Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!
Rasakan Akibatnya!


__ADS_3

**Jangan lupa like dan Vote ya!**


42 Maaf, Aku Menyerah!


"Baiklah, saya rasa kita sudah mencapai kesepakatan. Silakan menikmati hidangan yang sudah disediakan," kata Tuan Robin, CEO Ryth Corp.


Semua yang hadir di sana adalah para eksekutif dari beberapa perusahaan yang sedang melakukan meeting terkait proyek pemerintah. Soraya merupakan salah satu di antaranya.


Meski tergolong orang baru dalam industri ini, Soraya sudah bisa menyesuaikan diri. Tak nampak kecanggungan dalam gerak gerik maupun perkataannya.


Seorang wanita cantik dengan talenta yang cemerlang merupakan daya tarik tersendiri. Tak heran jika selama pertemuan itu, beberapa eksekutif muda mencuri pandang ke arah Soraya.


Soraya bukan tidak mengetahui hal itu. Tapi dia lebih memilih mengacuhkan semua itu. Toh, mereka tak mengganggunya, pikir Soraya.


Sebagai seorang yang profesional, dia harus berusaha bersikap wajar. Tak mungkin dia marah-marah pada orang yang tertarik padanya. Selain tak etis, juga bisa merusak imej dirinya, dan itu sangat berpengaruh dalam bisnis.


"Ijinkan saya bersulang untuk Nyonya Soraya." Sebuah suara membuat semua orang menoleh ke sumber suara itu, tak terkecuali Soraya.


Soraya mengernyit tapi demi kesopanan dia mengangkat gelasnya sebagai tanda menerima persulangan dari pria itu.


"Saya bersulang untuk Anda sebagai bentuk kekaguman saya pada Anda," kata pria itu lagi kemudian mendekatkan gelas ke bibirnya dan menyesap minumannya.


"Terima kasih," sahut Soraya yang juga meminum jus dari gelasnya.


Dari kejauhan nampak seorang wanita menatap ke arah Soraya dengan tatapan marah dan benci. Dia mengepalkan tangannya. Dengan tak sabar dia melangkah mendekati tempat pertemuan itu. Setelah hampir sampai, dia mengambil sebuah gelas yang masih terisi penuh, kemudian berjalan ke arah Soraya, dan ...


Byur ...


Wajah dan pakaian Soraya langsung basah ketika wanita itu menyiramnya dengan segelas air.


Orang-orang yang ada di sana memandang ke arah wanita itu dan Soraya bergantian. Ada apa ini? pikir mereka.


Soraya segera mengambil tisu untuk membersihkan wajahnya.


"Kamu lagi!" Nadanya rendah sarat akan amarah yang ditahan. Tak baik membuat kekacauan di sini. Tapi wanita di depannya sudah membuat suatu kesalahan yang sangat fatal.


"Dasar wanita tak tahu diri. Seharusnya kau segera melepaskan Ardan. Hei ... Lepaskan aku! Aku belum selesai denganmu, Soraya!" teriak Marsya ketika dirinya dicekal oleh bodyguard Soraya yang segera menghampiri mereka setelah melihat kejadian yang menimpa majikan mereka. Bodyguard itu menarik Marsya pergi meski wanita itu terus meronta.


"Maaf, karena telah merusak pertemuan ini. Saya sungguh minta maaf!" kata Soraya dengan ekspresi menyesal.


"Tidak apa ... Nyonya juga bagaimana?" tanya salah satu di antara mereka.

__ADS_1


"Saya baik-baik saja. O, iya, maaf, saya pergi duluan." Soraya segera berdiri dan melangkah meninggalkan tempat pertemuan itu diiringi asisten dan beberapa bodyguard tak terkecuali Naomi.


"Jatuhkan saham perusahaan G.Kart, setelahnya akuisisi!" perintah Soraya begitu mereka masuk ke dalam mobil.


Asisten Luke mengangguk dan segera melaksanakan perintah Soraya melalui iPad di tangannya.


Dia tak heran Nyonya Soraya melakukan hal itu karena Marsya sudah mempermalukan Soraya di depan banyak orang. Dan orang-orang itu adalah orang-orang penting dalam dunia bisnis. Jadi, sangat wajar jika majikannya membalas Marsya dengan membuatnya jatuh miskin. Bahkan hal itu masih tergolong ringan, jika diingat kalau Soraya adalah seorang Palvin yang tidak pernah melepaskan seseorang yang menjadi musuhnya.


"Berapa lama untuk membuat mereka bangkrut?


"Sekitar satu minggu Nyonya."


"Terlalu lama! Aku ingin semuanya beres dalam tiga hari. Kau mengerti?"


"Iya, Nyonya! Saya akan laksanakan sebaik-baiknya."


Tak sabaran. Khas Palvin sekali, batin Luke.


Beraninya dia melakukan itu. Dia akan mendapatkan balasannya. Jika dia pikir aku akan diam saja, dia salah! Aku sudah membiarkannya untuk kejadian di kantor tempo hari. Ternyata wanita itu ngelunjak. Pikir Soraya geram.


Mobil mereka sudah sampai di depan mansion. Soraya memutuskan pulang mengingat pakaian yang dikenakannya basah karena siraman air yang tadi Marsya lakukan.


***


Seorang pria paruh baya melempar kursi ke sembarang arah.


Bagaimana mungkin semua ini terjadi, batinnya.


Memang beberapa hari yang lalu asistennya memberitahu kalau Marsya - putrinya - melakukan sesuatu yang buruk pada pemimpin perusahaan Palvin.


Dia tak mengira akan berimbas pada perusahaannya.


"MARSYA!!!" Gelegar suaranya memenuhi mansionnya.


Marsya yang mendengar teriakan papanya datang menghampiri ke ruang kerja yang sudah berantakan.


"Ada apa, Pa? Kenapa ruangan ini berantakan sekali? Apa yang sedang terjadi?" tanya Marsya keheranan.


"Ada apa, katamu! Semua ini gara-gara ulahmu yang selalu membuat kekacauan." Telunjuk Brian mengarah ke putrinya yang terkejut mendengar bentakannya.


"Maksud Papa apa? Apa salahku?"

__ADS_1


"Kau masih belum tahu salahmu, hemm? Brian melotot dan hampir melayangkan tangannya ke wajah Marsya tapi dicegat oleh istrinya.


" Sabar, Pa! Marsya putri kita," bujuk Nyonya Rie.


"Hal ini terjadi karena kau terlalu memanjakannya. Sekarang kau tanyakan pada putri manjamu itu, apa yang telah dia lakukan dalam beberapa hari ini? Apakah dia telah menyinggung seseorang?"


Marsya yang sudah pucat semakin ketakutan, tubuhnya gemetar. Dia teringat perlakuannya pada Soraya. Pasti itu yang membuat papanya marah. Nyonya Rie segera memeluk putrinya.


"Memangnya apa yang telah dia lakukan? Sehingga kau sedemikian marah," tanya Nyonya Rie.


Brian mengusap wajahnya kasar.


"Dia ... Putrimu yang manja itu sudah melakukan suatu kesalahan yang sangat fatal. Dia mempermalukan Soraya, CEO grup Palvin. Dia menyinggung orang yang salah," katanya sambil menunjuk wajah Marsya.


"Lalu kenapa? Memangnya itu buruk?"


Brian melotot mendengar pertanyaan istrinya.


"Buruk! Sangat buruk! Kau tahu akibat dari perbuatan putrimu itu? Perusahaan kita kolabs, kita terancam bangkrut. Kau mau jadi gembel di jalanan?"


Wajah Nyonya Rie memucat. Dia tak menyangka akan seburuk itu. Demikian juga dengan Marsya. Dia bahkan tak memikirkan sampai ke sana.


"Tidak! Aku tidak mau miskin! Aku tidak mau jadi gembel di jalanan," teriak Nyonya Rie sambil melepaskan pelukannya pada Marsya. Dia mendekati suaminya.


"Pa ... Lakukan sesuatu. Aku tak mau miskin! Aku yakin kau pasti bisa mengatasi hal ini," kata Nyonya Rie pada suaminya.


"Aku sedang berpikir. Ini tak semudah yang kau pikirkan. Marsya sudah menyinggung seorang Palvin. Seperti yang pernah aku dengar, jangan pernah berurusan dengan keluarga Palvin karena kau akan menyesal. Aku tak menyangka Marsya malah mendorong kita ke jurang kehancuran."


"Maaf ... Maafkan aku, Pa!" gumam Marsya hampir tak terdengar.


"Tak akan berguna kau katakan maaf pada kami. Karena orang yang kau singgung bukan kami. Kau masih beruntung, dia hanya mengejar perusahaan. Jika dia menginginkan nyawamu, kau tak akan bisa melepaskan diri."


Perkataan papanya membuat kaki Marsya terasa lemas. Dia jatuh terduduk. Dia tak mengira akan seburuk ini. Apalagi Ardan memang tak lagi dapat diharapkan untuk kembali ke pelukannya.


"Aku akan menemui Soraya," katanya sambil berusaha bangkit.


"Lebih baik kau lakukan dengan sebaik-baiknya," pinta Nyonya Rie pada putrinya. Dia berharap putrinya akan berhasil membujuk Soraya. Dia tak mau jatuh miskin. Apa kata teman-temannya di grup sosialitanya. Dia akan sangat malu!!!


Semoga suka ceritanya!


Minta like dan vote nya dong!

__ADS_1


Biar author tambah semangat. 🙏


__ADS_2