
48 Maaf, Aku Menyerah!
"Wah ... Indah sekali!" gumam Soraya saat melihat pemandangan di depan matanya.
Hamparan pasir putih yang terlihat berkilau tertimpa cahaya matahari. Ombak kecil bergulung nampak saling berkejaran.
Tak sadar Soraya membuka pintu mobil dan keluar untuk menikmati pantai yang terlihat begitu mempesona.
Ardan tersenyum melihat ekspresi Soraya yang terpesona dengan keindahan pantai itu. Tak sia-sia rencana yang sudah lama dia siapkan.
Dia melihat Soraya yang begitu sibuk akhir-akhir ini. Ditambah dengan permasalahan yang ditimbulkan oleh Marsya.
Ardan ingin membawa Soraya berlibur sebentar sekedar melepaskan kepenatan. Pilihannya jatuh ke pantai yang berada tidak jauh dari kota.
Tanpa memperdulikan sekitar, Soraya melepaskan alas kakinya. Dengan bertelanjang kaki dia menyusuri pantai. Angin berhembus memainkan rambut panjangnya.
Ardan mendekat dan mengumpulkan rambut Soraya menjadi satu, lalu mengikatnya menjadi sebuah gelungan.
Soraya tersenyum setelah Ardan selesai merapikan rambutnya. Dan menyambut kacamata hitam yang diulurkan suaminya.
"Pakailah! Cahaya terik bisa membuat matamu perih," katanya lembut.
Ardan memang sudah mempersiapkan semuanya. Soraya sangat menyukuri perhatian Ardan padanya.
Kemudian Ardan merangkul pinggang Soraya dan berjalan bersisian di bibir pantai. Ombak kecil terkadang menghempas kaki mereka, tapi kembali lagi ke laut.
Hana yang masih tertidur dijaga oleh babysitter di salah satu gubuk kecil yang banyak tersebar di pinggir pantai.
"Mengapa memutuskan membawa kami kemari?" tanya Soraya sambil memandang ke laut lepas.
Ardan yang sedang memeluk Soraya dari belakang mengecup pipi istrinya sebelum menjawab.
"Hanya ingin membawamu berlibur. Aku melihat kau terlalu sibuk. Sekali-sekali kita perlu liburan untuk menyegarkan pikiran. Bukan begitu?"
"Benar! Aku tak menyangka suamiku ini ternyata sangat perhatian."
"Kalau bukan aku, siapa lagi yang akan memberi kalian perhatian? Tentunya aku tak mau sampai orang lain yang memberi perhatian istimewa untukmu dan Hana."
"Tentu saja suamiku sayang. Terima kasih atas liburan kali ini."
"Tak sia-sia aku mempersiapkan semuanya. Aku senang kau suka dengan liburan ini."
Tangan Soraya mengusap lembut lengan kokoh suaminya yang melingkari pinggangnya.
__ADS_1
Soraya memperhatikan beberapa anak tampak berkejaran sambil tertawa. Ada juga seorang gadis kecil yang sedang membuat istana pasir. Datang seorang anak laki-laki yang dengan sengaja menghancurkan istana yang sedang dibuatnya.
Gadis kecil itu berteriak marah dan mengejar anak yang sudah menghancurkan istana pasirnya.
Soraya terkekeh melihat gadis kecil itu mengejar anak di depannya dengan gigih. Dan kegigihannya membuahkan hasil, karena dia akhirnya dapat menjangkau anak itu yang terjatuh. Gadis kecil itu menindih tubuh anak laki-laki itu dan memukulinya.
Ardan yang mengikuti arah pandang Soraya ikut tersenyum melihat adegan lucu di depannya.
"Bagaimana kalau kita memberi Hana seorang adik laki-laki?" Bisikan Ardan yang berada tepat di telinganya membuat tubuhnya meremang.
Wajahnya sudah memerah dan terasa panas karena godaan Ardan. Dan Ardan tahu hal itu. Dia malah semakin gencar menggoda Soraya dengan menggigit kecil daun telinganya. Membuat kaki Soraya terasa lemas. Untung tubuhnya sedang bersandar pada suaminya. Ardan memang paling tahu titik sensitif di tubuh Soraya.
"Mas ... Ahh ... Kita sedang di pantai." kata Soraya di sela desahannya. Entah kenapa dirinya memang mudah sekali terpancing oleh sentuhan Ardan. Seakan tangan Ardan memiliki sengatan listrik yang akan menyetrum tubuhnya dengan gairah.
"Aku tahu ... " jawaban serak Ardan membuat Soraya sadar kalau suaminya juga sedang bergairah seperti dirinya.
Padahal mereka sudah bergumul dengan hebat tadi malam. Tapi tetap saja selalu tak pernah puas. Selalu ingin lagi, dan lagi.
"Ga mungkin di sini kan, Mas?" tanya Soraya dengan gelisah memandang ke sekelilingnya. Orang-orang akan memandang aneh pada mereka jika mereka melampiaskan di sini.
"Emm ... Aku sudah membooking satu kamar di hotel tak jauh dari sini," sahut Ardan. Rupanya dia sudah memperhitungkan semuanya.
"Bagaimana dengan Hana?"
Tak ingin membuang waktu lagi, Ardan menggiring Soraya ke hotel yang dimaksudnya tadi. Di sana mereka bercinta hampir dua jam lamanya. Ardan masih ingin melanjutkan jika tidak ada telpon dari babysitter yang mengabarkan kalau Hana sudah bangun dan mencari mereka.
Mereka berdua bergegas menghampiri ke tempat Hana setelah membersihkan tubuh dari sisa percintaan panas mereka.
Untung saja Ardan masih sadar untuk tidak membuat tanda merah di leher Soraya. Tanda kepemilikan itu hanya memenuhi gunung kembar, perut dan juga pahanya.
***
Cahaya matahari sore terlihat kuning keemasan. Rombongan Soraya masih berada di pantai.
Setelah makan siang mereka memutuskan istirahat sebentar di kamar hotel. Sorenya kembali menikmati pantai.
Tampak Soraya mendudukkan Hana di atas pasir dan duduk agak jauh, membuat Hana berjalan tertatih ke arah Soraya.
"Ma ... Ma ... ," Panggilnya dengan nada cadel.
Soraya merasa gemas dengan Hana. Dia memeluknya erat.
Soraya menggelung rambutnya, kacamata hitam bertengger di atas kepalanya.
__ADS_1
Ardan tidak menyiakan momen seperti ini. Dengan sigap dia mengabadikan dengan kamera ponselnya.
Terlihat jelas kebahagiaan di wajah anak dan istrinya. Dan kebahagiaan itu juga memenuhi rongga dadanya.
Keluarga kecilnya!
Orang-orang yang dia sayangi melebihi nyawanya sendiri. Keluarga kecilnya tempat dia akan selalu pulang setelah lelah bekerja. Mereka yang selalu menjadi penyemangat dalam hidupnya.
"Pa ... Pa ... ," Hana melambaikan tangan pada Ardan, yang membuat Ardan segera menghampiri sang putri dan mengangkat tubuh Hana tinggi-tinggi membuatnya tertawa.
Mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia.
Tak jauh dari mereka, sebuah mobil hitam terparkir. Dari dalam mobil dua pasang mata sedang mengamati interaksi antara Ardan dan anak istrinya. Seorang wanita yang berada di dalam mobil itu memperhatikan semuanya. Tawa mereka yang berderai seperti garam yang ditabur ke dalam lukanya. Perih!
Kegembiraan mereka seakan menjadi bahan bakar yang membuat api dendam di dadanya semakin berkobar.
Tangannya mengepal, giginya gemeretuk menahan amarah.
Pria muda yang berada di sampingnya tersenyum samar. Umpan telah dimakan, pikirnya.
"Kau lihat ... Mereka begitu bahagia. Apakah kau rela mereka bahagia di atas penderitaan dan kekalahanmu?" Kata-kata yang penuh provokasi, mengipasi hati yang memerah bara.
"Tidak! Takkan kubiarkan mereka bahagia. Bahkan jika harus mengorbankan nyawaku, aku akan membuat mereka menderita," jawabnya penuh tekad.
"Kami akan membantumu. Tapi kami tak mau ikut bertanggungjawab atas semua yang kau lakukan."
"Tuan tenang saja. Selama bisa membalas mereka dengan setimpal, aku tak akan melibatkan Tuan sama sekali," sahut Marsya.
"Kalau begitu kita kembali sekarang. Aku khawatir jika kita terlalu lama di sini. Ada yang akan curiga. Sekarang dirimu masih dalam pencarian pihak polisi."
"Ya, saya tahu. Terima kasih atas dukungan Tuan selama ini. Saya tidak tahu akan bersembunyi di mana jika tidak ada Tuan."
"Tak usah berlebihan. Kita memiliki hubungan saling menguntungkan."
"Kapan aku bisa membalas mereka?"
"Kau sabar dulu. Kita harus mencari waktu yang tepat."
Pria itu memerintahkan sopir untuk segera meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya!