
Wanita itu menatap puas hasil kerja asistennya. Kinerjanya memang memuaskan. Dia paham apa yang harus dilakukan dan akan membuat atasannya kagum.
Dia hanya menyuruh untuk mencari tahu tentang wanita muda yang menubruknya di tepi Sungai Danube. Tapi yang dia dapatkan melebihi hal itu.
Dia tidak hanya mencari seluruh data tentang wanita muda itu. Tapi dia juga berhasil mendapatkan DNA-nya!
Itu pencapaian yang sempurna!
Asisten itu menyamar menjadi pramusaji dan berhasil mendapatkan gelas bekas minum Soraya.
Air liur yang tertinggal di bibir gelas, mereka bawa ke laboratorium dan mencari kecocokan. Hampir 98% cocok!
Karena itulah asisten yang satu ini dapat bekerja lebih lama dengannya daripada asisten terdahulu yang lelet. Asisten tak punya otak, yang tak bisa berpikir cerdik untuk menyenangkan atasan.
Asistennya sekarang melebihi ekspektasinya.
Matanya berbinar menjelajahi hasil kerja asisten kepercayaannya itu.
Semua ada di sini! Semua data yang dia perlukan! Semua tentang wanita muda itu! Tentang seorang wanita bernama Soraya!
Setelah semuanya jelas, dia harus menentukan langkah selanjutnya. Dia tak mau kehilangan lagi! Apa yang menjadi milik keluarga Palvin akan kembali dan HARUS kembali ke Palvin!
Dia akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendapatkan Soraya.
"Ada instruksi selanjutnya, Nyonya?" Sang Asisten bertanya.
Wanita itu tersenyum tipis.
"Kita akan mulai permainan."
__________ Helna__________
Kota Budapest juga terkenal dengan pemandian air panas. Pemandian air panas Szechenyi merupakan pemandian air panas terbesar di Eropa.
Pemandian air panas ini terletak di Taman Kota Budapest, Hongaria. Airnya berasal dari dua sumber air panas yang masing-masing bersuhu 74°C dan 77°C. Pemandian air panas ini diyakini berkhasiat untuk kesehatan.
Pemandian air panas ini dibangun pada tahun 1913, dengan kubah, kolam renang besar dan jet pemijat air.
Ardan berencana membawa Soraya ke pemandian itu. Dia telah memesan tempat pemandian pribadi. Dia tak mau di pemandian umum. Soraya terlalu istimewa untuk dinikmati tubuhnya oleh para pria di luar sana, meski hanya sekadar memandang.
Ardan menghampiri Soraya yang masih bergelung di bawah selimut. Dia sangat kelelahan akibat aktivitas semalam.
Ardan tersenyum bahagia teringat kegiatan mereka tadi malam. Bagaimana dia begitu dominan menguasai permainan. Mendominasi tubuh Soraya berjam-jam.
Mengingat hal itu membuat tubuh bagian bawahnya kembali mengeras. Entah kenapa tubuhnya selalu bereaksi jika berhubungan dengan Soraya.
Ah, apa yang sudah kau lakukan padaku, Soraya? Kenapa aku begitu jatuh dalam pesonamu? Tanpamu aku tak yakin akan dapat melanjutkan hidupku.
Ardan mengakhiri pemikirannya dan mulai duduk di sisi ranjang. Menyingkirkan anak rambut yang jatuh di wajah Soraya. Memperhatikan wajahnya yang masih terlelap.
Bahkan saat tidur pun kau terlihat cantik. Kecantikan alami tanpa polesan.
"Bangun, sayang!" katanya sambil mengelus lembut pipi Soraya.
Soraya menggeliat. Tubuhnya terasa sakit di mana-mana. Kelakuan Ardan tadi malam seakan menghukumnya dengan hukuman yang manis sekaligus melelahkan.
Bagaimana tidak! Dia melakukannya lagi, dan lagi. Dasar maniak!
Dia bahkan tak peduli tubuhnya yang sudah gemetar karena puluhan kali pelepasan. Sehingga membuatnya benar-benar kelelahan.
Dia yakin sekarang dia tak akan sanggup berdiri.
"Bangun sekarang atau mau aku terkam lagi?"
Perkataan Ardan sontak membuat Soraya membuka matanya yang masih terasa berat.
Ohmm... Dia menguap.
"Aku masih ngantuk." katanya dengan manja dan kembali menutup mata.
"Kita masih ada acara, sayang!" kata Ardan membujuk.
"Aku masih lelah. Kita di mansion saja hari ini, ya!"
"Oke, aku tak keberatan! Aku malah senang dapat melanjutkan permainan kita tadi malam." sahut Ardan sambil tersenyum menggoda dan bergerak mendekati Soraya.
Soraya gelagapan.
"Aku bangun ... Aku bangun ...!" teriak Soraya sambil turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi.
Namun tubuhnya langsung terjatuh le lantai. Kakinya tak bertenaga sama sekali. Kakinya terasa seperti jelly.
__ADS_1
Awwww ...
Soraya memandang ke arah Ardan dan mencebik.
"Mas, lihat akibat perbuatanmu!"
Ardan terkekeh dan langsung mengangkat tubuh Soraya ke kamar mandi.
"Mas ... Kamu mau apa?" katanya sambil meronta dalam gendongan Ardan.
"Mau mandiin kamu!"
"Ga mau! Kamu ini Mas, modus melulu. Aku capek!" Soraya merengek.
Ardan merasa gemas melihat Soraya yang memonyongkan bibirnya.
Cup ... Cup ... Cup.
Ardan mencuri beberapa kecupan.
"Sudah, Mas! Nanti minta lebih."
"Ga papa kan? Toh, sama istri sendiri."
"Iya, kalau sekali dua. Ini berkali-kali. Tuh, kakiku aja sampai lemas. Kamu tuh keterlaluan deh."
"Habisnya tubuh kamu itu seperti candu buat aku. Rasanya pengen lagi, dan lagi." kata Ardan sambil menciumi leher Soraya.
"Ergh ... Mas, cukup! Aku mau mandi."
Ardan memasukkan tubuh Soraya ke dalam bathup berisi air hangat, kelopak mawar dan sabun aroma terapi.
Tangannya mulai menggosok punggung Soraya.
"Eh, mau apa?"
"Kan, tadi aku sudah bilang, mau mandiin kamu."
"Ga mau! Keluar! Aku mandi sendiri." kata Soraya sambil mendorong tubuh Ardan.
Akhirnya Ardan mengalah dan keluar.
"Pintunya tidak aku kunci ya! Jangan lama-lama berendamnya, nanti kulitmu mengkerut."
Heran deh, kapan suaminya berubah bawel seperti itu? Pikir Soraya.
Dia mulai menggosok tubuhnya. Hmm... Berendam di air hangat ini membuatnya lebih segar. Terasa memulihkan tenaganya.
Kriukk ... Kriukk ...
Duuh, laparnya.
Mengapa sekarang perutnya sering merasa sangat lapar ya?
Mungkin karena mereka sering melakukan perjalanan yang melelahkan. Pikir Soraya lagi.
Dia menyudahi acara mandinya. Keluar dari bathup dan mengenakan bathrobe.
Selesai memakai pakaian, Soraya segera beranjak menuju ruang makan. Ardan terlihat duduk di salah satu kursi dan menikmati sarapannya.
Hmmm ... Wangi sekali!
Soraya menghirup aroma masakan yang memenuhi rongga hidungnya dan menggelitik selera makannya.
Namun tak lama kemudian perutnya terasa mual. Bergegas dia berlari ke kamar mandi yang terdapat di dekat ruang makan.
Hoek ... Hoek ...
Ardan menyusul dan memijit tengkuk Soraya dan merapikan rambut Soraya ke belakang agar tidak terkena muntahan.
Ardan mengambilkan tisu saat Soraya membasuh mulutnya.
"Ada apa? Kau tak enak badan?" tanya Ardan khawatir.
Soraya menggeleng.
"Entahlah. Tadi tak apa-apa. Tiba-tiba saja aku merasa mual."
"Baiklah. Lebih baik kau sarapan dulu. Mengisi perutmu yang kosong."
"Iya, Mas! Mungkin tadi masuk angin."
__ADS_1
Ardan membimbing Soraya ke meja makan.
Baru saja Soraya duduk dan mencium aroma yang kuat dari masakan di depannya, rasa mual kembali menyerangnya.
Dia kembali berlari ke kamar mandi.
Hoek ... Hoek ...
Ardan yang khawatir segera menyusul Soraya.
Tubuh Soraya terasa lemas. Perutnya belum diisi apa-apa tapi dia sudah muntah dua kali. Hanya air liur yang keluar. Perutnya terasa seperti diremas-remas.
Soraya tersandar di dinding kamar mandi.
Ardan memapah tubuh Soraya yang lemas ke kamar dan membaringkannya di ranjang.
Keringat dingin mengalir di dahi Soraya. Wajahnya tampak pucat. Dia menutup matanya untuk mengurangi rasa mual dan pusingnya.
"Kamu kenapa, sayang? Tak biasanya seperti ini." Ardan menyeka keringat di dahi Soraya.
Bagaimana ini? Apakah harus ku bawa ke rumah sakit atau panggil dokter saja? Ardan bimbang.
Namun kemudian dia memutuskan membawa Soraya ke rumah sakit dengan pertimbangan peralatan di rumah sakit jauh lebih lengkap di banding hanya diperiksa dokter pribadi.
Ardan menginginkan pemeriksaan menyeluruh pada istrinya. Dia takut istrinya memiliki penyakit berbahaya. Jadi, lebih baik tahu lebih awal agar dapat segera ditindaklanjut sehingga tidak semakin parah.
Ardan mengangkat tubuh Soraya yang lemas keluar dari kamar dan membawanya masuk ke mobil.
Tak lama mobil mereka sampai di depan rumah sakit. Ardan langsung membawa Soraya ke dalam ruang pemeriksaan. Dia sebelumnya sudah menghubungi dokter sehingga mereka telah siap menerima kedatangannya.
Dokter itu tampak mulai memeriksa denyut nadi dan temperatur tubuh Soraya. Membuka mulut Soraya dan menyorot ke dalam menggunakan senter kecil.
Setelah pemeriksaan selesai, dokter itu manggut-manggut.
Ardan yang tidak sabar untuk mengetahui kondisi Soraya, segera memberondong dokter dengan pertanyaan.
"Bagaimana istri saya, Dok? Dia tidak apa-apa kan? Apakah tidak lebih baik periksa darah di lab?"
Dokter itu tersenyum mendengar pertanyaan Ardan.
"Kalau menurut pemeriksaan saya, Nyonya Soraya tidak sakit. Tapi untuk lebih jelasnya, lebih baik Nyonya Soraya di bawa ke bagian obgyn."
Ardan masih bingung dengan keterangan dokter itu. Tapi karena khawatir, dia mengangkat tubuh Soraya dan mendudukkannya di kursi roda yang disiapkan oleh perawat. Dan mendorongnya ke ruang obgyn sesuai arahan perawat.
"Siang, Dokter!" sapanya saat memasuki ruangan.
"Siang ... Apa yang bisa saya bantu?"
"Istri saya lemas karena mual dan muntah, Dok!" Ardan menjawab karena Soraya hampir tak dapat membuka mulutnya karena pusing.
"Oh, baiklah! Tolong, angkat istri Anda ke atas ranjang periksa itu!" Perintah Dokter Ana, nama yang tertulis di atas meja.
Ardan mengangkat tubuh Soraya dan membaringkannya dengan perlahan di ranjang.
Dokter menyiapkan peralatan.
"Maaf, ya Bu, bajunya saya buka sedikit."
Dokter itu mengoleskan sesuatu seperti jelly di atas perut Soraya. Nampak di layar terlihat sebuah gambar yang sama sekali tak dimengerti oleh Ardan. Dia hanya melihat kalau dokter yang memeriksa istrinya manggut-manggut dan tersenyum.
Setelah membersihkan perut Soraya dengan tisu, dokter itu duduk di kursinya. Tampak menulis sesuatu di atas kertas dan buku.
Ardan kembali mengangkat tubuh Soraya, mendudukkannya di atas kursi dan mendorongnya ke depan meja dokter.
Ardan duduk di kursi di sebelah Soraya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Ardan tak sabar.
"Selamat ya, Pak! Istri Anda sedang hamil, usia kandungannya baru 7 minggu."
Soraya dan Ardan terkejut mendengar penjelasan dokter.
"Apa?"
Sahut mereka berbarengan. Ardan segera memeluk Soraya.
"Iya. Nyonya Soraya sedang hamil. Ini saya beri vitamin dan obat penguat kandungan. Dari hasil pemeriksaan sepertinya kandungan Nyonya agak lemah. Dan saya sarankan agar tidak melakukan hubungan suami istri dulu pada semester awal ini. Karena beresiko keguguran." kata Dokter Ana.
Ardan menerima berita itu dengan perasaan yang campur aduk. Bahagia karena istrinya hamil tapi agak kecewa karena untuk sementara waktu tidak bisa menyentuh istrinya. Tapi tak apa. Demi si buah hati!
Soraya sangat bahagia karena apa yang selama ini dia harapkan akhirnya terwujud. Dia menangis bahagia dalam pelukan Ardan.
__ADS_1
Bersambung ...