Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!
Terpuruk


__ADS_3

53 Maaf, Aku Menyerah!


Tidak! Mereka tidak akan meninggalkan aku sendirian. Mereka di sini, bersamaku!


Tubuh Soraya bergelung di atas ranjang seperti bayi. Dalam dekapannya ada pakaian Ardan dan gaun mungil Hana. Soraya memeluk dan menghidu aroma yang ada di kedua pakaian itu. Serasa kedua orang yang sangat berharga dalam hidupnya itu masih hidup.


Mendekapnya erat, seakan mereka bisa menghilang jika dia merenggangkan pelukannya. Terkadang terdengar tangisannya menyayat hati, atau tertawa seperti saat masih bercanda dengan Ardan dan Hana.


"Kau terlalu Ardan! Setelah putri kita meninggalkanku, kau juga pergi ... Huu ... Kau keterlaluan! Kau pernah berjanji akan mendampingiku sampai kita menua. Kenapa sekarang kau malah pergi ... Huu ... Bahkan kau tak sempat mengucapkan perpisahan ... Huu ... Huu ... ."


Seperti itulah kelakuan Soraya setiap hari. Dan dia akan tertidur setelah lelah menangis. Atau kehilangan kesadaran karena kondisinya yang semakin melemah tanpa adanya asupan makanan.


Para pelayan yang melihat pun ikut menitikkan airmata. Bagaimana pun mereka menyaksikan sendiri betapa Soraya sangat mencintai suami dan anaknya. Sehingga mereka juga ikut merasakan kepedihan yang dirasakan majikannya.


Brak!!


Diana masuk dan merenggut kedua benda dalam dekapan Soraya dengan kasar dan melemparkannya sembarangan.


"Cukup, Soraya! Sampai kapan kau mau begini? Mereka sudah pergi."


"Tidak! Kembalikan padaku!" Soraya menggapai-gapai kedua benda yang dilemparkan Diana ke lantai. Sehingga membuat tubuhnya yang lemah karena beberapa hari ini tidak diisi makanan jatuh berdegum ke lantai.


Bugh!!


"Soraya, dengarkan aku! Relakan mereka! Mereka sudah tenang di sana." Diana mencengkram kedua bahu Soraya.


"Aku tak mau dengar!!!" Soraya menutup telinga dengan telapak tangannya. Dia menggeleng keras. Bibirnya yang pucat bergetar.


"Kau harus menerima kenyataan. Bagaimana pun kau harus meneruskan hidupmu."


"Untuk apa aku hidup tante? Orang-orang yang aku sayangi sudah pergi. Kembalikan Hana padaku tante ... Kembalikan Ardan ... Kembalikan mereka padaku ... Huu ... Huu ... "


Diana merengkuh tubuh ringkih Soraya ke dalam pelukannya. Tangis Soraya semakin menjadi. Bahunya berguncang hebat.


"Ini ... Ini ... Terlalu berat tante. Aku ... Aku ... Tak sanggup. Kembalikan mereka padaku tante ... Huu ... Huu ... ."


Tak banyak yang dapat Diana lakukan. Dia memeluk Soraya dengan erat dan mengelus lembut kepalanya. Dia mengerti kehilangan ini benar-benar membuat Soraya jatuh. Entah apakah dia bisa bertahan. Diana akan selalu mendampingi di sisinya. Apalagi di saat Soraya terpuruk seperti ini.


"Mengapa mereka pergi meninggalkanku ... Huu ... Huu ... Mengapa mereka meninggalkan aku sendiri ... "


"Sshh ... Kau tidak sendiri. Masih ada tante. Masih ada bawahan yang setia padamu. Masih ada kami." Diana membujuk Soraya.

__ADS_1


"Tapi ... Aku ingin mereka, tante! Huu ... Huu ... Aku ingin mereka kembali. Aku ... Aku tak sanggup hidup tanpa mereka, tante ... Huu ... Huu ..."


Diana menangkap cepat tubuh Soraya yang lunglai kehilangan kesadaran. Dengan bantuan pelayan, dia mengangkat Soraya ke atas ranjang. Setelah merapikan selimut Soraya, dia keluar dari kamar itu.


Dia harus segera menemui 'orang itu'. Dia sudah tak sanggup melihat kondisi Soraya yang sangat memprihatinkan sekarang.


Bagaimana 'orang itu' bisa bersabar melihat 'putrinya' seperti ini.


***


"Apakah benar yang kau katakan itu?" tanya pria tua itu sambil memainkan gelas di tangannya.


"Benar, Tuan! Soraya sekarang sudah mengalami depresi parah. Kemungkinan besar sebentar lagi dia akan divonis gila oleh psikiater yang merawatnya."


"Ha ... Ha ... Ha ... Bagus, bagus sekali! Itu adalah berita paling membahagiakan yang pernah kudengar. Sebentar lagi ... keruntuhan keluarga Palvin sudah diambang mata." Seringai puas terpatri di wajahnya.


"Langkah apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Tuan?"


"Sebagai orang kepercayaannya kau pasti akan mengambil alih semua pekerjaannya selama dia sakit. Tugasmu adalah mendekati orang-orang yang selama ini berseberangan dengan Soraya sehingga mereka mau bekerjasama untuk menggulingkan Soraya."


Pria muda itu masih mendengarkan intruksi dari bosnya.


"Baik, Tuan! Saya akan melaksanakan semua perintah Tuan. Mmm ... Bagaimana dengan Marsya? Setelah kejadian itu dia menghilang. Apakah kita perlu mencarinya?"


"Tidak perlu!" Erick yang merupakan dalang dari semua kekacauan dalam hidup Soraya mengibaskan tangan ke udara.


"Kita sudah tidak membutuhkan wanita itu lagi. Biarkan dia pergi. Itu malah akan meringankan beban kita."


"Bagaimana jika dia tertangkap oleh orang-orang Soraya? Dia bisa menuding kita sebagai otak kejadian itu."


"Tidak! Kalaupun dia tertangkap, dia tak akan mampu menyeret kita tanpa bukti. Selama ini kita selalu bermain aman dan hati-hati. Tak akan ada bukti yang dapat membuktikan kita di balik kecelakaan Ardan ataupun keracunan yang terjadi pada anaknya Soraya. Kita bersih!"


"Baiklah jika Tuan yakin akan hal itu. Lalu bagaimana dengan wanita yang satunya?"


Senyum kejam menghiasi bibir Erick. "Biarkan saja dia. Ternyata dia juga punya dendam pada Soraya. Selain itu di belakangnya ada ketua mafia. Kita tak bisa menyentuhnya. Lebih baik tidak bersinggungan dengan mereka. Selama mereka tidak menghalangi langkah kita, mereka bukan musuh. Kau pasti pernah mendengar, musuh dari musuh adalah teman!"


"Baiklah ... Kalau begitu saya permisi."


"Ya ... Kembali lah! Dan lakukan semua yang telah aku katakan tadi."


"Saya akan segera melaksanakannya." Pria muda itu segera melangkah keluar ruangan.

__ADS_1


Mereka tidak tahu kalau percakapan mereka telah disadap dan direkam oleh orang lain.


Beberapa saat sebelumnya ...


Pria muda itu keluar dari restoran setelah menyelesaikan makan siangnya. Karena kurang fokus dia menabrak seseorang.


"Oh, maafkan saya!" katanya penuh penyesalan melihat orang yang ditabraknya memunguti buku-buku yang berserakan.


Dia membantu mengumpulkan beberapa buku dan menyerahkan kepada wanita itu. Dia memperhatikan wanita di depannya. Seorang wanita berkacamata tebal khas kutu buku.


"Terima kasih!" kata wanita itu sambil memperbaiki kacamata yang merosot ke hidungnya.


"Eh, saya yang harus meminta maaf karena telah menabrak Anda."


"Tidak! Bukan salah Tuan. Saya yang tidak memperhatikan jalan karena membawa banyak sekali buku. Jadi, maafkan saya karena kelalaian saya, juga terima kasih sudah membantu memunguti buku-buku saya!" Wanita itu tersenyum manis.


"Tidak apa-apa. Saya juga merasa bersalah."


"Ya sudah kalau begitu. Kita sama-sama salah dan lupakan saja yang terjadi. Mmm ... Saya pergi dulu."


"Oh, iya ... Silakan!"


Pria itu melanjutkan langkahnya. Dia tidak melihat senyum tipis di ujung bibir wanita itu.


"Misi berhasil!" Lapornya pada seseorang dari earphone yang terselip di balik antingnya. Dia telah berhasil menyisipkan penyadap sekaligus pelacak pada pria muda tadi.


Benda yang sangat kecil, sempat dia selipkan di bagian bawah jas pria muda itu saat dia menyerahkan bukunya.


"Bagus! Kembali ke posisi!" sahut orang di seberang.


"Copy that!"


Wanita itu membawa buku-buku di tangannya memasuki toko buku yang tak jauh dari tempat itu untuk mengembalikannya.


###


Kira2 siapa sih pria muda yang berkhianat itu?


Ada yang bisa menebak?


Jangan lupa like dan vote ya!

__ADS_1


__ADS_2