Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!
Cerita Tante Diana


__ADS_3

38 Maaf, Aku Menyerah!


Tok ... Tok ... Tok


"Masuk!"


Manajer proyek muncul dari pintu.


"Maaf, Nyonya! Pemimpin buruh sudah menunggu di ruangan sebelah," katanya.


Soraya mengangguk.


"Baik, aku segera ke sana."


Soraya bangkit dari kursi dan melangkah keluar ruangan diiringi manajer yang mengarahkan dirinya ke ruangan yang dimaksud.


Manajer membukakan pintu untuk Soraya. Tampak seorang wanita sedang memandang keluar melalui dinding kaca yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit.


Soraya melangkah menuju kursinya dan duduk dengan tenang. Dia membiarkan wanita itu untuk beberapa saat. Manajer yang hendak menegur wanita itu dicegah oleh Soraya. Dengan isyarat tangannya, Soraya memerintahkan agar manajer itu meninggalkan mereka berdua.


Sambil memutar-mutar kursinya Soraya memperhatikan wanita itu dari belakang.


Merasa diperhatikan, wanita itu membalikkan tubuhnya.


Deg...


Deg...


Tatapan Soraya bertemu dengan manik wanita itu yang terlihat sama terkejutnya dengan Soraya.


"Soraya ..."


"Tante Diana ... "


Masih tampak tak percaya, perlahan wanita itu melangkah mendekati Soraya yang terpaku di kursinya.


Wanita itu sudah sampai di depan Soraya. Kedua tangannya menangkup wajah Soraya.


"Maaf ... Maafkan, Tante!" Kata pertama yang terucap dari wanita itu.


Mata Soraya berkaca-kaca. Biar bagaimana pun, Tante Diana adalah orang yang sudah berjasa membesarkan dan menjaganya belasan tahun.


Tante Diana sudah seperti ibu baginya.


Tanpa bisa menahan diri, Soraya memeluk wanita di depannya. Mereka bertangisan beberapa lama, meluapkan semua kerinduan di hati.


Setelah puas menumpahkan kerinduan lewat pelukan dan tangisan. Mereka mengurai pelukan dan duduk berhadapan. Banyak yang harus mereka bicarakan.

__ADS_1


Diana menyusut air matanya dan mulai tersenyum tipis.


"Maafkan Tante yang sudah meninggalkanmu. Itu semua Tante lakukan untuk keselamatan dirimu."


"Iya, Tante! Aku sekarang mengerti, mengapa Tante meninggalkan aku sendiri."


"Tapi aku tak mengerti, mengapa kau sekarang ada di sini? Apa yang sudah terjadi? Apakah kau sudah kembali ke keluarga Palvin? Bagaimana dengan Nyonya Besar? Apakah Nyonya Besar menyulitkan dirimu? " tanya Diana tanpa menyembunyikan keheranannya.


Soraya tertawa mendengar pertanyaan Tante Diana yang bertubi-tubi.


"Satu-satu dong, Tante! Gimana aku bisa jawab kalau diberondong pertanyaan seperti rentetan peluru seperti itu."


"Ya, sudah! Sekarang ceritakan semuanya pada tante, " kata Diana sambil mendekatkan kursinya ke Soraya.


Soraya menceritakan semua yang terjadi. Dari pernikahannya dengan Ardan, keberangkatan mereka ke Budapest, perceraiannya dengan Ardan, sampai akhirnya dia dapat berkumpul kembali dengan suaminya dan melahirkan seorang putri."


Diana mendengarkan sambil sesenggukan. Tak mengira jalan hidup Soraya begitu menyedihkan.


"Tante mengira dengan meninggalkan dirimu, akan membuat hidupmu jauh dari jangkauan Palvin maupun musuh-musuhnya. Ternyata perkiraan tante salah. Tuhan menggariskan bahwa takdirmu sebagai seorang Palvin. Yah, mau bagaimana lagi. Kita sudah berusaha sekuat tenaga. Akhirnya Tuhan juga yang menentukan semuanya," kata Diana dengan sedih.


"Aku tidak apa-apa, Tante!" Soraya mengelus lembut tangan Diana.


Mereka terdiam beberapa saat.


"Tante ... Jika tidak keberatan. Maukah menceritakan padaku, apa yang sudah terjadi sehingga tante harus membawaku pergi dari Budapest?" pinta Soraya hati-hati.


"Sebenarnya tante merasa berat menceritakan ini. Tapi kau berhak mengetahui semuanya."


"Setelah Papa mu bertengkar dengan Nyonya Besar, papa mu memutuskan membawa kalian untuk pergi dari Budapest. Papa mu bertekad untuk membahagiakan kalian tanpa harus terbebani dengan tanggung jawab sebagai seorang Palvin. Kau sekarang tahu, 'kan bagaimana beratnya tanggung jawab sebagai seorang Palvin?"


Soraya mengangguk.


"Karena itu papa mu memutuskan membawa kalian jauh dari jangkauan Palvin. Malam itu, kami sudah berangkat menuju bandara tanpa sepengetahuan Nyonya Besar. Namun ternyata ada yang memberitahukan rencana kami. Dalam perjalanan, kami dikejar oleh bodyguard Nyonya Besar. Papa mu mencoba memacu mobil lebih cepat agar tidak tertangkap oleh mereka. Tapi naas, seseorang sudah menyabotase mobil kami. Rem nya tidak berfungsi dengan semestinya. Papa mu panik dan akhirnya mobil yang lami tumpangi menabrak pembatas jalan."


Diana terisak, hatinya sakit saat mengingat kejadian yang membuat majikannya tewas mengenaskan.


"Ibumu yang duduk di depan langsung tewas, karena airbag nya tidak mengembang sempurna. Sedangkan papa mu, meski airbag nya mengembang sempurna, tak urung dadanya terhempas keras mengingat laju mobil sebelumnya yang dalam kecepatan tinggi, selain itu tubuhnya juga terkena pecahan kaca mobil. Aku yang berada di belakang bersamamu hanya mendapatkan luka ringan karena dilindungi sabuk pengaman. Papa mu memintaku membawamu pergi sebelum kesadarannya menghilang. Setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan mereka. Sesuai permintaan papa mu, aku membawamu pergi mengikuti rute yang telah dibuat papa mu sebelumnya. Dan kita berhasil selamat sampai di Indonesia."


"Lalu mengapa Tante meninggalkanku?"


"Itu karena beberapa hari sebelumnya aku merasa ada yang mengikutiku. Aku tidak tahu, apakah mereka orang suruhan Palvin atau dari pihak musuh. Aku tak mau mengambil resiko. Beberapa hari aku mampu menghindari dan mengecoh mereka. Aku sadar, lama kelamaan mereka pasti akan menemukanmu jika aku masih bersamamu."


Diana menatap keluar kaca, memandang awan yang memenuhi langit biru.


"Karena itu aku memutuskan meninggalkanmu. Aku kemudian kembali ke Budapest. Dengan harapan, jika mereka menemukanku, mereka pasti beranggapan kalau dirimu juga ada di Budapest. Sehingga mereka tak akan mengira bahwa kau berada di Indonesia. Kehidupanmu akan berjalan damai di sana. Aku benar-benar tak menyangka, kalau akhirnya kau tetap berakhir di sini."


Soraya menepuk-nepuk lengan Diana.

__ADS_1


"Tak apa, Tante! Aku tak menyesal kembali ke Budapest. Meski pada awalnya aku memang harus menghadapi Granny yang keras, tapi aku berhasil menghadapinya."


"Kau tak tahu apa yang menunggumu di sini," desis Diana sambil memandang tajam ke arah Soraya.


"Maksud Tante?"


"Nyonya Besar bukan hal besar yang harus kamu hadapi. Ada musuh yang tak terlihat sedang mengawasimu dan menunggumu lengah, kemudian menyerangmu. Kau pikir siapa yang telah menyabotase mobil kami? Tak mungkin Nyonya Besar ingin melenyapkan putrinya sendiri, sekejam apapun dirinya. Yang jadi pertanyaan adalah siapa musuh itu?"


Soraya terkesiap mendengar perkataan Diana.


Semua terdengar masuk akal, pikir Soraya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku kembali ke Indonesia, 'kan?" tanya Soraya.


Diana menggeleng dengan tegas.


"Itu akan sia-sia. Karena mereka sudah mengetahui keberadaanmu. Mulai sekarang kau harus berhati-hati dengan orang di sekitarmu. Siapapun bisa saja merupakan orang yang disusupkan oleh musuh untuk menjadi mata-mata di sampingmu."


Udara di ruangan itu mendadak terasa panas. Soraya berkeringat dingin setelah mendengar nasehat Diana.


"Mmm ... Jadi, aku harus bagaimana?"


"Selidiki dengan cermat, siapa saja yang bisa kau percayai. Aku berani bertaruh, jika mata-mata itu pasti telah berada di sekelilingmu."


Soraya menatap lurus ke dalam mata Diana. Di sana dia menemukan kejujuran dan juga kengerian.


"Kau belum menghadapi yang terburuk. Siapkan dirimu! Jangan sampai kau kecolongan!" tambah Diana lagi.


Mendengar perkataan Diana, Soraya merasa cemas dengan keselamatan suami dan anaknya.


Dia akan meningkatkan penjagaan pada mereka berdua.


Bersambung...


**Makasih dah setia mengikuti cerita ini! 🙏


Mohon maaf, untuk sabtu dan minggu kemungkinan besar tidak update dulu, karena ada kesibukan mendadak.


Insya Allah senin update lagi.


Jangan lupa like dan krisan ya!


komentar diharapkan santun ya!


kalau ga keberatan, boleh minta vote juga! 🙏


Terima kasih**!

__ADS_1


__ADS_2