak! Dia tak mau lagi mengambil resiko menghadapi keluarga Palvin.
"Aku berterima kasih atas ajakanmu. Tapi aku tak ingin lagi berurusan dengan Soraya."
"Jadi, kau akan menyerah? Membiarkan dia menari di atas penderitaan kalian?"
"Aku akan berusaha menemuinya lagi untuk melepaskan perusahaan kami. Aku percaya Soraya orang baik. Dia akan memaafkan perbuatanku dan melepaskan kami."
"Kau mimpi!" seru pria itu dengan marah.
Dia berdiri dan melangkah mendekati ranjang Marsya yang membuatnya meringsut mundur.
"Kau mau apa?" pekiknya.
"Aku kira, aku sudah cukup banyak bicara denganmu. Ini kartu namaku. Jika kau berubah pikiran, kau bisa hubungi aku."
Pria itu kemudian berbalik dan melangkah menuju ke pintu. Dia menghentikan langkahnya saat hampir mencapai pintu.
"Simpan kartu namaku baik-baik. Aku yakin kau akan bergabung dengan kami," katanya tanpa menoleh lagi dan meneruskan langkahnya.
Marsya menatap kartu nama itu sebentar, meremasnya dan bermaksud membuangnya. Tangannya sudah terkepal di udara, bersiap untuk melempar kartu itu ke tempat sampah, tapi hatinya mendadak ragu. Dirapikannnya kartu yang sudah lecek itu dan dimasukkan ke dalam tas.
Mungkin aku akan memerlukannya, pikir Marsya.
***
Cuaca sangat cerah. Matahari tampak bersinar dengan gagah sebagai raja siang.
Suasana di perusahaan Soraya tampak ramai saat istirahat makan siang seperti ini. Para karyawan berhamburan keluar untuk mencari makan.
Marsya sudah beberapa hari memantau dari seberang jalan.
Dan di sinilah dia sekarang, memantau dari kejauhan. Selama beberapa hari memantau, memang tak terlihat adanya kehadiran Soraya ke perusahaan. Berarti apa yang dikatakan resepsionis itu bukanlah kebohongan untuk menghindari dirinya.
Beberapa hari ini juga dia tidak berani pulang. Dia tak sanggup menghadapi pandangan kecewa orang tuanya. Perusahaan yang dibangun dan dibesarkan oleh papanya harus berakhir tragis karena kesalahannya.
Karena itu dia bertekad untuk tetap menemui Soraya. Memohon padanya, bahkan dia rela jadi pelayannya kalau Soraya mau melepaskan perusahaan papanya.
Lamunan Marsya terputus saat melihat kedatangan dua buah mobil yang ditunggu-tunggunya selama beberapa hari ini.
Dia segera bergegas menghampiri Soraya yang sudah keluar dari mobil.
Marsya menghadang jalan Soraya. Hampir saja para bodyguard menyeret tubuhnya tapi Soraya memberi kesempatan padanya untuk bicara.
"Aku tak punya banyak waktu. Bicaralah sekarang!"
"Nyonya ... Aku mohon, lepaskan perusahaan keluarga kami! Aku akan lakukan apapun yang kau minta sebagai gantinya." Marsya menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya, matanya berkaca-kaca dan bulir bening mulai mengalir lewat sudut matanya.
Soraya menghela napas kesal.
"Jika aku melepasmu, maka akan ditaroh di mana mukaku? Akan ada Marsya-Marsya lain yang akan mempermalukan diriku jika aku mengampunimu. Kau harus menanggung akibat dari perbuatanmu sendiri."
"Nyonya ... Jangan berlaku kejam pada kami! Aku mohon kemurahan hatimu!"
"Kemurahan hati? Apakah kau pantas meminta hal itu?" desis Soraya dengan melipat tangan di dadanya.
"Tapi ... Tapi ... ."
"Waktumu habis! Aku mau kerja. Minggir! Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depanku!"
__ADS_1
"Nyonya ... Tolong, ampuni kami!" teriak Marsya yang diseret pergi oleh dua orang bodyguard Soraya.
Marsya dihempaskan ke jalanan oleh bodyguard yang menyeretnya.
Ugh ... Siku dan lututnya terasa sakit karena bergesekan dengan aspal.
Marsya sudah bermaksud mengejar Soraya lagi saat sebuah tangan memegangnya. Dia menoleh dan terkejut karena melihat pelayannya berada di situ.
"Ada apa, Aunty Ros?" tanyanya dengan dada berdegub kencang.
Jangan! Jangan berita buruk lagi! batinnya.
"Sebaiknya Nona pulang sekarang!"
Marsya mengabulkan permintaan pelayan itu dan mengikutinya pulang ke mansion mereka. Dia sudah lama tidak bertemu orang tuanya.
Sesampainya di mansion, Marsya dapat melihat pancaran kesedihan pada pandangan para pelayan yang berpapasan dengannya.
Ada apa ini? Tanda tanya besar memenuhi benaknya.
Dia langsung menuju kamar orang tuanya. Langkahnya terhenti di ambang pintu saat melihat papanya tengah berbaring di ranjang. Beberapa selang tampak bersileweran di tubuhnya. Tapi bukan itu yang membuat Marsya terpaku. Yang menjadi fokusnya adalah tangan dan kaki papanya yang diikat pada pinggiran ranjang.
"Ada apa? Mengapa papa kalian ikat seperti ini?" katanya pada beberapa orang berpakaian khas dokter yang ada di sana.
"Maafkan kami, Nona! Kami terpaksa melakukan ini agar dapat mencegah Tuan kembali mengamuk."
Marsya mengedarkan pandangan. Dia mencari seseorang.
"Momy ... Di mana momy?"
Mereka yang ada di sana saling berpandangan. Akhirnya salah satunya mendekati Marsya.
"Nyonya meninggal dua hari yang lalu. Beliau gantung diri karena stress berat. Tuan tak dapat menerima kepergian Nyonya, hampir melakukan hal yang sama. Untung kami sempat menyelamatkan beliau."
Tubuh Marsya bergetar hebat, dia terhuyung ke belakang.
"Tidak! Ini tak mungkin," gumamnya sambil melangkah mundur, kemudian membalik tubuhnya dan berlari menjauh.
Marsya berlari ke luar mansion, berlari dan terus berlari, sampai dia tak sanggup lagi. Dia luruh di bawah sebuah pohon besar di pinggir jalan.
"Mengapa ... Mengapa semua ini terjadi padaku ... Hiks ... Hiks ...."
Dia menangis untuk beberapa saat.
Tiba-tiba dia teringat seseorang. Cepat dirogohnya tas dan mencari sesuatu. Sebuah kartu nama!
Diambilnya ponsel dan menekan nomor yang tertera di kartu tersebut.
Pada dering pertama sambungan diangkat.
[Ya]
[Aku ikut permainan kalian!!!]
Marsya telah memutuskan.
Soraya, kau tunggu pembalasanku!!!
Kalau suka cerita aku, jangan lupa like dan vote ya!
**untuk hari minggu ga update ya!
__ADS_1
happy weekend**!